hey pencuri!”
Aku tertawa mendengar orang-orang berseru seperti itu, selalu sama saja, tidak kreatif sama sekali. Aku berlari dengan lincah di antara kerumunan orang-orang sembari mengucapkan, ‘maaf! permisi! Aku tidak ada waktu!’ beberapa orang akan memandangku bingung, ada juga yang memandangku marah. Aku tidak peduli sama sekali, aku terus berlari-lari dengan lincah, kaki yang memiliki seni yang tinggi ini terus melaju dengan cepat.
“Hey, pencuri kecil!”
Yap! Ketika orang-orang mendengar itu, mereka akan berbalik memandangnya. Paman berbau itu akan menerobos sembari menyingkirkan orang-orang yang menghalangi jalannya. Orang-orang baru akan menyadari, jika aku adalah pencuri, tetapi siapa yang akan mau mengejarku yang sangat lincah ini. Aku sangat tepat memilih waktu untuk melakukan misi dari negeri Konoha! Aku seolah seperti seorang ninja yang menjalani misi untuk mencuri gulungan rahasia milik akatsuki atau mungkin seorang Robin hood yang mencuri makanan untuk orang lain.
Setelah melalui beberapa gang sempit yang sangat membingungkan, aku berhenti. Dengan bersandar di tiang lampu, aku berusaha mengatur nafasku. Jalanku adalah jalan ninja, begitulah aku selalu katakan kepadaku ketika aku masih lebih kecil, tapi hari ini, dan seterusnya, bukan, beberapa bulan yang lalu, jalanku adalah penyelamat kucing dan adiku yang cantik! Misiku menyelamatkan mengisi sumber energi perut mereka.
Setelah mendengar suara pria itu lagi, aku berlari, tapi tiba-tiba aku menabrak sesuatu yang empuk, aku terjungkal ke belakang dan bokongku menghantamkan keras ke tanah. Aku mengusap-usap pantatku yang sakit.
Sebelum aku mengetahui apa yang ada di depanku, tiba-tiba tubuhku terangkat, membuat lubang baju terangkat. Aku berusaha menjaga agar tidak mencekik leherku.
“Anak nakal!”
Suara seorang wanita. Mungkin dia adalah seorang wanita. Dia berjalan menuju pencerahan. Yap, benar sekali, tebakanku benar, dia adalah seorang wanita gemuk.
“Dasar anak nakal! Sudah beberapa kali kau mencuri di toko kami! Kau tidak kapok-kapok di pencut. Sekarang, aku perlihatkan bagaimana seseorang memecut yang sesungguhnya.”
“pegang dia.”
Dia menurunkanku. Pria Perut buncit langsung memegang kedua tanganku dan tidak membiarkanku lari. Terang bulan yang hangat di dalam pelukanku, dia ambil.
“kembalikan makanan itu! Itu milikku!”
“Milikmu!? Sekarang milikku!”
“Jika kau ingin mengambilnya, silakan ambil!”
Pria berengsek itu membuang terang bulannya. Kemudian seekor anjing mendekatinya, dan melahap tanpa sisa.
Aku hanya bisa menelan ludah dan memandangnya. Wajah adiku yang malang dan kucing tercintanya. Apa yang akan mereka makan hari ini? Mengapa orang-orang begitu benci dan tidak mau membantu kami yang yatim piatu ini?
Apa yang akan kami makan malam ini?
“kau harus mengganti rugi makanan itu!” aku menggoyang-goyangkan tubuhku, berusaha melepaskan diri. Tetapi, tubuhku yang kecil ini tidak mungkin bisa melepaskannya dengan mudah. Aku berusaha menendang-nendang, tetapi semuanya meleset.
“Sekarang aku akan memberikan pecutan yang sangat bagus untuk anak ini. Pegang dia sangat erat.”
Wanita itu datang kembali. Dia membawa rotan panjang. Aku hanya bisa menelan ludah. Setiap kali aku di tangkap, maka aku akan di pecut seperti itu, dan makanan yang aku curi akan di berikan setelah tubuhku babak belur. Meski merasakan sakit, aku merasa sangat bahagia karena telah berjuang demi adiku.
Aku bangga karena mencuri, aneh bukan? Tapi mau bagaimana lagi, kami tidak bisa melakukan apa-apa. Kami tidak punya siapapun di dunia ini.
Satu pukulan rotan menampar pipi kiriku. Rasanya sangat panas, dan perih. Satunya lagi di kanan pipiku, rasanya sangat sama. Aku tidak tahu, akan seberapa besar pipiku nanti.
Ketika aku pulang dengan tubuh hancur seperti ini, adiku akan tersenyum, mendekatiku lalu berkata, ' kakak adalah pahlawan Konoha! Aku sangat bangga dengan kakak!”
Aku tersenyum melihatnya. Aku kemudian mengeluarkan terang bulan dan menyerahkannya, meski sudah kotor dan pucat. Gadis itu bukan main gembiranya. Dia menatap makanan, seperti menatap emas, sesuatu yang paling berharga di muka bumi ini, tetapi tidak bisa di makan.
Gadis itu dengan malu-malu membelahnya, tetapi aku menghentikannya dan menyerahkannya kepadanya semuanya. Kadang-kadang aku mencari alasan untuk pergi.
Perutku di pecut beberapa kali hingga membuatku merasa mual. Tangan, kaki, punggung, semuanya di pecut. Aku tidak tahu seberapa Perih dan berdarahnya aku kembali.
Setelah mereka puas menyiksaku, mereka akan mencaci makiku kemudian pergi. Beginilah nasib seseorang anak yatim-piatu yang ingin berusaha bertahan dari hierarki dunia yang mengerikan. Mungkin juga seperti seorang ninja yang berusaha menjaga gulungan agar tidak jatuh ke tangan musuh. Benar-benar menyedihkan.
Sepuluh menit berlalu, aku berjalan tertatih-tatih. Air mataku mulai menetes. Aku datang tidak membawa apa-apa untuk adik kecil dan binatang peliharaannya. Aku mulai membayangkan bagaimana dia menjadi murung karena tidak mendapatkannya; bagaimana dia kehilangan senyuman indahnya. Aku ingin melakukan aksiku yang lain, tetapi dengan tubuh seperti ini, aku tidak akan bisa melakukannya. Aku hanya bisa pasrah.
Setelah tiba di rumah, aku hanya bisa mengepal erat kedua tanganku. Dengan menghela nafas dalam aku mendekati adiku.
Rumah kami berada di atas bukit tinggi, sehingga pemandangan kota akan terlihat jelas dari sini. Adiku dan kucingnya akan berdiam di luar untuk menikmati pemandangan dan angin menyegarkan.
Hari ini dia juga berada di sana, duduk menatap kejauhan.
Aku memandangnya sangat bersalah dan sedih. Aku merasa gagal. Aku menundukkan kepalaku. Air mataku mulai keluar. Aku gagal menjadi kakak yang baik; gagal menjaga senyumannya. Aku sungguh gagal.
“kakak.”
Ah, suara lembutnya itu. Aku mengusap air mataku, dan memaksakan senyum di wajah bengkakku.
“Kakak! Kakak tertangkap lagi!” dia meraih tanganku. Kali ini reaksinya berbeda, mungkin aku terlalu babak belur.
Aku mengangguk pasrah.
“rar, kakak gagal, kakak tidak berhasil mendapatkan terang bulan yang kau inginkan. Kakak gagal, kakak tidak bisa memenuhi keinginanmu. Kakak merasa hina berada di depanmu. Kakak harus mencar–”
“kakak....”
Senyuman manis itu, sebuah senyuman lembut, tetapi aku yakin, adiku menyembunyikan kesedihannya.
“Besok kakak janji, kakak akan mendapatkannya. Kau tenang saja ra, kau akan dapat menikmatinya...”
“Kakak, ini.”
“D-dari mana kau mendapatkannya?” aku terkejut melihat adiku mengeluarkan sepotong kue dari belakang punggungnya.
“apakah kau mencurinya, ra? Apakah kau tidak apa-apa? Jangan melakukan hal itu lagi ya.”
Aku memeriksa tubuhnya. Syukurlah, dia tidak apa-apa.
“kakak.... ini adalah pemberian orang lain, aku tidak mencurinya. Tadi, aku keliling sebentar dan mencari-cari kakak, tanpa sengaja aku bertemu dengan pria pengusaha kaya. Dia memberikanku satu kue, katanya untuk merayakan malam tahun baru. Mungkin dia kasihan denganku.”
“kalau begitu, ayo, kau makan saja.”
“Tidak kakak. Ayo lihat ini!”
Adiku menariku dan mengajakku duduk.
“ini, lihat!”
“ini adalah kue yang dia berikan. Aku dan si kucing kecil sudah mendapatkannya. Sekarang giliran kakak untuk memakannya.”
Aku bisa tersenyum lega bisa menjaga senyumannya itu. Ternyata tidak berakhir seburuk yang aku kira.
Aku mengambilnya, kemudian memeluknya erat-erat. Air mataku mulai mengalir. Aku sangat bersyukur masih bisa di selamatkan oleh takdir yang baik. Akhir tahun ini tidak seburuk yang aku kira.
“kakak akan berjanji, kakak akan berusaha lebih keras lagi. Kita akan hidup dalam kebahagiaan setelah ini. Tahun ini, kita akan berjuang lebih keras.”
“aku akan selalu mendukung kakak!” adiku tersenyum.
Tiba-tiba sebuah lontaran terlihat dari kota di bawah kami. Sebuah ledakan meledak di langit seperti bintang-bintang atau kembang bunga merah yang sangat indah. Kemudian, di susul beberapa letusan-letusan yang sangat indah. Kembang api itu seperti payung yang sangat banyak, menghiasi langit kota.
Adiku akhirnya bisa tersenyum jenaka, menatap kembang-kembang api itu dengan wajah bodoh dan polosnya. Akhirnya tahun ini tidak se-mengerikan yang aku bayangkan. Meski kami hidup dalam kemiskinan, menjadi ninja setiap hari, akan ada hari bahagia untuk kami. Semoga untuk tahun ini, aku bisa lebih baik dari pada sebelumnya. Berharap tidak akan menjadi apa-apa, aku akan berusaha, sebuah motor tidak akan mencapai tujuannya tanpa minyaknya bukan?
Si kucing juga ikut tersenyum, meski dia tidak memperlihatkannya, tapi aku sangat yakin, dengan menggoyang-goyangkan ekornya, dia sedang tersenyum bahagia. Kucing yang pemalu, dia adalah saudara ketiga kami. Aku tidak mengerti di mana letak senyumannya, dia sama seperti kami, meski tidak mempunya keluarga, meski tidak pernah tersenyum, dia sangat bahagia dengan hidupnya.
Selamat tahun baru......