Kenanga, gadis itu beranjak dari tempat tidurnya. Dia berjalan menuju sebuah meja dengan cermin besar, tempat biasa dia mematut diri.
Gadis itu mulai memoleskan make up pada wajah ayunya, yang kian tegas oleh baluran bedak tebal berpadu eye shadow berwarna gelap. Gincu merah menyala dipoles rapi berulang kali pada bibir tipisnya, menghasilkan warna terang sangat kontras dengan warna eye shadow di kelopak matanya.
Ini sudah jam sepuluh malam. Ruangan kamar itu pun gelap, tanpa ada sorot lampu apapun yang meneranginya. Entah kenapa gadis yang bernama Kenanga, mampu berdandan sangat tebal dengan sempurna tanpa coretan atau cela pada setiap polesan make upnya. Sorot matanya tajam, dia berdandan layaknya ratu di jaman kerajaan.
Rambutnya disanggul dengan konde besar dari bahan tembaga menghiasi rambutnya. Sebuah baju kebaya warna biru tua, dipadukan dengan kain jarik batik lurik berwarna hitam bercampur putih dia pilih untuk bawahannya. Warna sakral, yang merupakan pantangan di dusun pengantin.
Tok tok tok,
"Kenanga, buka pintunya. Sudah waktunya padusan." Suara Ajeng, ibu Kenanga mengetuk pintu kamar kenanga berulang kali.
Sudah beberapa saat namun Kenanga tetap diam, tidak juga membukakan pintu.
Ceklek,
Ajeng pun mencoba memutar handel pintu kamar anaknya. Pintu pun terbuka, tanpa pikir panjang Ajeng memasuki kamar anaknya.
Deg,
Seketika Ajeng membeku, tubuhnya bergetar. Wanita paruh baya itu ketakutan. Ketika netranya menangkap bayangan anak gadisnya tengah menari dengan gemulai, mengenakan pakaian adat larangan, mengikuti suara gamelan yang terdengar dari luar.
Kenanga, mata gadis itu melotot sangat tajam menatap Ajeng ibunya. Gadis itu terus menari, namun pandangan matanya terus mengikuti Ajeng. Tak beralih sedikit pun. Kenanga, ia menari sangat gemulai sambil melangkahkan kaki mendekat ke arah Ajeng.
"Kau, wanita terkutuk. Berani beraninya memasuki kamar ratumu!" Mata Kenanga melolot marah penuh amarah, jari telunjuknya berada tepat di depan kening Ajeng.
"Kenanga, aku ibumu." Suara Ajeng sedikit bergetar. Wanita paruh baya itu merasa ketakutan dengan tingkah anak perempuannya.
"Lancang." Kenanga mencekik leher Ajeng.
"Kenanga, aku ibumu. Sadar nak. Uhuk uhuk." Ajeng mulai sadar, ada yang salah dengan anaknya. Dia terbatuk beberapa kali ketika nafasnya tercekat.
Ajeng sangat mengenal anaknya. Kenanga, anak gadisnya tidak bisa menari. Apalagi dengan gerakan segemulai dan selembut itu. Kenanga anak yang santun, pandangan matanya teduh. Tidak seperti sekarang, tatapan dan sorot matanya dipenuhi kebengisan. Kenanga juga bukan gadis yang pandai mengaplikasikan make up ke wajahnya. Semua make up yang dikenakan kenanga, adalah pemberiannya tadi pagi, sebagai hadiah pernikahan Kenanga. Benar, Kenanga akan melangsungkan hari pernikahannya besok pagi.
"Pergilah dari hadapanku, kehadiranmu mengusikku." Kenanga melepaskan cekikan di leher Ajeng, saat wanita itu hampir kehilangan kesadarannya.
Kemudian Kenanga, mendorong tubuh ibunya sampai terjatuh.
"Aaargh, Kenanga sadar nak sadar." Ajeng berteriak merasakan tubuhnya lemas kekurangan oksigen serta sakit akibat benturan keras disikunya.
"Diam," Kenanga menghardik ibunya, seperti seorang raja kepada rakyat jelata.
Dengan langkah lemah lembut Kenanga berjalan keluar, sesekali tubuhnya meliuk, mengikuti irama gamelan yang terdengar ditelinganya. Dia terus melangkah sambil menari gemulai, mencari sumber suara gamelan.
Kenanga memejamkan matanya. Tariannya semakin menjadi, saat gadis itu melewati ruangan yang penuh dengan orang yang membantu menyiapkan hajad nikahnya besok pagi. Gadis itu meliuk, tubuhnya berputar putar dekat tungku bara api untuk memasak jenang ketan. Sambil terpejam, ia mengendus aroma asap bercampur manis jenang.
Sudah lima menit berlalu, namun kenanga masih saja meliuk didekat tungku api. Seolah gadis itu sangat menikmati hawa panas serta asap manis legit yang tercium oleh indra penciumannya.
"Kenanga, apa yang kamu lakukan?" Lastri wanita paruh baya, tetangga sebelah rumahnya menegur tindakan Kenanga, yang menurutnya telah melanggar larangan di dusun pengantin.
"Lepaskan dan cepat ganti pakaianmu. Pengantin wanita tidak boleh memasuki area dapur." Imbuh wanita itu, kemudian menepuk tangan Kenanga yang sepertinya tidak mendengar suaranya.
"Kau, berani beraninya menganggu makan malamku." Kenanga melotot marah, saat bahunya ditepuk oleh orang asing dimatanya.
"Pengantinku, tidak boleh menikah dengan siapapun kecuali aku." Kilat kemarahan begitu kentara di wajah Kenanga.
"Kalian semua akan membayar akibatnya, karena berani mengambil milikku." Suara Kenanga terdengar menyeramkan.
Di dalam kamar, Ajeng yang tenaganya sudah mulai pulih, segera berdiri mencari keberadaan Kenanga. Anaknya yang entah kenapa menjadi berbeda.
"Pak bapak , Kenanga pak Kenanga," Ajeng berteriak memanggil suaminya, saat tidak menemukan keberadaan anaknya diseluruh kamar serta ruang tamu.
"Kenanga kenapa buk?" Trisna, suami ajeng yang mendengar kepanikan istrinya segera mendekati Ajeng.
"Ajeng memakai pakaian larangan pak, dia pergi sambil menari." Ajeng masih berteriak panik.
"Sepertinya Kenanga kesurupan pak," Imbuhnya kemudian, memancing semua orang yang berada diruang tamu berkumpul didekatnya.
"Apa?" Sahut semua orang bersamaan.
Bunyi gamelan itu, kini semakin gaduh oleh suara orang orang yang khawatir dengan Kenanga. Si calon pengantin cantik, kembang desa di dusun pengantin.
Semua orang yang berkumpul di ruang tamu akhirnya memutuskan untuk mencari Kenanga, sebagian orang pergi mencari paranormal atau indigo yang bisa membantunya.
Namun belum sampai mereka melaksanakan niatnya, Kenanga muncul dari arah dapur. Masih dengan gerakan gemulai, dia berjalan menuju pelataran. Tempat sound sistem, menghasilkan nada gamelan. Membuat semua orang mengikutinya, tapi tak satupun berani mendekatinya. Mereka tau siapa yang sedang menguasai tubuh Kenanga.
Sosok raja penghuni Beringin yang terdapat di sudut dusun pengantin. Beringin besar, dengan daun serta akar rimbun, dan terdapat kolam besar dibawahnya. Konon, dikolam itu terdapat buaya raksasa peliharaan sang raja. Buaya yang siap memangsa siapa saja yang mengganggunya.
"Dimana gamelannya?" Tiba tiba Kenanga mencengkeram kerah baju salah seorang pemuda.
Sosok yang menguasai Kenanga merasa marah. Seperti tengah dipermainkan ketika telinganya mendengar gamelan, tapi matanya tidak mendapati alat musik tersebut.
"Terkutuklah kalian yang menipuku." Kenanga murka, dia menendang pemuda dalam cengkeramannya. Tenaga Kenanga begitu perkasa, membuat si pemuda terkapar seketika.
"Kalian benar benar membuatku marah." Tangan Kenanga, menuding semua orang bergantian.
"Kenanga, berdoa nak sadar." Ucap Trisna mencoba mendekati putrinya, hendak memeluknya.
Namun sebelum lelaki itu berhasil merengkuh tubuhnya,
"Diam kau pak tua, setelah lancang ingin menikahkan permaisuriku, kau masih berani menyentuhku?" Kenanga menampik tangan ayahnya kasar, padahal biasanya gadis itu sangat hormat kepada sang ayah. Entah kemana perginya sifat lemah lembut putrinya kini.
"Hari ini aku umumkan, aku akan mempersunting permasuriku dihadapan kalian semua." Suara Kenanga kini berubah menjadi suara seram, menyerupai suara dalang saat memainkan tokoh kurawa dalam perang bratayudha.
Setelah itu Kenanga menaiki salah satu meja panjang. Kakinya bersila sambil memejamkan mata, seolah gadis itu tengah berada diupacara sakral pernikahan. Suara gamelan pun seketika berubah, menjadi irama gamelan seperti kedua mempelai baru saja dipertemukan. Padahal tidak ada seorang pun yang mendekati alat sound system tersebut.
"Siapkan makanan pestaku, atau aku akan membawa permaisuku selamanya." Ucap Kenanga sebelum memposisikan dirinya terlentang diatas meja panjang, tempatnya bersila.
"Makanan, makanan, cepat siapkan." Ajeng semakin panik melihat tingkah putrinya, begitu juga dengan Trisna.
"Cepat siapkan sajen yang dimintanya." Suara orang orang saling berbisik, menentukan sajen yang tepat.
Sementara Kenanga, gadis itu masih dalam posisi semula. Dia terlentang diatas meja. Tapi sedetik kemudian, tubuhnya mulai meliuk kembali. Keringat pun mengucur deras membasahi seluruh permukaan kulit dan dahinya yang mulus.
Sampai kebaya biru tua dan jarik lurik yang dikenakannya basah, tubuh Kenanga masih saja meliuk. Matanya terpejam sangat erat, sesekali gadis itu merintih kecil, sambil menggigit bibirnya. Seolah dirinya tengah merasa kenikmatan bersetubuh dengan lawan jenisnya.
Namun, siapa yang sedang menyetubuhi dan apa yang sebenarnya terjadi tidak ada yang tau. Karena nyatanya hanya Kenanga sendiri yang terus menggeliat diatas meja, yang bisa mereka lihat.
"Berhenti menjamah tubuh gadis itu!" Sepuluh menit kemudian, datanglah seorang lelaki tua berbaju panjang warna hitam.
Dia adalah mbah Prabu, sesepuh yang dinilai sebagai tetua dusun. Lelaki yang dinilai indigo oleh orang orang sekitar dusun pengantin.
"Ini makananmu, keluarlah dari tubuh gadis itu." Mbah Prabu tengah bernegosiasi dengan sosok yang menguasai Kenanga.
"Dasar manusia bodoh." Kenanga gadis itu tertawa remeh.
"Apa kalian tidak bertuhan, memanggil manusia tolol untuk mengusirku? Hahahah." Kenanga tertawa mengerikan.
Namun disisi lain, kata kata yang keluar dari mulut Kenanga, menampar mereka semua yang tengah berdiri menyaksikan Kenanga kerasukan roh itu. Gadis yang tengah dikuasai oleh makluk astral tersebut, seolah telah menunjukkan pada mereka seberapa tipisnya keyakinan mereka pada Tuhan.
Benar, bukankah Tuhan adalah tempat paling tepat untuk dimintai pertolongan. Tapi kenapa itu tidak terpikirkan, oleh mereka yang terlampau terpana oleh tingkah kerasukan Kenanga.
Mereka semua terlalu terpaku pada sebuah adat yang menyesatkan jiwa mereka. Dimana rasa keimanannya pada Tuhan sang penolong? Kini, mereka seolah tengah dirundung malu pada sosok penguasa Kenanga.
Melihat orang orang yang tengah kebingungan oleh wejangannya barusan, penghuni tubuh Kenanga tak menyia nyiakan waktu. Dia menyahut jadah putih yang disajikan diatas cobek tanah liat ditangan sang paranormal. Lalu Kenanga berlari sangat kencang, menuju tempat beringin dusun berdiri kokoh.
Semua orang yang menyaksikan kejadian itu, segera tersadar dan mengejar Kenanga yang sudah semakin menjauh.
"Kenanga, tunggu Kenanga, hiks hiks Kenanga." Ajeng, wanita itu histeris melihat anaknya mendekati pohon beringin keramat dusun pengantin.
Banyaknya orang yang mengejar Kenanga, nyatanya tak satu pun yang berhasil mengejarnya. Kini Kenanga sudah lenyap, bak tertelan pohon beringin keramat. Disaksikan berpuluh puluh orang yang mengejarnya.
Bersamaan dengan itu, Ajeng dan Trisna terkulai lemas tak sadarkan diri. Kedua pasangan itu pingsan, menyaksikan anak kesayangannya menghilang secara misterius di depan matanya. Orang orang yang berada didekatnya segera menggotong tubuh mereka berdua. Menghilangnya Kenanga menjadi pukulan berat bagi seluruh warga dusun pengantin. Tak perlu waktu lama, hanya beberapa jam saja berita itu sudah heboh tersiar kemana mana. Bak sayembara, semua orang berlomba mencarinya, tapi hasilnya nihil.
Keesokan harinya, Ajeng dan Trisna terbangun. Mereka berdua mengedarkan pandangan matanya ke semua sudut ruangan. Keduanya memicingkan mata, sebuah tulisan "Happy Hellowen" menghiasi cermin besar diruangan itu. Keduanya saling menatap heran. Lalu dengan tergesa gesa, Ajeng bergegas ke kamar anaknya, Kenanga.
"Buk mau kemana buk, kok kesusu (tergesa gesa)?" Trisna bertanya pada sang istri, namun Ajeng tidak menjawab.
Wanita itu justru menangis sambil berlalu meninggalkan suaminya yang masih kebingungan di kamarnya. Karena belum sepenuhnya sadar.
"Kenanga, kenanga hu hu hu." Ajeng sedikit berlari, dia menangis mencari anaknya gadisnya yang hilang semalam, Kenanga.
Bruk,
Wanita paruh baya itu pun langsung menubruk kasur tempat anaknya biasa tertidur.
"Kenapa sih buk, pagi pagi sudah bikin kaget aja?" Kenanga gadis yang tengah tertidur pulas sangat kaget oleh kelakuan ibunya. Ia mencoba menetralkan detak jantungnya yabg tidak beraturan.
"Hah, Kenanga ini benar kamu nak?" Hu hu hu" Ajeng langsung memeluk anaknya erat, tangisannya semakin keras.
"Iya buk, ini Kenanga. Kenapa sih pagi pagi udah nangis kaya gini?" Kenanga membalas pelukan ibunya, sembari mengelus rambut wanita itu untuk menenangkannya.
"Bukannya semalam kamu pergi ke," Ajeng menggeleng gelengkan kepalanya, ia tidak mampu meneruskan kata katanya.
"Ibu ngomong apa sih, Kenanga kan tidur dari sore buk, ibu mimpi kali." Kenanga tidak habis pikir dengan ibunya.
"Hah mimpi ya?" Ajeng pun masih dilanda kebingungan.
Apa benar yang dialaminya adalah mimpi belaka, tapi kenapa mimpi itu begitu nyata? Mungkinkah alam bawah sadarnya begitu dahsyat mengajaknya berkelana? Atau mungkin jiwanya sedang bermain main untuk merasakan bagaimana mencekamnya malam hellowen yang tidak pernah dia rayakan? Who knows, hanya malam yang mampu menjawabnya.
The end.
#malam mencekam hellowen 🎃