Cerita ini berawal dari sebuah permusuhan kedua orang tua kami yang diturunkan kepada kami. Singkat cerita kami adalah anak - anak mereka yang telah dibisikkan sejak dini kalau kami adalah saingan dan tak boleh kalah dari satu sama lainnya, sehingga dari sejak kecil kami pun telah menjadi musuh bebuyutan. Namun kadang ada kerinduan diantara kami jika kami tak bertengkar, karena dari pertengkaran itu kami jadi memiliki kesenangan kami sendiri. Kami bertikai dan saling menjatuhkan bukan karena serius dengan kebencian, melainkan saling menikmati hingga kami melanggar semua batas yang dibuat oleh kedua orang tuan kami.
Namun karena suatu kesalahan sehingga membuat orang tuan ku mengetahui kedekatan ku dengan anak tetangga itu dan pada hari itu juga ibu ku memindahkan aku ke sekolah lain yang lebih jauh dari sang anak tetangga. Hingga semua itu berlanjut lagi saat kami kembali dipertemukan dalam sebuah universitas yang sama dan juga permusuhan antara kedua jurusan yang bertikai sejak dari dulu, namun semuanya hancur saat balas dendam itu telah membuat ku masuk kedalam hal yang tak pernah aku inginkan pada malam itu.
"Hey Than kenapa sih dari tadi kamu bengong mulu, apa kamu sudah menciptakan lagu untuk mengikuti lomba yang diadakan oleh universitas kita untuk merayakan akhir pergantian tahun ini hah?" tanya Dino
"Hem, aku sedang menulisnya." jawab ku
"Hey kamu harus menulis lagu yang sangat bagus jangan sampai kalah dengan anak teknik." sambung Bram dan David membenarkannya.
Ya antara anak teknik dan anak arsitek selalu bermusuhan sejak lama seperti aku dan Andrew yang juga bermusuhan sejak kami masih kecil, dan sialnya kami justru menjadi ketua di jurusan kami masing - masing yang akan selalu mewakili setiap kegiatan yang diadakan oleh pihak kampus.
Tapi sialnya kejadian 1 tahun yang lalu itu telah membuat perasaan ku jadi rumit dan aku tak tau harus menentukan kearah mana perasaan ku, karena aku yakin hanya aku saja yang ingat akan kejadian malam itu dan dia tak akan ingat apa - apa pasalnya dia terkena pengaruh obat, sehingga aku hanya menahan sendiri kerumitan perasaan ku dan menyembunyikannya selama setahun ini.
Kompetisi musik pun telah tiba dan semua mahasiswa yang berpartisipasi semuanya berkumpul dan menyerahkan lagu - lagu mereka semua, dan satu persatu telah menampilkan kehebatan mereka. Sampai tiba saatnya band ku, dengan semangat aku dan teman - teman ku membawahkan lagu yang pernah aku tulis saat aku masih sekolah di sekolah menengah pertama.
Bruk
"Auh, apa yang kau lakukan apa kau gila hah?!" Aku membentak pada seseorang yang mendorongku sampai aku jatuh menabrak meja saat aku keluar dari kamar kecil.
"Kenapa, kenapa kau membawahkan lagu itu dan menyanyikannya hah?! Apa kau tak bisa membaut lagu lain sampai harus membawakan lagu itu di kompetisi kali ini." Andrew marah besar
"Apa urusannya dengan mu, itu adalah lagu ciptaan ku sendiri dan terserah aku mau menyanyikannya kapan apa urusannya dengan mu." Aku mendorong tubuh Andrew
"Tapi aku tak suka kau menyanyikan lagu itu bersama dengan orang lain, awas jika kau berani menyanyikan lagu itu lagi." Andrew mendorong ku sampai aku jatuh lagi.
Hari - hari kami selalu saja bertikai dan bertengkar sampai kami dipanggil ke ruang rektor karena teman - teman kami telah bertikai sampai menghancurkan fasilitas umum yang dibangun oleh pihak kampus.
"Kenapa Drew kau terlihat sedang memikirkan sesuatu." ku dengar Beril bertanya pada Andrew
"Tidak, pergantian tahun ini aku selalu teringat akan tahun lalu aku seperti sedang menghabiskan malam dengan seseorang namun aku tak ingat siapa, tapi aku masih sangat mengingat dengan jelas akan ciumannya yang lembut dan bibirnya yang manis." Andrew berkata dengan kembali membayangkan akan malam itu.
"Uhuk, uhuk, uhuk." aku yang mendengarkan ucapan Andrew sangat terkejud karena aku tak pernah berfikir kalau dia akan memikirkan hal itu walau sudah lewat 1 tahun lamanya.
"Than, tak apa minumlah." David memberiku air mineral
Aku yang ingin pulang sendiri lebih dulu adalah pilihan yang salah karena aku bertemu dengan Andrew saat di lif, dan karena banyak orang yang juga ingin turun sehingga membuat kami berhimpitan karena lif penuh.
"Bergeser lah jangan mendesak ku." kesal ku pada Andrew
"Apa kau tak lihat ada begitu banyak orang hah?!" Andrew berkata keras tepat dihadapan ku
"Kau, umm." tanpa sengaja saat aku mau marah tiba - tiba saja kami bertabrakan dan ciuman karena ada getaran dari lif akibat mati listrik.
Aku melihat Andrew terbengong menatap ku dan aku berusaha untuk memalingkan pandanganku, dan semua orang terlihat panik karena lif berhenti, tapi untungnya hanya sebentar dan nyala lagi listriknya. Setelah pintu terbuka aku langsung bergegas keluar dengan buru - buru.
"Tunggu, tunggu aku jangan lari, hey kau, Than, Nathan. Sial." Andrew berteriak manggil nama ku namun aku pura - pura tak dengar.
Setelah kejadian itu kami tak bertemu lagi karena ujian semester dan kesibukan kami masing - masing, dan tiba - tiba saja Dino menghubungiku dan bilang kalau kalau dia dikepung anak buah Andrew. Dengan cepat aku dan yang lain mendatangai Dino untuk membantunya.
"Oh akhirnya datang juga kau, apa kau begitu sangat sayang pada teman mu ini hah?" Andrew berkata dengan tersenyum
"Apa mau mu lepaskan dia." aku berkata dengan nada tinggi
"Ok, aku akan melepaskan dia asal kau berani ikut dengan ku." Andrew berkata dan menggerakkan jarinya agar aku mendekatinya untuk membuat kesepakatan.
"Berani sekali kau" Bram berkata dengan kesal
"Jangan, aku akan ikut dengannya bawah Dino pergi dari sini." Aku menahan Bram dan setuju mengikuti Andrew.
Aku berjalan mendekati andrew dan dia membisikkan sesuatu pada ku lalu dia bersama dengan semua teman - temannya pergi meninggalkan kami begitu saja. Dan hal itu membuat teman - teman ku dan juga diriku bingung. Tapi sesuai dengan permintaannya aku datang ke atap asrama dan disana Andrew sudah menunggu ku.
"Aku sudah datang katakan apa yang ingin kau katakan pada ku dan cepatlah." aku berkata dan berjalan mendekati Andrew.
"Sebelum aku bertanya ijinkan aku untuk memastikan sesuatu dengan mu." jelas Andrew.
"Hem, apa yang ingin kau pastikan dari ku, karena ku rasa kita tak memiliki hubungan yang sedekat itu." jawab ku dengan senyum mengejeknya.
"Aku akan tau setelah aku memastikannya." Andrew langsung menarik aku dan dengan cepat dia melahap bibirku.
"Hem, em, kau." aku mendorong tubuhnya namun terlalu kuat Andrew menahan ku.
Bug
Dengan cepat aku melayangkan tinjuku tepat di perutnya begitu dia mengurai ciumannya dari ku "Apa kau sudah gila, apa yang kau lakukan ini hah?!"
"Katakan orang malam itu adalah kau, 1 tahun yang lalu adalah dirimu kan, katan?!" Andrew bertanya dengan emosi.
"Kau sinting, kalau tak ada yang ingin kau bicarakan aku pergi." Aku melangkah mau pergi.
"Jawab aku b*r*ngsek." Andrew menarik tangan ku sampai aku terjatuh.
"Sebenarnya apa mau mu sih, apa kau ingin berteman dengan ku?!" aku mendorong Andrew menjauh dari ku.
"Tidak, aku tak ingin berteman dengan mu dan tak berniat jadi teman mu." Andrew mendekatkan wajahnya padaku yang sedang duduk dilantai
"Kau mau apa?" aku menahan Andrew yang semakin mendekat.
Andrew mengecup bibir ku "Aku tak ingin sekedar jadi teman." Andrew berkata dan kembali mengecup bibir ku lagi.
Malam itu pun kami menghabiskan malam bersama dan entah kenapa aku pun menikmati permainan dari Andrew, aku bingung dengan semuanya yang telah terjadi namun aku juga tak menyangkal kalau aku menerima dan juga memberikan sesuai dengan keinginan Andrew.