( Babak Keempat )
“Sebenarnya, kita ini mau kemana, Raisa ?” tanya Ella. Dia berjalan di belakangku, beriringan dengan Pak Soepomo. Langkah – langkahnya sudah tak selincah tadi. Semenjak turun dari mobil, tepatnya, di pintu masuk area tempat ini, kami berjalan tanpa henti.
Matahari sudah berada tepat diatas kepala, memanggang apa saja yang ada di sekitar kami. Panas menyengat. Tak heran Ella yang setiap harinya terbiasa naik kendaraan mudah merasa letih. Tetapi, bukan itu permasalahan yang sesungguhnya ... melainkan, kami berangkat menuju area ini dalam keadaan perut kosong. Aku heran, tidak merasa lapar atau haus sama sekali, tidak seperti biasanya.
Semenjak kejadian TV menyala sendiri, pertemuanku dengan Fera di alam bawah sadar, aku seperti orang kesetanan. Hampir setiap hari aku menghubungi Ella dan Pak Pomo hanya untuk meminta bantuan mereka mengantarku ke tempat ini. Aku tidak ingin terus – menerus dihantui oleh hantu kurir wanita itu. Setahuku, kami tidak ada hubungan apa – apa, kenalpun, tidak. Mengapa ia datang kepadaku, seolah – olah aku dianggap bersalah dan bertanggung jawab atas kejadian yang menimpanya.
Begitu Pak Pomo menghubungiku dan bersedia membantu, aku langsung mengajaknya ke area pembuangan mobil bekas dan besi tua. Sedangkan, jarak antara rumah dengan tempat ini lumayang jauh. Ella kuajak sekalian. Saat tiba di tempat ini, aku langsung memeriksa dan mencari mobil VW yang sudah digambarkan oleh Fera ke segala penjuru, ke setiap sudut. Jika jalanan itu memungkinkan untuk dilewati mobil, maka, tak perlu kami berjalan menyusuri tempat yang luasnya 2 kali lipat dari lapangan bola ini. Semula aku berpikir pekerjaan ini mudah, tidak membutuhkan waktu lama, tapi, salah.
Kami seperti berputar – putar di tempat yang sama. Keputus asaan mulai merayapi sekujur tubuh kami, lemas sekali rasanya, seakan tak ada lagi tenaga yang tersisa untuk melanjutkan pencarian. Hingga akhirnya, kami jatuh terduduk, bersandar pada sebuah bada mobil yang ditumbuhi oleh tanaman – tanaman liar, merambat dan ilalang setinggi orang dewasa.
“VW yang kita cari, sepertinya tidak ada di tempat ini, nak Raisa,” kata Pak Pomo sambil menyeka keringat yang mengalir membasahi dahi dan lehernya.
“Aku lapar, Sa... sejak tadi pagi kita tidak makan apa – apa, minumpun juga tidak sempat,” keluh Ella.
“Sebelum kita menemukan Fera, aku tidak bisa santai barang sedetikpun,” kataku.
“Tapi, kita harus makan untuk memulihkan tenaga dan pikiran kita, Sa...” sahut Ella.
“Nak Ella benar, kita harus menjaga agar tubuh kita stabil. Sebaiknya, kita cari makan dulu, nak... setelah itu kembali ke tempat ini,” usul Pak Pomo.
“Apakah paman tahu, warung atau rumah makan terdekat ?” tanyaku.
“Paman tahu, nak... ayo,” ajak Soepomo. Kami pun segera bergegas menuju pintu keluar. Aku membalikkan badan, pandanganku menyapu ke area yang baru saja kami telusuri, berharap salah satu dari sekian banyak mobil yang mangkrak itu ada VW Oranye milik Ok Go. Tapi, nihil ... padahal area ini adalah satu dari sekian banyak area pembuangan mobil dan besi – besi tua terluas di kota ini. Mungkinkah petunjuk yang diberikan oleh Fera .... Salah ?”
( UNTUK PARA PEMBACA YANG BERBAHAGIA, DALAM EPISODE INI RAISA AKAN DIPERTEMUKAN DENGAN ARIMBI, MARIBETH DAN CINDY PERMATASARI. BAGI ANDA YANG PENASARAN DENGAN ASAL-USUL ARIMBI, CS... SILAHKAN DISIMAK, “MASKER”, NOVEL SAYA YANG PERTAMA DAN SUDAH DITERBITKAN OLEH PIHAK NOVELTOON. SELAMAT MEMBACA )
Warung itu ...
Sekalipun kecil, akan tetapi, ramai akan pengunjung. Mulai dari orang yang berseragam putih biru hingga coklat dan doreng. Sebagian besar dari mereka memilih untuk membawa pulang makanan dan minuman pesanannya. Dari sekian banyak tamu yang berdatangan, ada 3 orang wanita yang duduk di sudut ruangan menarik perhatianku. Salah satu dari mereka mengenakan masker. Mereka juga balas menatapku, dan salah seorang dari mereka berjalan menghampiriku.
“Apakah mbak yang bernama Raisa ?” tanya wanita berkaos hitam berkerah dan celana jeans ketat itu.
Aku terkejut. Bagaimana mungkin ia tahu namaku padahal baru kali ini bertemu.
“Perkenalkan, Mbak ... nama saya Maribeth. Jika berkenan, bergabunglah dengan kami disana ...” katanya lagi. Sopan dan menarik. Itulah kesanku padanya, maka, aku tidak ragu untuk menolak ajakannya.
“Paman, saya hendak menemui teman – teman wanita ini sebentar, disana,” ujarku pada Pak Pomo yang sudah menyantap makanan pesanannya dengan lahap.
“Kau, berhati – hatilah pada orang asing, nak...” Pak Pomo menasihatkan, aku mengangguk dan berjalan mengikuti wanita bernama Maribeth itu.
“Iya. Apalagi wanita aneh macam mereka,” celetuk Ella.
Maribeth tersenyum, “Tenanglah, Mbak Ella... kami ada perlu sebentar dengan Mbak Raisa,” ujarnya ramah sambil menarik tanganku ke meja mereka sementara Ella tampak kebingungan,”Lo, apakah aku mengenalmu ?” tanyanya tapi kami sudah menjauh.
Wanita yang mengenakan masker itu bernama Arimbi. Di sebelah kanannya bernama Cindy Permatasari dan Maribeth duduk di samping kirinya. Wanita bernama Cindy itu tersenyum, gerak – geriknya lincah dan menyenangkan. Mataku melotot saat ia mengeluarkan sebatang wortel dari tas kulit berwarna merah dan disodorkan ke udara kosong. Wortel itu seperti ada yang menyambar dan menggigitnya.
“Dia bernama Timmy. Karena cerewet, Cindy beri dia wortel kesukaannya. Apa kabar Mbak Raisa,” kata Cindy.
“Tunggu, apakah aku pernah bertemu dengan kalian ? Kok kalian mengenal namaku ?”
“Kami memang tidak mengenal Anda, mbak... tapi, teman – teman kami mengenal Anda. Juga wanita berbaju kurir yang berdiri di belakang Mbak Raisa, kelihatannya dia sudah lama mengikuti Anda,” sahut Maribeth.
“Hah, teman – teman kalian ?! Dimana mereka ?” seruku sambil menoleh kesana –kemari.
“Mbak Raisa tidak bisa melihat mereka... karena, mereka beda alam dengan kita,” imbuh Cindy.
Aku terkejut sekali mendengar perkataan itu, “Sepertinya, aku berkenalan dengan orang yang salah,” kataku.
“Tidak,” sahut wanita yang mengenakan masker itu. Nadanya sangat tegas dan berwibawa, menghentikan langkah – langkahku yang hendak bergerak kembali ke tempat dimana aku duduk.
“Tenanglah, mbak...” kata Cindy, “Kami sama sekali tidak berniat menakuti ataupun berbuat yang bukan – bukan pada Anda. Kami hanya kasihan pada sosok yang berdiri di belakang Anda. Fera Budi Utami. Dia butuh bantuan, tapi sepertinya Anda tidak menyadarinya,”
“Kami bisa melihat ... apa yang tidak bisa dilihat oleh manusia pada umumnya,” sahut Arimbi, “Semula kami tidak ingin ikut campur dengan hal yang beginian, tapi, mereka mendesakku untuk turun tangan,”
“Mereka siapa ?” tanyaku.
“Teman – teman Cindy Permatasari,” jawab Arimbi singkat, sementara jari – jemarinya bergerak melepas maskernya lalu menaruh telunjuk kanan ke bibirnya yang merah merona. Isyarat bagiku untuk diam. Aku menurut sambil mata ini tidak lepas memandangnya. Dia cantik sekali, tapi, mengapa menutup hidung dan mulutnya dengan masker.
Lagi. Aku kembali berada di area pembuangan besi – besi tua, tempat sama yang seperti diperlihatkan Fera. Tapi, kali ini aku didampingi oleh Arimbi, Maribeth, Cindy dan lima orang asing ... dua orang wanita berwajah buruk dan mengerikan, tiga orang anak kecil, salah satunya tengah memakan wortel pemberian Cindy tadi dengan lahap. Siapa mereka ? Apakah mereka yang tadi disebut – sebut sebagai teman – teman Cindy. Yang membuatku terkejut lagi adalah, wanita berpakaian kurir ada diantara mereka.
“Hei, sejak kapan aku berada disini ? Bukankah tadi berada di sebuah warung ?” tanyaku.
“Akulah yang mengajakmu kemari, mbak,” sahut Arimbi, “Wanita yang bernama Fera itulah yang memberi petunjuk dan menjelaskan apa yang telah terjadi. Semuanya,”
“Aku sudah mendatangi tempat ini, tapi, tak kutemukan apa – apa,” tukasku.
“Kami mengerti, Mbak. Anda tidak bisa menemukannya karena ada beberapa hal yang menghalangi usaha Anda,” jelas Cindy.
“Kami berusaha membantu Anda untuk menemukan dimana sebenarnya jasad Fera berada,” imbuh Maribeth.
“Mbak Raisa,” sapa Arimbi, “Apakah Anda bisa melihat semak belukar itu ?”
Aku mengalihkan pandanganku ke arah yang ditunjuk oleh Arimbi. Tepat di sebelah utara tempat kami berdiri, tampak rimbunan semak belukar, tumbuh lebat dan merayap juga ilalang setinggi orang dewasa. Tumbuhan liar itu bentuknya aneh, tumbuh diatas permukaan besi, pemandangan yang tak masuk akal menurutku. Biasanya tanaman atau tumbuh – tumbuhan itu tumbuh diatas permukaan tanah tapi, ini ...
“Fera berkata... masih ada sebuah tugas ysang belum diselesaikan. Itulah sebabnya, Anda tidak bisa menemukan jasadnya,” kata Arimbi.
Pada saat itulah, entah tiba – tiba kami sudah kembali berada di warung, hanya kami berempat sementara yang lain lenyap entah kemana. Arimbi sudah mengenakan maskernya.
“Terima kasih atas bantuanmu, mbak,” kataku, “Aku tak mengerti, wajah Anda begitu cantik, mengapa Anda menyembunyikannya di balik masker ?”
“Wajahku biasa – biasa saja, mbak. Aku mengenakan ini, karena tidak ingin melihat ... apa yang seharusnya tidak boleh dilihat orang pada umumnya. Dan, Fera akan membantu Anda, jika waktunya sudah tiba dan itu tidak lama lagi,” jelas Arimbi.
Pertemuanku dengan Arimbi singkat sekali, tetapi menimbulkan kesan tersendiri. Terlebih pada Cindy Permatasari, seorang wanita yang memiliki sahabat – sahabat hantu. Sayang sekali mereka tidak bisa tinggal atau setidaknya, menemaniku hingga Fera ditemukan. Mereka masih ada urusan lain.
“Pergunakan indera penciuman Anda jika kelak ia datang lagi. Itulah satu – satunya cara untuk menenmukan jenazahnya ...” Itulah nasihat terakhir dari Arimbi sebelum mohon diri. Ia hanya memberiku kartu nama, berjaga – jaga jikalau membutuhkan pertolongannya. Yah, pencarian jenazah Fera kuhentikan sementara waktu. Selesai makan, aku mengambil keputusan untuk pulang hari itu juga.
____ Bersambung Babak Kelima ____
( Rabu, 28 Des 2022 )