Udara malam yang dingin begitu menusuk, beberapa orang dewasa menganggap malam itu adalah malam biasa seperti malam-malam sebelumnya. Tapi bagi sebagian orang terutama para remaja 31 Oktober adalah malam yang paling mereka tunggu, dimana mereka bisa berpesta semalaman tanpa khawatir dicari oleh orang tua mereka karena malam ini adalah malam Halloween.
Tak terkecuali bagi Aya dan temannya, dengan kompak mereka berempat menggunakan kostum perawat dengan warna rok yang berbeda-beda. Minami terlihat imut dengan rambut pendek dan rok berwarna pink tua yang selaras dengan sepatu baletnya yang juga berwarna pink.
Yuki memiliki tubuh lebih tinggi dari yang lainnya ia menggunakan rok berwarna biru yang membuatnya terlihat anggun dengan rambut yang dibiarkan terurai.
Nanako menguncir rambutnya menjadi dua, ia menggunakan rok berwarna merah cerah yang membuatnya terlihat sangat seksi.
Sementara Aya tampil sederhana dengan rambut terurai sebahu, ia benar-benar terlihat seperti layaknya seorang perawat di rumah sakit.
"Pesta yang sangat menakjubkan." Yuki tertawa lepas sambil memakan camilan yang disediakan.
"Tapi di Tokyo mungkin akan lebih bagus dari ini, benarkan Aya?" Ujar Nanako sambil merangkul pundak Aya.
Aya justru terlihat sedih, malam itu adalah malam terakhir ia tinggal di Koshigaya, karena dua hari lagi ia akan pergi ke Tokyo dan menetap di sana. Yang artinya, ia akan meninggalkan sekolah dan teman-temannya.
"Aya, jangan sedih. nikmati saja pestanya, siapapun yang mengadakan pesta ini kurasa ia adalah orang hebat." Minami mencoba untuk menghibur Aya.
"Kau benar, andai aku bisa bertemu orang yang mengadakan pesta ini. aku akan mengucapkan banyak terima kasih." Aya tersenyum sambil menatap teman-temannya.
mereka saling memandang, tertawa sebelum akhirnya saling berpelukan.
"Hay." seorang lelaki tampan berjalan mendekati mereka. "Kalian menyukai pestanya?"
"Ya, kami sangat menyukainya. Sayangnya tidak ada alkohol disini." Yuki menjawab secara spontan yang membuat Aya menyenggol lengannya agar Yuki lebih menjaga perkataannya.
Lelaki tersebut tertawa.
"Ini pesta anak SMA, mana mungkin kami menyediakan alkohol."
Lelaki itu pun menyodorkan lengannya
"Perkenalkan, namaku Rey."
"Namaku Yuki, yang ini si imut Minami, ini si cantik Nanako dan ini Aya si gadis pemalu." Yuki menyalami Rey dan memperkenalkan semua temannya beserta julukan mereka.
"Ayo ikut aku, tadi aku dengar ada yang ingin berterima kasih kepada si penyelenggara pesta."
Rey merangkul Yuki yang membuat wajah Yuki memerah, Yuki tersenyum bahagia sambil menatap ke arah teman-temannya. saat mereka berjalan tiba-tiba saja seseorang berpakaian mumi mengejutkan mereka, Aya yang merupakan seorang penakut berteriak kencang dan hampir terjatuh beruntung seseorang dengan singap langsung menangkapnya.
semua orang tertawa melihat reaksi Aya, termasuk teman-temannya.
"Kurasa ia lebih cocok disebut penakut ketimbang pemalu." Cetus Rey
"Apa aku menakutimu?, maafkan aku aku tidak bermaksud membuatmu takut." Tatapan mata indah berwarna coklat cerah membuat Aya gugup, Aya tak dapat melontarkan sepatah katapun.
"Sasori, hentikan kebiasaan mu yang gemar menakuti para gadis, kau lihat ia gemetaran."
Aya sadar bahwa tubuhnya masih berada dalam pelukan lelaki tersebut langsung melepaskan diri.
"Maaf."
"Tidak perlu meminta maaf, temanku memang usil. oh ya, perkenalkan namanya Sasori dan yang tadi memelukmu adalah Mugi." Ujar Rey
Aya menatap Mugi sekilas, ia terlihat jauh lebih tampan ketimbang yang lainnya. Mugi menyadari tatapan Aya dan membalas tatapannya yang membuat Aya tertunduk malu.
kini mereka sudah berada disebuah ruangan khusus dimana sudah ada seorang lelaki lain disana.
"Kalian dari mana saja."
"Ayolah, kami hanya mencari udara segar."
wajah lelaki tersebut terlihat kesal dan marah, namun begitu melihat Aya dan teman-temannya masuk ekspresinya langsung berubah. ia tersenyum manis, dan langsung memperkenalkan diri.
"Hay, namaku Tamaki. Siapa namamu gadis manis?" Tamaki langsung berjalan menuju Minami yang terlihat gugup.
"Namanya Minami, dia memang yang paling manis dan imut diantara kami." ujar Yuki dengan penuh percaya diri.
Setelah saling berkenalan merekapun mengobrol, Rey membawakan mereka minuman dan camilan. karena suasana yang mulai membosankan Rey mengusulkan agar mereka bermain sebuah game
"Permainan ini aku namai Trick or treat, aku akan menyusun balok kayu ini secara acak. di setiap balok terdapat sebuah tantangan yang harus kalian jalani, jika kalian tidak melakukan apa yang tertulis maka kalian akan dihukum."
"Yosh, kalau begitu aku akan mulai lebih dulu." Yuki mengambil potongan balok pertama yang berisi sebuah perintah.
'Cubit pipi orang disampingmu.'
"Awww.... Yuki, sakit tau." Nanako memegangi pipi kanannya.
"Maaf, perintahnya cubit orang disampingmu."
"Kan ada Minami? Kau curang."
"Sudah jangan bertengkar, begini saja kita duduk dengan posisi acak jadi kita bisa memilih untuk menghukum teman sendiri atau salah satu dari kami."
merekapun berganti posisi, dengan urutan Yuki, Rey, Minami, Tamaki, Nanako, Sasori, Aya, Dan Mugi. Aya merasa gugup duduk bersebelahan dengan Mugi, karena sebelumnya mereka pernah berpelukan tanpa sengaja.
permainan berjalan dengan seru, setiap tantangan berhasil dilaksanakan dengan baik. Kini giliran Mugi untuk mengambil balok kayu.
'Cium seseorang.'
Mugi terkejut begitu membacanya, ia dengan ragu menunjukkan isi tantangan tersebut.
"Kyaaa....., kau harus memilih Aya." Yuki berteriak girang, Minami dan Nanako ikut menyemangati agar Mugi memilih Aya.
Aya menjadi gugup, tiba-tiba ia merasa ingin buang air kecil. karena takut bila pergi sendirian ia hanya diam sambil menunduk.
"Ingin kutemani?" Mugi yang mengerti keadaan Aya pun mengajukan diri untuk menemaninya.
Aya memandang sekeliling, teman-temannya sedang asyik menikmati jalannya permainan. ia tidak tega jika harus meminta mereka menemaninya, Mugi dan Aya pamit untuk pergi ke kamar mandi.
"Kalian lihat, mereka ingin melakukannya secara sembunyi-sembunyi." ujar Nanako dengan tawa lepas.
kini Aya Dan Mugi sudah kembali ke permainan, sekarang giliran Rey untuk mengambil balok kayu.
Aya sebenarnya merasa haus ia memandangi gelas jus dihadapannya.
'Jika aku minum, akan merepotkan bila harus meminta Mugi menemaniku ke toilet. sebaiknya aku tidak minum saja.' batin Aya.
"Sekarang para gadis kalian harus membuka dua kancing baju kalian." Rey tertawa sambil melemparkan balok kayu tersebut.
"Aya, kau tidak mau minum?" tanya Mugi
"Aku tidak haus." jawab Aya.
Yuki, Minami dan Nanako membuka dua kancing bajunya, Aya masih belum menyadari apa yang terjadi ia hanya fokus mengobrol dengan Mugi.
"Sial, aku harus melepaskan celana dalamku."
Aya melihat Yuki melepas celana dalamnya ia terkejut dan mencoba menghentikan Yuki.
"Hey, apa-apaan. kau sudah gila!!!"
Yuki terlihat seperti orang mabuk, wajahnya memerah dan nafasnya bau alkohol. Aya memperhatikan sekeliling, kini ia baru menyadari apa yang terjadi.
"Wah, wah, wah. Gadis ini masih sadar rupanya, kau sudah tahu tentang minuman itu ya?" ujar Mugi
Aya melihat keadaan Nanako dan Minami yang tidak jauh berbeda dengan Yuki, bahkan Nanako dengan kondisi sudah setengah telanjang.
Aya ketakutan, ia berteriak dan berusaha lari. tapi Mugi menghalanginya, sementara Rey, Tamaki, dan Sasori sedang asyik bermain-main dengan Yuki.
Aya menendang selangkangan Mugi, ia keluar dan berlari meminta bantuannya. ternyata di pesta tersebut semua orang sudah dalam keadaan mabuk, tak ada satupun yang dapat menolongnya. kini Aya berlari keluar menuju jalanan, ia bertemu dengan beberapa orang dewasa yang baru pulang dari kantor.
"Kumohon bantu aku dan teman-temanku." Ujar Aya lirih.
"Hey, kenapa kau memakai baju suster? kau sedang cosplay?"
"Tidak, malam ini Halloween. aku dan teman-temanku sedang pergi ke pesta,namun sekarang mereka sedang dalam bahaya."
para orang dewasa tersebut justru tertawa lepas mendengar pernyataan Aya.
"Kerja bagus nak, kau hampir membuat kami mati ketakutan. Lelucon Halloween yang bagus, tapi kami tidak ada waktu untuk bermain sampai jumpa."
"Tunggu."
Dari arah belakang Mugi membekap mulut Aya.
"Sejak awal aku tahu kalau kalian masih SMP, kami sudah menyusun rencana untuk menjebak gadis-gadis nakal seperti kalian. semua isi permainan balok, kami sudah mengetahui posisinya dengan baik. berteriak lah, tidak akan ada yang menolongmu karena ini adalah malam Halloween." Bisik Mugi.