Langkah kaki seorang wanita tertatih membelah jalanan di derasnya guyuran air hujan. Tubuh menggigil menahan dingin. Hati perih tertancap belati. Tangis pilu bercampur air hujan. Teriakan nya berlomba dengan gemuruh petir. Semesta ikut dalam kesedihan wanita itu. Dia yang dari kalangan rendah tidak diterima. Kenapa harus membedakan kasta? Tidak cukupkah hati yang tulus dan cinta yang nyata sebagai penentu restu.
"Tinggalin wanita miskin dan tidak berpendidikan seperti itu! Kau punya segalanya dan dia terlalu rendah untuk keluarga kita," teriakan seorang ayah menggema di seluruh sudut ruang keluarga Sanjaya. Salah satu keluarga kaya yang terpandang di Surabaya.
"Pa, aku lihat dia bukan dari status sosial nya. Dia wanita yang baik dan dia juga mencintai ku dengan tulus," bantah sang anak bernama Aldo.
"Mana ada cinta tulus dari wanita miskin seperti dia. Pasti semuanya palsu dan dia hanya akan memanfaatkan dirimu. Hanya ingin harta dan menaikkan status sosialnya saja." Sang ayah kembali meyakinkan sang putra bahwa wanita yang di ajak ke rumahnya adalah wanita tidak baik.
"Bahkan Heni tidak tahu kalau aku berasal dari keluarga kaya pa, selama ini aku selalu pura-pura menjadi pria miskin agar bisa mendapatkan cinta yang tulus dari seorang wanita. Dan aku mendapatkan itu dari Heni. Aku kenal keluarganya juga pa, sederhana tapi keluarga nya penuh cinta."
"Bullshiit cinta. Papa tidak akan merestui hubungan kalian. Banyak wanita yang lebih cantik dan baik dari dia."
"Pa, aku mohon restui kami. Aku mencintai dia begitupun sebaliknya." Aldo mengiba kepada sang Papa. Berharap ada sedikit belas kasih untuk dirinya yang sedang berjuang demi cinta.
"Keputusan papa mutlak. Sampai kapanpun aku tidak akan menerima dia."
"Pa, tak bolehkah aku sekali saja menentukan jalan hidupku? Dari kecil semua keinginan papa aku turuti. Bahkan aku harus kuliah mengambil bidang yang bahkan aku tidak suka. Sekali ini saja pa, aku mohon!" suara Aldo bergetar menahan tangis.
Tanpa mendengarkan sang anak Budi pergi dari ruang keluarga begitu saja. Ia berjalan menuju ke ruang tamu dimana ada seorang wanita yang sedang tersenyum manis menatap seorang wanita paruh baya yang ada di sebrang tempat duduknya.
"Aku tidak ingin basa-basi. Aku tidak merestui hubungan kalian. Kau tidak pantas berada di lingkungan kami." Ucap Budi.
Senyum Heni surut seketika. Jantung nya berdecak kencang. Dan rasa sesak melingkupi rongga paru-paru nya. Dengan kuat ia meremas ujung dress yang ia kenakan. Pandangannya tertunduk dan kedua mata indahnya sudah tergenang cairan bening.
"Pa, dia wanita yang baik," bela wanita paruh baya. Dia adalah Rima ibu Aldo.
"Hanya bertemu sekali tidak bisa menjamin dia baik atau ngga. Tidak sedikit orang miskin yang pura-pura baik hanya untuk menjerat pria kaya hanya untuk mengangkat derajatnya."
"Papa cukup!" teriak Aldo.
"Dia cantik tapi miskin dan tidak berpendidikan. Tidak akan bisa berbaur di lingkungan kita. Dan orang seperti dia hanya akan membuat kita malu. Orang tuanya pasti tidak becus mendidik anaknya. Kenapa bisa mencari pria kaya. Padahal dia sendiri miskin."
"Papa sudah!" pinta Rima.
Heni bangkit dari tempat duduknya. Ia menatap dengan tajam kearah Budi. Ada sirat kesakitan dan kesedihan yang tidak bisa di jelaskan.
"Pak, saya memang miskin dan tidak berpendidikan. Hina saya sesuka bapak akan saya terima tapi, tolong jangan bawa orang tua saya. Bapak tidak tahu seperti apa mereka. Jadi cukup bapak hina saya, karena yang bapak lihat saya."
"Belum apa-apa sudah berani melawan" Ucap Budi.
"Saya tidak melawan. Saya menjelaskan pak. Semut saja kalau di injak akan menggigit bukan?"
"Saya tahu diri dan saya akan pergi ke tempat dimana saya di hargai. Dan ingat satu hal saya mencintai anak bapak dengan hati bukan dengan logika. Jadi, saya pastikan semua tulus. Aku yang rendah ini suatu hari nanti akan menjadi tinggi dan saat hari itu tiba kuharap kita tidak saling bertegur sapa. Bukan saya sakit hati, tapi saya yang sudah tinggi tidak pantas untuk anda tegur."
Kalimat Heni membuat semua orang bungkam. Wanita itu dengan percaya diri menantang Budi.
"Perkataan anda ibarat gerimis yang hanya menggelitik hati. Asal anda tahu, badai saja pernah saya lalui dan sampai detik ini saya masih kuat dan baik-baik saja. Tunggu hari itu tiba dan saya permisi," pamit Heni ia berjalan keluar meninggalkan kediaman Sanjaya.
***
Peluh menetes membasahi wajah cantik Heni. Hari ini kiriman paket nya banyak sehingga ia harus ikut membantu karyawan nya.
"Mbak Heni istirahat saja! Sepertinya mba sudah lelah karena dari kemarin sudah lembur kerja. Ini tugas kami mba." Ucap salah satu karyawan Heni.
"Aku ngga apa-apa. Ini juga tugasku, dan aku sudah biasa bekerja keras. Lelah tubuhku akan hilang saat aku tidur sebentar. Jadi, kau tenanglah."
"Aku salut sama mbak Heni masih muda tapi punya semangat yang tinggi." Salah satu karyawan ikut menimpali.
"Aku seperti ini ada sebabnya. Aku pernah di hina jadi aku harus buktikan bahwa aku adalah wanita yang kuat dan tahan banting. Aku juga kehilangan cinta. Ketahuilah aku pernah di titik terendah dan terpurukku. Restu orang tua dari pujaan hati yang tidak ku dapat. Dan aku harus menelan pil pahit saat dia yang aku cinta pergi untuk selamanya karena kecelakaan dan itu selang beberapa hari saat kita putus. Lebih tepatnya di paksa putus orangtuanya. Aku selalu menangis dan menyalahkan takdir saat itu. Bahkan aku merasa sepi saat di keramaian."
"Ternyata mbak Heni pernah mengalami semua itu."
"Itu cerita hidup cukup di kenang. Dan yang buat aku semangat adalah ucapan Aldo yang selalu terngiang di ingatanku. Dia bilang wanita baik dan kuat akan tetap berdiri kokoh walaupun di jatuhkan dan akan tetap berharga. Di rendahkan adalah cambukan semangat untuk naik lebih tinggi. Jadi, tugas kita hanya membuktikannya."
Karyawan yang mendengar cerita Heni hanya bisa diam dan beberapa dari mereka meneteskan air mata.
***
" Sayang, aku datang. Bagaimana kabarmu? Aku bahagia disini walaupun tanpa kamu. Produk kosmetik ku sudah ada beberapa cabang di Indonesia. Aku sekarang menjadi wanita kaya." Ucap Heni di depan pusara sang kekasih Aldo.
"Aku akan datang lagi dan bercerita semua hal yang terjadi di hidupku. Sayang, pelukan hangat mu ku rindu. Aku ingin ber manja denganmu. Tapi sudah tidak bisa lagi. Terimakasih untuk segalanya cinta. Pria baik yang selalu ku cintai dengan hati."
Langkah kaki Heni terhenti, saat ia melihat ada pria paruh baya yang menatap nya. Tanpa peduli dengan tatapan pria tersebut ia melanjutkan langkah nya.
" Tunggu!" panggil pria tersebut. Dia adalah ayah dari Aldo. Orang yang tidak ingin ia sapa saat bertemu.
"Aku minta maaf seandainya aku merestui hubungan kalian waktu itu." Budi berucap dengan penuh penyesalan
"Tidak perlu minta maaf karena semua sudah berlalu. Kata-kata anda tidak akan mengubah apapun. Cintaku telah pergi untuk selamanya dan tidak akan kembali. Jangan ungkit luka yang sudah aku tutup tuan. Satu hal yang harus anda tahu, Aldo akan selalu menjadi lentera di hidupku walaupun raga terpisah jauh ruang dan waktu."
Tanpa mendengar jawaban dari Budi, ia berlalu begitu saja. Tidak ingin bertegur sapa saat bertemu itu adalah keinginan Heni. Tapi saat ini ia di depan pusara Aldo jadi hatinya tidak akan tega. Wanita kuat itu tetap kokoh berdiri di terpa badai menjadi keras diri tapi masih dengan hati yang lembut.
***
Aku mencintaimu dengan hati bukan logika.
Cinta itu indah, dan juga perih dua rasa yang hadir bersamaan.
Waktu terlalu berharga untuk kita, jadi lakukan sekarang atau tidak sama sekali. Jadi, buktikan setiap detik yang terlewati selalu bermakna.
Kuat dan tegar adalah keharusan.
Semangat!
Terima kasih telah menyempatkan diri membaca cerpenku 🙏
Aku sayang kalian ❤️