Dinda telah usai menghias pohon Natal di rumahnya, lampu rumah sengaja tidak dinyalakan agar dia bisa menikmati kerlap-kerlip indahnya lampu Natal, dengan diiringi lagu Natal yang bernuansa jazz, menambah syahdu suasana, waktu telah menunjukan pukul 10 malam, suaminya Dedi belum pulang, padahal setau Dinda bukan jadwalnya Dedi piket. Dinda enggan menelpon atau mengirim pesan menanyakan keberadaan suaminya itu.
Dedi dan Dinda telah menikah selama lima tahun, pernikahan ini belum dikaruniai buah hati, Dinda sudah mendesak Dedi untuk periksa ke dokter, namun jawabannya, “Kamu tidak percaya kedaulatan Tuhan.” Dinda lebih memilih untuk menghindari perdebatan, malu kedengaran tetangga, namun karena terlalu menjaga ketenangan rumah tangga, terjadilah pergolakan batin di dalam diri Dinda. Apa perlakuan Dedi akan sama jika yang jadi istrinya adalah Sinta? Dinda selalu bertanya di dalam hatinya saat Dedi menolak pemeriksaan ke dokter.
Dedi yang bertugas di Kodim Dipenogoro telah berpangkat koptu seringkali melambat-lambatkan diri untuk pulang ke rumah, dia lebih nyaman di kantor atau nongkrong di café melihat medsos dan ngobrol dengan temannya. Dedipun sadar apa yang dibuat dirinya adalah salah, namun dia pun ingin menghindari perdebatan, seperti malam ini dia pulang dan dilihatnya pohon Natal telah terpajang di ruang tamu dalam hatinya berkata, Sudah mau Natal ternyata. Dibukanya pintu kamar, Dinda telah tidur dengan nyenyak, makan malam seperti biasa selalu tersedia di meja makan.
Dedi langsung ke kamar mandi membersihkan dirinya, lalu berganti pakaian, diambilnya piring dan dia makan malam ditemani kesunyian, sambil memandang pohon Natal. Dinda keluar dari kamar dan bertanya, “Baru pulang, Mas?”
“Dari tadi, maaf kamu terbangun ya,” kata Dedi.
“Mas, jangan terlalu sering pulang malam, kalau gak piket, walau kita tidak tinggal di asrama, tapi kan apa kata tetangga,” Dinda akhirnya mengeluarkan isi hatinya.
“Maaf,” jawab Dedi singkat dan langsung pergi ke dapur meletakan piring makannya.
Dedi kembali ke ruang tamu duduk, Dinda masih juga duduk di ruang tamu sambil melihat ponsel, maka yang terjadi malam itu, tak ada perbincangan hanya dua insan yang sama-sama sibuk dengan ponselnya namun duduk di satu ruangan yang sama. Dinda yang sadar dengan keadaan itu menarik napas dalam-dalam dan berdiri berjalan masuk ke kamar, Dedi mendengar helaan napas Dinda langsung bertanya, “Ada apa Din?”
“Lucu aja, kamu baru pulang , sudah tengah malam, namun tak ada yang ingin diceritakan ke istri, langsung main ponsel lagi, kita satu rumah namun terasa asing,” Dinda menjawab di depan pintu kamar.
“Biasanya juga begitu, kok baru kali ini kamu permasalahkan?” tanya Dedi. Dinda menjawab dari dalam kamar, “Selalu saja ada kata pembelaan diri, bukan introspeksi diri.” Dedi langsung masuk kamar dan bertanya kepada Dinda, “Kamu kenapa malam ini?” “Aku muak Mas, dengan kehidupan rumah tangga kita, lima tahun seperti ini, aku tau kamu malas pulang ke rumah, walau sudah selesai jam kerja, aku tau kamu malas ngobrol dengan aku, sehingga kamu hanya sibukkan diri dengan ponsel dan sengaja pulang saat aku sudah tidur,” Dinda menjawab pertanyaan Dedi dengan nada tinggi.
“Kita tidak bisa mundur, tidak bisa pisah, jadi jalani saja, dan terima,” jawab Dedi santai menanggapi sikap Dinda. “Tapi gak bisa seperti ini terus dong Dedi, kalau begini, biarkan aku pulang Natalan ini ke rumah orang tuaku, kamu saja yang berpikir, jika masih mau berumah tangga denganku, maka rubah semua sikapmu dan aku akan kembali ke sini, jika kamu tidak mau berubah, kita pisah saja dan aku akan tetap di Menado,” Kata Dinda.
Dedi tidak menyangka ucapan Dinda adalah kesungguhan yang diwujudnyatakan Dinda, lusanya Dinda menunjukan tiket ke Menado yang telah ia beli, “Besok aku berangkat ke Menado, kamu urus rumah baik-baik ya, aku sudah beli tiket.” Dedi menjawab Dinda, “Kamu beneran berangkat, kamu gak boleh begtu dong, istri apa yang pergi tanpa minta ijin sama suami, apa jawaban saya ke pimpinan jika tau kamu berangkat sendiri?” Dinda dengan tenang menjawab Dedi, “Bilang saja, aku mengunjungi orang tuaku, dan jangan bicara etika menjadi istri disini, apa kamu sudah lakukan etika menjadi suami yang benar?”
Dedi dengan kesal dan langsung pergi keluar rumah untuk kerja, selesai apel pagi, semua menuju ruangan kerja masing-masing, ada yang di lapangan dan ada yang di dalam ruangan. “Kenapa Dedi, wajahmu murung?” Tanya Sardi. “Gak apa-apa,” Jawab Dedi. Saat tengah hari, ponsel Dedi berbunyi ada pesan masuk dari Sinta, selama ini Dedi dan Sinta masih komunikasi, hal ini jugalah yang membuat Dedi belum bisa mencintai Dinda dengan sepenuh hati.
Selamat siang Mas, lagi buat apa? Pesan singkat Sinta pada Dedi. Lagi dudu-duduk saja balas Dedi. Masakh hanya duduk-duduk jam segini? Natal dimana tahun ini? Pulang Jogja? Sinta mengirim pesan agak panjang. Dedi sempat membaca namun ntah kenapa tangannya berat untuk membalas. Sardi yang melihat Dedi langsung menegurnya lagi, “Dedi ada apa ceritakanlah.”
Dedi memandang Sardi. “Maaf Di, aku gak bisa cerita ke kamu.” Pulang kerja hari itu Dedi langsung pulang ke rumah, dilihatnya Dinda telah merapikan semua pakaian ke dalam tas koper untuk berangkat besok. “Kamu jadi berangkat besok Din?” Tanya Dedi. “Jadi,” Jawab Dinda. Dedi hanya diam. Usai Dinda merapikan semuanya, Dinda membuat the panas dan duduk meluruskan kakinya. “Kamu pergi liburan saja, setelah tahun baru kembalilah ke sini, nanti jika bisa aku nyusul untuk tanggal 24 dan 25,” Suara Dedi lembut dan tenang. “Ok, tapi ku harap tahun baru kehidupan kita tak seperti ini lagi Dedi,” kata Dinda.
Besoknya Dedi ijin mengantar istrinya ke bandara untuk berangkat ke Menado, Dedi dan Dinda bertemu di Menado, saat Dedi dan keluarganya pulang kampung ke menado. Dedi yang berdarah campuran ayahnya Jogja dan ibunya Menado, sedangkan Dinda asli orang Menado. Mereka bertemu di Gereja, mamanya Dedi sangat berharap mempunyai menantu orang Menado agar bisa pulang ke Menado tepatnya di Tomohon.
Dedi saat awal dijodohkan dengan Dinda statusnya baru saja putus sebulan dari Sinta, dan setuju saja untuk dinikahkan dengan Dinda, Dinda sangat senang dinikahkan dengan Dedi. Pemberkatan nikah dilaksanakan di Tomohon, Sinta sangat marah kepada Dedi, tak menyangka secepat itu Dedi mendapat penggantinya. Tingkah laku Sinta sangat tak disukai orang tua Dedi, yang terkesan sangat egois, dan tak mau diajar masak makanan Menado. Sinta akhirnya mengemis kepada Dedi di telepon. Aku minta kamu jangan putuskan komunikasi kita berdua, sampai kapanpun. Dedi menyetujui, namun tak disangka Dedi hal ini membawa aura buruk ke dalam rumah tangga dia dengan Dinda.
Dinda sangat senang dapat berkumpul dengan keluarganya di Tomohon, kota yang memiliki suhu dingin dan memiliki keindahan bunga-bunga tiada tandingnya, lalu segala aneka ragam makanan yang akan membuat timbangan akan semakin menganan. “Din, ngana nda batelpon dengan Dedi, bakabar jo ngana ada sehat-sehat di sini,” kata mamanya Dinda. “Nanti jo mam, kita ada kirim WA,” kata Dinda. Dinda sengaja tak menghubungi Dedi, walau sudah seminggu di Tomohon, Dinda ingin memberi waktu bagi mereka berdua untuk berpikir tentang rumah tangga mereka.
Sinta yang tau Dinda ke Menado melalui akun Facebook semakin giat menghubungi Dedi gak lihat waktu, pagi, siang dan malam. Dedi melayani setiap pesan dan telepon dari Sinta, hingga akhirnya dia sadar Dinda tak ada kabar seminggu ini, hanya tau kabar lewat Facebook. Malam itu Dedi duduk sendirian di ruang tamu rumahnya, memandang pohon Natal yang di pajang oleh istrinya, dia duduk merenung, telepon dari Sinta malam itu tak dijawabnya. Dedi teringat perkataan Dinda, kepergian Dinda agar mereka berpikir tentang jalannya rumah tangga mereka.
Dalam perenungan, Dedi menangis dalam diam, dalam hati kecilnya terjadi pergolakan batin rasa takut akan Tuhan karena telah berjanji di hadapan Tuhan untuk setia dalam membangun rumah tangga, namun cinta yang tak bisa dipaksa yang harus dia beri kepada Dinda. Dedi menelepon mamanya. Hallo Mam. Mamanya menjawab Hallo Dedi, apa kabar ngana? Tanya Mamanya di telepon. Kurang baik Mam, kita ada buat salah, Dinda so pulang Menado, dia suruh torang dua bapikir for torang pe rumah tangga, karna Dedi kurang parhatian pa dia, Dedi masih sering bakomunikasi dengan Sinta,” Cerita itu mengalir dengan lancar dari mulut Dedi sambil di sertai suara tahan tangis.
Dedi, rumah tangga boleh terjadi bukan karena mama papa atau karna ngoni dua, mar karna Tuhan Yesus pe kehendak, ingat pa Tuhan Dedi, inga ngana pe janji di hadapan Tuhan dan jemaat, ada maksud dan tujuan Tuhan for ngoni pe rumah tangga, jangan baliat ke belakang nanti ngana jadi tiang garam, rajin doa dan baca Alkitab supa ngana pe hati tabuka for Dinda, itu jo mama pe nasehat, selebihnya ngana no yang jalani. Mamanya Dedi memberi nasehat melalui telepon. Terima kase Mam, masih mo kase ingat kita. Jawab Dedi di telepon mengakhiri teleponnya dengan mamanya.
Besok paginya Dedi mengirim pesan kepada Sinta. Shallom Sinta, terima kasih selama ini kamu telah menjadi teman yang baik bagi saya, namun ada waktunya kita berkomunikasi dan ada waktunya kita menahan diri untuk tak lagi berkomunikasi, ini sudah waktunya, berdoa dan percayalah pada Tuhan, minta pa Tuhan agar ngana di kirimkan jodoh yang baik. Sekarang sudah waktunya saya fokus dengan keluarga saya, kita batasi komunikasi kita agar jangan sampai kasih terlarang ini akan menjadi zinah bagi kita berdua dan dosa dalam hidup ini. Sukacita menyambut Natal selalu ada dalam hidupmu, Tuhan Yesus memberkatimu.
Sinta menelepon Dedi namun tak diangkat Dedi, Dedipun akhirnya memblokir nomor HP Sinta. Dedi mengurus surat cuti, meminta agar bisa seminggu libur Natal di Menado, Dedi tetap tidak menghubungi Dinda. Tanggal 23 Desember 2022, Dedi tiba di depan rumahnya Dinda di Tomohon. “Hallo Dedi,” Suara mamanya Dinda bisa mengagetkan satu lorong aer dingin Kinilow. Ibadah malam Natal Dedi dan Dinda pergi berdua, Dedi memegang tangan Dinda sambil berjalan kaki menuju Gereja, angin dingin menerpa wajah mereka.
“Mas, jangan sampai ngana ini datang kemari, for pura-pura agar tidak dimarah kita pe orang tua,” Dinda membuka percakapan setelah sehari penuh Dinda menahan diri karena seisi rumah begitu bahagia dengan kedatangan Dedi. “Dulu boleh kita pura-pura cinta ngana, namun sekarang so tidak, kita so sadar,” Jawab Dedi. Dinda hanya diam dalam hatinya berkata Terima kase Tuhan untuk hadiah Natal ini, rumah tanggaku telah Kau jaga.
Tamat.