"Mah, Aqila berangkat sekolah! Assalamualaikum." Teriak gadis berusia 18 tahun itu.
"Waalaikumsalam!" Jawab Elina, mamah Aqila sembari berjalan dari arah dapur. "Eh, salim dulu dong!"
"Eh iya, hampir lupa. Hehe." Aqila terkekeh dan mencium tangan Elina.
"Hati hati di jalan sayang!" Elina mengusap rambut Aqila.
"Siap Mah, aku berangkat dulu. Daahh." Aqila pergi sambil melambaikan tangannya.
Elina melihat kepergian Aqila, dia memegang dadanya seolah merasa tidak tenang. Namun Elina segera menggelengkan kepalanya. "Mungkin hanya perasaanku saja!"
Elina sekali lagi melihat ke arah kepergian Aqila, menghela napas panjang dan masuk ke dalam rumah.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Setibanya di sekolah, Aqila segera menghampiri teman temannya. "Lagi gibahin apaan nih?"
"Qila, lo udah tau belum, kelas 12A kedatangan siswa baru?" Tanya Keisya.
"Oh, cowok atau cewek?" Tanya Aqila dengan jiwa gibah yang menggebu gebu.
"Cowok!" Jawab Dian.
"Boleh tuh!" Aqila terkekeh.
"Mulai deh Aqila, lupa masih ada Gibran yang ngejar ngejar lo?" Ledek Dian, Keisya terkekeh.
Mendengar ledekan kedua sahabatnya, Aqila hanya memutar bola matanya.
"Yaudah, yuk ke kelas! Bentar lagi bel bunyi." Ajak Keisya berhenti menggoda Aqila.
Mereka bertiga berjalan menyusuri koridor menuju ruang kelas 12A.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di dalam kelas, suasana sangat ramai. Semua siswa perempuan mengerumuni seorang siswa laki laki.
Aqila, Keisya dan Dian memasuki kelas. Mereka bertiga menganga melihat teman temannya mengerumuni seseorang. Dan orang itu adalah siswa baru.
"Bubar bubar, kalian bikin pengap tau gak! Hei lo pada, duduk di bangku masing masing, kita bertiga mau duduk di tempat kita!" Usir Dian dan Keisya membubarkan kerumunan.
"Huuu...!" Teriak mereka.
"Apa? Mau adu jotos?" Dian yang kesannya tomboi, mengepalkan tinjunya pada mereka yang berteriak.
Dan ancamannya berhasil membuat mereka terdiam.
"Anak pintar!" Kata Dian penuh kemenangan.
Aqila hanya geleng gelengkan kepala melihat tingkah teman temannya. Ini adalah hal yang biasa terjadi di kelas. Tidak ada ancaman sesungguhnya, hanya candaan yang membuat ikatan pertemanan mereka semakin erat.
"Hai, boleh dudukkan?" Tanya Aqila.
"Boleh kok, lagian ini bangku lo kan?" Alby, siswa baru itu balik bertanya.
"Kok tau?"
"Teman teman lo yang bilang."
"Maksud gue kok lo tau kalau yang mereka maksud itu gue?"
"Tebak!" Alby hanya mengangkat bahu.
Aqila duduk di samping Alby, karena bangkunya yang paling belakang dan dia hanya duduk sendirian ketika yang lain berpasangan. Namun kadang teman temannya bergantian duduk di sampingnya.
"Alby!" Alby mengulurkan tangan.
"Aqila!" Aqila menjabat tangan Alby.
Tangan mereka masih di posisi itu selama satu menit, hingga tiba tiba tangan mereka di pisahkan oleh seseorang.
"Gak usah lama lama salamannya!" Kata Gibran dengan cemberut. Dia menarik kursi dan duduk di samping Aqila.
"Apaan sih Gibran?" Aqila kesal dengan kedatangan Gibran, dia memanyunkan bibirnya.
Melihat ekspresi Aqila, Gibran gemas dan langsung mencubit kedua pipi Aqila.
"Gibran, gak sopan banget sih!" Bentak Aqila yang menarik perhatian teman temannya.
"Qil, jangan ngambek dong!" Gibran menyesal membuat Aqila marah.
"Lo pergi!" Memalingkan wajahnya, Aqila mengusir Gibran.
Gibran menghela napas, kemudian mengusap rambut Aqila. Aqila menghempaskan tangan Gibran.
"Jangan terlalu dekat dengan dia, dia pemain cewek!" Bisik Gibran.
Aqila mengerutkan kening tidak senang. Dia hanya berpikir bahwa Gibran sedang cemburu. Jadi dia mengabaikan kata kata Gibran.
"Dia bilang apa?" Tanya Alby penasaran.
"Bukan apa apa kok, enggak usah di gubris!"
Alby hanya diam, kemudian tatapannya beralih ke
Gibran yang merebahkan kepalanya di atas meja.
Aqila tidak memperhatikan tatapan Alby, dia terlanjur kesal dan hanya berurusan dengan buku bukunya.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"Hai, ini Alby!" Sebuah pesan masuk ke Hp Aqila.
"Hai Alby, ada apa nih?" Balas Aqila.
"Qila, keluar yuk, bosen nih gak ada teman!" Ajak Alby.
"Tapi gue gak boleh keluar malem!" Tolak Aqila.
"Bentar aja kok, plis!"
Aqila tidak membalas. Dia merenungkan apa yang Gibran katakan padanya. Kemudian dia mematikan Hp mengabaikan ajakan Alby.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Besoknya, Aqila berangkat pagi di saat sekolah masih sepi. Karena hari ini dia melaksanakan piket kelas.
Tiba di dalam kelas, dia terkejut melihat Alby sudah duduk di samping bangkunya.
"Lo udah datang?" Tanya Aqila spontan.
"Belum, gue masih di rumah!" Jawab Alby tersenyum.
"Oh! Haha!" Aqila tertawa cengengesan. Kemudian dia mengambil sapu ijuk dan mulai menyapu.
Alby berdiri dari kursinya dan mulai ikut menyapu.
"Alby, lo ngapain?"
"Lagi cuci piring nih!" Alby menggoda.
"Albyyy...! Maksud gue lo ngapain ikut nyapu?" Aqila memutar bola matanya.
"Bantuin lo biar cepat selesai!"
"Oh!" Aqila ber-oh ria.
Selang beberapa menit setelah menyapu, Aqila dan Alby duduk di bangku mereka.
"Cuma nyapu aja capek banget ya!" Keluh Alby.
"Serius? Masa gitu doang capek, lo kan cowok!" Goda Aqila.
"Lo gak capek?" Alby malah balik bertanya.
"Ini pekerjaan sehari hari gue di rumah, jadi udah biasa. Emang lo gak pernah nyapu?"
"Enggak! Itu kerjaan anak perempuan!"
"Terus ngapain lo bantuin gue nyapu?" Aqila menggangkat alisnya sebelah.
"Karena...!" Alby tidak melanjutkan.
"Karena?" Aqila penasaran.
"Gue suka sama lo!"
Aqila tertegun, lalu tertawa terbahak bahak,
"Hahaha, lo bercandakan?"
Alby tidak menjawab, bahkan ekspresinya sangat serius.
"Alby, lo serius?" Kali ini Aqila yang serius.
Sebelum Alby menjawab, suara sorak sorai datang dari pintu masuk.
"Ciee ada yang baru jadian!" Teriak Dian.
"Ada yang perlu bayar pajak jadian nih, ya gak Din?" Keisya balas menggoda.
Di belakang mereka berdua Gibran mengikuti. Matanya menatap tajam ke arah Alby. Albypun balas menatapnya. Tidak ada yang memperhatikan pertarungan diam diam antara mereka berdua.
"Apaan sih, siapa yang jadian?" Aqila yang tertangkap basah berduaan di dalam kelas merasa sangat malu. Dia melirik Gibran, Gibran balas menatapnya dengan ekspresi kesal.
"Lo ngapain berduaan dengan dia Qil? Lo gak takut diapa-apain sama dia?"
"Gibran, maksud lo apa?" Aqila marah mendengar kata kata Gibran.
"Qila, lo harus tau kalau dia bukan cowok baik baik." Gibran menunjuk Alby. Sedangkan yang ditunjuk hanya tersenyum mengejek.
Plakk..
Suara tamparan terdengar di dalam kelas.
Wajah Gibran memerah, namun tidak ada ekspresi marah di wajahnya. Hanya saja, dia terlihat sedikit kecewa.
"Qil, gue udah ngejar lo selama tiga tahun. Dan lo sama sekali gak bisa ngebuka hati sedikitpun buat gue? Sedangkan dia, lo baru kenal dia sehari dan lo udah sedekat ini?"
Aqila semakin marah. "Hak gue buat nolak lo, dan hak gue juga buat dekat sama siapapun. Enggak ada urusannya sama lo. Lo gak bisa ikut campur dengan privasi gue Ran. Lo juga gak bisa maksa hati gue buat suka sama lo!"
Di tengah pertengkaran Aqila dan Gibran, Alby berdiri dan berbisik di telinga Aqila. "Nanti malam gue jemput, tunggu gue!"
Aqila tertegun, dia melihat punggung Alby yang berjalan keluar kelas.
"Dia bilang apa?" Tanya Gibran.
"Bukan urusan lo!" Aqila sudah muak dengan sikap Gibran. Dia memilih mengikuti Alby keluar kelas.
Keisya dan Dian yang sejak tadi menyimak, mengikuti Aqila keluar kelas. Tinggal Gibran seorang diri di sana.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Alby sedang bermain basket di lapangan. Berulang kali memasukkan bola ke dalam ring hingga membuat kaos putihnya basah kuyup oleh keringat.
"ALBY!" Teriak seseorang dari belakang.
Alby menoleh, namun yang dia dapatkan adalah tinju yang menghantam pipinya. Alby tersungkur ke tanah, darah menetes dari sudut bibirnya.
"Jauhin Aqila!" Gibran menarik kerah Alby dengan kasar. Dia meninju wajah Alby sekali lagi.
Alby tidak melawan, dia melihat sosok Aqila berlari ke arahnya.
"GIBRAN, LO APA-APAAN SIH! JAUHIN ALBY!" Aqila mendorong Gibran. Dia membantu Alby berdiri dan mendukung tubuhnya.
"Qila!" Panggil Gibran lembut takut Aqila marah padanya.
"Pergi! Jangan pernah deketin gue lagi!" Aqila membantu Alby berjalan menuju UKS.
Gibran melihat kepergian Aqila. Keisya dan Dian berada di sampingnya.
"Lo nyerah aja Ran!" Saran Dian.
"Ini bukan tentang menyerah atau berjuang! Tapi tentang Aqila, dia harus di jauhkan dari orang itu!"
Mendengar kata kata Gibran, Dian dan Keisya saling berpandangan, sama sama tidak mengerti.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"Gue udah di depan rumah lo!" Alby menghubungi Aqila.
Aqila yang mendengar dari seberang telepon merasa sedikit ragu. Saat ini dia sudah berdandan sangat cantik. Namun, dia masih teringat kata kata Gibran tadi pagi, 'Qila, lo harus tau kalau dia bukan cowok baik baik.'
Namun, Aqila segera menepis pikiran itu. Dia merasa bersalah pada Alby. Karena dia, Gibran menghajarnya. Jadi dia menyetujui ajakan Alby untuk berkencan.
Keluar dari kamar, Elina menghadangnya. "Qil, Mamah minta kamu jangan keluar malam ini yah!"
"Tapi Mah, Qila udah ada janji dengan Alby. Dia juga udah di depan!"
Melihat wajah memohon Aqila, Elina tidak kuasa menolaknya.
"Sebelum jam 10 malam kamu sudah harus di rumah!"
"Makasih Mah!" Ucap Aqila tersenyum. Namun Elina segera beranjak dari hadapan Aqila dan berjalan menuju kamarnya.
Aqila yang tidak di hiraukan merasa sedih. Namun dia tetap keluar dari rumah menghampiri Alby.
"Sorry lambat! Tadi minta izin dulu sama Mamah!"
Alby tidak mendengarkan, dia terlalu fokus pada kecantikan Aqila.
"Alby?" Panggil Aqila.
"Eh, sorry. Lo cantik banget soalnya."
Aqila tersipu malu. "Yaudah, kita mau ke mana?"
Alby tidak menjawab. Dia naik ke motor dan menghidupkan mesinnya. Aqila naik di belakang Alby.
"Peluk yang erat Qil!"
Belum sempat menjawab, Alby telah melajukan motornya.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"Kei, Tante mau minta tolong sama kamu boleh?" Elina menghubungi Keisya. Beberapa hari ini perasaannya tidak tenang memikirkan Aqila.
"Boleh Tante. Tante mau minta tolong apa?" Suara Keisya terdengar dari seberang telepon.
"Aqila pergi dengan teman laki lakinya. Tapi itu bukan Gibran. Tante minta tolong kamu nyusul mereka. Perasaan Tante gak enak banget!"
"Oke Tante! Tante tenang aja ya, jangan cemas. Nanti Keisya dan Dian bakal nyari Aqila."
"Oke! Makasih Kei!"
"Sama sama Tante!"
Telepon di matikan dari pihak Elina.
"Din, buruan siap siap! Gue kabari Gibran dulu!"
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"Kita di mana?" Tanya Aqila.
Ternyata Alby mengajaknya ke sebuah klub malam.
Perasaan Aqila mulai tidak enak. Dia menarik lengan Alby.
"Tenang aja. Ikut gue ke dalam yuk!" Alby dengan lembut menarik lengan Aqila.
Aqila mengikuti Alby dengan takut takut.
Di dalam ruangan, beberapa pasangan muda tengah bermesraan. Aqila semakin tidak nyaman.
"Gue mau pulang!"
"Kita baru sampai Qil, nikmatin aja dulu!" Bujuk Alby. Dia mengajak Aqila duduk di pojokan.
Aqila mengikuti, namun saat ini dia merasa sangat takut. Seluruh tubuhnya di basahi keringat dingin.
"Qila, lo kenapa?" Tanya Alby memegang tangan Aqila. "Lo keringat dingin Qil!"
Genggaman tangan Alby membuat jantung Aqila berdegup kencang. Ini bukan perkara jatuh cinta, tapi Aqila dilanda ketakutan yang teramat sangat.
'Gibran!' Batin Aqila, 'Jemput gue!'
"Qila!" Panggil Alby, suaranya terdengar sangat dekat di telinga Aqila.
"ALBY!" Aqila mendorong Alby.
"SIAL!" Bentak Alby. Dia menarik Aqila keluar dari ruangan.
Aqila ketakutan, dia ingin melepaskan genggaman Alby, namun nihil, genggaman Alby sangat kuat hingga menyakiti Aqila.
"Alby sakit!"
Mendengar itu, Alby berhenti. Dia menarik Aqila kepelukannya dan berbisik, "Tenang aja sayang, setelah ini enggak akan sakit kok!"
"Alby lepasin gue! Plis!" Air mata telah membasahi seluruh wajah Aqila.
Alby tidak mendengarkan, dia menarik Aqila dan masuk ke sebuah kamar. Tanpa aba aba, Alby menghempaskan Aqila ke ranjang dan mengunci pintu. Alby membuang kunci ke sembarang tempat.
Setelah itu dia naik ke ranjang dan langsung menekan Aqila.
"Alby, lepasin! Plis gue mau pulang!" Tangis Aqila pecah, dia sangat ketakutan. Baru saat ini dia menyesal tidak mendengarkan kata kata Gibran.
"Qila, kita udah di sini, enggak ada yang perlu di tangisi." Alby menghapus air mata Aqila.
Bukannya tenang, Aqila malah semakin takut.
"Gibran!" Bisik Aqila pelan.
Plaakk...
Alby menampar wajah Aqila. Aqila sontak tertegun. Air mata terus menetes membasahi pipinya.
"Lo lagi sama gue sekarang, beraninya lo mikirin cowok lain Qil!"
"Aahhh..." Aqila berteriak saat Alby ingin menciumnya. Dia menendang selangkangan Alby dan turun dari ranjang.
Alby menahan sakit di selangkangannya.
Aqila berlari ke pintu, namun dia baru ingat Alby melempar kunci ke bawah lemari.
Melihat Aqila hendak mengambil kunci di bawah lemari, Alby bangun dan kembali menarik Aqila dan melemparkannya ke ranjang dengan kasar.
"Qila!" Alby langsung menekan Aqila.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Gibran, mengendarai mobil miliknya. Keisya dan Dian mengikuti dalam diam.
"Lo tau Alby dan Aqila di mana Ran?" Tanya Keisya.
"Gue gak tau, tapi gue bisa nebak."
Gibran mengendarai mobil dengan kecepatan tercepat.
Keisya dan Dian terkejut saat Gibran memarkirkan mobilnya di depan sebuah klub.
"Ran, lo gak salah parkirkan?"
Bukannya menjawab, Gibran langsung berlari ke dalam klub. Dia mencari di setiap sudut klub tapi tidak menemukan Aqila dan Alby.
"Sial!" Gibran frustasi. Dia masuk ke sebuah ruangan.
"Ran, tumben lo ke sini, rindu sama gue ya?" Seorang cewek dengan pakaian minim mendekati Gibran.
Tidak tergoda dengan rayuan si cewek, Gibran langsung mendorongnya menjauh.
"Di mana Alby?"
"Gue gak liat!" Cewek itu cemberut. Dia marah di perlakukan kasar oleh Gibran
"Bilang atau gue bunuh lo!" Gibran menarik kerah wanita itu. Ancaman Gibran berhasil menakuti si cewek.
"Kamar no.101!" Jawabnya ketakutan.
Gibran langsung berlari keluar dan mencari kamar no.101.
Begitu menemukannya, Gibran langsung menendang pintu kamar. Berkali kali menendang hingga berhasil membukanya.
"Aahhh..!" Teriakan dari dalam membuat Gibran ketakutan.
Melihat Aqila berada di bawah tekanan Alby, amarah Gibran langsung pecah. Dia menendang Alby hingga membuatnya jatuh ke lantai. Tak hanya sampai di situ, Gibran menghajar Alby habis habisan.
"Gibran udah!" Aqila sangat ketakutan melihat Alby di hajar. Meski dia sangat membenci Alby, dia lebih takut jika Gibran mendapat masalah karenanya.
"Gibran udah! Plis!" Pinta Aqila.
Mendengar suara memohon Aqila, hati Gibran sakit. Tangannya yang mengepal berhenti di depan wajah Alby.
"Lo masih belain dia?" Gibran bangkit, dia menatap Aqila.
"Ran!" Tangis Aqila pecah, dia langsung memeluk Gibran dan menangis dipelukan laki laki itu.
Gibran balas memeluk Aqila. Dia berbisik, "Maaf gue terlambat."
Aqila menggelengkan kepalanya, "Enggak, gue yakin lo bakal datang jemput gue."
"Gue di sini, lo bisa tenang!" Aqila mengangguk. Dia merasa nyaman dalam pelukan Gibran. Kali ini dia menyadari bahwa orang yang paling dia butuhkan adalah Gibran.
"Qila!" Panggil Keisya dan Dian berlari masuk ke kamar.
"Lo gak papakan?" Tanya Keisya cemas.
"Gue gak papa kok, dia belum sempat apa apain gue." Jawab Aqila memeluk Keisya.
Dian memeluk Aqila dari belakang.
Gibran membiarkan Aqila tenang di pelukan sahabat sahabatnya. Dia menatap Alby.
"Alby, gue tau lo ngelakuin ini bukan niat lo yang sebenarnya. Lo ngelakuin ini karena dendam lo ke gue. Asal lo tau, di masa lalu, gue gak pernah ada rasa sama cewek lo. Tapi lo gak percaya sama gue. Lo bahkan mainin cewek supaya lo puas ngeliat cewek lo hancur."
"LO PEMBOHONG! KALIAN BERDUA SAMA AJA, SAMA SAMA BANGSAT!" Bentak Alby.
Gibran tidak terintimidasi, dia melanjutkan, "Asal lo tau, cewek lo itu sepupu gue. Gue gak mungkin ada rasa sama sepupu gue sendiri. Selain itu, gue udah lama suka sama Aqila, gue sayang banget sama dia. Tapi lo mau ngegancurin dia karena dendam lo itu. Lo bener bener ngecewain gue."
"CUKUP!" Alby sangat marah, dia tidak bisa menerima kata kata Gibran.
"Awalnya gue gak peduli sama lo, lo mau main cewek ya terserah lo. Tapi lo mainin cewek yang paling gue sayang. Gue bener bener kecewa sama lo!"
"Dan lo harus berterima kasih sama Aqila, kalau bukan dia yang hentiin gue, lo bakal mati di tangan gue! Mulai sekarang, lo bukan sahabat gue lagi."
Setelah mengatakan itu, Gibran mengajak tiga cewek itu pergi.
Alby menatap punggung Aqila yang menjauh, "Sorry Qil!"
Aqila menatap wajah Gibran. Dia baru tau hubungan persahabatan antara Gibran dan Alby. Dan mereka bermusuhan hanya karena cewek.
Di depan mobil, Aqila berhenti. Dia menatap Gibran.
"Ran, maafin gue. Gue gak pernah dengerin lo. Andai hari ini..."
Gibran menutup bibir Aqila dengan jarinya, menghentikan kata kata Aqila.
"Yang berlalu biarlah berlalu. Gue sayang sama lo, jadi mulai sekarang lo harus dengerin gue!" Kata Gibran lembut.
Aqila menganggukkan kepalanya dan tersenyum,
"Gue juga sayang sama lo!"
"Serius?" Gibran tidak percaya dengan pendengarannya.
"Jujur selama ini gue sayang sama lo, hanya saja gue masih bingung harus gimana!"
"Lo gak perlu bingung, mulai sekarang lo pacar gue!" Gibran memeluk tubuh Aqila lembut. Aqila balas memeluknya.
"Ciee yang baru jadian! Idih kita di kacangin nih!" Kata Dian cemberut, Keisya terkekeh.
"Ya udah, pulang yuk! Mamah pasti cemas nungguin lo pulang!"
"Harusnya gue dengerin Mamah!" Kata Aqila lemah.
"Udah, jangan nyalahin diri terus. Kita temuin Mamah sama sama!"
Aqila mengangguk. Ternyata inilah orang yang selama ini dia tunggu, orang yang selalu tulus memperlakukannya.
Keempat remaja itu memasuki mobil dan melaju di keramaian jalan.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"Mah!" Panggil Aqila.
"Qila, kamu gak papa?" Tanya Elina cemas. Dia memeluk Aqila.
"Qila gak papa kok Mah, maaf buat Mamah cemas."
Aqila dan teman temannya memutuskan untuk merahasiakan hal ini dari Elina.
"Syukur deh kalau kamu gak papa. Gibran, Keisya, Dian, makasih udah jemput Qila!"
"Sama sama Tante!" Balas mereka.
"Yaudah, karena kalian di sini, Tante masakin makan malam yah. Kita makan bareng bareng!" Tawar Elina.
Yang lain mengiyakan sambil tertawa.
Aqila dan Gibran saling menatap dan tersenyum.
_TAMAT_