Ujian Akhir Semester telah berakhir. Tepatnya, para mahasiswa telah menyelesaikan semester ganjil dengan selamat. Untuk merayakannya, kami berfoto bersama dan menyerukan slogan departemen kami dengan bangga.
Aku menatap teman-temanku yang terlihat lega meskipun beberapa menit yang lalu merasa stress karena berkutat dengan soal dan berbagai macam metode penyelesaian.
Satu persatu dari kami mulai pergi meninggalkan tangga gedung fakultas tempat kami merekam video dan foto. Entah itu kembali ke tempat kos bersiap untuk pulang kampung ataupun pergi mencari tempat tongkrongan bersama teman satu circle-nya.
Aku yang masih berada di tangga sedang menunggu giliran turun, mencari dia.
Ya, dia. Laki-laki yang beberapa bulan ini mengisi salah satu ruang kosong di hatiku.
Entah bagaimana, pagi-pagi sekali kepalaku terasa sangat menyakitkan. Mungkin karena semalam tidak bisa tidur hingga pukul tiga pagi atau karena sedang mengalami menstruasi. Apapun itu, intinya, tadi pagi aku meminta dia untuk datang menjemput.
Tidak mungkin dalam keadaan seperti itu aku bisa berjalan lebih dari dua ribu langkah menuju kelas. Sebenarnya, aku bisa saja menggunakan angkutan umum. Tapi di pertengahan bulan seperti saat ini, aku ingin menghemat pengeluaranku.
Kalau dipikirkan, hari ini adalah hari terakhir di tahun 2022, aku bisa melihatnya.
Apakah aku akan kembali ke kosan begitu saja dan tidak mengatakan apapun? Sepertinya tidak.
Rambut ikal yang mulai tumbuh panjang, kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, serta jaket himpro berwarna hitam yang sering ia pakai. Itu dia, dia berdiri di ujung tangga bersama temannya seolah menunggu sesuatu.
Dia tidak tampan. Wajahnya bahkan bukan tipeku sama sekali. Dia sangat jauh dari bias-biasku di K-Pop. Tapi yang jelas, aku menyukainya. Aku tidak tau apa yang kusuka darinya. Ada beberapa hal yang tak kusukai darinya, tapi aku bingung kenapa aku masih menyukainya.
Mungkin, aku hanya menyukainya. Itu sudah cukup bagiku.
Biasanya, jika aku berangkat bersama dengannya maka aku pun akan pulang dengannya juga. Seolah-olah itu adalah perjanjian tak terucap di antara kami, atau hanya aku yang berpikir demikian?
Apapun itu, aku akan menekan rasa gengsiku saat ini.
"Ar, abis ini langsung balik?" tanyaku saat Arka melihatku mendekat.
"Kayanya engga va, gua mau nungguin temen." Akupun mengangguk mengerti, "Kenapa?"
Aku terkekeh pelan, "Mau nebeng, hehe."
"Ooh," dia ingin kembali berbicara tetapi orang lain datang dan menghentikan percakapan kami.
Mereka membicarakan tentang masalah himpro. Aku yang berada di antara mereka pun ikut mendengarkan, terkadang ikut menimpali mengingat aku juga termasuk staff ahli. FYI, dia adalah ketua departemenku.
Tanpa terasa, sudah tidak ada siapapun di sekitar kami. Hanya tinggal kami bertiga di dekat tangga ini. Sejauh mata memandang pun hanya ada satu dua orang yang lewat.
Tidak heran, mengingat ini adalah hari terakhir ujian, tidak semua departemen masih memiliki jadwal ujian. Bahkan temanku saja sudah kembali ke kampung dua minggu yang lalu karena ujian mereka masih online.
Kampus terasa sepi tanpa ada mahasiswa dan kendaraan yang hilir mudik.
"Nongkrong yuk, dimana kek."
"Bangku lantai satu aja gimana? Biasanya disana kosong," ujarku memberi saran.
"Yukk."
Kami bertiga pun pergi menuju bangku di lantai satu. Di luar dugaan, bangku penuh dengan orang-orang dan tak ada satupun yang tersisa. Kebanyakan dari mereka berkutat dengan laptop masing-masing. Tumben ramai, mungkin mereka adalah mahasiswa semester akhir yang datang menumpang wifi.
Akhirnya kami pun pergi ke bangku di lantai tiga.
Di sana, aku membuka laptop untuk membuat sesuatu sekaligus mengunduh video konser. Wifi di kos sedang bermasalah, aku berniat mengunduh beberapa video supaya tidak bosan berada di kos.
Sementara itu, Arka kembali berdiskusi dengan temannya mengenai masalah himpro.
Aku sudah menyelesaikan tugasku dan memintanya mengecek hasil. "Kaya gini aman Ar?"
Dia yang duduk di hadapanku pindah dan duduk di sampingku.
Tanpa sadar aku bergeser menjauh.
JANGAN BEGITU TIBA-TIBA HEI! JANTUNGKU BERDEGUP KENCANG, TAU?!
Huftt... Aku harus menjauh, jika tidak aku takut dia mendengar degup jantungku.
Aku mempersilahkan dia untuk memakai mouse dan mengecek hasil kerjaku.
"Aman aman, kirim ke gue lewat wa. Ntar gue sampein ke kahim."
"Oke."
Aku pun mengambil alih mouse itu. Tapi, kenapa tidak ada pergerakan di sampingku?
Permisi, tapi, kenapa kamu tidak kembali ke tempatmu semula?!!!
Di sana masih banyak bangku yang tersedia. Hei, saudara Arka! Keberadaanmu di sampingku membuat jantungku tidak mau berhenti berlari. Kasian jantungku ingin berjalan seperti biasa. Heiii!!
Tentu saja, aku tidak bisa mengatakan hal itu secara langsung.
Huftt... sudahlah ya. Lagipula aku senang.
Satu persatu teman-teman kami datang ke bangku ini. Beberapa dari mereka membawa snack yang berisi tulisan penyemangat.
Tiba-tiba Arka berkata padaku, "Yiva, lu engga mau gitu ngasih amunisi kek gitu ke gue?"
Aku tertawa, "Anda siapa ya?"
"Ya... kadept elu lah."
"Yaudah sini kertasnya, mana?" ujarku seraya mengulurkan tangan.
"Sama snack nya juga dong."
"Idih, ogah." Enak sekali dia, padahal dia juga tidak memberiku amunisi, cih.
Handphone milik Arka berdering membuat dia bergegas pergi untuk menerima panggilan. Mengingat bangku cukup ramai dengan delapan orang yang sedang berbincang.
Aku menatap punggungnya hingga menghilang di balik tembok. Menghela napas pelan, benar juga, kenapa aku tidak kepikiran memberinya amunisi ya? Aku terlalu fokus belajar sehingga tidak memikirkan apapun selain itu.
Hari itu, kami bercanda gurau, berbincang, dan membicarakan orang hingga sinar senja mulai nampak.
Secara natural, kami pulang bersama.
Di perjalanan, kami berbincang-bincang melewati pepohonan yang besar dan tinggi.
"Liburan nanti, kamu ngapain Ar?" tanyaku saat motor yang dikendarai Arka mendekati gerbang utama kampus.
"Aku? Aku mau nyari kerjaan sih, magang atau gimana buat dapet duit. Lagian semester depan cuma dikit kan matkulnya.
"Gue udah engga enjoy nonton anime atau main game pas liburan. Sekarang paling ngegym di rumah atau jalan keluar"
Aku mengangguk mengerti. Lebih tepatnya aku tertegun.
Benar. Kami sudah berumur 20-an sekarang. Sudah waktunya untuk bergerak mencari uang dan mempersiapkan diri di dunia kerja.
"Kamu sendiri, mau ngapain?"
"Aku..." mendengar jawabannya tadi, aku memikirkan kemampuan apa yang bisa kujual sehingga menghasilkan uang, "aku mau serius nulis. Awalnya aku pikir nulis cuma hobi dan aku suka mencurahkan isi pikiranku di dalamnya.
"Tapi denger omongan kamu tadi, aku pikir udah waktunya hobi ini aku seriusin." sudut mulutku terangkat dengan tulus, "Makasih, Arka." Aku tidak tau bagaimana perasaannya mengingat ia memakai helm. Tapi kuharap, semoga perasaanku tersampaikan.
"Mau beli makan?" tanya Arka setelah waktu berlalu.
"Boleh, aku mau makan lele."
***
Sepeda motor berhenti tepat di depan gerbang kos. Aku turun dari jok belakang dan berdiri di sampingnya.
"Makasih buat hari ini, ya. Sampai ketemu taun depan Arka," ujarku seraya tersenyum.
"Baru aja gue mau ngomong gitu. Va, sampai ketemu taun depan. Langsung istirahat, ya. Kalo ada apa-apa telfon gue aja," ujar Arka, dia sepertinya khawatir karena aku tiba-tiba diam setelah membeli lauk makan.
Memang, rasa sakit itu kembali datang menusuk kepalaku. Rasanya berdenyut-denyut di sepanjang kulit kepala. Oleh karena itu, aku tidak mengatakan apapun.
Pria itu menyalakan mesin motornya, lalu kembali menoleh ke arahku. "Kalo kangen gue juga telfon aja, ya."
"Heleh," aku tertawa ringan, saat ia melaju aku berteriak, "hati-hati ya!"
Aku tetap berada di depan gerbang, menunggunya menghilang di ujung jalan.
Arka, laki-laki itu adalah orang pertama yang kutemui di kampus sekaligus orang pertama yang menjemputku di awal semester. Dan sekarang, dia juga menjadi orang terakhir yang mengantarku di akhir semester.
Kamu benar, aku akan merindukanmu. Tapi maaf, aku tidak seberani itu untuk menelfonmu.
Di penghujung tahun ini, di akhir tahun ini. Arka, sampai bertemu tahun depan.