Kala itu hatiku telah mendingin; Aku tidak tertarik terhadap siapapun. Sampai pada suatu saat, ketika Aku pertama kali menginjakkan kakiku di SMA, rasanya mataku tidak pernah lepas darinya.
Aku yang pada saat itu masihlah murid baru, tentunya menjalani MPLS yang telah diadakan oleh sekolah bersama dengan murid-murid baru lainnya. Aku cukup bertanya-tanya karena MPLS tersebut, selama seminggu, hanya diadakan di ruang aula sekolah yang cukup luas.
Meski Aku sedikit heran, Aku mampu melihat para pengurus OSIS tampak disibukkan oleh kami. Mereka mengatur kami mengenai tempat duduk, pengelompokan kelas sementara, dan lain sebagainya sampai tak lama kemudian, suara pria yang begitu tenang mengisi ruang aula.
Ia memiliki suara yang cukup lembut dan pada setiap katanya dapat diketahui bahwa Ia memiliki tata krama bicara yang baik. Ini merupakan kali pertama Aku melihat pria yang sepertinya sedikit lebih tua daripada Aku mempunyai tata bicara yang begitu sopan dan teratur.
Aku dapat mendengar Ia memperkenalkan dirinya di depan semua murid baru. Namanya adalah Alvaro, Ia merupakan salah satu anggota penting OSIS yang mana kala itu, diberikan tugas oleh pihak sekolah sebagai pembawa acara MPLS. Selama beberapa hari itu, Ia bersama dengan salah satu anggota OSIS lainnya membawakan acara dan menjelaskan beberapa hal yang kemudian diperinci oleh para guru bersangkutan.
Selama seminggu itu, Aku mengerti satu hal, Ia menarik. Dan pikiran ini mungkin tidak hanya Aku saja yang merasakan, karena bagaimana pun juga, Ia memiliki paras yang cukup tampan dan sepertinya dia agak blesteran.
Beberapa hari telah berlalu setelah MPLS, setiap kali Aku melihat Kak Alvaro di lingkungan sekolah, Aku selalu tanpa sadar memperhatikannnya dan menatapnya secara terus menerus.
"Rei, apa Yang Kau lihat?" tanya seorang perempuan yang kini menjadi teman baikku.
Aku menggelengkan kepala dan menghadap ke arah lain, "bukan apa, Nay, Ayo kita ke kantin, Aku lapar."
Ia menarik alisnya sedikit, "apakah mungkin Kamu tertarik dengan Kak Alvaro?"
Aku menghela napas panjang, "Tidak. Aku lebih senang dan menyukai karakter 2d tampan yang terdapat pada Manhwa," jawabku membuatnya terkekeh sebentar.
Aku menepis perasaan itu; perasaan yang begitu asing. Tetapi, meski begitu, selama beberapa minggu ini, di manapun Aku menemukannya, Aku tidak mampu untuk berhenti menatapnya. Seolah-olah, terdapat magnet yang membuatku terus menerus tertarik oleh keberadaan Kak Alvaro.
"Rei, Aku berhasil lolos! dan sekarang Aku merupakan bagian dari kelas khusus penelitian di SMA ini! bagaimana denganmu?" tanya Naya bersemangat.
Aku tersenyum di balik maskerku, "Aku juga berhasil lolos dan sekarang Aku juga bagian dari kelas khusus kebahasaan, Nay," ujarku seraya terkekeh.
Aku sedari awal memang memiliki kepercayaan diri bahwa suatu saat, Aku kemungkinan besar akan menjadi bagian dari kelas khusus kebahasaan ini. Karena bagaimana pun juga, Aku memiliki berbagai prestasi pada bidang bahasa.
Beberapa hari kemudian, kelas khusus kebahasaan tersebut diadakan untuk pertama kalinya bagi angkatan kami. Ada kurang lebih 30 anak dari angkatanku, dan sisanya kurang lebih 20 anak dari angkatan siswa/i kelas 11.
Dan sekarang yang membuatku lebih tertarik adalah Kak Alvaro, ternyata juga ada di kelas ini. Aku yang sekarang duduk di kursi belakang hanya menyenderkan kepalaku di dinding dan sesekali mengobrol dengan beberapa temanku di sekitar. Namun, meski begitu, Aku selalu curi-curi pandang terhadapnya. Apa ya, Aku juga merasa aneh dengan diriku sendiri.
"Baik, telah diputuskan, untuk ketua kelas khusus kebahasaan kelas 11 dipegang oleh Alvaro yang juga secara otomatis menjadi Ketua satu," ucap pengajar kelas ini. Pria itu kemudian memutuskan kembali mengenai sekretaris, bendahara, manager internal, dan manager eksternal untuk kelas 11 yang dihasilkan dari pemungutan suara.
Setelahnya, pria yang bernama Pak Lewis itu menjabarkan kurang lebih tujuan dari kelas khusus kebahasaan ini kepada kami, angkatan baru.
Kelas khusus kebahasaan ini ditujukan untuk murid-murid berbakat pada bidang bahasa yang nantinya akan diikutsertakan dalam berbagai perlombaan dan ataupun mengadakan event bahasa, baik itu secara internal maupun eksternal.
Aku akhirnya paham dan dengan cekatan aku mengangkat tanganku setelah berpikir sebentar. Aku mengangkat tanganku ketika Pak Lewis bertanya, siapakah yang ingin menjadi sekretaris kelas khusus kebahasaan untuk kelas 10. Tentunya, Aku mengangkat tanganku, setelah mempertimbangkan keuntungan yang bisa Aku dapat dari posisi ini yang mana aku yakin, bahwa suatu saat ketika Aku mulai bekerja, keterampilan sekretaris ini pasti akan berguna.
Kala itu, Aku tidak sadar bahwa Ia menatapku dari kejauhan. Aku yang ditatap banyak siswa/siswi hanya diam dan kemudian Aku menjawab pertanyaan Pak Lewis berkaitan dengan namaku. Aku sama sekali tidak gugup, karena Aku sudah terbiasa naik turun panggung untuk lomba sejak kecil.
Pada bulan Agustus ketika peringatan Hari Kemerdekaan, Aku tidak menyangka bahwa Aku akan berucap banyak 'wah... ' tatkala Kak Alvaro dan teman-temannya ngeband di sekolah. Kak Alvaro yang ketika itu sebagai drummer, di mataku benar-benar keren, karena itu tampak berbeda seperti tampang dia yang selalu tenang dan ramah biasanya. Saat itu, Aku berada di barisan depan, Aku memiliki kesempatan untuk mengambil videonya dan tentu saja Aku menikmati waktu bernyanyi kencang dari barisan penonton.
Beberapa bulan telah berlalu, dan Aku yang selalu ikut serta mengikuti pembelajaran di kelas khusus kebahasaan, memiliki banyak kesempatan untuk mengobrol dengan Kak Alvaro, terutama pada bulan Oktober.
Bulan Oktober, selain bulan di mana ulang tahunku tiba, kurasa Aku sekarang jauh lebih menyukai bulan ini karena beberapa hal. Contohnya, kami para pengurus kelas khusus kebahasaan harus mengadakan event bahasa untuk seantero siswa/siswi sekolah ini pada bulan Oktober.
Terdapat beberapa kali rapat yang diadakan, namun, meski terdengar serius, nyatanya setiap kali rapat selesai, kami para pengurus saling bercerita dan memberikan lelucon yang membuat suasana kian menyenangkan.
"Hei, kalian semua, ini adalah perpustakaan, jangan terlalu berisik ya," ujar Kak Alvaro tabah kemudian Ia menatapku.
"Lihat Rei, Ia bahkan tenang dan tidak berisik seperti kalian. Minimal kalian seperti dia, ya, Aku sangat memohon," Ia berkata dengan nada tabah lagi.
Aku yang mendengarnya hanya terkekeh geli dan kemudian duduk di sekitarnya seraya membahas berbagai hal yang berkaitan dengan event bahasa.
Aku yang hampir setiap rapat melihat Kak Alvaro tertawa dan tersenyum, kian merasakan jantungku berdegup lebih kencang. Dan sialnya, karena Ia terkadang menertawai lelucon garing yang Aku buat, Aku merasa kian... Begini... seperti jantungku sedang tidak sehat.
"Rei, kamu benar-benar keren!" ucap Kak Alvaro yang tengah duduk di depanku.
"Ya?" Aku mengerjapkan mataku.
"Kamu selain berbakat dalam bidang bahasa, rupanya juga sangat berbakat dalam bidang seni, seperti tari dan melukis!" ucapnya dengan mata berbinar.
Karena bingung harus menjawab apa, Aku hanya tersenyum tulus, "terimakasih, Kak. Kak Alvaro juga keren karena telah beberapa kali memenangkan lomba debat!"
Ia tersenyum, "Tetap saja, itu benar-benar gila dan keren."
"Itu benar," setuju Kak Mia sembari mengangguk-angguk.
Aku lama-lama merasa, bahwa Kak Alvaro mempunyai kelebihan yang membuat kepalaku pusing, yaitu, sering memujiku. Tentu saja, jantungku kali ini sudah tidak aman. Untung saja Aku menggunakan masker, kalau tidak, Aku tidak tahu apakah rona di pipiku akan terlihat (?) rasanya Aku mau berteriak saking senangnya. Tapi kemudian Aku menggeleng, tidak, Aku tidak boleh jatuh cinta. Aku harus fokus belajar, hal-hal lain seperti ini, Aku tidak tahu apakah akan merugikan proses pembelajaranku di sekolah kelak.
Ah... tapi sepertinya Aku gagal. Bahkan hari ini setelah rapat, Aku bertanya-tanya mengapa Ia terlalu mudah tertawa dan tersenyum ke arahku. Bahkan ketika Ia makan, kenapa juga harus di dekatku begini. Bukankah lama-lama jantungku menjadi tidak sehat? tidak, 5 bulan ini memang jantungku tidak sehat karenanya. Aku memegang kepalaku setengah pusing. Tetapi lebih dari itu, Aku menahan keinginan untuk menoel-noel pipinya yang penuh dengan makanan. Itu- itu imut dan lucu.
'Ah... bisa gawat, kurasa, pipiku memerah.'
Setelah mengetahui bahwa rupanya Ia satu tahun lebih muda daripada Aku, Aku yang sekarang telah berani untuk memanggilnya langsung tanpa ada 'Kak', tetapi itupun hanya ketika tidak berada di depan kakak kelas yang lain.
"Hei, Alvaro, apakah tadi pagi kamu belum makan?" tanyaku penasaran.
"Hmm... sudah sebenarnya, hanya saja, rasanya Aku masih mau makan," jawabnya sedikit terkekeh.
Setelahnya, karena urusan Event bahasa segera mendekat, interaksi ku dengan Kak Alvaro kian meningkat, termasuk ketika di chat. Dan karena hal itu, Aku baru sadar bahwa rupanya Ia anak yang cukup ramah, tetapi... Ia lumayan mood-mood an. Sepertinya karena Ia lebih muda dariku.
Event bahasa ini bisa terbilang cukup sukses dan meskipun urusan tersebut telah usai, Kak Alvaro tetap sering menyapaku di mana pun Aku berada.
Naya tidak begitu menyadarinya, karena terkadang Kak Alvaro hanya melihatku dan tersenyum tipis. Selain itu, Naya juga terlihat tengah sibuk berinteraksi dengan crush barunya di kelas lain yang terkadang, membuatku terlihat seperti nyamuk.
Dua bulan setelahnya, Aku mendengar bahwa Kak Alvaro mengajukan diri sebagai calon Ketua OSIS. Jujur saja, Aku tidak begitu terkejut, karena bagaimana pun, Ia cukup terkenal di kalangan 3 angkatan. Entah itu karena prestasinya, bakatnya, kehadirannya, maupun karena beberapa posisi yang telah Ia pegang sebelumnya.
Aku berpikir secara rasional dan mempertimbangkan banyak hal, bahwa Aku akan memilih Kak Alvaro. Ini merupakan pilihan subjektif dan objektif pada waktu yang bersamaan, karena, sisa calon KETOS lain adalah perempuan dan rasanya, ada sesuatu yang membuat Kak Alvaro lebih cocok ketimbang mereka.
Yah, meskipun ketika Ia mendaftarkan diri, Ia tampak agak stres dan tertekan. Melihatnya seperti itu, Entah mengapa, Aku agak sedih dan berusaha menyemangatinya.
Ketika debat KETOS berlangsung, rasanya Aku cukup gugup, tetapi, sepertinya kegugupanku tiada artinya untuk orang yang otak maupun mulutnya bekerja cepat seperti Kak Alvaro. Kala Ia menjawab dan memenangkan debat tersebut, rasanya ada rasa bangga dalam diriku terhadapnya. Terutama ketika Ia berhasil menjadi Ketua OSIS, meski Aku selalu mendukungnya di dalam hatiku yang terkecil, rasa senang itu, benar-benar tidak bisa Aku tutupi.
Hanya saja, Aku sedikit mengernyit sedih. Ia yang sekarang menjadi jauh lebih sibuk daripada sebelumnya. Aku merasa seperti, ada jarak yang memisahkan kami, walaupun, Aku sekarang juga bagian dari anggota OSIS Seksi sekian dan juga semakin sibuk sama halnya dengan Kak Alvaro. Tetapi, tentu saja, Aku merasa hari-hari ku menjadi membosankan tanpanya.
Kemudian, Sertijab akhirnya tiba. Saat itu, Aku agak datang terlambat karena ada beberapa hal yang terjadi. Aku yang waktu itu ingin duduk di belakang, segera ditarik oleh dua temanku, yaitu Tasya dan Naya untuk duduk di samping mereka, barisan depan. Aku berpikir bahwa barisan depan seharusnya diisi oleh Pengurus harian seperti Naya sekretaris 2 dan Tasya Bendahara 2 OSIS. Tetapi, melihat mata mereka seperti puppy, Aku menyerah sehingga pada akhirnya Aku duduk di barisan depan.
Ketika Aku tengah asik mengobrol dengan mereka, tiba-tiba Alvaro mendekati ku, dengan senyuman, Ia berkata, "Aku boleh nitip hp?" pintanya sembari memberikan hp-nya kepadaku, Aku mengangguk dan mengambilnya, meskipun Aku sadar, ada beberapa pasang mata yang memperhatikanku. Tetapi, Aku tidak terlalu peduli. Aku lanjut mengobrol dan tanpa sadar memegang erat hp Alvaro di pangkuanku.
Ketika latihan sertijab untuk Alvaro selesai, Ia mengambil hp-nya kembali seraya mengatakan, "selamat" atas kemenangan lomba yang telah Aku menangkan baru-baru ini. Aku hanya tersenyum tipis, "thanks." Lalu Aku berpaling, agak menghiraukannya.
Selama sertijab, Aku merasa terkadang Kak Alvaro memperhatikanku, tetapi Aku menekan perasaanku sedemikian rupa. Tidak hanya ketika sertijab, pada saat seluruh pengurus OSIS berkumpul di aula, rasanya, Entah Ia maupun Aku tengah saling memperhatikan, walaupun tempat duduk kami agak berjauhan kala itu.
Aku tidak bisa seperti ini, pada awalnya Aku merasa bahwa lebih baik Aku fokus belajar saja ketimbang memikirkan hal lain. Namun, ketika diskusi pengurus OSIS dilaksanakan, mengapa.. Ia, Kak Alvaro terus menerus memberikan ku harapan. Yang entah Ia sadar atau tidak, itu, cukup membuatku dilanda perasaan aneh. Apalagi ketika Ia dirubungi oleh banyak kakak kelas perempuan. Jujur saja itu sangat menyebalkan sehingga terkadang membuat moodku berubah drastis.
Dan Naya yang menyedari itu, hanya bisa tertawa geli, "Rei, kamu kalah. Kamu saat ini benar-benar menyukainya. Jujur saja kepada dirimu sendiri," ujarnya kepadaku.
Tersenyum terpaksa, "Ya, sepertinya, Aku kalah. Aku tidak bisa mengontrol perasaanku kepadanya."
.................................
Thanks a lot sudah membaca ini. Anw, ini based on my real story, meski ada yg aku rubah sedikit //🏃♀