you think i've moved on? nah, i'm tryna find you in different people.
~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~••~•~•~•~•~•~•~••~•~•~~
Rindu, merindukan, atau apalah kata lainnya yang memiliki makna sama untuk mengungkapkan perasaan tersebut, itu memang kata-kata yang sangat mudah untuk di ucapkan.
Namun benar-benar tak mudah bagi mereka yang sedang di Landa kerinduan.
sudah sejak 3 tahun yang lalu aku menjalani kehidupan ku seperti ini, seperti biasanya aku masih aktif bekerja sebagai penulis lepas.
aku tidak lagi pergi keluar karena penunjuk jalan ku sudah lama hilang, aku tidak lagi pergi mengunjungi taman karena rasanya kebahagiaan yang ada pun sudah turut pudar.
Tapi perlahan perasaan itu sudah mulai luntur saat aku bertemu dengan joy, dia gadis seusiaku tapi auranya sangat jauh berbeda jika di bandingkan denganku.
aku bertemu dengannya di XiMart, mulai dari situ kami menjadi sangat dekat layaknya saudara.
Joy bilang " lu boleh nangis karena hari lu lagi ngga baik-baik aja, lu boleh ngeluh karena ekspetasi lu ngga sesuai dengan realita. inget, lu juga manusia"
"yang ngga boleh itu lu terlalu berlarut-larut sama luka yang sekarang lagi lu rasain, lu ngga boleh terlalu fokus dengan luka lu dan ngabaiin kebahagiaan di sekeliling lu".
-
Tringg!!!
mendengar suara notifikasi hp nya, Guanlin mulai tersadar dari lamunannya.
- dimana? (12.57)
- pulang sekarang (13.31)
- papa ngga ada waktu buat ngeladenin kamu (13.32)
setelah melihat pesan dari sang ayah, guanlin bergegas untuk segera kembali ke rumahnya. Tidak mau ambil pusing, guanlin enggan menerka-nerka apalagi yang akan di lakukan papanya kali ini, motor yang ia gunakan berjalan dengan sedikit kencang mengingat apa konsekuensi yang akan ia dapat nantinya.
BBUAGHH!!
Dughh!
Baru memasuki rumahnya, Guanlin sudah di hadiahi pukulan dan tinjuan oleh ayah kandungnya.
Laki-laki itu terus memberikan pukulan kepada putranya yang kini sudah tersungkur di samping meja makan.
Tanpa rasa ampun dan belas kasihan laki-laki itu masih saja melanjutkan pukulannya dengan menarik kerah kemeja putra tunggalnya.
"DASAR PEMBAWA SIAL!!" matanya benar-benar di tutupi dengan kemarahan, rahangnya mengeras, mukanya memerah. Tuan Lee benar-benar seperti orang yang di rasuki oleh roh jahat.
BUAGH!
Rasanya pipi Guanlin sudah mati rasa, punggungnya terantuk pada salah satu lemari yang berada di belakangnya.
"shhhh" suara rintihannya tertahan, ia memberanikan diri menatap wajah laki-laki di depannya yang bergelar sebagai ayahnya, semuanya masih sama.
Tidak ada cinta.
"kamu memang seharusnya tidak di lahirkan!"
" Papa benar-benar ngga habis pikir sama bundamu kenapa dia mau mempertahankan anak seperti kamu!"
hati Guanlin rasanya seperti di tusuk ribuan jarum tak kasat mata.
"Sejak kapan papa begini?"
"Papa bukan Papa yang aku kenal, papa ngga pernah bersikap kasar, apalagi sampai melukai orang" suaranya tertahan saat mengingat bagaimana manisnya perlakuan ayahnya dulu
"Saya bukan ayah kamu" tegas ayah guanlin dengan suara seraknya
"pa-"
"kamu dengar ini" potong ayahnya cepat " ayahmu itu di penjara karena kasus tabrak lari, ia sama sekali tidak peduli dengan mu apalagi bundamu"
"tadinya aku menyayangimu karena istriku sangat menyayangimu, tapi ternyata kamu dan ayahmu sama saja! PEMBUNUH!" sentak laki-laki itu dengan suara yang keras, ada rasa putus asa di tiap-tiap perkataannya.
"kamu terlalu banyak membuat bundamu susah, kamu kabur dari rumah, terlibat tawuran dengan orang tidak di kenal," laki-laki itu menarik napasnya kuat, matanya memerah Manahan tangis mengingat bagaimana wanita yang sangat ia cintai berkorban begitu banyak.
"bundamu sakit karena terlalu banyak memikirkan kamu, tapi apa pernah kamu memikirkan bagaimana keadaan bundamu?, pernah kamu bertanya kepada diri mu sendiri apa-apa saja kesalahan yang sudah kamu lakukan sehingga orang-orang di sekitarmu berakhir seperti ini?" laki-laki itu menarik napasnya kembali kali ini begitu panjang hingga air mata yang sedari tadi ia tahan agar tak terjatuh akhirnya terjatuh juga.
"saat mendengar kamu kecelakaan, bundamu langsung bergegas untuk menyusulmu karena ia benar-benar takut sesuatu terjadi kepadamu, hahh" ucapannya terhenti karena dadanya terasa sesak mengingat bagaimana kematian istrinya
"bunda mengalami kecelakaan mobil, dia memaksa mengendarai mobil yang ada di rumah agar ia bisa cepat menemanimu yang akan Operasi mata"
"Bunda selalu memberimu segalanya, tapi apakah ini balasanmu untuknya? anak tidak tau di untung, menengok ke makamnya saja kamu tidak mau. kamu menyalahkannya karena dia meninggalkan mu bersamaku!"
"tapi kamu lupa bahwa kamulah penyebab utama bundamu meregang nyawa! "
~•
Guanlin menatap gundukan tanah di depannya, wajahnya sudah basah dengan air mata, bibirnya terisak sambil terus merapalkan kata maaf karena telah berdosa dengan menyalahkan bundanya.
kejadian itu sudah 3 tahun berlalu, tapi setiap mengunjungi makam sang bunda, Guanlin kembali teringat betapa berdosanya dia, hingga ia merasa bahwa dirinya benar-benar tidak pantas menerima kebahagiaan apapun yang ada di dunia.
"Bun, Guan udah jadi penulis sekarang" ucapnya dengan suara bergetar, tangannya dengan lembut membelai nisan di depannya.
"Guan udah mampu selesaiin cerita-cerita yang nggak pernah selesai" air matanya kembali mengalir dengan deras di pipinya.
"Guan udah baikan sama papa"
"Guan minta maaf karena selalu nyusahin bunda, maaf karena ngga pernah bisa menjadi anak yang berbakti, padahal begitu banyak pelajaran berharga yang bunda kasih buat Guan". kalimat nya terhenti dan di gantikan dengan isakan, sedikit memukul dadanya agar sakitnya sedikit reda
"Bunda, terimakasih. karena bunda Guan masih bisa melihat dunia. bunda, Guan minta maaf karena ngga pernah bisa menjadi kebanggaan bunda, maaf karena Guan selalu buat bunda kecewa"
Dia tahu ini semua sia-sia, tapi dia selalu berharap lewat doa-doanya, semoga bundanya mendengar setiap kata cinta yang Guanlin bisikan untukknya.
"Bunda, rindu ini menyakitkan. dia selalu bertambah dan tidak mau berkurang".
-
Joy menepuk pundak Guanlin pelan, "Bundamu pasti bangga, karena anak kesayangannya kini tau apa arti cinta" Joy menatap ke depan
"cinta remaja dan cintanya orang tua itu beda Guan, penyampaiannya juga pasti ngga sama. sekarang Lo ngerti kan kenapa setiap orang tua selalu punya rahasia tersendiri yang mereka simpan rapat-rapat?"
Guanlin menatap kearah Joy
"mereka cuma mau anaknya selamat"