Hatiku hancur seketika, mendengar kejujuran suamiku pas di hari anniversary kita yang ke delapan. Ia dengan mudahnya mengucapkan mencintai wanita lain di hadapanku yang masih berstatus resmi istri sahnya. Kado macam apa ini? Atau lelucon apa ini?
Masih terus kupandangi album foto pernikahanku dengannya delapan tahun silam. Delapan tahun bukan waktu yang lama tapi juga bukan waktu yang sebentar untuk kita hidup bersama. Menjalani bahtera rumah tangga.
Yang aku tahu selama ini cintanya hanya tulus untukku seorang. Tapi tak disangka ia menggoreskan pisau tajam menusuk jantungku bagai orang tak berperasaan.
Apa kurangku selama ini? Aku rela meninggalkan pekerjaanku, rela menjauh dari teman-teman sosialitaku hanya untuk mengabdikan hidupku menjadi ibu rumah tangga sesuai keinginannya.
"Kenapa mama menangis? Dimana papa?", terdengar suara anak kecil yang membuyarkan lamunanku.
"Mama gak papa sayang, papa baru ada meeting mendadak di kantor", ucapku berbohong.
Ia adalah Kevin. Putraku satu-satunya yang saat ini berusia tujuh tahun. Aku tidak mungkin bicara jujur kepadanya kalau papanya sedang bersama wanita lain. Ini akan membuatnya terpukul di usianya sekarang yang belum pantas tahu masalah orang dewasa.
"Mah, mama pasti berbohong. Ini sudah jam sembilan malam untuk apa papa ke kantor?".
Deg...
Jantungku serasa lari dari tempatnya. Aku sadar aku sedang berbicara dengan pria jenius. Bukan anak paud yang di suap es krim langsung tutup mulut.
Aku menghela nafas panjang.
"Sayang, papa lagi banyak kerjaan saat ini jadi harus lembur. Lebih baik mama antar ke kamar dan temani sampai kamu tertidur ya", ucapku yang hanya bisa membujuk untuk mengalihkan pembicaraan.
Ku antar anakku ke kamarnya. Ku temani ia sampai tertidur. Aku mencoba ikut memejamkan mata tapi tidak bisa. Bulir-bulir air mata yang sedari tadi ku tahan akhirnya keluar juga. Aku menangis terisak sambil memeluk anakku.
"Tega kamu mas, tega!", aku memukul-mukul ranjang anakku.
Ingin rasanya aku berteriak menjambak dan mencakar wanita itu. Wanita yang telah berhasil menggoda suamiku. Tapi kembali aku tersadar, suamikulah yang mengejarnya. Bukan wanita itu.
Tangisku pecah. Sepanjang malam waktuku hanya ku habiskan untuk menangis. Ingin bercerita tapi kepada siapa? Aku terlalu malu menceritakan aib rumah tanggaku kepada orang lain. Meskipun itu keluargaku.
Drtrrt....drrt...
Tangisku terhenti melihat ponselku berdering. Ku lihat siapa yang menghubungiku malam-malam ternyata suamiku. Ada rasa bahagia, rasa lega suamiku setidaknya masih mengingatku.
Jangan lupa kunci pintu.
Malam ini aku tidak pulang.
Tubuhku seperti tersengat aliran listrik membaca isi pesan dari suamiku. Pikiranku sudah berkecamuk kemana-mana. Inginku membalas pesan menanyakan keberadaannya dan dengan siapa tapi lagi-lagi tangan ini terasa berat seperti tertahan. Aku tak punya keberanian untuk melakukan hal itu. Bodoh, bodoh, bodoh.
Aku merutuki kebodohanku sendiri.
"Papa, papa, papa jahat. Papa tega tinggalin Kevin ", tiba-tiba anakku berteriak mengigau.
"Sayang, ada apa? Ini mama nak", ucapku sambil mengguncang tubuh anakku. Hingga suara mungil itu kembali terdiam dengan masih memejamkan mata.
"Ternyata hanya mimpi. Apa yang barusan diimpikan anakku? Kenapa ia terus memanggil papanya?", pertanyaan yang muncul diotakku.
Malam itu tepat jam sebelas malam, aku menitipkan putraku kepada bi Ina pembantu do rumahku. Aku memutuskan untuk pergi mencari suamiku. Aku tak peduli akan ada bahaya apa diluar sana. Asal aku bisa menemukan suamiku. Menepis pikiran buruk yang bersarang di otakku.
Aku mengendarai mobilku. Melajukan dengan kecepatan sedang menembus jalanan menuju kantor suamiku. Aku tidak tahu pasti dimana suamiku tapi setidaknya aku bisa menanyakan satpam yang jaga di kantornya.
Mobilku berhenti tepat di depan kantor. Terlihat satpam menyorotiku dengan membawa senter.
"Ada yang perlu saya bantu Buk?", tanya Pak Kasmin seorang satpam yang bekerja puluhan tahun dikantor suamiku.
"Apa Bapak masih di dalam?", tanyaku penuh pengharapan.
"Ehm anu Buk, anu....", Pak Kasmin terlihat gelagapan.
"Katakan yang sebenarnya, tidak perlu takut. Bahkan kalau sampai Pak Kasmin dipecat, saya yang akan bertanggung jawab", ucapku meyakinkan.
Pak Kasmin menceritakan detailnya kepadaku. Tidak sedikitpun kata yang terlewat dari ceritanya. Aku tampak lebih tegar dari sebelumnya. Aku sudah bersiap atas hal buruk yang harus ku hadapi selanjutnya.
Aku kembali melajukan mobilku menuju alamat yang di ceritakan Pak Kasmin kepadaku.
Sebuah club malam di jalan xxxxxx. Tempat yang menjadi tongkrongan suamiku dan teman-temannya.
Ku tatap bangunan dengan lampu kerlap-kerlip itu dari kaca mobilku sebelum akhirnya aku memutuskan untuk turun. Memasang kacamata hitamku untuk menutupi mataku yang terlihat lebam. Berharap tidak akan ada orang yang mengenaliku.
Aku memasuki tempat remang-remang itu secara perlahan. Mengarahkan pandanganku ke setiap sudut ruangan. Hingga akhirnya mataku tertuju ke arah pria yang aku sangat mengenalinya. Dia adalah suamiku.
Dia sedang bercengkrama dengan seorang wanita berkulit putih dan seksi. Tapi tidak terlihat jelas wajahnya. Ingin aku langsung mendatanginya dan menghajarnya tapi ku urungkan niatku.
Aku tidak mau sampai salah sasaran. Aku masih ingin terus menyelidiki dengan mata kepalaku sendiri.
Aku bersembunyi di balik tubuh pria yang tengah sibuk minum disampingku ketika melihat suamiku dan wanita itu beranjak dari kursinya. Setelah kurasa cukup jauh langkahnya, aku juga beranjak dari tempat dudukku dan segera mengejar pasangan itu. Aku ingin memastikan wanita sepeti apa yang dicintai suamiku.
Aku membuntuti mobil suamiku. Hingga akhirnya mobil berhenti di sebuah hotel bintang lima. Aku ikut memesan kamar yang bersebelahan dengan kamar yang di pesan suamiku dengan wanita itu.
Aku benar-benar sudah menyiapkan mentalku untuk menangkap basah pasangan terlarang itu.
Dengan bantuan orang dalam akhirnya aku bisa menyamar sebagai pelayan hotel. Meskipun sebelumnya terjadi perdebatan panjang antara aku dengan manager hotel dengan alasan menyangkut privacy orang, tapi akhirnya aku menang setelah menunjukkan bukti-bukti dan tips kepada mereka.
Aku membawakan minuman yang di pesan suamiku ke kamarnya. Aku menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengetuk pintu kamar.
Pintu kamar sedikit terbuka sehingga aku bisa mendengar percakapan keduanya. Terdengar suara wanita yang tidak asing ditelingaku. Tanpa menunggu lama lagi aku menerobos masuk ke dalam kamar.
Brakkk....
Nampan berisi minuman yang ku bawa terjatuh ke lantai ketika aku melihat jelas siapa wanita itu. Bagaimana mungkin? Ia berkhianat denganku?
Aku menyaksikan adikku sendiri diatas ranjang bersama suamiku. Mereka bermesraan layaknya pasangan suami istri. Kenapa harus dia wanita. yang kau cintai Mas? Kenapa? Apa arti hadirku selama delapan tahun ini yang setia mendampingimu?
END.
"Ketika kita memutuskan untuk menikahi seseorang, berarti kita telah siap menerima kekurangan dan kelebihan dari pasangan kita nantinya. Setialah pada pasangan yang sudah resmi kamu nikahi. Tidak ada kata menyesal, atau merasa saat ini tidak cocok lagi hanya untuk meninggalkannya. Cinta tidak seperti itu, cinta tidak akan menyakiti pasangan yang sudah kita pilih" (AUTHOR)