"Bahkan jika kamu mati di tanganku pun aku berhak melakukannya!"
Teriakan seorang pria dengan perawakan yang tidak terlalu tinggi itu, memekakan telinga seorang gadis desa polos yang hanya bisa menunduk takut.
Menurutnya, apabila seorang wanita telah menikah maka pria yang dinikahinya berhak atas hidup dan mati wanita itu. Betapa piciknya pemikiran pria bernama Romeo itu.
Wanita itu hanya tertunduk menahan tangis, usianya yang masih sangat muda tentunya membuat dia tidak banyak melawan perkataan suaminya.
Apalagi, rasa takut terhadap kedua orang tuanya memaksa dia bungkam atas tindakan keji yang dilakukan sang suami.
Bukan, ini bukan nikah paksa. Suaminya yang sekarang adalah pilihannya saat itu, mereka jatuh cinta layaknya pasangan yang dimabuk asmara sebelum menikah.
Namun, semuanya berubah seratus delapan puluh derajat setelah ijab qobul dilakukan.
Pria yang dinikahinya, ternyata masih terikat dengan cinta pertamanya dan yang lebih miris, semua keluarga sang suami tahu akan hal itu.
Hanya Yani saja, yang tidak tahu akan hal itu. Iya, Yani adalah nama gadis desa yang dinikahinya.
Cinta pertama yang belum kelar itu membuat segala pelampiasan di lemparkan langsung pada sang istri.
Tapi, tidak lama kemudian Yani hamil anak pertama mereka, dilanjut dua tahun setelahnya anak kedua lahir. keduanya berjenis kelamin perempuan.
Yani amat sangat bersyukur dengan kehadiran buah hati pelipur lara itu. Dia berharap, suaminya berubah seiring dengan perkembangan anak-anak mereka.
Sayangnya, itu hanya angan-angan Yani saja.
Yani, masih menerima perlakuan kasar, perkataan keji bahkan suaminya tidak segan membawa wanita selingkuhannya tepat di depan matanya.
Yani, bahkan di cap "si bodoh" karena dia memang benar tidak protes akan hal itu. Entah mantra apa yang sudah suaminya berikan pada Yani.
Yani lugu, tidak pernah marah atas tindakan suaminya.
Saat itu, dia hanya takut. Dia takut untuk pergi ke rumah orang tuanya. Dia takut, ibunya mencaci maki dirinya karena telah memilih pria yang salah.
Dahulu, Yani sudah sempat akan dijodohkan oleh kedua orang tuanya. akan tetapi, dia tetap kukuh memilih sang suami yang nyatanya benar-benar bagai dapat sampah.
Yani merasa, di rumah kedua orang tuanya maupun rumah suaminya tidak ada bedanya. Karena, tidak ada cinta untuknya dimanapun dia berada.
Dia hanya bisa menelan pil pahit atas apa yang telah dia pilih sendiri.
Hingga pada akhirnya, Sang anak pertama sudah beranjak menjadi balita. Setiap ayahnya pergi bekerja, anak ini selalu diajak kemanapun ayahnya pergi.
Bahkan, pergi ke rumah juliet, cinta pertama sang ayah.
Anaknya di titip ke warung terdekat, sedangkan Romeo dan Juliet sedang memadu kasih didalam kamar.
Dan,
Yani, sedang sibuk membabu dirumah mertuanya.