7 November 2022
Bau tanah bekas hujan masih terasa. Hujan dari tadi pagi baru saja reda pukul tiga sore. Terlihat sedikit cahaya emas mengintip di balik awan, meskipun langit abu-abu terlihat dari arah barat. Mungkin akan terjadi hujan lagi, entah maghrib atau nanti malam. Sewaktu orang-orang mempersiapkan tubuh untuk hari esok.
“Kak Di, ini bukumu jangan lupa dipisah mana yang mau disimpan atau ndak yaa”.
Ah, ibu mengagetiku saja, padahal aku sedang memilih bahan makanan yang akan kumasak nanti untuk bekal bekerja. Besok ibu memanggil tukang rongsokan ke rumah. Sudah menjadi rutinitas beliau setiap minggu. Maklum, kami memiliki toko yang lumayan ramai pembeli, sehingga setiap minggu gudang sudah penuh oleh banyak kardus yang tak terpakai. Jadilah ibu menjual kardus itu agar tidak memenuhi gudang.
Kemarin aku ingat sempat berkata pada ibu ingin menjual bukuku yang sudah tidak terpakai lagi. Aku menuju kamarku yang berada di lantai 2. Kususun buku sewaktu kuliah yang sudah berdebu itu ke kardus yang sempat kubawa tadi.
Aku memang sangat suka menulis dan membaca sedari kecil. Bukuku kebanyakan buku tulis yang berisi tulisan tulisanku sewaktu masa sekolah. Tapi tenang saja, aku tidak menjual bukuku begitu saja. Untuk materi materi semasa kuliah yang ku catat, aku mempostingnya di akun instagramku agar tidak hilang dan juga bisa bermanfaat untuk followers ku. Dan untuk ceritaku aku mengunggahnya agar orang lain bisa menikmati karya ciptaanku.
Sebuah kertas kado berwarna merah jatuh di kakiku saat aku membersihkan debu dari dalam lemari. Secarik surat menyembul di dalamnya. Surat Keterangan Sakit. Tertulis di paling atas.
23 Oktober 2015
Perkuliahan dimulai pukul 1 siang. Cuaca sedang sangat tidak bersahabat. Awan mendung menari-nari. Kipas angin di kelas pun mati. Aku yang duduk di kiri pojok sedang antusias memperhatikan bu Ima yang sedang menerangkan rangkaian segala jenis puisi.
Aku mengedarkan pandangan, Sagara tidak masuk lagi. Sudah 3 hari dia tidak masuk kelas. Aku dengar, dia sakit demam. Aku semakin merasa bersalah karena sehari sebelum dia sakit, aku meminjam payungya.
Aku sudah mewanti-wanti agar dia tidak beranjak dari tempat duduknya, karena payungya akan segera ku kembalikan. Tempat kosku tidak jauh dari area kampus. Hanya melewati 1 rumah besar pinggir jalan lalu masuk ke belokkan. Mungkin hanya butuh waktu 5 menit saja untuk sampai di sana.
Saat urusanku selesai aku segera kembali, takut Sagara tidak sabar menunggu dan pulang duluan. Firasatku benar. Rhyna.. Rhyna.. apasih yang kamu harapkan dari cowok sedingin Sagara. Yang lebih memilih pulang kehujanan daripada menunggui seorang gadis yang pinjam payungnya karna kelupaan.
Aku merasakan tangan kananku di pegang pelan.
“Di, kamu di panggil” kata mina teman sebelahku.
“ Iya, Bu. Rhyna Nidya hadir” kataku sambil mengangkat tangan kanan. Itu artinya sebentar lagi kelas berakhir.
Hujan masih rintik-rintik. Aku dan Mina memutuskan untuk pulang nanti saja. Tak terasa pandanganku tertuju pada sebuah amplop berwarna putih di meja dosen. Kuambil amplop itu dan kubawa pulang. Itu surat sakit milik Saga.
7 November 2022
Ternyata surat itu masih kusimpan baik-baik. Kubuka lagi kertas kado berwarna merah tadi, di dalamnya terdapat selembar tiket bioskop yang kutonton bersama Saga yang ditempel di kertas lusuh berwarna coklat. 2427 hari yang lalu tepatnya, aku masih ingat hari itu saat di mana Saga menemuiku untuk diajak nonton bioskop. Lalu pulangnya ia mengajakku untuk makan mie ayam dekat kampus kami. Percayalah setelah kejadian payung waktu itu kami berdua terasa semakin dekat. Hampir setiap malam pun kami saling bertukar pesan. Aku bahkan sering mengajaknya makan mie ayam dekat kampus, untuk sekedar mengerjakan tugas atau hanya ingin ngobrol saja.
16 Maret 2016
“Di, kamu mau pulang sekarang?” tanya Mina. Aku hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum mengerutkan hidung.
“Nggak, Na. Aku mau nonton sebentar” jawabku, sambil meringis. Mina lalu mengangguk, menepuk bahuku pelan lalu berpamitan.
“Hai, Rhy. Maaf buat kamu nunggu lama. Aku tadi ke kamar mandi sebentar”. Ujar Saga.
‘Menunggumu satu tahun lagi pun aku sanggup Saga, asal itu kamu’ jawabku dalam hati. Aku tau bahwa itu Saga, kerena hanya dia yang memanggilku dengan nama depanku.
“Tidak apa Saga, ayo segera berangkat, nanti keburu terlambat nontonnya” kataku seraya berdiri bersiap melangkah menuju parkiran.
Lalu setelahnya kita nonton biasa. Sebenarnya tak ada yang spesial dari film yang kami tonton. Hanya saja karena sekarang bersama Saga menjadi lebih dari spesial.
Pulangnya aku teringat belum sarapan dari pagi. Aku meminta Saga untuk melipir sebentar ke tukang mie ayam langganan kami.
”Rhy, kamu ada pacar?” tanya Saga tiba-tiba.
Aku hampir menyemburkan es teh yang kuminum. Baru pertama kali ini Saga bertanya hal ini selama kami saling dekat.
“Naggak ada Saga, Mana mungkin aku bisa pacaran. Ayahku galak”. Jawabku.
“Kenapa?” tanyaku penasaran.
“Nggak papa, tanya aja” seperti biasa jawabnya singkat dan tidak jelas.
Aku memperhatikan wajah Saga. Mengamati betapa senangnya tuhan saat menciptakan Saga. Pahatan wajah yang hampir sempurna. Garis wajah itu, aduh! bahkan hampir setiap hari aku mengaguminya. Wajahnya yang terlihat tegas di tambah hidung bangir yang mungkin banyak menyita perhatian kaum wanita di kampus.
“Sudah, Rhy?”
“Hah, U-udah! Ayo pulang!” ujarku seraya cepat aku merapikan pakaianku. Malu sekali!. Apa itu tadi? Bahkan dia tersenyum miring mengejekku. Saga 1 : Rhyna 0.
Kami pun pulang menyusuri jalan yang terasa ramai di sore hari. Bersama Saga aku pun tersenyum bahagia.
SAGARA AKBAR! Ayo buat aku jatuh cinta berkali-kali!
7 November 2022
Aku masih ingat, setelah kejadian payung itu, hampir semua kenanganku semasa kuliah bersama Saga. Lama kelamaan kami saling menyimpan perasaan masing-masing. Perasaanku aku tutup rapat begitu pun perasaannya yang baru kuketahui setelah kelulusan kami. Selama itu kami hanya bisa saling percaya. Bahkan rasa takut kehilangan lebih besar dari pada rasa harus memiliki. Aku bahkan sempat menerima ajakan pacaran dari kakak tingkat yang kukenal lewat organisasi yang aku ikuti.
Agustus 2016
Pagi ini aku sangat sibuk menyiapkan persiapan lomba kemerdekaan. Dari sini lah aku bertemu mas Ajil, Pacarku saat ini. Ya, aku berusaha melupakan Saga. Aku berusaha mengingat bahwa kami sekedar sahabat. Dia bahkan tidak pernah menyatakan perasaannya padaku. Aku takut, aku saja yang merasakan perasaan itu.
Di kala gundahku mas Ajil datang mengulurkan tagannya kepadaku. Menawarkan tangannya untuk ku genggam sewaktu waktu. Mas Ajil tau aku mencintai Saga. Namun tak masalah katanya, ia ingin berjuang. Maka tepat pada hari ini kita resmi menjadi pasangan kekasih.
Aku tak sabar menemui Saga dan menceritakan hariku seperti biasanya. Saat itu Saga sedang ke luar kota untuk pulang ke kampung halamannya. Sehabis mandi, aku memeriksa pesan yang ku kirim tadi sebelum aku mandi. Tak ada notifikasi pesan darinya. Hanya pesan dari mas Ajil dan beberapa teman yang menanyakan tugas kelompok karena aku sebagai penanggung jawab mata kuliah tersebut.
Tak biasanya Saga mengabaikan pesanku. Bahkan hampir 3 jam aku menunggu balasannya, Namun nihil.
Aku mulai cemas, terakhir dia mengabari sedang berada di mobil akan berangkat pulang. Tak lama aku mendapat notifikasi dari grup kelas mengabari bahwa baru saja nenek Saga meninggal.
Tanpa berpikir panjang aku menghubungi mas Ajil untuk menemaniku melayat, ingin menghibur Saga meski hanya secuil yang bisa kuusahakan. Aku ingat Saga pernah bercerita tentang nenek yang di sayanginya bahkan lebih dari orang tuanya.
Sagaku sedang bersedih
Ingin ku genggam tangannya erat
Ingin ku rengkuh raganya erat
Tapi aku tau ada orang yang menggenggam tanganku lebih erat lagi
Ada orang yang merengkuh ragaku lebih erat lagi
Waktu itu aku langsung pulang, tidak menemui Saga sama sekali. ‘Maaf Saga aku terlalu takut’. Sepertinya Saga tau bahwa sekarang aku resmi menjadi kekasih orang.
Sepulang dari pemakaman aku mandi lagi untuk kedua kalinya. Setiap hari aku berharap ada kabar dari Saga. Bahkan teman-teman futsalnya sampai menanyaiku untuk mengetahui kabar Saga.
Sampai akhirnya 2 minggu setelahnya Saga mengirim pesan padaku
Rhy... hujannya udah reda, tugasku udah selesai buat mayungin kamu, Sekarang kamu tinggal diam sambil menikmati pelangi...bahagia yaa, sama pelangi mu.
Sampai saat itu ia tahu Rhyna tanpa Sagara hanyalah sebuah hujan biasa.
7 November 2022
Aku ingat, setelah pesan itu dia kirim. Dia tidak pernah membalas sapaku. Sungguh bodoh diri ini, bahkan tidak bisa mengetahui perasaan Saga waktu itu. Lalu benda yang terakhir ku keluarkan adalah gelang warna hijau sage kesukaanku.
1 Juni 2017
Hari spesial bagiku, banyak ucapan beserta do’a yang di berikan kepadaku. Bahkan mas Ajil menghadiahiku sebuah boneka besar di hariku ini. Bicara tentang mas Ajil, perasaanku masih sama tak ada yang berubah sedikit pun. Namun, aku hanya bisa menghargai mas Ajil atas semua kebaikannya kepadaku.
Sepulangnya aku ke rumah, ibu berkata padaku bahwa ada titipan kado dari seseorang. Aku mengabaikan itu, kupikir mungkin kado dari Mina, mengingat anka itu sudah heboh dari kemarin memberitahukan bahwa dia sudah menyiapkan kado untukku. Saat aku ingin mengistirahatkan ragaku, aku melirik kado kecil berwarna merah. Setelah kubuka isinya adalah gelang cantik berwarna hijau sage. Sagara, dia pernah berkata kepadaku bahwa dia ingin membuatkanku gelang sebagai hadiah ulang tahunku.
Bahkan hingga sampai kelulusan aku tidak lagi pernah mendengar lagi tawa ringkasnya. Mendengar kabarnya pun aku hanya tau dari media sosial teman futsalnya. Saga mempunyai medsos tapi aku tidak tau apa gunanya mungkin bahkan dia sendiri sudah lupa kata sandinya, karena terlalu lama tidak di mainkan.