Sudah sebulan lebih salju lembut melayang-layang dan berjatuhan di bawah langit Wyoming, Amerika Serikat. Warnanya yang putih terasa kian menggigit kulitku. Entah mengapa, pada saat turun salju, semuanya tampak begitu berbeda di mataku. Jalan raya, atap rumah, mobil, pohon-pohon… semuanya diselimuti warna putih, sehingga lingkungan sekitar diliputi nuansa hening yang mencekam. Aku duduk bersila di atas karpet abu-abu sambil menikmati kepingan-kepingan salju yang menari-nari bak helaian bulu angsa putih di luar sana melalui jendela kaca apartemenku yang kian memburam. Kuhirup uap secangkir cokelat panas dalam genggamanku kemudian menyesapnya sedikit demi sedikit. Rasa hangat pun perlahan merayap dan menjalari setiap inci tubuhku.
Musim dingin di Wyoming terasa begitu tenang seperti berada di sebuah pedesaan dengan pemandangan alamnya yang sungguh luas. Di sini tidak ada gedung-gedung pencakar langit seperti di Los Angeles atau pun di Washington D.C, sebab seluruh wilayahnya dikelilingi oleh perbukitan. Saat musim panas hamparan perbukitan tersebut terlihat hijau zamrud membentang dengan udara segar yang tercium setiap hari. Namun kini, bukit-bukit tersebut diselimuti salju tebal. Desember memang selalu datang dengan membawa nuansa kebekuannya yang sangat kental. Sama halnya dengan bekunya jendela kaca apartemenku selalu membuat rasa melankolisku kian mengental.
Dylan Scooth Grady. Dia satu-satunya sosok lelaki yang membuatku insomnia selama berhari-hari. Lelaki pirang berdarah campuran Inggris-Kanada yang bekerja sebagai Pustakawan di Teton Library. Perpustakaan itu berlokasi cukup dekat dengan apartemenku, di Virginian Apartment. Tapi kami tidak bertemu di Teton Library, melainkan di Presbyterian church, salah satu gereja di Wyoming yang hingga kini menjadi satu-satunya tempat di mana aku kerap menghabiskan sebagian waktuku hanya untuk menunggu kedatangannya.
Aku masih ingat dengan jelas. Hari itu merupakan hari pertama yang benar-benar cerah setelah berbulan-bulan lamanya wilayah Wyoming diliputi salju. Langit berwarna biru terang, pertanda musim panas akan segera datang. Setelah menempuh jarak sekitar sepuluh kilo menggunakan shuttle bus dari Virginian Apartment, akhirnya aku berhenti di depan bangunan gereja Presbyterian yang bercat putih. Sekilas bangunannya tampak seperti rumah penduduk Wyoming pada umumnya. Hanya saja, ukurannya sedikit lebih besar dan terdapat tiang salib tertancap di atas atapnya sebagai penanda. Hari itu adalah hari pertama aku memutuskan untuk menikmati keindahan Wyoming setelah genap dua bulan aku bekerja di Four Seasons Resort Jackson Hole – Teton Village. Sebelum-sebelumnya aku hanya menghabiskan musim dinginku di dua tempat saja, yakni di hotel dan di dalam apartemen. Aku punya alasan untuk tetap berada di dua lokasi tersebut selama musim dingin berlangsung, mengingat suhu Indonesia berbeda dengan suhu di Amerika. Lagi pula, aku butuh waktu untuk beradabtasi dengan suhu di wilayah tersebut.
Aku memutuskan memasuki halaman gereja yang tidak terlalu luas itu, lalu melewati parkirannya yang tak terlalu padat ketika sebuah Lamborghini Gallardo Bicolo berwarna kuning pekat bergerak mundur tepat ke arahku dan membuatku kaget luar biasa. Syok, aku langsung terjatuh lemas di tanah, jantungku berdegub kencang dan tulang-tulangku seolah dilolosi. Sejurus kemudian aku mulai merintih kesakitan begitu mendapati siku kananku lecet dan mengeluarkan titik-titik darah segar.
“Are you okay?” Seorang pria berambut pirang tiba-tiba berdiri setengah membungkuk di hadapanku sembari mengulurkan satu tangannya tepat di depan wajahku. “Maafkan aku, aku benar-benar tidak menyadari kemunculanmu sebelumnya.” Ucapnya dengan wajah menyesal.
Untuk beberapa detik aku menatap tangannya yang terbuka di hadapanku. “Aku tidak apa-apa,” balasku. Tetapi pria bertubuh cukup atletis itu tidak percaya begitu saja, sebab kedua matanya langsung terpusat pada sikuku yang berdarah. Panik.
“Astaga, sikumu berdarah. Jika kau tidak keberatan, izinkan aku mengobati lukamu.” Usulnya masih dengan ekspresi menyesal dan bersalah. “Kebetulan, terdapat kotak obat di dalam mobilku.” Sambungnya disertai nada sedikit memohon. Mendapati reaksinya tersebut membuatku tak punya pilihan lain. Dengan terpaksa aku mengiyakannya. Lagi pula, kupikir tidak ada salahnya membiarkan ia mengobati lukaku agar ia tidak terlalu menyalahkan dirinya sendiri.
Pria itu lalu bergegas memasuki mobil mewahnya dan kembali menghampiriku dengan membawa serta sebuah kotak P3K. Dia menyeretku menepi ke sebuah pohon terdekat lalu menyuruhku duduk. Dia membubuhkan cairan antiseptik di atas kapas lalu membersihkan lukaku dengan sangat hati-hati. Beberapa orang yang berjalan melewati kami, menatapku dengan dahi berkerut. Seolah-olah aku tidak pantas duduk bersama seorang pria setampan dia.
Tapi aku tidak peduli. Aku tidak berhasrat untuk menginterprestasikan tatapan-tatapan aneh orang-orang di sekitarku, sebab ada pemandangan yang jauh lebih menarik di hadapanku saat ini dan sungguh sayang jika aku harus menyia-nyiakannya hanya karena tatapan-tatapan mereka yang tidak penting ke arahku.
Aku tersenyum diam-diam menikmati setiap inci wajahnya yang charming. Ya, aku menyukai manik matanya yang berwarna biru cerah, garis wajahnya yang tegas, hidungnya yang mancung, dagunya yang membiru pertanda habis cukuran, serta bibirnya yang penuh.
Jantungku berdetak keras menyadari tatapannya yang begitu menarik ketika ia diam-diam mengamatiku dari ujung rambut hingga kaki melalui sudut matanya yang menggoda itu.
“Mendengar rintihanmu tadi, sepertinya kau bukan asli penduduk di sini…”
Seketika aku tersadar dari keterpukauanku, dan hanya bisa berkata gugup. “Eh, oh,” tak jelas. Ya, dia benar. Saat aku merintih tadi, aku melontarkan sejumlah umpatan kasar menggunakan bahasa Indonesia yang sudah barang tentu tidak dimengerti olehnya.
“Wajahmu bahkan lebih cenderung mirip orang Asia,” terkanya usai membebat lukaku dengan plester obat. Kurasa ada angin segar tiba-tiba berembus pelan menerpa kulit wajahku.
Kutarik napasku dalam-dalam, berusaha menenangkan diri kemudian menjawab. “Kau benar, aku memang dari Asia. Aku berasal dari Negara Indonesia.”
Pria itu mengernyitkan dahinya, bingung.
“Bali?” tambahku. Bukan lagi hal baru jika orang-orang luar cenderung lebih mengenal Bali ketimbang nama Indonesia-nya sendiri.
“Yeah, Bali. Aku pernah mendengarnya dari beberapa temanku yang pernah beberapa kali berkunjung ke sana. Menurut mereka Bali merupakan tempat yang sangat indah, benarkah begitu?” Aku mencium aroma citrun yang segar setiap kali ia berbicara.
Lekas-lekas aku menganggukkan kepala, mengiyakan. “Benar. Kalau kau berencana untuk berlibur, kupikir tidak ada salahnya mencantumkan nama Bali di daftar pertama tujuan liburanmu.” Usulku kemudian.
Pria itu mengulum senyumnya, menampakkan sederet geliginya yang tersusun rapih juga putih cemerlang lantas mengulurkan satu tangannya mengajak berkenalan. “Namaku Dylan. Dylan Scooth Grady.” Ungkapnya santai.
“Mariana Giselle Lerfian.” Balasku, menyebutkan nama lengkapku. “Tapi kau boleh memanggilku, Giselle.” Tambahku.
“Apakah kamu sering datang kemari?” ujar Dylan sambil membereskan kotak P3K miliknya. Ia melakukannya tanpa sedikit pun mengalihkan tatapannya ke arahku melalui sudut matanya. Sumpah, tatapannya tersebut perlahan mulai membuatku canggung secanggung-canggungnya.
Segera kutarik napasku dalam-dalam. Sebisa mungkin aku berusaha mengontrol air mukaku agar tidak terlihat kentara canggung saat menjawab. “Ini pertama kalinya sejak aku menginjakkan kaki di Wyoming,” tukasku berterus terang.
“Kau bekerja?”
“Ya, aku bekerja di Four Seasons Resort Jackson Hole.” Sebelum kecanggunganku kian menggumpal hebat, aku lekas memutuskan mengalihkan fokus pandanganku ke arah lain. “Kau sendiri bekerja di mana?”
“Aku bekerja di Teton Library, sebagai seorang pustakawan. Aku suka sekali membaca…” balasnya dengan sangat antusias. Hal itu terlihat jelas dari sepasang matanya yang berbinar-binar sewaktu mengucapkan empat kata terakhir. “Apakah kau juga suka membaca?” lanjutnya masih dengan ekspresi berbinar-binar luar biasa.
“Yup, tentu saja.” Jawabku segera. “Apalagi membaca novel,”
“Wow! Kalau boleh tahu, siapa pengarang novel favoritmu?”
“Shakespeare.”
“Jadi, kau salah satu penggemar fanatik kisah cinta Romeo dan Juliet?”
Aku mengedikkan sedikit bahuku. “Kira-kira begitulah…” sambil mengulum senyum tipis.
Well, kami pun akhirnya mengobrol dan saling mengenal satu sama lain. Dylan mengaku kalau setiap hari minggu ia cukup sering mengunjungi gereja Presbyterian untuk berdoa di hadapan Tuhan. Mengobrol dengan Dylan sangatlah menyenangkan, aku tidak merasa bosan. Lumayan banyak topik obrolan yang kami angkat. Topik demi topik. Berganti-ganti. Mulai dari seluk-beluk wilayah Wyoming berikut keunikannya, hingga hal-hal kecil yang sama sekali tak ada hubungannya dengan wilayah dimaksud.
Semenjak saat itu hubunganku dengan Dylan kian intens. Kami sering sekali bertemu di di lokasi yang sama setiap akhir pekan. Sehari tiga kali ia rutin meneleponku, sekedar untuk menyapa dan menanyakan keadaanku. Saat jam istirahat ia kerap menyambangiku di tempat kerja untuk makan siang bersama. Tak jarang setiap kedatangannya di hotel selalu mengundang beragam komentar dari rekan-rekan kerjaku yang lain. Ada yang menganggapku aneh, gila dan semacamnya. Aku juga tidak pernah ambil pusing ketika beberapa rekan kerjaku yang melihatku duduk bersama Dylan di sudut restoran, menatapku dengan wajah terperangah aneh bercampur bingung. Mereka pasti iri padaku karena bisa mendapatkan teman kencan setampan Dylan, begitu pikirku.
Aku patut berbangga hati sebab Dylan termasuk tipe pria romantis yang penuh dengan kejutan. Beberapa kali tanpa pemberitahuan apa-apa ia mengajakku candle light dinner di restoran favoritnya. Ia juga rajin mengirimkan bunga mawar putih untukku di akhir pekan, Saat berkencan kami sering menghabiskannya dengan berfoto bersama. Sungguh saat-saat yang sangat menyenangkan.
Saat itu pertengahan September, Dylan tiba-tiba menelepon dan memintaku untuk bertemu dengannya di Presbyterian church, ada yang ingin ia sampaikan padaku, entah apa. Namun karena pekerjaanku yang begitu padat hari itu dan tidak dapat kutinggali, dengan menyesal aku balas meneleponnya dan mengabarinya bahwa aku tidak bisa datang menemuinya. Sebelum menutup telepon, aku sempat memintanya untuk menemuiku minggu besok di lokasi yang sama. Akan tetapi, Dylan tidak menjawab apa-apa. Hanya terdengar dengusan napasnya yang lemah cenderung frustasi, disusul bunyi tut-tut-tut yang panjang di telingaku.
Keesokan harinya. Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap-siap di depan cermin di dalam apartemenku, sebelum akhirnya bergegas keluar menemui Dylan. Aku mengenakan atasan kemeja ungu muda dengan bawahan rok A-line pendek warna abu-abu sebatas lutut. Jujur, dengusan napas frustasi yang kudengar di telepon semalam membuatku tak bisa tidur nyenyak.
Aku bergegas turun dari shuttle bus yang kutumpangi tepat di depan Presbyterian church ketika hujan deras tiba-tiba sudah mengguyur kota. Tak pelak butir-butir cairannya jatuh di puncak kepalaku, menyelusup hingga ke dalam pori-pori kulit kepalaku. Aku lupa membawa payung. Karena terburu-buru, benda itu ketinggalan di apartemenku. Sial.
Karena kesulitan, aku memutuskan melepaskan sepatu hakku lalu berlari menerobos rimba hujan tersebut memasuki halaman gereja. Namun tetap saja sekujur tubuhku basah kuyup ketika aku berhasil mencapai bibir pintu gereja. Sambil mengatur napasku yang lumayan ngos-ngosan, kuedarkan pandanganku ke arah mobil-mobil yang berjejer rapi di lahan parkir. Sesaat kemudian aku mendengus pelan begitu mendapati mobil Dylan tidak terparkir di sana.
Di detik yang sama, kulirik arloji yang melilit pergelangan tangan kiriku. Pukul sepuluh pagi waktu setempat. Mungkinkah dia masih tertidur? Pikirku, seraya merogoh ponselku lantas menghubunginya. Teleponnya tidak aktif. Tidak puas, aku mencoba meneleponnya terus menerus tanpa henti, namun hasilnya tetap sama. Ponsel Dylan tidak aktif. Hal itu kian membuatku panik dan gelisah. Tidak biasanya Dylan sulit dihubungi, batinku frustasi.
Hingga sore menjelang, hujan deras belum juga berhenti. Kususuri lagi jalan setapak gereja Presbyterian yang basah, tapi Dylan tidak pernah muncul.
Sejak saat itu kami tidak pernah bertemu atau pun berkomunikasi lagi. Dylan menghilang begitu saja, menyisakan duka mendalam di dadaku. Aku sempat menemui beberapa rekan pustakawan di Teton Library, namun tak satu pun dari mereka yang tahu keberadaannya. Mereka bahkan secara terang-terangan menertawaiku karena mereka sendiri baru pertama kali mendengar nama Dylan di Teton Library. Ugh, yang benar saja?! Jadi mereka pikir selama ini aku hanya sekedar berhalusinasi?
Hari-hariku terasa panjang, berat dan sangat melelahkan. Terus terang, aku belum bisa mengendalikan otakku untuk tidak memikirkan Dylan terus menerus selama setahun belakangan. Terlalu banyak luka serta air mata yang menghiasi malam-malam dinginku karenanya. Hingga kini masih terlalu banyak hal manis yang kuingat tentang dia, sampai-sampai aku tak bisa membedakan mana kehidupan nyata dan mana khayalan. Segala hasratku untuk hidup seakan lenyap tak berbekas saat tahu ia menghilang begitu saja tanpa sedikit pun pesan serta tak ada kontak sama sekali. Ia seolah lenyap ditelan bumi, dan itu membuatku sakit. Setiap hari aku berdoa, semoga Tuhan dengan segala kemurahan-Nya mempertemukanku kembali dengannya. Aku tidak butuh apa-apa, hanya ingin bertemu dengannya saja. Titik.
Suara teriakan seseorang menyentakku dari lamunan dan sejurus kemudian membawaku menuju balkon. Mataku mencelat lebar. Pasalnya, lima meter di bawah sana tampak Tom berdiri mendongak, menatapku disertai senyumnya yang mengembang lebar. Ada salju di rambutnya yang sedikit gondrong dan wajahnya tampak merah jambu karena kedinginan. Satu tangannya melambai-lambaikan sebuah karangan bunga mawar merah sementara tangannya yang lain tetap dijejalkan ke dalam saku mantelnya agar tetap hangat.
“Aku datang untuk menagih janjimu!” teriaknya keras-keras.
Janji? Astaga, aku ingat sekarang. Sekitar tiga bulan lalu aku pernah berjanji padanya bahwa aku bakal menerima ajakan kencannya begitu ia kembali dari kampung halamannya di Toronto, Kanada. Tadinya, kukira dia hanya bercanda. Sungguh, aku benar-benar tidak percaya Tom menemuiku hanya untuk berkencan denganku. Usai meraih mantel yang kusampirkan di atas sofa beige, aku bergegas turun menemuinya.
“Kau baik-baik saja?” sapaku sembari menahan diri untuk tidak menggigil di hadapan Tom. Ternyata udara di luar apartemen memang sangat dingin. Tiupan angin berputar-putar di sekeliling kami, serta hujan salju turun semakin deras dan rapat. Tak ada tanda-tanda salju akan berkurang malam ini. Dalam hati aku merutuk sebal karena lupa mengenakan syal untuk menutupi leherku.
“Yeah,” desahnya setengah menggigil, kemudian mengangsurkan karangan bunga mawar di tangannya untukku. “Untukmu, kumohon terimalah!”
Aku segera menerima mawar pemberiannya. “Terima kasih. Sulit kupercaya, ternyata kau termasuk pria yang romantis. Apa kau selalu memberikan bunga pada wanita saat kencan pertama?” Selidikku. Ini pertama kalinya aku mendapatkan hadiah bunga dari pria lain semenjak sosok Dylan menghilang secara misterius dari kehidupanku.
“Kau tidak suka?” Balas Tom. Cuping hidungnya yang merah mengembang. “Ini kencan pertamaku selama musim dingin,” lanjutnya disertai embusan napas keras.
“Aku tahu.” Tukasku seraya membantunya membersihkan serpihan salju yang menempel di pundak serta di puncak kepalanya. Semilir bau alkohol mendadak menguar di hidungku, membuat isi kepalaku mendidih dan rasanya mau meledak. Aku sangat membenci aroma ini sampai kapan pun juga. Seketika aku mundur beberapa langkah menjauhi Tom, lalu menatapnya. “Kau habis minum alkohol?” tudingku tak percaya.
“Sedikit!” Tukasnya sembari bergerak hendak menyentuh lenganku.
“Don’t touch me!” sergahku tajam. Serentak Tom menghentikan langkahnya dengan reaksi frustasi. Dari air mukanya, pria itu tampak menyesal ketika membalas tatapanku.
“Maafkan aku, tapi aku hanya minum sedikit saja. Ayolah, kau tentu bisa bayangkan, bagaimana tersiksanya melewati suhu sedingin ini tanpa alkohol. Aku sangat butuh minuman yang bisa menghangatkan tubuhku.” Jelasnya masih sedikit frustasi, tapi aku tidak peduli. Bukankah aku sudah pernah bilang, bahkan berkali-kali memberitahunya kalau aku tidak suka pada pria pecandu alkohol?! Hh, kurasa kedatangan Tom malam hari ini hanya untuk memancing kemarahanku.
“Aku tidak peduli!” teriakku, semakin menarik diri dari rengkuhan Tom. “Sampai kapan pun juga aku tidak pernah sudi berdekatan dengan orang yang mulutnya bau alkohol.”
Aku memiliki riwayat memilukan gara-gara alkohol. Dulu, ayahku adalah seorang pecandu minuman keras. Hampir setiap malam ia pulang ke rumah dalam keadaan mabuk berat. Saat dalam kondisi mabuk, ia akan berteriak, memaki atau pun menyumpah serapahi ibuku. Ia seakan tak peduli dengan perasaan ibuku. Apapun yang jadi kemauannya harus segera dituruti. Jika tidak, maka ia bakal memukul dan menghajar ibuku berulang kali layaknya binatang buruan tanpa merasa bersalah, apalagi berdosa. Hingga suatu hari ibuku benar-benar meregang nyawa di tangan ayahku sendiri. Cukup, aku tidak ingin mengingat-ingat hal yang memilukan itu lagi.
“Bisakah kau bersikap seperti Dylan?” kataku tanpa pikir panjang sebelumnya. Tidak tahu mengapa, bayang-bayang wajah Dylan serentak melingkupi alam pikiranku. Bahkan, aku masih bisa mengingat aroma parfum maskulinnya, juga wangi napasnya yang beraroma citrun nan menyegarkan di sekitar hidungku.
Tom seketika bergeming usai mendengarkanku menyebut nama Dylan. Rahangnya tampak mengeras saat menatapku, namun seperti biasa tak ada kata-kata yang berhasil terlontar dari bibirnya yang pucat itu. Aku tahu, Tom paling tidak suka kalau aku mulai membanding-bandingkan dirinya dengan Dylan.
Tom seketika berdeham keras lalu menatapku dengan mata agak melebar. “Jadi, kau belum bisa menghapus kenanganmu bersama Dylan?” wajahnya terlihat begitu tegang. Kutelan ludah getir dan hanya bisa mematung kaku layaknya sebuah patung. “Lalu untuk apa kau bersedia berkencan denganku kalau begitu?” dengusnya frustasi. Rahangnya kian mengeras. Selanjutnya, tanpa berujar sepatah kata pun Tom memutar badannya, sejenak memunggungiku lantas beranjak pergi. Saat ia melangkah perlahan, jejak sepasang kakinya tercetak dalam di atas permukaan salju yang tebal. Sebelum punggung lebarnya benar-benar lenyap dari jangkauan mataku, samar-samar kudengar Tom berteriak-teriak dan memaki dirinya sendiri.
“Maafkan aku, Tom.” Desisku dalam hati.
Kepingan salju turun perlahan-lahan dan berputar-putar. Tanpa kusadari sebelumnya, kepingan-kepingan salju itu ternyata telah menumpuk di kepalaku, dingin. Beku.
* * *
Pukul delapan pagi waktu setempat. Di luar, salju masih turun. Kubenamkan kembali kepalaku yang masih terasa berdenyut-denyut di atas bantal. Semalaman aku tidak dapat memejamkan mata. Beberapa kali aku memaksakan diri bangkit dari pembaringan dan bolak-balik ke dapur untuk menelan beberapa butir aspirin. Alih-alih sembuh, kepalaku justru kian terasa mau meledak. Bukan itu saja, sekujur tubuhku pun terasa sakit, terutama di bagian pangkal leher.
Untuk ke sekian kalinya kulirik jam bekerku di atas nakas. Di layarnya menunjukkan pukul 08:09. Frustasi, kutarik kembali selimut yang menumpuk tebal di bawah kakiku rapat-rapat. Aku baru akan memejamkan mataku ketika suara derap langkah kaki terdengar samar di telingaku. Kupicingkan mataku segera. Memang benar, ada suara derap langkah kaki di dapurku dan… bunyi siulan.
Dylan?! Mungkinkah dia yang ada di dapurku saat ini? Jantungku berdebar-debar dan darahku menghangat seketika membayangkan kemungkinan tersebut. Entahlah, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan seumpama yang muncul di apartemenku pagi ini benar-benar Dylan. Mungkin aku hanya bisa tegak berdiri sambil membungkam rapat bibirku seperti orang bodoh saat menatap ke dalam manik matanya yang berwarna biru.
Sedikit limbung aku berusaha bangkit dari ranjang, sebentar merapikan rambutku di depan cermin lalu menyeret langkahku menuju dapur. Akan tetapi, bukanlah sosok Dylan yang tertangkap oleh mataku, melainkan sosok Tom. Pria itu sedang sibuk mondar-mandir di dapurku, menyiapkan sarapan pagi sambil bersiul nyaring. Dia kelihatan berbeda pagi ini. Aku menyukai sweter putih yang ia kenakan, juga syal cokelat susu yang melilit lehernya, terlihat menumpuk-hangat.
“Bagaimana kau bisa masuk ke dalam apartemenku?” tanyaku, mengagetkannya. Tom serentak memutar kepalanya ke arahku.
“Hey, selamat pagi.” Sapanya disertai senyum lebar khasnya, kemudian lanjut berkata. “Saat aku datang, pintu apartemenmu terbuka lebar begitu saja sementara kau sedang tidur.” Jelasnya.
Aku menelan ludah samar. Dasar tolol, rutukku dalam hati setelah mengingat kalau semalam aku memang lupa menutup pintu apartemenku. Tak ingin mengganggunya, aku memutuskan duduk di kursi seraya mengawasi Tom tanpa berkomentar.
Tom bergerak membuka kulkas dan mengambil beberapa butir telur. Dia tampak begitu cekatan memecahkan telur-telur itu, mengocoknya bersama keju, sedikit garam dan bubuk merica di dalam mangkuk besar kemudian menuangkannya di atas wajan dengan minyak panas. Aroma telur serentak menguar di hidungku, membuatku lapar. Setelah omeletnya siap, Tom lalu meletakkan piring, sendok, garpu, dan pisau di hadapanku.
“Thank you,” kataku.
Tom tertawa ringan sembari menuang teh hangat di gelasku. “Maafkan aku. Seharusnya aku tidak pergi begitu saja dari hadapanmu semalam. Terkadang otakku memang sulit untuk diajak kompromi. Tapi detik ini juga aku mau berjanji padamu bahwa aku akan menjauhi yang namanya alkohol,” desisnya. Aku masih belum berkata apa-apa sampai Tom menyelesaikan kalimatnya. “Sore ini kau ada acara?”
“Berhubung ini hari minggu, aku mau ke Presbyterian church, menunggu Dylan seperti biasa.”
Tom serentak menatapku dengan wajah nanar. “Mau sampai kapan kau menunggunya, Giselle? Menurutku, Dylan itu tidak nyata. Pria itu hanya halusinasimu saja. Kalau pria itu memang nyata, dia tidak mungkin tega membiarkan dirimu terpuruk terus-menerus seperti ini.” Tandasnya.
Halusinasi?
“Jadi, kau menganggapku tidak waras, begitu?” Napsu makanku menguap dengan cepat, berganti rasa kesal yang kian memuncak di kepalaku.
Tom mengangkat kedua tangannya di udara, menyerah. “Aku tidak bermaksud begitu, Giselle. Kau jangan salah paham,” pintanya memohon.
“Sekarang juga aku minta kau segera pergi dari apartemenku!” usirku kasar.
“Hey, dengarkan dulu penjelasanku!”
“PERGIIII!!!”
Mendapati keseriusanku, Tom langsung beranjak pergi dari dapurku lalu keluar dari ruang apartemenku.
Dua puluh menit setelah kepergian Tom, aku memutuskan berbaring di ranjangku. Kepalaku rasanya mau meledak sesaat setelah mendapati lembaran-lembaran fotoku bersama Dylan berubah total. Pasalnya, dari puluhan foto-foto itu cuma ada gambarku seorang diri, sementara sosok Dylan hilang entah kemana!
Oh Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi? Benarkah Dylan adalah sosok yang tak nyata? Benarkah Dylan hanya halusinasiku semata?Tapi, mengapa dia terasa begitu nyata bagiku?
Air mataku meleleh.
* * *
Hujan rintik-rintik yang jatuh selepas salju tadi siang membuat ruas-ruas jalan di Wyoming menjadi sedikit licin. Tampak bongkahan-bongkahan es masih tersisa di pinggiran jalan. Tiupan angin yang cukup besar disertai butiran gerimis mungil semakin membuat udara terasa dingin.
Kedua kakiku melangkah mantap melintasi parkiran gereja Presbyterian ketika sebuah mobil di parkiran bergerak mundur hingga nyaris menabrakku. Aku terpelanting jatuh, siku kananku berdarah. Perih rasanya.
“Giselle! Are you okay?” Tom tiba-tiba berdiri di hadapanku dengan wajah panik. “Maafkan aku, Giselle. Aku benar-benar tidak menyadari kemunculanmu. ” Katanya, lantas menarik pergelangan tanganku ketika dilihatnya sikuku berdarah.
Aku bergeming.
“Maafkan aku, Giselle. Aku terpaksa membuntutimu ke sini, tapi aku tidak bermaksud apa-apa… Kau bisa mempercayai kata-kataku.” Hati-hati Tom membersihkan lukaku kemudian membebatnya dengan plester obat yang terdapat dalam kotak P3K di dalam mobilnya. Kami berdiri saling berhadapan di depan mobil Tom yang berwarna kuning.
Mataku membulat lebar. Spechless. Ini tidak mungkin?! Aku tahu… Kejadian ini pernah kualami. Tetapi saat itu bersama Dylan. Bukan dengan Tom!
“Giselle? Kau kenapa?” Tom heran.
“Tidak, tidak apa-apa.” Jawabku setelah menarik napas panjang. Tom tidak bertanya apa-apa lagi, ia hanya menatapku dengan sepasang mata birunya yang lembut dan berkilat-kilat. Mungkinkah ini deja-vu?
“Tom, kau tahu apa itu deja-vu?” Suaraku bergetar saat berujar.
Tom menautkan alisnya lalu menggeleng. “Tidak.”
“Kau bukan Dylan?”
“Tentu saja, bukan.”
“Jadi, selama ini aku…” kataku dengan napas memburu. “Maafkan aku…” lalu menggamit ujung jaketnya. Kusurukkan wajahku ke dadanya yang hangat dan membiarkan air mataku merembes membasahi jaketnya.
Setelah membiarkanku menangis di dadanya, Tom perlahan mendekap erat tubuhku dan mengecup puncak rambutku. Hangat.***