Aku benci kehilangan, aku benci di tinggalkan, aku benci karena waktu begitu cepat saat bersamamu, aku benci ketika waktu terasa lambat jika itu tanpamu, aku benci waktu yang tidak mengizinkanmu untuk tinggal lebih lama di sisiku.
Gadis itu sudah lama terdiam disana, meringkuk lemas mendekap kedua kakinya yang dilipat dan menunduk menyembunyikan wajah pilunya enggan menatap. Di dekat dinding jauh dari beberapa orang yang mulai meninggalkan ruangan setelah pemakaman sahabatnya selesai di lakukan.
Mata sembabnya tetap lembab, namun deraian air sudah tak tampak lagi membasahi pipi. Rasa sakit karena kehilangan terlalu banyak menguras peluh hingga kini hanya tersisa sesak menyelimuti dirinya yang kacau.
Bukan hanya Soo ra, di hadapannya ada seseorang yang keadaannya tidak jauh berbeda dengannya, menatap kosong ke arah Soo ra dan enggan beranjak meski ruangan yang mereka tempati kini telah sunyi, hanya menyisakan mereka berdua. Jimin, juga merasa sangat kehilangan atas kepergian Eun ae sahabatnya.
"Iblis ... apa masih pantas kau berada disini? pergi pembunuh! Pergi kau!" seorang wanita pertengahan 40an mencengkeram rambut Soo ra dan menyeretnya paksa menyuruhnya untuk pergi. "Apa pantas kamu masih hidup sehat begini? huh? kamu pantas mati bersama anakku." teriaknya menggema ke seluruh sudut ruangan dan tak dihiraukan oleh Jimin meski biasanya Jimin akan sangat marah jika seseorang menyakitinya.
Soo ra tidak sedikitpun melawan, membiarkan badannya terbanting, hanbook hitamnya terkoyak, rambutnya teracak dan menjatuhkan jepit pita putih tanda berduka yang sebelumnya tersemat apik di rambut terikatnya.
"Mama ... hentikan." Jungkook menghalangi ibunya untuk tidak memberikan pukulan lagi pada Soo ra. Wanita itu berulang kali memukul punggung Soo ra dengan seluruh sisa tenaganya. "Kau pantas mati ... Kau harus mati ...."
Jungkook tidak bisa lagi membiarkan ibu tirinya menyakiti Soo ra, Ia hanya bisa membawa ibunya pergi tanpa bisa menenangkan gadis yang tatapannya kembali mengarah pada lantai buram disertai isakan. Rembesan air meluap membasahi pipi yang sebelumnya mulai mengering. Sebelah tangannya menekan di bagian dada bermaksud meredam nyeri. Seluruh badannya memanas dan sesak. "Aku tidak membunuhnya," rintihnya lirih dengan seluruh badan yang gemetar. "Aku tidak mungkin membunuhnya."
"Jim ..." gadis itu mendongak perlahan dan beringsut mendekati Jimin, menatap Jimin memohon untuk Jimin mempercayainya.
Tapi ntahlah ... Jimin sedang tidak ingin mempercayai siapapun termasuk Soo ra sahabatnya. Tidak ingin menanggapi Soo ra, Jimin berdiri dan lekas pergi.
"Jim, kumohon!" Soo ra menangkap tangan Jimin dan membuatnya berhenti dengan sisa sisa tenaganya. "Aku tidak mungkin melakukannya, ini hanya kecelakaan, kumohon percayalah padaku."
"Kecelakaan?" Jimin mengulas smirk menganggap semua perkataan Soo ra hanyalah bualan. "Lalu ada malaikat yang telah menyelamatkanmu hingga membuatmu tidak terluka sama sekali dalam kecelakaan itu sedang Eun ae kehilangan nyawanya?"
"Jim ….”
"Mungkin semua orang benar, setelah pertengkaran kalian dua hari yang lalu ..." Jimin menjeda ucapannya dan tidak sanggup melanjutkan perkataannya. "Ra, apa harus sampai membuatnya menghilang dari dunia ini?"
"Jim ... kamu salah paham, dan Eun ae juga salah paham. Aku hanya menyayangi Taehyung sebagai sahabat, aku sama sekali tidak berniat merebutnya dari siapapun. Aku hanya ..."
"Pergi berdua dengan Taehyung dan menikmati malam seperti layaknya orang berpacaran, menebar isu pernikahan membuat Eun ae salah paham dan lalu berakhir mencelakainya?”
"Jim ... tidak seperti itu."
"Lalu seperti apa?" Teriak Jimin sudah muak dengan Soo ra.
Sebulir air mata melesat cepat di pipi Soo ra. Soo ra bisa melihat tatapan benci yang mendalam dari mata Jimin. Air matanya berubah deras namun tertahan. "Jim … Aku pikir kamu akan mempercayai semua perkataanku, kupikir hanya kamu yang akan berada disampingku. Kupikir kamu telah mengenal seperti apa diriku, apa aku terlihat seperti Iblis? Apa aku tampak seperti pembunuh?" Soo ra menghela nafasnya sesak. "Bagaimana supaya kamu bisa mempercayaiku Jim?"
"Bukankah adil jika kamu merasakan dan mengalami hal yang sama dengan Eun ae? bersama sama meninggalkan dunia ini.”
Bugg ... satu pukulan mengenai pipi Jimin, membuatnya tersungkur ke lantai dan memilih tetap tergeletak, membiarkan Taehyung menguasai dirinya.
Taehyung siap meluncurkan lagi kepalan tangan di pipi Jimin yang telah terluka. Namun urung, Jungkook terlebih dulu mendorong Taehyung dari badan jimin dan membuatnya terduduk lemas menatap Soo ra yang tengah di kuasai kekalutan.
Jimin mengulas senyum karena menurutnya sangat menarik untuk menertawakan Soo ra dan Taehyung yang saling membela.
Seluruh dunia Soo ra hancur, Soo ra merasa sia sia melawan takdirnya untuk tetap hidup. Semua orang tidak menginginkannya hadir di dunia ini lagi. termasuk Jimin, seseorang yang selalu ada untuknya, seseorang yang Soo ra anggap sebagai rumah untuk pulang, seseorang yang Soo ra anggap sebagai surga yang selalu membuatnya bahagia, seseorang yang selalu menemaninya ketika tidak ada seorangpun yang berada di sampingnya.
Hancur, semua telah hilang tanpa menyisakan apapun, hanya dirinya yang kosong tanpa rasa, hanya dirinya yang hampa dan tidak berguna. Soo ra melemah bersimpuh di lantai membiarkan raganya ikut sakit dan melemah karena hatinya.
Jungkook berpindah bersimpuh di depan Soo ra lalu memeluknya, membawanya kedekapannya. “Ra ... aku percaya padamu.” Perlahan Jungkook mengusap rambut Soo ra yang berantakan dan menariknya untuk lebih bisa menyamankan dirinya dalam dekapan.
Ingatan Soo ra melayang pada saat saat dimana mereka selalu bersama. JImin, Taehyung, Jungkook, Eun ae dan dirinya, mereka telah bersahabat sejak lama. Setelah kehilangan orang tuanya, hanya Jimin dan Taehyung yang selalu berada di sampingnya dan memastikan ia baik baik saja. mereka selalu peduli pada Soo ra, tidak pernah sedikitpun mengabaikannya walau ratusan alasan sangat memungkinkan untuk mereka melakukannya, hingga suatu ketika Soo ra di pertemukan dengan Eun ae dan Jungkook yang semakin membuat harinya berwarna dengan kehadiran mereka. Jungkook adalah saudara tiri Eun ae dan mereka mempunyai usia yang tidak jauh berbeda.
Berawal dari malam yang melibatkan Soo ra dan Eun ae dalam pertengkaran setelah bertahun tahun mereka bersahabat. Eun ae menyimpan perasaan pada Taehyung. Eun ae selalu bercerita pada Soo ra, namun Eun ae merasa Soo ra selalu mencari waktu bersama dengan Taehyung dan membuat Eun ae kecewa. Semua hanya salah paham, namun Eun ae beberapa kali beradu argumen hingga emosinya meluap dan membawa serta orang tua Soo ra dalam percakapan.
•
"Aku hanya mengantarnya memberi bantuan ke panti asuhan di Daegu. Taehyung memintaku menemani karena saat itu kebetulan aku ada pekerjaan disana dan kita tidak tahu jika akan jadi seperti ini. para wartawan itu memberitakan hal yang tidak masuk akal, hanya karena aku berkunjung ke rumah keluarga besar Taehyung semua orang berfikir bahwa aku adalah orang yang akan menikahi anak tunggal keluarga kim. semua tidak benar, ini hanya jebakan. aku tidak pernah berfikir untuk ..."
"Jebakan?" sela Eun ae tanpa ragu. "Kau menikmatinya kan? kamu akan menikah dengan Taehyung, kau menyukainya kan?"
"Eun ae ... aku tidak pernah berfikir seperti itu. Nenek Taehyung hanya salah paham hingga menganggap aku kekasih Taehyung. kemudian nenek Taehyung mengumumkan pernikahan cucunya denganku, itu di luar sepengetahuan kita."
"Aku tidak bisa mempercayaimu Ra ..."
"Percayalah padaku, aku tidak penah memiliki niat untuk menghianatimu."
"Persis sekali, kata kata itu selalu di ucapkan oleh wanita licik dan penggoda sepertimu."
"penggoda?"
"Oh, atau mungkin ... kamu akan melestarikan sifat buruk orang tuamu? wanita penggoda dan pembunuh. kau lucu ra, kamu bahkan tidak ingat siapa dirimu. Kau hanya anak dari seorang pembunuh. pembunuh, kau harusnya sadar."
Plakkk ... telapak lembut Soo ra melesat kuat mendarat di pipi Eun ae. Seluruh badan Soo ra kemudian bergetar, matanya penuh dengan air bening karena sakit di hatinya. wajahnya memerah menahan tangis yang tak ingin ia tumpahkan.
Saat Soo ra melayangkan tamparan pada Eun ae, Jimin dan Taehyung melihatnya. Melihat tangan Soo ra melayang dan mengenai pipi mulus Eun ae tanpa tahu penyebab Soo ra melakukannya. Eun ae diam tanpa reaksi yang berlebihan, hanya terkesiap, diam dan membisu. "Kau ingin membunuhku?” ucapnya lirih penuh rasa kecewa.
Dari situ Jimin dan Taehyung merasa Soo ra adalah orang yang berbeda. Tidak hanya Eun ae, mereka lebih terkejut karena melihat Soo ra melakukan sesuatu di luar pikirannya. Mereka secepat kilat menghampiri Eun ae dan Soo ra namun Soo ra lebih dulu meninggalkan Eun ae yang masih terpaku lalu Jimin mengejarnya sedang Taehyung menenangkan Eun ae.
“Ra …” Jimin menyahut lengan Soo ra dan membuatnya berhenti di pinggir jalan di bawah gelapnya malam.
Soo ra menunduk menyembunyikan tangisnya dari Jimin.
“Aku tidak keberatan jika orang lain berbicara apapun tentangku, tapi menyamakanku dengan orang tuaku … membuatku kecewa. Memang … aku mungkin tidak jauh berbeda dari orang tuaku, tapi aku ingin memilih untuk berbeda jim. Aku ingin berbeda, tidak ingin menjadi wanita yang merebut suami orang dan berakhir di bunuh oleh suami sahnya sendiri lalu kini suaminya mendekam di penjara, mungkin sampai ia mati disana dan tidak bisa hidup seperti layaknya orang lain.”
“Ra ….”
“Bukankah harusnya kalian bersyukur memiliki keluarga yang normal dan harmonis? Bukankah harusnya kalian bersyukur tidak memiliki keluarga berantakan sepertiku? Apa semua itu kurang Hingga harus mendapatkan apapun dengan cara seperti ini? Aku tidak pernah berbohong Jim… aku tidak berniat untuk memiliki siapapun dan merebut siapapun darinya.”
“Ra aku percaya padamu.”
“Jim … maaf karena telah menjadi aib dalam hidupmu. Harusnya aku tahu diri dan menjauh dari kalian.”
“Apa yang kamu katakan? Jung Soo ra ….” Teriak Jimin berlanjut memijat pelipisnya melihat Soo ra berlari keluar menghentikan taksi dan melesat pergi dari sana.
Soo ra pergi.
Lalu esok harinya, Eun ae dan Soo ra terlibat kecelakaan bersama. Mobil yang mereka kendarai terjun ke jurang.
•
Setelah pemakaman Eun ae, Soo ra sama sekali tidak terlihat pergi ke tempat kerja atau berada di apartemennya. Soo ra benar benar menghilang seperti yang telah Jimin harapkan. Benar benar menghilang.
Berulang kali Soo ra berusaha menemui Jimin namun tidak pernah bisa. Puluhan panggilan untuk Jimin yang selalu berakhir tidak terjawab, tak sekalipun panggilan itu Jimin hiraukan. Hingga pesan suara yang tidak pernah Jimin dengarkan membuat Soo ra semakin putus asa dengan dirinya.
Hingga suatu ketika di saat Taehyung menyadari Soo ra telah menghilang, tidak hanya menghindarinya. Taehyung berusaha mencari tahu dari semua orang tentang Soo ra, termasuk Jungkook, saudara tiri Eun ae yang ikut menghilang.
“Jim, Soo ra menghilang, Jungkook juga.” Taehyung tergesa gesa datang menemui jimin di apartemennya.
“Itu yang ku inginkan.”
“Jim ... kau akan terus menganggapnya sebagai orang yang mencelakai Eun ae?”
“Dia tidak memenuhi panggilan polisi, dia tersangka dari kecelakaan tempo hari dan sekarang dia kabur.”
"Jim, kau tau setelah kejadian malam itu ... Eun ae yang meminta Soo ra untuk menemuinya, Soo ra hanya mengikuti keinginan Eun ae."
Jimin diam.
“Jim ... aku pikir kamu adalah satu satunya orang yang akan sampai mati berada di samping Soo ra, aku pikir kamu adalah ...”
“Apa aku salah tidak bisa mempercayainya lagi?”
“Kalian salah paham padaku. Aku mencintainya, namun Soo ra tidak pernah mencintaiku Jim, di matanya, di hatinya dan hidupnya ... semua adalah tentang dirimu. Dia mencintaimu, namun kamu terlalu sibuk dengan orang lain tanpa peduli bagaimana perasaannya. Soo ra tidak pernah berani mengatakan langsung padamu. Tapi aku tahu dia mencintaimu.”
Jimin membisu.
“Bagaimana jika Soo ra tidak pernah berniat untuk melukainya?” Taehyung mendekati Jimin dan meraih ponsel tipisnya memastikan sesuatu. “Aku tahu Soo ra pasti menghubungimu.”
“Kembalikan padaku!”
Drrttt drrrtt ... asisten Taehyung menelfon.
Taehyung memberikan handphone Jimin dan beralih menerima panggilan dari handphone yang ia miliki.
“Dia bersama Tuan Jeon.”
“Katakan padaku dimana mereka berada!” Perintah Taehyung pada asistennya yang ikut mencari keberadaan Jungkook dan Soo ra.
Setelah menerima penjelasan dari sang asisten, Taehyung segera menghubungi Jungkook meski sebelumnya tidak pernah Jungkook hiraukan.
Jungkook tahu maksud Taehyung menelfon adalah karena Soo ra. Kebetulan, Jungkook juga ingin menghubungi mereka.
“Soo ra sedang bersamaku, di pinggir danau tempat ia biasa menemukan keindahan. Memandangi dedaunan kering yang perlahan terjatuh, memandangi dominasi angin pada riuhnya ranting ranting," terangnya tidak seperti biasa.
“Aku akan kesana. Jangan biarkan Soo ra pergi.” Taehyung ingin segera pergi.
“Berikan telfonnya pada Jimin, jika tidak kencangkan speakernya. Sebelum dia benar benar menyesal.”
Ingin mendengar perkataan Jungkook, Taehyung mensweap tanda loudsoeaker di telfonnya dari pada memilih untuk memberikan langsung pada Jimin.
“Kenapa ... aku membencimu Jung, kau sudah berjanji untuk ....” ucapan Soo ra terdengar sangat lambat dan berbeda.
“Ra ...” mata Jimin membulat mendengar suara serak dan lemas Soo ra, darahnya memanas tiba tiba.
“Ra, apa yang terjadi padamu?” Taehyung khawatir.
“Jim ...” Nafas Soo ra tersengal, ada beberapa detik jeda sebelum ia melanjutkan perkataannya. “kamu mau berbicara padaku?” Sambungnya perlahan.
Jimin meraih kunci mobilnya dan bergegas menuju tempat yang sebelumnya Jungkook bicarakan. JImin sangat tahu di mana tempat itu berada. “Tunggu disana!” Perintah Jimin berlari secepat kilat diikuti oleh Taehyung.
“Maaf ...” suara berat Soo ra mengalun kembali setelah hanya helaan nafas yang terdengar.
“Apa yang terjadi? Jung, katakan sesuatu padaku.” Teriak Jimin memaki Jungkook pemilik handphone yang tengah bersama dengan Soo ra.
“Aku telah mengecewakanmu ... seperti yang kamu katakan ... aku akan pergi.” Deru nafas dan suara Soo ra semakin memberat. "Aku ..." Ucapan Soo ra kembali terjeda sangat lama.
Air mata Jimin menetes, bergulir cepat melintasi pipi lembutnya, ia mengemudi dan Taehyung berada di sampingnya dengan ponsel yang masih tersambung. “Tidak, berhentilah bicara.”
“Aku ... mencintaimu ... Jangan membenciku, aku benar benar bahagia berada di sampingmu.” Soo ra terdiam beberapa saat. “Kini saatnya aku pergi jim, terlalu serakah jika aku menginginkan lebih dari ini. Aku sudah cukup bahagia bersamamu. Maaf ...” nafas Soo ra semakim menyesak dan kembali terjeda. “Maafkan ... aku.” Lanjutnya setelah berhasil mengumpulkan oksigen yang telah krisis.
Soo ra meremas erat lengan Jungkook, berulang kali menelan ludahnya karena tenggorokannya semakin tercekat, mulutnya terasa kering, jantungnya semakin melambat. “Kumohon, maafkan ... aku.”
“Tidak, tunggu ... apa yang terjadi padamu ra?” Jimin semakin menggila, mengendarai mobilnya secepat kilat, tidak peduli sesuatu mungkin akan menyelakainya. “Aku mencintaimu, berhentilah berbicara … aku percaya padamu. Maafkan aku."
Taehyung tetap membisu dengan semua perasaan kacaunya.
“Aku ingin tidur ....”
“Soo ra ... Jung Soo ra.” Panggilan Jungkook berkali kali membuat handphone yang di genggamnya terlempar asal di bangku danau dan sukses membuat Jimin dan Taehyung setengah mati kacau olehnya.
Jimin sampai beberapa menit setelahnya.
“Jung Soo ra ...” Seluruh badan Jimin gemetar melihat sahabatnya meringkuk lemas di pelukan Jungkook. “Apa yang terjadi?”
Jungkook menghela nafas berat. “Soo ra ..." Genangan di mata Jungkook tumpah kembali. "Pergi," sambungnya pelan.
“Omong kosong apa yang kau katakan?” Taehyung melukis senyum dalam tangisnya.
“Tidak ... tidak mungkin ... Ra ...” Jimin menggantikan Jungkook merengkuh badan Soo ra. “Badanmu dingin, kenapa di luar? Bangun, aku disini sekarang ... katakan sesuatu padaku ra ... bangun ....” Jimin mengusap surai lembut Soo ra, menghangatkan pipinya yang dingin dan mengeratkan pelukannya.
“Jung Soo ra ..." telapak lembut Jimin mengusap pucuk rambut Soo ra gemetar dan mulai mencium dahinya. “Maafkan aku ....” pelukannya semakin mengerat melihat gadisnya terpejam membawa pergi semua luka.
Meninggalkan semua kenangan buruk dan memilih untuk mengikuti takdirnya.
16.48, pasien atas nama Jung Soo ra meninggal dunia, Miocarditis sel besar.
Soo ra dua tahun ini menjalani penyembuhan karena auto imun yang di deritannya. Naas, di kecelakaan beberapa hari lalu membuatnya terjebur ke jurang mengakibatkan peradangan di otot jantungnya semakin parah. Meskipun ia berhasil menepi berpegangan pada dinding batu jurang, namun benturan dan terlalu bnyak air mengisi paru paru mengganggu kinerja jantungnya dan membuatnya semakin lemah.
Kenyataannya, Soo ra juga terluka. Soo ra juga merasakan sakit. Meski Soo ra yang membawa mobil, namun sore itu Eun ae sangat putus asa, ia dengan sengaja memutar setir mobil asal membuat mereka berdua terjun ke jurang.
Soo ra tidak pernah mau menyalahkan Eun ae, Soo ra akan memendam kenyataan tentang kepergian sahabatnya yang disusul oleh dirinya.
end-
[kakak2, terima kasih sudah membaca. tinggalkan komen dan saran untuk tulisan ini ya ... saranghae 💕]