Namaku Reni Anggiska, aku gadis pecinta hujan dan suka menyendiri. Aku sekolah di SMK 1 Pogalan dan punya teman dekat bernama Garen.
Dia adalah sahabatku, walau karakternya sedikit dingin tapi ku akui aku menyukainya.
Suatu malam, Garen dan Aku pergi ke toko buku untuk membeli buku tentang musik yang ku inginkan. Kuulurkan tangan untuk memilih beberapa buku.
"Buku apa sih yang sebenernya lo cari?" tanyanya.
Aku hanya menggaruk kepalaku yang tidak gatal seraya berpikir. "Buku tentang musik, tapi gue lupa namanya." jawabku.
"Kalau nggak ketemu, kita lanjutin besok aja. kayaknya sore ini bakal hujan, toko juga bentar lagi tutup!"
Aku menatap Garen yang tampak memandang langit gelap di luar toko, dengan sedikit penyesalan akhirnya kuputuskan untuk menuruti kata-kata Garen.
"Ya, besok kita balik lagi." jawabku.
Aku dan Garen pulang menggunakan mobil milik Daren. Dia mengemudi dan aku memilih untuk duduk di belakang. kami tidak banyak bicara selama perjalanan, karena suaraku dan suara Daren tersamarkan oleh derasnya hujan.
Jalan tampak sepi, di perempatan dekat rumahku yang biasanya banyak anak-anak nongkrong kini terlihat sepi karna cuaca yang buruk. tidak ada orang di sana, benar-benar sunyi!
Saat itulah Daren yang sedang mengemudi, bergumam padaku.
"Di belakang ada yang ngikutin." Mendengar ucapan Garen ku tolehkan kepalaku ke arah belakang, benar sekali, samar-samar aku melihat ada sekitar 4 sepeda yang mengikuti mobil kami.
diantara dari mereka bahkan membawa beberapa senjata tajam dan alah pembunuh lain.
"Dorr"
Aku merinding seketika, ku pejamkan mataku seraya bergumam pada Daren.
"Ren gue takut." ucapku pada Garen.
"Gak papa, lo tenang ya!!" jawab Garen.
"Dorr...Dorr"
Suara tembakan itu sekali lagi membuatku gemetar, tidak hanya aku, tetapi Daren juga mulai memucat.
Saat Daren dan aku tiba di dekat sebyah sungai. Suara tembakan kembali terdengar.
"Dorrr!"
"Dorrr!"
"Dareeeen!" Aku berteriak saat ban mobil Daren pecah. Tak lama kemudian, mobil yangku naiku bersama Daren terjun ke sungai.
Seluruh badanku sakit, kepalaku berat. Darah mengalir dari sudut mata dan tanganku. aku ingin membangunkan Daren yang sudah tak sadarkan diri tapi sebelum itu aku sudah tidak bisa melihat apapun.
kata ibuku, setelah kejadian itu, aku dan Garen dibawa ke rumah sakit, polisipun telah menangkap tersangka.
Aku kehilangan salah satu tanganku, dan Daren kehilangan nyawanya. Aku juga diberi tahu ibu bahwa karena kejadian itu, mata kiriku tidak dapat digunakan untuk melihat.
Dokter sedang berusaha mencari donor mata yang cocok untukku. Dan fakta bahwa mata yang sekarang aku gunakan untuk melihat adalah mata temanku, Darren Nuridin.
dalam cerita ini, aku kehilangan sahabat sekaligus cinta pertamaku.
Dan dari pengalamanku, kita bisa memahami bahwa kehidupan manusia tidak diketahui. Semua peristiwa ini adalah ketentuan dari Tuhan. Kita tak bisa menentang segala keputusannya, karna maut tidak ada yang tau.