Mungkin aku adalah salah satu dari sekian banyak perempuan yang malang nasibnya. Sejak kecil aku tidak diperbolehkan oleh orang tuaku untuk mengenali duniaku lebih jauh di luar sana, karena alasan cinta. Cinta katanya... Sejujurnya aku juga tidak mengerti apa arti kata cinta. Akan tetapi apakah karena alasan mencintai, manusia harus membuat yang dicintainya jatuh kedalam rasa ketertekanan. Apakah orang yang mengurung burung kedalam kurungan itu berarti dia adalah pecinta burung. Tidakkah dia adalah pecinta egonya sendiri? Tanpa mempertimbangkan si burung itu merasa nyaman atau tidak. Begitulah yang ku alami. Aku laksana burung dalam kurungan yang tak diizinkan untuk terbang, bahkan sayapku pun tak dapat ku rentangkan barang sedikit pun. Karena cinta. Katanya.
Disini, di ruangan yang membosankan ini aku di kekang oleh kata cinta itu. Aku tak diizinkan untuk pergi dari rumah, terkecuali hanya untuk pergi ke sekolah. Selebihnya aku hanya diam di rumah, seraya menunggu angin yang menyelinap masuk ke halaman rumahku, yang sering ku titipi harapan, harapan yang selama ini hanya bisa ku simpan
dalam rasa ketakberdayaan. Aku tidak punya teman, dan aku benar-benar merasa kesepian disini,
Hingga usiaku menginjak 17 tahun aku tidak pernah benar-benar bisa menemukan diriku sendiri. Aku seperti hilang dalam seribu pertanyaan yang tak pernah kutemukan jawabannya. Pada akhirnya mimpi buruk itu di mulai ketika Bapak menjodohkanku dengan Partomo seorang lelaki yang tak pernah kukenal sama sekali. Laki-laki ini berusia 8 tahun lebih tua dariku. Ia adalah anak seorang juragan tanah sekaligus sapi perah—kata Bapakku ia memiliki kekayaan di atas rata-rata di desanya.
"Kau tenang saja, dia adalah anak orang paling kaya di desanya. Bapak yakin kamu pasti akan bahagia." Aku terperangah heran saat mendengar ucapan itu dari Bapakku: apakah dia pikir hal itu adalah keinginanku? Tapi apakan daya, aku kurang terbiasa untuk melakukan sebuah perbantahan kepada sikap Bapakku. Sejak kecil aku sudah dibiasakan untuk menjadi anak yang penurut dan membuntut saja dengan apa yang di inginkan oleh orangtuaku.
"Sudah nduk, manut saja dengan kata Bapakmu, Ibu yakin kalau pilihan Bapakmu pasti yang terbaik bagimu. Lagipun orangtua mana yang ingin menjerumuskan anaknya ke jurang penderitaan!" Sahut Ibuku, yang tentunya semakin membuatku tersudut dalam rasa ketertekanan. Aku tahu, dan aku yakin bahwa tidak ada orangtua yang ingin menjerumuskan anaknya ke dalam jurang penderitaan. Akan tetapi, di sisi lain aku juga meyakini kalau seorang perempuan di seluruh penjuru bumi ini juga memiliki 'hak' untuk memilih siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya nanti, bahkan jalan hidupnya sendiri dan berencana tentang masa depannya sendiri. Namun, keyakinanku itu tidak memiliki arti apa-apa bila dibandingkan dengan sikap kedua orangtuaku yang merasa paling tahu akan masa depanku ketimbang diriku sendiri, yang akan menjalaninya.
Pada akhirnya aku menikah di usia itu juga, pernikahan yang sejujurnya tidak aku inginkan—dan—tentunya tidak pernah aku rencanakan. Pada suatu pagi menjelang siang tatkala langit yang biru sedikit terselimuti mendung kelabu. Aku melangsungkan pernikahanku dengan perasaan yang gamang dan penuh dengan kebimbangan. Akankah pernikahan ini akan kubawa hingga ujung usiaku? Atau malah akan semakin menenggelamkan aku kedalam ketakberdayaan? Ketika aku duduk bersanding sebagai seorang mempelai perempuan di hadapan penghulu dan para saksi, mengenakan gaun putih bermahkota rangkain bunga-bunga. Aku tak merasa seperti sedang melakukan sebuah pernikahan, melainkan ini tak lebih dari sekadar cerita drama yang tak ku ketahui siapa penulis naskahnya. Pikiranku kosong benar, dan perasaanku di dera cemas. Aku merasa seperti sedang berada di anjungan bahtera di tepian samudra, yang entah akan di arahkan kemana.
_Setelah menikah aku dibawa oleh suamiku menjalani hidup di rumah orangtuanya. Tentu tinggal serumah dengan mertua bukanlah perkara yang mudah bagi seorang perempuan yang tidak banyak pengalaman dalam berinteraksi dengan orang lain sepertiku. Awalnya aku merasa canggung, dan kurang begitu yakin akan diterima dengan baik oleh keluarga ini. Namun, perasaan itu akhirnya lenyap setelah aku menyadari bahwa kedua mertuaku sangat baik. Mereka memperlakukan diriku seperti anak sendiri.
Di tahun-tahun awal pernikahanku, aku melewatinya dengan biasa-biasa saja. Tak ada perbedaan yang ku temui, terkecuali persetubuhanku dengan Partomo di atas ranjang. Selain itu semua masih tetap sama sebagaimana kehidupanku sebelumnya. Hingga aku menyadari bahwa ternyata suamiku ini adalah kepanjangan tangan dari Bapaku, ia juga membatasi diriku untuk tidak banyak melakukan kegiatan. Hari-hariku hanya aku isi dengan kegiatan memasak, mencuci, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah lainnya di rumah mertuaku. Tentunya ini jauh dari kata romantis, aku tak pernah diajak suamiku bepergian bahkan hanya untuk sekadar jalan-jalan. Seolah dia tidak bisa membuktikan kata cinta, yang kerap ia bisikan di saat kami sedang beradu desahan di atas ranjang.
"Aku mencintaimu" : Mencintaimu katanya; apakah cinta hanya perihal bersetubuh. Apakah perempuan hanyalah semacam benda milik yang dapat ditukar dengan kata cinta. Sementara dia diberlakukan yang tak ubahnya seperti kuda peliharaan. Yang harus patuh mengikuti kehendak tuannya seorang. Sungguh aku terlalu bosan menjalani kehidupan seperti ini.
Selepas beberapa bulan menikah akhirnya benih-benih kehidupan Partomo yang ditanam di rahim ku tumbuh menjadi janin yang mulai terasa kian membengkak di perutku. Setelah lebih dari sembilan bulan aku mengandung, pada suatu malam yang gerimis aku melahirkan seorang bayi perempuan, yang aku beri nama Alya Sitaresmi. Kelahiran Alya adalah momen yang paling membuatku lebih punya keyakinan akan keluarga yang sudah kabangun dengan Partomo. Lebih-lebih Partomo yang begitu sangat bahagia ketika pertama kali ia melihat putrinya telah lahir ke dunia. Semenjak kelahiran Alya kini lengkap sudah keluarga kami, ia seperti pelengkap harapan sekaligus pengikat hubungan kekeluargaan kami.
Namun, keadaan itu berubah saat Alya baru genap berusia 3 tahun. Saat aku mulai mencium aroma perselingkuhan Partomo dengan seorang perempuan yang baru saja menjanda dari kampung sebelah, menurut desas-desus yang kudengar konon katanya perempuan itu adalah mantan pacarnya. Dulu Partomo sempat ingin menikahinya, tapi, hubungan mereka tidak direstui oleh kedua orang Partomo yang kini menjadi mertuaku.
Mula-mula aku mencurigai Partomo yang sering keluar rumah, dan selalu pulang pada saat larut malam, bahkan kadang hampir menjelang pagi. Setiap kali aku bertanya "Dari mana?" Partomo selalu menjawab "Biasa melekan dirumah temen, sambil ngopi bareng." Jujur, aku merasa tersakiti mendengar pengakuannya itu. Bagaimana bisa dia keluyuran hingga larut malam. Sementara aku sekalipun tidak pernah diajaknya dolan, bahkan sering tidak diizinkan.
Dan akhirnya rasa sakitku itu jatuh semakin dalam, ketika aku memergokinya yang tengah berbincang-bincang di telepon dengan seorang perempuan yang entah siapa. Meskipun terdengar sangat lirih, tapi aku dapat menangkap suara percakapan mereka, yang terdengar mesra.
Namun, aku mencoba menahan kecurigaanku itu dengan berpura-pura tidak tahu. Tetapi lama-lama aku tidak tahan juga. Akhirnya, pada suatu waktu aku mencoba mencari-cari tahu. Diam-diam aku mengambil telepon genggamnya saat ia tengah tertidur pulas. Dan aku menemukan riwayat pesan singkat yang berbunyi "Selamat malam, besok kita ketemu lagi iya sayang" hatiku pun tersentak hebat. Setelah aku selidiki ternyata dia adalah Winda, yang sepengetahuanku dia adalah bekas pacarnya dulu. Ternyata selama ini mereka masih berhubungan, meskipun dengan cara yang diam-diam.
Hingga pada akhirnya aku tak kuat menahan rasa sakit di hatiku, atas keadaan yang sedang berlaku dalam hidupku. Aku yakin bahwa rasa sabarku telah sampai pada puncaknya. Saat aku memaksa Partomo untuk mengakui perselingkuhannya.
"Jawab dengan jujur, apakah benar kamu berselingkuh dengan Winda?" sergahku kepadanya,
"Siapa, bilang begitu?"
"Sudah kamu tidak usah menutup-nutupinya, karena aku sudah tahu semuanya!"
"Tahu darimana?" Tanyanya dan aku langsung menunjukkan gambar screenshot yang ku ambil dari telepon genggamnya. Gambar yang menunjukkan perbincangannya dengan Winda perantara pesan WA. Setelah membaca pesan-pesan itu ia hanya bisa terdiam, tak berkata-kata barang sepatah pun. Semenjak kejadian itu hubungan kami mulai meregang, dan keretakkan bahtera rumah tangga kami akhirnya ambyar juga di tengah perjalanannya. Saat aku menurut perceraian darinya.
Sesungguhnya aku juga tidak bisa merelakan ini semua. Lebih-lebih saat aku, menatap wajah Alya putri kami yang masih belia. Entah, dengan cara apa kelak aku akan menjelaskan kepadanya, tentang mengapa kedua orangtuanya harus berpisah. Yang jelas Alya masih terlalu dini untuk memahami permasalahan orang dewasa.
Selepas perceraianku dengan Partomo aku membawa Alya pulang ke rumah orang tuaku. Disana kami hidup bersama mereka. Aku seperti merasa bersalah dengan Alya karena harus menjauhkan dirinya dengan Ayahnya. Tetapi inilah kenyataannya, dan inilah sebuah akhir yang mesti dilanjutkan. Demi Alya aku tidak boleh menyerah, aku harus kuat. Dan aku yakin, aku pasti bisa melewatinya bersama Alya.