It's the most beautiful time of the year
Lights fill the streets, spreading so much cheer
I should be playing in the winter snow
But I'ma be under the mistletoe
I don't wanna miss out on the holiday
But I can't stop staring at your face
I should be playing in the winter snow
But I'ma be under the mistletoe
...
Lagu dari Justin Bieber itu mengalun indah di setiap sudut mall. Aku menarik tangan anakku agar lebih cepat melangkah. Hari ini adalah hari terakhir kami untuk belanja keperluan Natal.
"Bu, kita gak beli pohon Natal?" tanya Kevin, anak sulungku yang berusia 12 tahun.
Langkahku terhenti. "Ibu bilang apa tentang pohon Natal, Vin? Stop it!" tekanku dengan nada rendah. Aku tidak ingin orang-orang mendengar.
"Tapi, Bu ...."
"Sudahlah. Nenek dan adikmu menunggu di rumah. Ayo cepat!" seruku rendah.
Kevin diam. Ia mengangguk dan kembali melangkahkan kaki.
Ya, sudah dua tahun ini aku memutuskan untuk tidak merayakan Natal berlebihan. Lebih tepatnya setelah suamiku meninggal dunia. Semua keceriaan Natal telah pergi bersamanya. Aku tidak ingin mengingat hal itu terus menerus.
Satu-satunya hiasan Natal yang ada di rumahku hanyalah kue Gingrebeard Man. Itu pun karena kue buatan salah satu teman kantorku itu begitu enak. Hampir semua orang rumah menyukainya.
Bukannya pesimis, tapi untuk apa? Biar saja tidak ada Pohon Natal atau Wreaths di depan pintu. Toh kami telah kehilangan orang yang paling kami cintai. Semua itu tidak berguna lagi saat ini.
***
"Valentina, kamu tidak membeli Pohon Natal dan Wreaths? Apa artinya Natal tanpa semua itu?" tanya Mas Roy, satu-satunya kerabat mendiang suamiku yang masih peduli dengan kami.
"Buat apa, Mas? Setelah Mas Gerry meninggal kecelakaan di malam Natal, aku gak percaya lagi dengan semua mitos itu," sahutku dingin. Itu semua memang kenyataanya.
Mas Gerry meninggal karena buru-buru mengambil Pohon Natal yang akan kami hias malam itu juga. Ia sangat antusias dengan Natal dua tahun lalu. Apalagi saat itu ia baru saja naik jabatan di kantornya.
Sial. Aku jadi mengingatnya lagi.
"Val, Apa kamu tahu apa saja makna dari benda-benda yang mereka siapkan di malam Natal?" tanya Mas Roy yang sudah duduk di sampingku.
Entah ada urusan apa Mas Roy ada di rumahku saat ini. Apakah hanya untuk memberikan kado bagi kedua anakku? Ia memang datang dengan membawakan Kevin dan Clara masing-masing sebuah kado untuk mereka buka pada pagi Natal nanti.
Kedua benda itu sudah kusimpan di dalam lemari, agar menjadi kejutan menyenangkan bagi Kevin dan Clara.
"Kebahagiaan, kebersamaan, tidak tahu. Sepertinya aku sudah melupakan semua itu sejak lama," sahutku sambil memperhatikan sebuah kotak kecil yang terletak di atas meja. Aku menebak-nebak apa isinya. Mengapa Mas Roy mau repot-repot memberikan hadiah Natal pada tahun ini?
"Pohon Natal melambangkan perlindungan dari roh jahat dan harapan agar terhindar dari penyakit di malam Natal. Kalian harus memilikinya. Wreaths di depan pintu berarti kesempurnaan, persatuan, dan kehangatan di malam Natal. Juga keberuntungan bagi semua penghuni rumah."
Penjelasan Mas Roy terdengar lucu di telingaku.
"Mas, apa Mas Roy lupa dengan apa yang terjadi dengan Mas Gerry?" tanyaku sekedar untuk mengingatkannya kembali.
Aku melihat Mas Roy tersenyum dan menundukkan kepalanya.
"Tidak ada yang bisa melupakannya, Val. Tapi, life must go on. Kasihan anak-anakmu jika hal itu terus diingat-ingat. Kamu pikir, hanya kamu saja yang terpukul? Enggak. Anak-anak juga sama. Tugasmu di sini adalah untuk membantu mereka melewati semua itu," jelas Mas Roy dengan tatapan teduhnya.
Aku termenung. Apa yang Mas Roy katakan tidak jauh berbeda dengan apa yang Ibuku katakan setelah berbulan-bulan kepergian Mas Gerry. Di sini aku mulai berpikir jika semua itu mungkin benar.
Tanpa kusadari, setitik air mata terjatuh membasahi punggung tanganku sendiri. Selama ini aku menolak ajakan damai dari kehidupan. Rasanya sangat berat dan melelahkan.
"Mu-mungkin Mas Roy benar. Selama ini aku terlalu keras dengan kami ...."
Mas Roy menangakup punggung tanganku dan menepuknya pelan.
"Aku tidak sibuk, Val. Aku akan menemanimu mendapatkan Pohon Natal malam ini, bagaimana? Kita masih punya waktu untuk menghiasnya hingga tengah malam nanti," imbuh Mas Roy menawarkan bantuan.
Aku mengangguk dan bangkit dari sana. Beranjak pergi untuk meninggalkan masa lalu yang menyakitkan.
***
"Whoaaaa! Ibu beli pohon Natal?!" seru Kevin begitu exited.
Aku berpaling ke arah Mas Roy yang masih ada di sampingku dan mengangguk penuh antusias.
"Ibu juga beli hiasan Natalnya, Vin. Sebaiknya panggil adikmu. Kita tidak punya banyak waktu untuk menghiasnya," kataku pada si sulung.
Kevin mengangguk dan pergi ke kamar neneknya. Di sana lah Clara berada jika tidak bisa kami temukan di mana-mana.
Tidak lama kemudian, Ibuku, Kevin, dan Clara muncul dengan senyum merekah. Mereka begitu terpesona dengan pohon Natal yang sudah dua tahun ini absen dari rumah kami.
"Apakah kita akan menghias pohon Natal, Bu?" tanya Clara sambil memeluk kaki Neneknya.
"Yes, Sayang. Apa kamu siap?" Aku tersenyum padanya.
Clara dan Kevin mengangguk senang. Kedua anakku mulai menghiasi pohon itu dengan bantuan Mas Roy dan Ibuku.
"Kalian tau, semua hiasan ini punya artinya masing-masing." Mas Roy mengambil sebuah lonceng dan membunyikannya.
Kevin dan Clara hanya menggelengkan kepala mereka karena memang tidak tahu.
"Lonceng ini adalah simbol kebahagiaan. Menciptakan suasana bahagia di rumah. Lalu Tinsel ini bersifat memantulkan cahaya, ia akan menerangi rumah dan malam Natal kalian." Mas Roy menjelaskan dengan santai seperti semua itu ia hafal di luar kepala.
"Lalu, bagaimana dengan Kaos Kaki ini?" Kevin penasaran, "Permen ini juga ada artinya?"
"Kaos Kaki itu adalah tempat Santa meletakkan kado dan permen itu punya makna akan kekuatan Yesus. Pada kayu salib itu darahnya mengalir, melambangkan kehidupan yang kekal."
Kevin dan Clara terdiam. Rupanya mereka baru tahu makna mendalam dari sepotong Candy Cane.
"Kado Natal melambangkan pemberian anugrah kepada sesama," imbuh Nenek mereka, yang sejak tadi berada tidak jauh dariku.
Kevin dan Clara berpaling kepada Nenek mereka. Ternyata dua anakku baru memahami jika semua yang ada di sana memiliki makna yang besar.
Kemudian aku mengambil untaian lampu hias panjang dan memberikannya kepada Mas Roy. Ia paham dan mulai membantuku untuk melilitkannya di pohon natal yang hampir siap.
"Penerang dalam kegelapan." Mas Roy menghidupkannya.
Pohon Natal di hadapan kami terlihat begitu indah. Aku meletakkan beberapa kado yang sudah kubungkus sendiri dan kado-kado dari Mas Roy juga Ibuku.
Tanpa kuduga, anak-anak pun bergegas ke kamar mereka lalu kembali dengan beberapa kotak kado di tangan.
"Kami juga punya kado untuk Ibu dan Nenek!" seru mereka penuh semangat.
Aku terharu dan sama sekali tidak menyangka jika anak-anakku juga menyiapkan kado untuk esok. Bahkan, aku hampir memberikan Natal yang kelam pada mereka berdua.
Malam semakin larut. Aku meminta mereka untuk istirahat karena besok pagi harus pergi ke gereja. Misa Natal adalah salah satu hal penting yang tidak boleh di lewatkan hari itu.
"Terakhir dan yang paling penting ... bintang Natal," lirihku. "Mungkin Paman Roy mau membantu kita dengan ini sebelum kalian benar-benar pergi tidur ...," kataku seraya menyodorkan benda itu pada Mas Roy.
Anak-anak melompat kegirangan. Moment itu adalah moment yang paling ditunggu.
Mas Roy menerima hiasan terakhir itu dan meletakkannya di puncak Pohon Natal kami.
Semunya terlihat sempurna.
Setelah membantuku membereskan sisanya, Mas Roy pamit pulang pada Ibuku yang sedang membacakan cerita untuk Kevin dan Clara di kamar mereka. Aku sendiri kemudian mengantarkan laki-laki itu sampai depan pintu.
"Terima kasih untuk semuanya, Mas. Kamu menyadarkanku akan pentingnya semua ini," kataku saat kami hanya berdua saja di teras rumah.
"Kamu tahu aku menyayangimu, Val ...." Suara Mas Roy terdengar agak serak.
"Ya, kami tahu."
"Lebih dari itu, Val. Aku ... mencintaimu dan anak-anak. Aku takut mengatakannya, tapi ... aku lebih takut lagi kalau tidak ada kesempatan jika terus menyembunyikan perasaanku padamu."
Pengakuan Mas Roy membuatku tercekat. Nyatakah semua yang kudengar?
"Mas?" Aku masih tidak percaya ada di posisi ini.
Mas Roy mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah Mistletoe terangkai dengan indah oleh sebuah pita merah.
"Mistletoe ini melambangkan cinta dan persahabatan, Val ...."
Mas Roy menggantungkan benda itu di atas pintu yang ada di belakangku. Indahnya rangkaian mistletoe membuat hatiku terasa hangat.
"Apa ...."
"Ssstthh ... Val ... menikahlah denganku. Di bawah Mistletoe itu, aku bersumpah akan menjaga kalian dengan sepenuh jiwa dan raga. Mencintai kalian hingga akhir hayat. Memeluk kalian dalam kehangatan keluarga ...."
Aku terdiam. Terpana dengan apa yang baru saja kudengar. Mistletoe yang baru saja ia gantungkan, menjadi saksi atas semua ucapannya.
Dengan hati yang mulai mencair, air mataku kembali menitik. Apakah kebahagiaan ini sungguh untukku?
Aku mengangguk. Kebaikan Mas Roy selama ini tidak bisa membuatku menolak pernyataan cintanya. Mungkin ini kesempatan yang diberikan Tuhan untukku, agar bisa merasakan kasih Natal-Nya kembali.
"Iya, Mas ... aku mau ...."
Dengan lembut Mas Roy merengkuh tengkuk dan menenggelamkanku ke dalam ciuman hangatnya. Memelukku dengan lembut dan ... aku merasa begitu bahagia .... []