Ada dua saudara kakak beradik yang umurnya hanya berbeda satu tahun saja. Kakaknya bernama Melda dan adiknya bernama Wulan. Mereka tinggal bersama kakek dan neneknya. Dalam rumah tersebut juga ada bibinya bernama Lia dan anaknya yang bernama Danish.
Wulan ini termasuk anak yang peka terhadap hal-hal mistis. Bahkan kakaknya juga namun tak sepeka Wulan. Pada suatu ketika Wulan ini akan berangkat sekolah siang. Memang sekolah dia ini masuknya siang sekitar jam setengah satu. Nah Wulan dan Melda tidak bersekolah ditempat yang sama, karna Wulan masuk ke sekolah swasta, sementara Melda masuk ke sekolah negri. Saat Wulan hendak berangkat sekolah, Lia ini sudah tak enak hati. Karna Wulan ingin berjalan kaki saja, namun tidak diperbolehkan oleh Lia.
"Wes tak anter saja, tunggu dulu aku mau ngambil kunci sepeda" kata Lia.
"Aku tak berangkat sendiri kak, mau beli minum dulu diwarung sama mau jemput Rahma" ucap Wulan. Rahma ini memang satu dusun dengan Wulan hanya beda gang saja.
Wulan dan Melda sudah biasa memanggil Lia dengan sebutan kakak. Karna memang dari kecil mereka terbiasa seperti itu. Lia ini adalah adik dari ibunya Wulan dan Melda. Yang memang kalau dilihat Lia cocoknya jadi kakak mereka.
"Udah lah nurut aja dibilangin kok bantah terus." kata Lia.
Lia pun bergegas masuk untuk mengambil kunci sepeda motornya. Namun pas sudah kembali keluar, tidak ada Wulan diteras rumahnya. Lia pun jadi bingung Wulan kemana.
"Haduh anak ini, dibilangin suruh nunggu malah sudah pergi duluan" gumam Lia yang kesal, ia pun kembali masuk ke dalam dengan hati yang masih gelisah.
Posisinya saat itu Melda juga masih sekolah. Mereka berdua ini sama-sama duduk dibangku SMP kelas sembilan. Karna memang waktu dulu masuk sekolah mereka di barengin. Jadi sampai sekarang kelas mereka sama.
Sekitar jam setengah dua, ada tiga temannya Wulan yang datang ke rumah mencari dia dengan memakai seragam sekolah.
"Wulan.....Wulan....." panggil merek bertiga.
"Loh Wulan udah berangkat dari tadi, emang gak disekolah ta? Malah Wulan tadi bilang mau jemput kamu Rahma" kata Lia yang keluar mendengar suara diluar.
"Gak ada mbak, Wulan gak jemput aku. Malah tak tunggu lama gak datang, ya sudah aku tinggalin" jawab Rahma.
"Haduh ndek mana anak ini. Masak diculik orang, padahal Wulan tadi udah rapi pakai seragam loh" kata Lia khawatir.
"Owalah tapi Wulan gak berangkat ke sekolah mbak. Saya tungguin dari tadi" kata Rahma.
"Nggeh pon kalau gitu kami balik dulu" kata Rahma.
"Ya wes" jawab Lia.
Menjelang sore Melda pun sudah pulang dari sekolahnya. Dia bersih-bersih dan berganti pakaian. Kemudian Lia menghampiri Melda dan menceritakan tentang Wulan. Jelas saja Melda kaget dan bertanya-tanya kemana sebenarnya Wulan.
Setelah adzan ashar berkumandang Melda membersihkan rumah lalu pergi mandi. Tepat pukul setengah lima sore, Wulan tak kunjung pulang. Melda pun disuruh oleh Lia untuk pergi ke sekolahnya Wulan menggunakan sepeda motor.
"Coba jemput adikmu disekolahnya kok gak pulang-pulang" kata Lia cemas.
"Iya kak" jawab Melda.
Dia pun bergegas mengambil kunci sepeda dan pergi ke sekolahnya Wulan yang jaraknya tak terlalu jauh jika menggunakan sepeda motor, tapi kalau berjalan kaki bisa dibilang lumayan jauh. Namun sampai disana Melda tak menemukan siapapun bahkan teman-teman Wulan sudah pulang.
Melda pun berganti menuju rumahnya Rahma barangkali ada Wulan disana. Dipertigaan jalan, Melda bertemu dengan teman-temannya Wulan. Ia pun menanyakan keberadaan Wulan.
"Rahma, Wulan pon pulang apa belum?" tanya Melda yang masih nagkring diatas sepeda motor.
"Loh arek eh mau gak masuk kok, udah ditungguin gak ada" kata Rahma.
"Ya ampun dimana anak ini" gumam Melda cemas. "Ya sudah makasih, kalau ketemu Wulan suruh pulang ya" pesan Melda.
"Iya" kata mereka serempak.
Sampai menjelang malam sehabis magrib, Wulan tak kunjung pulang. Semua yang ada dirumah mulai khawatir dan sudah berpikiran yang tidak-tidak terhadap Wulan. Lia sudah bertanya-tanya ke teman dan tetangga tapi tak seorang pun melihat Wulan. Melda juga ikut membantu, ia bertanya juga ke teman online yang bisa dia hubungi. Tapi tak seorang pun yang tau keberadaan Wulan.
Lia dan ayahnya yang biasa dipanggil orang-orang abah Anton. Mereka berdua mencari Wulan menggunakan sepeda motor. Semua desa di kelilingi namun tak kunjung ditemukan. Sampai pada suatu ketika, entah kenapa perasaan Lia mengarah pada makam yang tak jauh dari rumahnya. Tapi memang sudah beda dusun, nah dia meminta sang ayah untuk melihat ke dalam makam. Awalnya abah Anton tak yakin, tapi gak ada salahnya juga. Akhirnya mereka pun menuju makam. Nah Lia disuruh untuk menunggu saja diluar makam dan abah Anton sendirian masuk ke dalam.
Namun hasilnya nihil, mereka pun kembali ke rumah. Dan kali ini Lia sendiri yang mencari Wulan, sebelum lanjut mencari. Lia sempat meminta Melda untuk membuat edaran di sosmed tentang hilangnya Wulan. Barangkali ada yang melihat, akhirnya dibuat tuh edarannya dan disebar ke story whatsapp. Lalu Lia pergi ke orang pintar atau paranormal untuk meminta bantuan. Karna dia yakin kalau ada sesuatu yang terjadi pada Wulan.
Lia sudah lapor polisi namun tak bisa diproses sebab belum 24 jam hilang. Sampai satu kecamatan dicari sama Lia, tapi tak kunjung ketemu.
Dirumah Melda juga kelimpungan tak tau harus apa. Dan tak lama datang Rahma bersama kakaknya yang bernama Iren. Ia mengajak Melda untuk ke rumah gurunya Wulan. Barangkali tau tentang keberadaan Wulan. Sebelum Melda pergi dia sempat masuk ke dalam kamar untuk mengambil sesuatu. Penjelasan sedikit kalau kamar Melda jadi satu dengan Wulan namun ranjang nya berbeda karna kasur mereka atas bawah seperti di pondok gitu tingkat atas dan bawah. Nah saat Melda tak sengaja mendongak ke atas melihat kasurnya yang berada di atas. Matanya menangkap seperti ada kaki dan tangan orang sedang tidur mirip sekali dengan Wulan.
Padahal dikamar itu sepi tak ada siapapun. Bahkan kakek dan neneknya ada diluar, benar-benar di dalam rumah itu sepi. Disini Melda mulai merinding dan bertanya-tanya siapa yang berada di kasurnya.
"Astagfirullah kok kayak Wulan ya, haduh" gumam Melda, dia pun berlari keluar menemui kakeknya.
"Kek kok di kamar tadi kayak ada Wulan ya, aku melihat ada orang yang tidur di kasurku yang atas seperti Wulan" kata Melda mengatur nafasnya dengan jantung yang berdegup kenjang.
"Sudah jangan berpikir yang tidak-tidak, berdoa saja. Wes sana pergi keburu malam" kata abah Anton. Dia masih berpikir positif kalau yang dilihat cucunya itu hanya halusinasi.
"Nggeh pon aku berangkat, assalamu'alaikum" ucap Melda.
"Wa'alaikumussalam" ucap mereka serempak.
Disana juga kedatangan buyut atau dengan kata lain adik dari ibunya abah Anton datang ke rumah untuk melihat keadaan. Nama nya Mbah Meni, dia kerabat dekat keluarga abah Anton.
Posisi saat itu sedang hujan gerimia. Dijalan Melda masih memikirkan perihal tadi yang ada dikamar itu siapa, karna dia yakin tidak halusinasi. Melda berangkat menaiki motot sendiri, sementara Rahma berboncengan dengan Iren. Rahma juga mendengar tadi Melda bicara sama abah Anton, namun Rahma juga mengatakan mungkin Melda hanya halusinasi.
Sementara Melda pergi, Lia pun datang. Ia membawa sesuatu ditangannya yang diberikan oleh paranormal yang Lia datangi. Sebuntal kertas entah apa yang ada didalamnya. Lia diminta untuk menaruh itu dibawah bantal nya Wulan. Lia pun bergegas masuk ke dalam kamarnya Wulan dan Melda. Tapi sampai disana Lia juga terkejut karna melihat ada seseorang yang tidur di kasur yang berada diatas. Lia pun naik dan memanggil-manggil nama keponakannya. Lia tau kalau Melda juga pergi bersama Rahma.
"Kak......Kakak" tak ada sahutan Lia pun naik ke atas dan betapa terkejutnya Lia saat dia melihat bahwa ada Wulan yang sedang tertidur dengan pakaian seragam yang utuh namun kerudung nya sudah tersampir dipinggiran ranjang. Dan saat dicek bajunya kering, tak sedikit pun yang basah padahal diluar sedang hujan. Sepatu dan tasnya Wulan tidak ada.
"Astagfirullah, Wulan kamu tadi kemana saja kok ada disini" kata Lia terkejut. Namun Wulan tak merespon, dia masih setia tidur dengan mata yang sudah bengkak seperti orang yang kebanyakan menangis.
"Ayo turun dulu, bangun Lan. Ayo turun" pinta Lia memaksa Wulan untuk turun. Ia tak langsung menanyakan kejadian sebenarnya. Lia hanya meminta Wulan turun dan tidur dibawah saja.
"Yah ayah.....Wulan loh ada dikamar" teriak Lia dati dalam. Seketika itu abah Anton bergegas masuk ke dalam bersama dengan mbah Meni. Mereka sangat terkejut melihat Wulan sudah berada dikamarnya.
Padahal mereka sedari tadi diteras rumah tak pindah sedikit pun. Lah pikir mereka Wulan lewat mana?. Pintu belakang juga sudah terkunci tak mungkin Wulan bisa nerobos masuk. Apalagi keadaan Wulan seperti linlung tak ingat apapun.
Wulan diajak keluar dari kamar dan disuruh untuk tidur diluar saja. Jadi mereka mengangkat kasur untuk dibawah keluar depan kamar Wulan. Jadi biar ada udara segar yang bisa hirupnya. Seketika itu Lia menghubungi Melda untuk menyuruhnya pulang.
Melda yang mendapat pesan dari Lia langsung mengabarkan kepada Rahma dan Iren. Saat itu dia juga bersama gurunya Wulan yang bernama bu Yuni. Mendengar hal itu mereka berucap syukur. Melda pun memutuskan untuk pulang, namun katna sudah larut malam. Bu Yuni ini tak tega sehingga dia mengantarkan Melda, Rahma, dan Iren untuk pulang bersama suaminya.
Sampai dirumah Melda langsung melihat Wulan yang tertidur dikasur. Dengan keadaan mata yang sedikit bengkak kalau orang kebanyakan nangis, bukan seperti habia dipukuli.
"Ya ampun Lan, kamu tadi dari mana saja" kata Melda cemas. Namun Wulan masih tertidur tak membuka mata sama sekali.
"Kak, Wulan kenapa? Terus kok bisa pulang ini gimana ceritanya" ucal Melda penasaran.
Kemudian Lia menceritakan semuanya dan betapa terkejutnya Melda jika benar yang dilihatnya tadi adalah Wulan.
"Ya Allah berarti benar yang aku liat tadi Wulan. Aku mau sebelum pergi sempat lihat ada orang yang tidur dikasur. Tapi kakek Gak percaya, ya sudah aku lanjut pergi" kata Melda.
Rama dan Iren sempat melihat Wulan sebentar. Lalu mereka pun pamit pulang karma sudah jam sepuluh malam hampir setengah sebelas. Bu Yuni dan suaminya juga sudah pulang setelah mengantarkan Melda. Kini mereka semua lega karna Elan sudah kembali.
"Padahal dari tadi diteras ada Anton, ada Rani. Tapi tak kelihatan Wulan masuk. Lah arek iki mau lewat mana masuknya" kata mbah Meni bingung.
"Bungkusan iki ae ya belum tak taruh mbah" sahut Lia.
"Dibawa dedemit arek iki kelihatannya" kata mbah Meni.
Wulan tadi juga sempat ditanya oleh Lia. Dan jawabannya membuat dia heran. Karna Wulan bilang pergi bersama temannya. Tapi si Wulan juga Gak kenal dengan temannya itu.
"Lah katanya teman tapi kok gak kenal" ucap Lia.
"Gak tau kak, aku tadi diajak" ucap Wulan dengan mata yang sipit seperti berat sekali untuk membuka mata.
Dah lah mereka membiarkan Wulan untuk istirahat dulu. Dan mereka juga ikut istirahat, karna tubuh mereka juga capek. Apalagi Lia yang dari tadi kelimpungan cari kesana kemari.
Dua hari berlalu, setelah kejadian tersebut memori Wulan seolah hilang. Dia tak ingat apapun waktu dirinya menghilang. Yang di ingatannya hanya dia diajak oleh seseorang berbaju putih lusuh berambut panjang. Hanya itu yang dia ingat. Dan selama dua hari ini, Wulan seperti orang linglung atau seperti orang bingung lah. Dia suka sekali tidur, bahkan satu hari sebelumnya kalau makan pun harus disuruh dulu. Harus dipaksa karna Wulan seolah sulit sekalu membuka matanya.
Dia seperti dibuat untuk tidur terus. Bahkan makan pun dia juga matanya tertutup tapi tangannya bergerak. Hanya membuka mata sekejab saja, seperti gak sadar sempurna. Lia pun membawa Wulan menemui seseorang yang memang pintar dalam hal seperti itu. Entah apa saja yang dilakukan orang tersebut.
Wulan juga gak pernah ke kamar mandi walau pun hanya sekedar membuang air kecil. Kalau tidak disuruh dia tidak akan berangkat, karna memang tempat nya ada dikasur.
Hari demi hari dilewati sampai sudah tiga hari. Wulan baru mau membuka suara, menceritakan semuanya saat Lia bertanya padanya.
"Kamu diajak sama siapa? Katanya teman kok gak kenal" tanya Lia.
"Enggak tau, aku cuma beli minum di mbak teni terus ada orang yang melambaikan tangannya ke arahku dari kebun ujung barat pertigaan itu. Ya terus aku samperin kesana, sampai disana orangnya perempuan pakai baju putih tapi kotor terus rambutnya panjang. Dia mengajakku ke arah kuburan, sampai di depan pintu makam perempuan itu memberikan aku sebotol minuman berwarna merah muda dan baunya seperti jus jambu. Ya aku minum lah tapi setelah itu perempuan tadi menepukkan tangannya di depan wajahku. Terua gak tau aku udah gak sadar" jelas Wulan menceritakan semuanya.
"Lah terus kok isok ndek rumah itu gimana?" kata Lia disitu juga ada Melda yang mendengarkan.
"Entah lah aku udah ada di sebuah padang pasir gitu tapi banyak bunganya. Lah bunga itu baunya busuk banget, nah perempuan tadi bilang ngajak aku keliling sambil bilanh ke aku kayak gini....("Kamu lihat-lihat saja dulu barangkali suka") gitu ih ngomongnya. Tapi aku cuma nurut saja gak bisa ngomong apa-apa." jelas Wulan.
Wulan ini mempunyai sosok penjaga seorang kakek. Sebenarnya ada tiga sosok, dua laki-laki dan satu perempuan. Tapi satu laki-laki dan perempuan ini sekarang sudah tak mengikuti Wulan lagi. Seperti hilang dengan sedirinya dan tinggalah sosok kakek ini. Wulan suka di datangi ke dalam mimpi atau saat dia tidur pada malam hari.
Wulan kembali bercerita kalau setelah diajak keliling. Perempuan itu menunjukkan ke satu titik dimana ada seorang lelaki tua membawa nampan beriai bunga dan dupa seperti sesajen. Terus perempuan tadi menanyakan kembali kepada Wulan apakah dia suka berada ditempat itu. Namun seolah mulut Wulan dibungkam tak bisa berbicara.
Nah disitulah datang sosok kakek yang menjaga Wulan. Dia minta agar tidak mengganggu Wulan lagi.
"Lapo awakmu gowo arek iki? Arek iki gak nok salah eh. Gak usah ganggu arek iki neh, ayo tak jak moleh" ucap si kakek tersebut dalam bahasa jawa kalau diartikan.
("Kenapa kamu membawa anak ini? Anak ini gak ada salah apapun. Gak perlu ganggu anak ini lagi, ayo saya ajak pulang")
Lalu perempuan tersebut marah dan mengatakan. "Arek iki wes dadi weanku"
("anak ini sudah menjadi milikku"), kata perempuan tersebut.
Entah apa lagi yang terjadi terus si kakek dan perempuan tersebut bertengkar antara jin. Dan pada akhirnya si kakek yang menang. Lalu Wulan diajak pulang ke rumah, namum sebelum sampai si kakek juga tanya sama Wulan kenapa dia sampai di ajak. Disitu Wulan hanya diam saja dan mengikuti langkah si kakek.
Nah disini Wulan bercerita yang membuat siapapun yang mendengarnya akan merinding.
"Aku pulang lewat depan. Aku ya lihat ada kakek, nenek, dan mbah Mi. Tapi semua gak ada yang melihatku, ya sudah aku masuk ke dalam. Terus aku tidur di kasur" nah itu penjelasan Wulan.
Bagaimana bisa padahal ada abah Anton dan istrinya, ada juga mbah Meni. Namun mereka gak lihat siapapun masuk ke dalam apalagi si Wulan. Disini semua terkejut dan terheran-heran, semua tak bisa dinalar oleh pikiran. Mereka juga bingung, namun disisi lain mereka semua bersyukur Wulan bisa kembali pulang dengan selamat.
Nah siapakah laki-laki yang membawa sesajen tersebut? Disini Wulan juga gak mengenali namun dia mengingat kalau sempat melihat lelaki itu disebuah foto yang disimpan oleh sang kakek. Terus Lia mengingat kembali ciri-ciri lelaki yang diceritakan Wulan. Lalu dia meminta abah Anton untuk mengambilkan foto kakek buyutnya yaitu ayah dari ibunya abah Anton. Setelah itu Lia menunjukkan foto tersebut kepada Wulan.
Seketika itu Wulan ketakutan dan berlari menjauh sambil menangis. Melda pun menjauhkan foto tersebut dan mengembalikannya kepada kakeknya. Sementara Lia menenangkan keponakannya.
"Wes gak ada kok" kata Lia.
Sementara Wulan hanya diam saja tak bersuara. Dia masih ketakutan dan Lia berpikir apakah Wulan akan dijadikan tumbal. Tapi kenapa Wulan? Padahal mereka tak ada sangkut pautnya sama siapapun.
Mundur ke belakang dulu, sebelum almarhum mbah buyut nya Lia yaitu ibu dari abah Anton, panggilannya buyut Tri. Mbah buyut dulu pernah berpesan agar anak, cucu, dan cicitnya tidak bermain di kebun yang ada di sebelah barat.
"Awakmu ojok senengane nak kebon kulon loh, ojok dulinan nak kono iku akeh demit eh. Engkok malah digowo gak isok mbalek"
("Kamu jangan sukanya ke kebun barat ya, jangan bermain di sana itu banyak setannya. Nanti tambah dibawa gak bisa pulang").
Pesan dari buyut Tri seperti itu. Nah mendengar hal itu Lia tak berani untuk mendekati kebun yang ada disebelah barat depan lapangan. Melda dan Wulan juga di diberi tau agar tak bermain di area sana.
Jadi rumah mereka itu depan persawahan. Samping barat nya berjarak tiga rumah nah terus ada perempatan jalan. Lurus ke arah barat itu ada lapangan luas, biadanya dibuat anak-anak untuk bermain sepak bola. Dipojok mentok ada pertigaan disebelah lapangan itu, nah pas disamping belokan pertigaan itu ada kebun. Lah kebun itu yang tidak boleh di jangkau. Padahal pemilik kebun tersebut masih kerabat dari keluarga Melda dan Wulan. Rumahnya pun tepat disamping rumah mereka.
Jika di kisar jarak dari perempatan jalan ke pertigaan yang ada di sebelah barat tersebut ada sekitar berjarak 15 rumah. Samping timur lapangan adalah sekolah TK dan sebelahnya lagi sekolah SD yang langsung mentok ke perempatan tersebut. Nah warung yang dituju Wulan ada didepan SD tersebut. Begitu lah posisi rumah Wulan jika ingin ke kebun sebelah barat.
Nah sebelah pertigaan itu sudah los persawahan tidak ada rumah sama sekali. Jika lurus ke arah selatan memasuki dusun lain nah disitu ada pemakaman yang memang digunakan oleh warga disitu dari dusunnya Wulan dan dusun tersebut. Jadi satu makam tersebut ditempati dua dusun ada sekat pembatasnya juga.
Jika di flassback ke belakang, dulu sekali semasa hidupnya kakek buyut mereka yang ada di foto tersebut, namanya mbah Hanto. Dulu itu marak terjadi pencurian atau perampokan. Untuk menghindari itu, mbah Hanto ini seperti meminta jin untuk menjaga wilayahnya. Dia menanamkan sesuatu ke tempat yang memang itu miliknya. Salaj satunya ya di kebun yang ada dipertigaan itu. Bahkan dibelakang rumah Melda juga ada kebun yang memang dulunya sempat ditanam sesuatu.
Mungkin mereka meminta sesuatu, karna yang merawat mereka sudah tidak ada lagi. Tapi mereka minta keturunan dari mbah Hanto tersebut. Padahal Wulan tak ada sangkutnya dengan hal tersebut. Dan sebenarnya Wulan dan Melda tak ada garis keturunan dari mendiang mbah Hanto. Sebab ibu mereka itu anak angkat termasuk juga Lia. Jadi abah Anto dan istrinya tidak mempunyai anak kandung. Sehingga mereka sama-sama mengadopsi keponakannya masing-masing.
Nenek Rani mengadopsi keponakannya yaitu ibunya Melda dan Wulan, sementara abah Anto mengadopsi keponakannya yaitu Lia. Jadi mereka sama-sama mengadopsi dari kerabat masing-masing. Jika di lihat dari garis keturunan Wulan dan Melda harusnya tak ada sangkutannya. Mungkin saja karna Wulan itu peka jadi mereka meminta Wulan lah yang menjadi tumbalnya.
Buyut Tri sudah meninggal beberapa bulan sebelum kejadian tersebut. Masih ditahun yang sama, mungkin satu atau dua bulan sebelum kejadian tersebut, buyut Tri menghembuskan nafas terakhirnya karna penyakit orang tua.
Kembali ke Melda dan Wulan. Setelah dua hari sepatu dan tas yang hilang itu kembali tapi berjarak. Awalnya tadi kan Wulan kembali hanya memakai seragam dan kerudung yang tersampir tanpa tas dan sepatu.
Setelah dua hari sepatu Wulan ditemukan di samping rumah mereka. Dibawah bayang (ranjang) yang memang digunakan untuk menaruh cucian bersih. Jadi rumah mereka itu bersebelahan dengan rumah buyut Tri. Sehingga tengah-tengah nya itu ada semacam jalan gitu tapi langsung nyambung dengan rumah buyut Tri. Keesokan paginya ditemukan lagi tas nya Wulan di tempat itu juga tepat diatas ranjang tersebut bercampur dengan pakaian bersih.
Mereka dibuat heran dengan kejadian tersebut. Sebab memang tak bisa dinalar oleh akal manusia. Padahal Wulan juga lewat didepan mereka, tapi mereka gak bisa melihat Wulan pulang ke rumah. Tapi mereka bersyukur akhirnya Wulan bisa pulang dengan selamat.
Padahal malam hari itu sempat ada orang yang memberi pesan kepada Lia bahwa dia melihat Wulan di daerah T yang jauh sekali dari desa nya Wulan. Orang tersebut melihat Wulan naik line (angkutan umum) entah kemana arahnya. Lia pun berpikir macam-macam. Apakah Wulan kabur atau diculik. Karna tempat tersebut terkenal dengan orang-orang bahkan anak kecil pun, nakal dan seperti anak pang gitu.
Setelah Wulan ditemukan itu, barulah Lia dan Melda berpikir mungkin saja itu sengaja dibuat semacam itu oleh jin tersebut. Agar mengira bahwa memang Wulan benar-benar kabur. Tapi pada akhirnya Wulan pulang bersama kakek penjaga tersebut.
Kemana ibunya Melda dan Wulan?
Jadi orang tua mereka berdua sudah berpisah sejak mereka kecil. Disaat kelas 2 sekolah dasar, ibu mereka menikah lagi. Sehingga Melda dan Wulan dirawat oleh kakek dan neneknya. Sebab ibu mereka mengikuti suami barunya, sementara Melda dan Wulan dititipkan kepada kakek dan neneknya. Sejak saat itu juga, hubungan antara mereka dengan ibunya itu renggang. Dan ibunya juga jarang menemui mereka, kalau ayahnya memang sudah tak berhubungan sejak perpisahan tersebut.
Hari demi hari pun dilewati dan keadaan Wulan berangsur-angsur membaik. Dia juga sudah bisa bersekolah seperti biasa. Namun tetap diantar oleh Lia agar kejadian serupa tidak terjadi lagi. Setelah kejadian tersebut mereka semua mulai berhati-hati dan tetap menjaga diri masing-masing. Ibadahnya lebih diperkuat lagi kepada Allah SWT. Agar terjaga dari hal-hal semacam itu.
~TAMAT~