Masa muda?
Heh.. seperti apa masa muda itu, yang aku ingat masa kecil "bermain, tidur siang, makan dan nonton bersama keluarga, bermanja manja bergurau bersama dengan ibu, bapak dan saudara saudara
Hemmmmm (sambil pejamkan mata sejenak menginggat semua nya) seketika seakan seperti mimpi yang terlintas dan sekejap hilang.
Tak sadar air mata itu turun berderai setiap menginggat dengan keras seperti apa masa muda ku saat saat aku awal sekali dan terhitung baru duduk di SMA harus di posisikan mental sekuat baja seketika "dihadapkan dengan sakitnya ibu yang kian hari makin memburuk, beliau selalu menunjukkan sikap Tegar menghadapi sakit yang ia alami saat itu"
Binggung?
jelas binggung, mesti bagaimana dan apa yang bisa kami lakukan sebagimana seorang anak, hanya bisa bantu do'a dan membantu merawat beliau sebaik baiknya.
terus sekolah?
berjalan seperti biasa hanya saja setiap jam istirahat terkadang tanpa sadar aku tertidur, aku akui fisik ku melemah tapi harus tetap kuat.
Ke dua saudara (kaka tertua) makin giat bekerja berharap bisa membantu pengobatan ibu mereka pun hanya pekerja kecil, kaka ke 3 sedang kuliah semester akhir, menginggat kami bukanlah keluarga kaya raya bukan keluarga yang memiliki saudara Sultan, kami hanya keluarga ekonomi sederhana seorang bapak hanya pekerja buruh dan ibu hanya ibu rumah tangga memiliki ke ahlian sebagai penjahit kampung.
Setiap malam nya aku berharap mendapat ke ajaiban pertolongan Allah SWT, akan sakit yang ibu alami saat itu. pernah satu kejadian ibu memperhatikan aku dan beliau bertanya
"Nak kamu tidak makan, terlihat pucat" (posisi ibu sedang di rawat di rumah dengan bantuan infus karna ibu maunya dirawat di rumah)
"Adek puasa buk" (senyum kecil)
"Puasa apa?"
"Adek puasa berharap ibu cepat sembuh semoga Allah SWT segera jabah harapan adek" (sambil menggenggam tangan ibu dan mencoba tegar)
"Kamu harus sabar ya nak" (suara parau ibu makin parah efek dari sakit yang ibu alami)
tak lama bapak masuk ke dalam kamar ibu
"Ibu harus dirujuk ke rumah sakit sekarang tidak baik untuk kesehatan ibu jika masih di rawat di rumah karna kita kita tidak faham tindakan untuk ibu harus bagaimana berharap jika ibu di rawat di rumah sakit lebih cepat sehat, ya buk"
"bagaimana dengan biaya nya pak?" (ibu sedikit sedih)
"ibu tidak usah pikirin masalah biaya, jika pun rumah ini jadi jaminan buat kesembuhan ibu bapak siap ibu, yang penting pikirin ibu harus sehat lagi ya buk" (bpk membenahi berkas2 yang ingin dibawa nantinya)
"... (aku gak kuat tuhan, seketika aku keluar dan menangis sekuat kuatnya)
**maaf sedikit baper teman teman
" ... (bpk mengabari kakak perempuan tertua tuk segera pulang agar bisa bantu ke rumah sakit dan buat jaga ibu nantinya)
"Dek, kamu jaga rumah dulu sebentar nanti kakak ke 2 mu akan pulang untuk sekolah hari ini minta izin dulu sama guru nya ya"
"iya pak.. kabari jika ada apa apa ya pak.. ibu harus sembuh ya buk" (mencium tangan bapak dan ibu yang akan berangkat ke rumah sakit)
dirumah hanya ada aku dan ke 2 kakak laki laki, bisa di bilang mau tak mau saya harus masak untuk makan hari hari kami walau terkesan di paksakan supaya bisa tapi harus mandiri karna tidak setiap waktu beli makan di luar menginggat keluarga kami sedang membutuhkan banyak dana untuk pengobatan ibu.
berjalan 1 hari ibu di rawat di rumah sakit dengan posisi bapak mondar mandir kerja, rumah langsung kerumah sakit, seketika berita itu pun terdengar
"Dek.. nanti bpk pulang terus ikut bapak kerumah sakit ya nak"
"kenapa pak?" (sudah gemetar)
"ibu mau ketemu, kangen katanya" (bpk mencoba menutupi)
"biar adek pergi sendiri aja pak, kan bisa naik angkutan umum bus" (langsung siap2)
"ya sudah, hati hati dek" (bpk menginggatkan)
"Semoga firasat ku salah ya tuhan" (bergegas pergi)
sesampainya aku di angkutan umum Bus tepatnya duduk di belakang sebelah kiri dekat dengan jendela kaca bus, saat itu jauh lamunan jauh pikiran melayang ntah kemana.
"ibu tunggu adek ya, sebentar aja buk sebentar lagi sampe (aku bergumam dalam pikiran ku sendiri, gelisah, hati rasanya bergemuruh, badan gemetar, panik)
*Sesampainya di rumah sakit di ruang inap ibu, posisinya dalam ruangan kelas 3
apa yang aku liat?
dengan tabung oksigen biru besar dan selang terpasang di hidung ibu, dengan bunyi deteksi pergerakan nadi ibu yang lemah belum lagi infus macam macam obat terpasang di badan ibu
"kata dokter ibu sakit apa pak?, posisi kaka tertua sedang pergi ke ruangan informasi
"dokter mengatakan ibu terkena sakit yang menyerang tenggorokan jadi menghalangi masuk nya makanan dan minum ibu, itulah yang mengakibatkan ibu tidak bisa menelan makanan dan minum dengan baik dan sekarang untuk minum pun tidak bisa menenggak air seperti kita hanya bisa ditetes sedikit sedikit" (bapak mengajak aku sedikit menjauh dari tempat tidur ibu terlihat tertempel nomor 2 dan kami tidak ingin mengganggu istirahat ibu saat itu)
"... (terdiam, lalu langsung pergi ke luar meluapkan airmata)
"sudah dek, ini sudah jalan ibu sudah bagian ibu jangan nangis nanti ibu liat adek sedih makin kepikiran" (bpk berusaha mengajak aku menemui ibu)
"ya pak,.. nanti adek nyusul" (menenangkan perasaan dlu agar ibu tak kuwatir)
**masuk keruangan ibu sekarang aku tepat di hadapan ibu
"ibu gimana perasaan nya, enakan"(selalu mencoba tegar)
"ibu haus dek (terdengar suara makin gak jelas, seperti lidah ini kegulung kurang lebih seperti itu)
"ibu mau minum?" (mengulang perkataan ibu"
"... (ibu hanya menganggukkan kepala)"
"maaf ya buk, adek kasih minum nya pakai tangan adek (posisi nya itu aku harus meneteskan air minum lewat ujung jari telunjuk bagaimana batin ini saat itu )
"... (ibu maafkan adek ya dengan segala salah adek , maafin adek gak bisa bantu ibu, maafin adek belum bisa bangga in ibu.. semoga Allah SWT memudahkan segala urusan ibu, semoga melalui tetesan air minum ini yang masuk ke dalam tenggorokan ibu bisa menghapus segala sakit ibu dan semoga ini bisa menebus segala dosa adek ke ibu walau pun itu tidak mungkin) aku bergumam dan menjerit dalam hati dan pikiran ku sendiri.
"dek, enak kayaknya minum dari botol itu langsung, gleeeek gleeeek " (sempetnya menghibur walau dengan suara yang tidak jelas lagi)
"nanti, klau ibu sudah sehat puas puas lah minum, makan yang banyak"
"... "hanya senyum"
"nah gitukan cantiiik" (mengelus wajah ibu)
**tidak lama dokter masuk
"ini anak nya ya, yang jaga ibu itu kaka nya" (basa basi dokter)
"masih ada 2 anak laki laki dok, ini anak paling kecil" (bpk menyambut basa basi dokter)
"sayang banget sama ibu nya, adek bantu in ibu lewat do'a ya, bantuin baca yasin juga gak apa apa biar meringankan sakit ibu"
"baik dokter"
"bpk boleh ikut saya keruangan sebentar" (dokter mengajak bpk pergi bersama)
*tidak lama bpk kembali ke ruangan ibu
"apa kata dokter pak" (kk pertama bertanya)
"kata dokter, hasil nya sudah keluar dan ibu
dinyatakan terkena tumor tenggorokan dan ternyata sakit ibu sudah masuk tahap kanker memprihatinkan, pengobatannya hanya ada di luar kota" (bpk menjelaskan dengan raut wajah sedih)
**saat ini dokter hanya bisa melakukan sebaik mungkin dan memberikan tindakan semaksimal mungkin
"... (kaka tertua terdiam)"
saya selalu berada di dekat tempat tidur ibu terdengar bpk dan kaka sedang berbicara, suasana makin sore, hingga menjelang malam.
kaka semua sudah ada di rumah sakit ingin ketemu ibu.
"ibu, harus kuat.. ibu harus sembuh ya kami nunggu ibu di sini" (dengan suara bergetar)
**saya bersama kaka 1, 2, 3 saling menguatkan melihat kondisi ibu semakin memburuk
***saat kami baca yasin dan tiba tiba monitor denyut nadi ibu berbunyi tidak wajar dan napas ibu tidak beraturan
*kaka tertua berlari memanggil dokter tidak butuh waktu lama dokter beserta perawatnya datang untuk mengecek perubahan ibu yang dratis menurun (drop) dokter sebisa mungkin mengatasi nya
"semua keluarga tolong bimbing ibu nya, adeeek terus bantu do'a buat ibu nya ya.. tuah pasti tau dan lihat kalau adek itu sayang sama ibuuu, harus kuat ya" (dokter mencoba menguatkan)
".... (air mata itu seketika mengucur sangat deras seiring segala do'a menuntun ibu di samping telinganya) ya robb jika engkau memang ingin ambil ibu ku, tolong permudahkan lah jalan nya cabutlah segala sakitnya (aku berbisik didalam hati)
**bpk sangat sangat terpukul melihat kondisi istrinya sedang berjuang dengan takdir nya
"ibu, bpk dan anak anak ikhlas jika ibu mau pergi sekarang.. ibu tidak merasa sakit lagi" (bpk berbisik di telinga ibu)
*DAN ibu benar benar pergi seketika aku menyaksikan ibu manarik napas terakhirnya betapa berkecamuk sangat luar biasa saat itu
"innalillahi wainnalillahi rojiun ( dokter dan perawat bersamaan mengucapkan bela sungkawa dan tepat pukul 23:49 WIB ibu menarik napas terakhirnya) mohon maaf bpk dan adek semua, kami selaku dokter hanya bisa berusaha semaksimal mungkin tapi Allah SWT sudah menghendaki nya"
"kaka 2 dan 3 maafin kami ya buk" (mampu tegar)
"ibu, tugas kaka sudah selesai jaga in ibu, sekarang ibu sudah tidak sakit lagi, ibu sudah sehat sekarang" (menangis dengan tenang)
"ibuuuu adek sama siapa.. ya robbiiii ra rosull adek gak punya ibu lagii" (saat ini pun ketika saya mengetik masih ingat betul kondisi saat itu)
**hilang surga ku, hilang dunia ku, hilang ya robb
"deeeek, yok kita menunggu di luar biar perawat cepat mengurus ibu supaya ibu segera di bawa pulang (kaka ke 2 mengajak)"
"ibu gak ngajak adek kak (masih kondisi menangis)"
"kita semua sudah besar besar dek, ibu sudah selesai tugas nya merawat kita, cukup ibu melewati sakit yang kita gak tau seperti apa rasa itu dan sekarang ibu mau istirahat panjang dan Allah SWT sudah memanggil ibu dengan cara seperti ini, kita harus bisa mendoakan ibu agar ibu baik baik saja di sana dan jalan nya lancar" (kaka menasehati terlihat hati nya pun terpukul)
***semua bersiap siap menghantar ibu ke rumah kediaman kami
"jam menunjukkan pukul 00 : 23 dini hari posisi menghantar jenazah ibu ke rumah. saya duduk di paling depan samping sopir bersama salah satu keluarga yg saat itu hadir di rumah sakit"
terdengar samar samar di telinga "Nak, ibu pamit ya" seketika bulu kuduk aku berdiri dan tersadar saat ini ibu baru saja meninggal (hanya bisa menangis dan terdiam) "Adek sayang ibu" (berbisik kecil dalam hati)
saat itu siapa pun orangnya tidak akan ada yang bisa menerima keadaan dan kondisi seperti itu, tapi semua sudah jalan Allah SWT dan sebaik baik keputusan hanya keputusan Allah SWT terbaik.
*** 3 tahun kemudian
Fase kuliah..
fase di mana benar benar butuh sosok seorang ibu dan Yang katanya kedewasaan itu akan beradaptasi seiring waktu sesuai lingkungan.
Tidak untuk aku, keseharian di lalui monoton..
pergi kuliah terus pulang dan seterusnya seperti itu jika pun libur yyaaa di rumah saja lebih ke menutup diri.
Gak ngobrol ngobrol sama teman teman di kelas, atau duduk santai di kantin gitu setelah selesai kuliah?
aku terpuruk setelah ibu meninggal, rasa nya hambar tidak berbekas lagi keceriaan yang pernah aku miliki saat itu saat sama sama ibu.
bagi ku Masa MUDA itu terabaikan jika pun menginggatkan masa masa itu hanya terekam "tentang ibu" dan ketika masa Dewasa itu beranjak datang perlukah aku mengatakan "Kedewasaan ku sudah di bawa pergi jauh bersama ibu"
Saat ini bukan kedewasaan yang aku pilih tapi lebih memilih untuk bertahan hidup di atas gempuran zaman yang tak terarah.
***ibu dimana pun kondisi mu disana adek yakin ibu sudah bahagia ibu sudah bisa tersenyum manis ibu bisa melakukan apapun karna Allah SWT lebih menyayangi ibu ketimbang dunia ini.. Tuhan, titip ibu nya adek ya "Ibu orang baik tuhan, ia malaikat kami ia cinta sejati nya bpk, Ya Alloh izinkan kami kelak berkumpul lagi di Surga terbaik Mu ya Alloh" Aamiin
***Kurang lebih seperti itu ceritanya, maaf jika cerita ini melintas di beranda teman semua, rindu paling berat itu memang merindukan sosok orang yang tidak ada lagi keberadaan nya di dunia***
"Malaikat yang kupanggil ibu"
Saya MarZaH salam kenal semua
#Masa MUDA Terabaikan Masa DEWASA yang Tertinggal