BAIKLAH adik-adikku perkenalkanlah ini kakak kalian namanya Fitri Annisa, ia si kembang desa yang tiada duanya? Iya, setidaknya itu menurut anggapan kebanyakan orang. Gadis berusia 14 tahun yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP Madrasah Tsanawiyah ini memang bikin cemburu para gadis sebayanya. Pasalnya, beribu pasang mata terpana akan kecantikannya yang bagaikan intan permata. Aku pun juga setuju kalau dia disebut sulistya ing warna. Binar matanya yang sayu, langsat kulitnya, lesung pipinya, gingsul giginya, rambutnya ikal mayang, bibirnya belah pinang.
Aku mengenal Annisa sebagai gadis yang berkepribadian sangat polos dan sangat penurut, lebih-lebih kalau sama bapaknya Sutarno yang terkenal galak bagai anjing liar itu.
Kebetulan umurku terpaut satu tahun lebih muda dari Annisa, sejak kecil aku dan Annisa sering bermain bersama. Kadang-kadang kita main lompat tali, petak umpet, bola kasti, main kelereng, atau main di kali yang mengalir di samping masjid sambil nyari kecebong. Kadang kita juga berburu capung mengunakan kotrik semacam jaring yang terbuat dari sarang laba-laba. Di dusun kami 'Salam' waktu itu memang belum tersentuh oleh mainan modern yang berteknologi canggih secara berlebihan. Iya, paling-paling cuma ada ps 2 yang pake kaset itu, dan yang paling popular waktu itu adalah dindong. Tapi sayangnya orang tuaku dan orang tuanya Annisa melarang kami menyentuh benda asing itu, karena takut pemborosan. Daripada buat ps'an iya mending buat beli cikalan.
Di tengah keriuhan para pemuda désa yang menggilainya, Annisa begitu santainya dalam menanggapi tingkah laku mereka. Tak tahu sudah berapa ratus surat cinta yang antri di beranda hatinya. Tapi, tak satupun yang ia terima. Bukan sombong atau apa; dia pernah bilang kepadaku saat aku dan dia bermain bola bekel di emperan rumahnya, kala hujan gerimis melanda siang. Katanya: ia mau fokus belajar saja dulu. Kalau mau cinta-cintaan nanti dulu kalau sudah lulus sekolah, iya, minimal SMA lah. Syukur-syukur langsung dilamar, dan lekas naik ke pelaminan.
Tapi entah karena dosa apa? Di sepertiga malam yang sunyi, ketika ia pulang mengaji. Saat ia melintasi jalan yang lengang kebetulan juga sedang pemadaman, tiba-tiba sesesok bayangan hitam menyergapnya, lalu menggondolnya lari ke pondok yang terletak di tengah sawah, yang jauh dari pedesaan. Annisa ingin memberontak tapi ia tak kuat, ia di rangkul tangan yang gempal dengan sangat rekat, sambil mulutnya dibungkam dengan tangan rapat-rapat.
"Sudah kamu diam saja!" bisik bayangan hitam itu dengan amat lirih. Ia terus menggeret Annisa seperti kambimg yang berkenalan dengan tuannya yang baru. Di pondok sawah beralaskan tikar pandan, Annisa dibaringkan, lalu ia ditindih. Sementara Annisa hanya bisa merintih. Sesekali kakinya mancal-mancal, tapi apakan daya ia bukanlah wonder woman Lasmini ataupun Saraz 008 superhero yang sakti itu. Sungguhpun ia tak mampu melawan cengkraman bayangan yang keparat ini.
Setelah hampir satu jam ia disekap. akhirnya Annisa dilepaskan. Dan bayangan hitam itu seketika langsung menghilang bersamaan dengan hembusan angin malam. Meninggalkan Annisa dan tangisannya sendirian yang menahan perih dari percikan darah segarnya. Dengan membawa rasa kecemasan ia melangkah pulang, meniti langkahnya pelan-pelan di pematang sawah, sambil sesenggukan meneteskan air mata. Setelah sampai dirumah ibunya sudah menuggu di depan pintu, sang ibu bertanya. "Kok baru pulang?"
mendengar pertanyaan itu Annisa memasang wajah yang pura-pura ceria, lalu ia berkata "Tadi ada hafalan bu!" setelah itu kemudian ia lantas bergerak menuju kamarnya. Berusaha menyembunyikan peristiwa yang baru saja menimpanya.
Hari demi hari, bulan demi bulan. Tak terasa perut Annisa kian membuncit, bapaknya Sutarno pun langsung naik pitam saat mengetahui kalau putrinya itu sedang hamil, tanpa tahu siapa yang menghamilinya. Di tengah kebingungan yang amat, akhirnya Sutarno memutuskan untuk menikahkan putrinya dengan Wijoyo si bujang lapuk atas saran dari saudaranya dengan sarat ia harus menanggung semua biaya pernikahannya, dan yang paling serius ialah ia harus menutup mulut si Wijoyo dengan uang 20 juta rupiah. Tentu itu hanya sebagai upaya penutupan aib saja, agar nanti kalau si jabang bayinya Annisa lahir ada suaminya, meskipun itu bukan bapaknya. Akan tetapi, ternyata pernikahan itu tak bertahan lama. 2 bulan setelah Annisa melahirkan, tiba-tiba Wijoyo menjatuhkan talak begitu saja, setelah itu mereka bercerai.
Semenjak perceraiannya dengan Wijoyo kini Annisa berubah menjadi agak tertutup, dan jarang sekali keluar rumah. Pernah suatu ketika bertemu dengannya di pasar Sekar, waktu itu aku sedang membeli ungkal, dan Annisa sedang berbelanja bersama ibunya. Ketika itu aku menyapanya. "Beli apa Nis?"
tak sepatah katapun yang ia ucapkan, tapi beruntung ibunya menyadari hal itu. Akhirnya ibunyalah yang menjawab pertanyaanku. "O, DharmaWanto. Lagi blanja macam-macam ini tadi, le" setelah itu Annisa dan ibunya pergi begitu saja.
Ketika anaknya Annisa, si Farid menginjak umur 3 tahun Annisa pergi merantau ke Kalimantan dan menitipkan Farid kepada ibunya. Di Kalimantan entah ia bekerja sebagai apa? Tapi, menurut desas-desus yang beredar dan yang paling popular adalah sumber informasi dari Cak Kaslan, yang sering wara-wiri ke Kalimantan. Ia mengatakan kalau Annisa sekarang jadi lonthé yang paling digemari oleh para lelaki hidung belang disana. Tapi, aku masih tak percaya. Iya, itu karena aku tak pernah melihat dengan mata kepalaku sendiri. Lama-lama aku jadi penasaran, maka iseng-iseng aku ikut ke Kalimantan untuk nyari kerjaan. Tapi sebenarnya niatku sih cuma ingin mencari Annisa saja. Dan betapa terkejutnya aku, ternyata benar apa kata cak Kaslan. Disana aku menjumpai Annisa yang berpenampilan tak seperti biasanya sewaktu di Salam dulu, ia memakai Rok cekak, baju ketat sampai ngeblat kutangnya. Yang sedang menemani seorang lelaki setengah tua karaokean di sebuah room yang remang-remang.
Namun, setelah sekian tahun ia di Kalimantan akhirnya ia pulang. Tapi, kali ini ada yang aneh darinya. Tiba-tiba ia menjadi pendiam, dan sering mengurung diri di dalam kamar. Hingga bertahun-tahun ia seperti itu, dan tiada seorangpun yang tahu apa yang menjadi penyebabnya. Ada yang bilang dia sedang sakit keras, katanya dia kena virus HIV AIDS. Tapi, aku pikir itu cuma ucapan orang-orang yang tidak senang dengannya saja. Selang beberapa hari, secara mengejutkan ia meninggal dunia dalam keadaan yang cukup menyedihkan. Tubuhnya kurus kering, di sekeliling matanya nampak menghitam, dan pipinya yang dulu lesung itu kini menjadi lengket dengan tulang rahang.
Sehari selepas jenazahnya dimakamkan, malamnya aku pergi ke kuburan, siapa tahu nanti aku bisa bertemu dengan arwahnya yang bergelantungan di dahan pohon semboja. Aku ingin bilang "Siapa yang menghamilimu dulu, Nis? cepat cari dia! lalu kau cabut saja Anu-nya!"