Ia menaiki anak tangga perpustakaan, dengan pakaian yang sedikit basah karena disaat perjalanan menuju perpustakaan, tanpa permisi hujan turun secara tiba-tiba. Hari ini ia berencana untuk mengembalikan buku di perpustakaan kota.
Buku bercover warna hijau itu sudah lama belum ia kembalikan, jika ia menundanya lagi, sudah pasti tunggakannya semakin banyak. Dia belum juga selesai membacanya, karena hanya berisi cerita remaja tentang cinta yang bisa dikatakan kurang menarik baginya.
Terlihat pustakawan itu sedang sibuk mengurusi buku-buku. Dengan segera, ia memberitahu bahwa ia ingin mengembalikan buku.
"Naila ya? Tunggakannya Rp.20.000." ujar pustakawan itu sambil mengeceknya di layar komputer.
"Naila ngga bosen ke perpustakaan terus?" tanya pustakawan.
"Engga kok bi, seru malah kalo bisa disini tiap hari." jawab Naila sembari menyerahkan uang kepada pustakawan itu.
Lantas ia tersenyum sambil menerima uang nya. "Sering-sering datang ke sini ya."
Ia membalasnya dengan senyuman. Dengan segera ia berbalik arah, dan menuju pada buku-buku dan yang tertata rapi pada rak buku. Ya, berhubung hari ini ia tidak memiliki kegiatan, sekali-kali ia ingin merasakan suasana yang berbeda dengan membaca buku di perpustakaan.
Mata gadis itu tertarik pada salah satu buku yang terletak pada rak paling atas, buku itu bercover dengan gambar sebuah bangunan angker, apakah itu sebuah buku misteri? Mungkin iya. Rasa penasaran gadis itu sudah tidak tertahankan, berkali kali ia mencoba untuk menggambil buku itu, namun tetap saja tak sampai. Karena ia tak cukup tinggi untuk menggapainya, dengan kata lain dia pendek.
Ia berdecak kesal, terdiam sejenak. Saat ia memandangi buku itu, tiba-tiba saja terlihat tangan dengan jari jemari yang lentik nan cantik mengarah dan mengambil buku yang sedari tadi sangat ingin Naila baca.
"Maka nya, jadi orang jangan pendek-pendek" ucap si pemilik tangan yang cantik itu.
Mendengar suara tersebut, Naila merespon, ia membalikkan badan nya.
Terlihat seorang lelaki yang tinggi, berpakaian seragam, dengan rambut yang sedikit basah.
"Dari tadi lo mau baca ini buku kan?" Tanya lelaki itu sembari menunjukkan buku nya.
"Iya bener, thanks ya.." Tangan nya perlahan mengambil buku itu.
"Lo suka baca buku misteri?"
"Iya, kenapa? Lo suka juga?" Ia bertanya balik.
"Gapapa si, lumayan."
"Anyway, kenalin nama gue Arka, lo?"
"Gue Naila."
"Mau baca bareng?"
Ia merespon tanpa pikir panjang, "Oke"
Kedua remaja itu menuju pada salah satu meja kosong, mereka duduk berhadapan sambil membaca buku nya masing-masing.
Terdengar suara ponsel berdering, dengan segara Naila mengecek ponsel nya. Tak lama kemudian ia mengalihkan pandangan nya kepada Arka yang sedari tadi menatapnya.
Mereka terdiam dan hanya saling bertatapan.
Iris mata coklat terang milik laki-laki itu beradu pandang dengan iris mata hitam pekat milik Naila.
"Ganteng." sebuah kata yang tersemat dipikiran Naila saat beradu pandang dengan lelaki bernama Arka yang duduk berhadapan dengan nya.
"Apa liat-liat?"
Arka terdiam sejenak sambil menikmati wajah indah dihadapannya. "Gapapa, mata lo cantik."
"Jangan ngeliatin gue terus, buku nya cemburu tuh."
"Emang buku bisa cemburu?"
"Bisa kalo dia bukan benda mati."
Senyum manis tersemat pada wajah tampan lelaki itu, ia tertawa.
"Lo tau ga? gue tadi nembak crush gue"
"Oh ya, terus gimana?"
"Gue ditolak, dia udah ada pacar."
"pfftt.." Gadis itu menahan tawa.
"Jangan galau ka."
"Tenang, gue sekarang udah move on dari dia."
"Oke deh, kasian banget kena nt" Ia menertawakan Arka.
"Emangnya lo ga pernah nt?" Tanya Arka keheranan.
"Pernah dong, gue ini duta nt, tadi aja gue nt lagi bro" Gadis itu membanggakan dirinya.
Arka menertawakannya, baru kali ini dia bertemu seorang gadis yang merasa bangga setelah mengalami nt, alias nice try.
1 jam telah berlalu, bukan nya fokus membaca buku di perpustakaan itu, kedua manusia ini malah asik berbagi cerita dan bercanda ria.
Terlihat dari jauh seorang anak kecil berlari menuju meja tempat Naila membaca dengan Arka.
"Ssstttt, kakak cantik dan ganteng jangan berisik, ini perpustakaan, tempatnya buat baca buku yaa kak." Ucapnya memperingatkan kedua anak SMA ini dengan suara lirih. Sangat imut.
"Iyaa dek, siap" Arka tersenyum manis kepada anak kecil itu.
Anak kecil itu mengacungkan jempol kecilnya kepada Arka, kemudian ia pergi.
"Lucu banget" Arka tersenyum gemas melihat cara anak kecil itu berlari.
"Anyway, gue mau balik, gue ada jadwal les."
"Ohh, yaudah kalo gitu gue juga mau balik." Naila sudah terlebih dahulu bangun dari kursinya.
"Pinjem hp lo bentar"
Dengan segera gadis itu menyerahkan ponselnya kepada Arka.
"Arka? Lo kelas berapa?"
"11, lo?"
"Nih hp nya, thanks"
"10" jawab Naila sembari mengambil ponselnya.
Ponsel gadis itu berdering.
"Save nomor gue ya, Naila?"
"Oke, gue.. balik dulu ya, bye" pamitnya dan langsung berjalan meninggalkan Arka. Namun Arka memanggil dan menyusulnya, Ia pun menghalangi jalan gadis itu dengan postur tubuhnya.
"Kartu perpusnya ketinggalan dek." Ujarnya sambil tersenyum.
"Oh iya, makasih"
"Oke, see you"
Segera gadis itu mempercepat langkahnya, namun saat dalam perjalanan pulang, ia terus memikirkannya.
Inikah yang dirasakan para tokoh-tokoh remaja dalam buku saat jatuh cinta? Sekarang Naila menjadi tau apa yang harus dilakukannya, sesering mungkin pergi perpustakaan kota.