Suara langkah orang berlari menggema di lorong gedung sekolah terbengkalai. Dengan mulut yang di lakban dan kedua tangan terikat, anak laki-laki itu berusaha melarikan diri dari penjara. Dia terus berlari hingga memutuskan untuk bersembunyi dalam ruang kantin.
"Anak manis, larimu sangat cepat sekali! Aku tercengang."
"Hahahaa ... kau benar sayang."
Tak lama kemudian, persembunyiannya telah diketahui lantas mereka tersenyum lebar. Anak itu gemetar ketakutan ketika mereka membawa sebuah pedang dan cambuk.
"Tidak perlu takut. Kematian kamu adalah keberuntungan."ucap seorang wanita kemudian menusukkan ujung pedangnya tepat di kepala anak itu.
Darah pun bercucuran menodai pedang jenis samurai. Tidak ada rasa jijik sama sekali. Pasangan suami isteri tersebut kembali menyunggingkan senyuman lebar seolah-olah pemandangan di depan mereka ini adalah paling indah dan nikmat.
Ngiiik!
Seorang gadis kecil yang masih berseragam sekolah membuka pintu dan menatap kedua orang dewasa itu.
"Ayah, ibu, apa aku melakukannya dengan benar?"
Mellie Derwind, gadis kecil itu mendekati orangtuanya tanpa merasa mual pada pemandangan sadis didepannya. Kedua tangannya saling bertaut untuk memberi kekuatan pada dirinya sendiri. Dibandingkan mayat yang tergeletak, dia lebih takut terhadap ayah dan ibunya.
"Kerja bagus, anakku!" puji ayahnya, Lucas Derwind
Sang ibu, Sera Arlond mengelus lembut kepala Mellie seolah penuh perhatian. Senyumannya mengembang begitu juga Mellie yang merasa senang mendapatkan pujian.
"Putriku, anak tersayang ibu."
"Haruskah aku membawa yang lebih besar dari ini?" tanya Mellie
Lucas menggendong Mellie lalu tersenyum hangat. Mereka tidak membersihkan bercak darah yang menempel pada pakaian. Dan berlalu pergi menuju ruang bawah tanah yang berada di gedung sekolah tersebut. Disanalah tempat tinggal mereka.
"Ibu akan membuat daging yang enak sebagai hadiah setelah ini, bagaimana Mellie?"
"Iya!"
Dengan polos Mellie mengucapnya penuh semangat.
"Tapi setelah makan, ingin berburu lagi?" tanya Lucas
"Sayang, mellie baru saja selesai menyelesaikan tugas pertamanya. Mengapa begitu terburu-buru?"
Mellie menggeleng kepalanya.
"Tidak apa ibu. Mellie suka kok melakukannya. Kali ini Mellie akan mendapatkan mangsa yang dilatar belakangi keluarga yang sangat hebat!"
"Hahahaa, itu baru putri ayah!"
—TAMAT—