SMA Bakti Bangsa.
"Maaf Pak Umar ... dengan berat hati kami harus membuat keputusan ini ...," kata James bersungguh-sungguh.
Di hadapannya ada seorang laki-laki seusia James dan anaknya yang terlibat sebuah masalah. Bedanya dengan Umar, ia masih single di usianya yang memasuki akhir 30-an.
Sebenarnya, bukan dia yang bermasalah ... tapi Juna, anak dari ketua komite di sekolah itu. Sayangnya, anak itu adalah korbannya. Sebut saja dia Aris.
"Tolong, Pak. Kalau beasiswa anak saya dicabut, dia mau sekolah di mana lagi?" iba Umar—si orang tua murid—pada James. Sayangnya, James tidak punya kuasa apa-apa. Ia hanya menjalankan perintah saja dan ... setelah dipikir-pikir, tidak rugi juga jika anak itu keluar dari sekolah. Menghemat biaya pendidikan.
"Sekali lagi maaf, Pak. Jika Aris dan Pak Umar tetap ingin melanjutkan masalah ini ke jalur hukum dan meminta ganti rugi pada keluarga Pak Gunadi, maka kami akan langsung mengeluarkan Aris. Tidak masalah jika kami harus menyewa pengacara," kata James yang merupakan seorang Humas di SMA Bakti Bangsa.
Di depan James, Pak Umar dan Aris terlihat bingung. Di ruangan itu memang ada mereka bertiga, tapi jelas James lebih mendominasi di sana.
Tiga hari yang lalu, lagi-lagi Juna membuat masalah. Ia berkelahi dengan Aris—sebenarnya bukan berkelahi, tapi Juna menghajar Aris hanya karena ia kesal anak itu menjadi juara kelas lagi—sepulang sekolah. Ada beberapa saksi mata yang tentu bisa membuat Aris menang di pengadilan. Tapi sayangnya, Juna lebih unggul dari sisi materi. Hukum bisa dibeli jika uang yang sudah berbicara.
Aris mengalami patah tulang tangan kanan dan ayahnya yang bekerja sebagai seorang buruh panggul, merasa bisa meminta uang ganti rugi dari keluarga Juna. Tidak tanggung-tanggung, Umar meminta ganti rugi 10 juta rupiah. Hal itu lah yang membuat Roy Gunadi—ayah Juna yang juga ketua komite SMA Bakti Bangsa—menyuruh James melakukan ini. Mengancam mereka agar tidak meminta apa-apa dari pimpinan komite sekolah itu.
James tahu jika memang harusnya Roy memberikan ganti rugi itu, ia hanya terlalu pelit sebagai seorang yang berada.
"Ja-jadi ... kalau kami diam ... Aris bisa terus sekolah di sini, Pak?" tanya Umar kemudian.
Laki-laki itu terlihat putus asa. James tahu jika ia sudah menghabiskan banyak uang untuk biaya pengobatan Aris yang masih terus berjalan. Sayangnya James tidak bisa melawan Roy. Dia yang berkuasa.
"Ya tentu saja. Dia hanya perlu menjauh sedikit dari Juna dan keluarganya. Kalau bisa ... sedikit mengalah pada anak itu. Kamu tau, kan?" bisik James di depan Aris.
Anak itu mengangkat kepalanya. James tahu ia menginginkan posisi pertama sebagai juara kelas, untuk mendapatkan beasiswa pada jenjang berikutnya. Namun Juna pun punya obsesi yang besar untuk menjadi yang terbaik. Sayangnya Aris bersaing dengan orang yang salah.
Umar berdiri. Ia menarik anaknya untuk ikut bangkit dari sana dan pamit pergi.
"Sampai bertemu di pengadilan, Pak. Saya yakin pengacara publik akan membela kami dengan baik ...." Pak Umar berkata dengan begitu yakin. Meskipun begitu, James tahu laki-laki itu sendiri agak ragu.
"P-Pak?" tanya Aris terbata. Ia tidak percaya dengan keputusan ayahnya yang nekat.
Sayangnya, Aris tidak bisa berbuat banyak. Umar sudah memutuskan dan mereka akan mengambil jalur hukum.
***
James melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menyeberang jalan. Perutnya begitu lapar dan ia sudah berada dekat dengan rumah makan yang ia tuju. Sampai kemudian ....
Ckiiiiitt!!!! Braaakk!!
Sebuah motor matic tepat menghantam tubuh James. Laki-laki itu terpental cukup jauh sampai-sampai orang yang melihatnya hanya bisa menjerit histeris. James terkapar di atas aspal dengan darah yang mulai mengalir dari tubuhnya ....
"TOLONG! TOLONG! Panggil ambulan lekas!"
***
"Pak, bangun Pak ...," kata seorang wanita membuat James langsung tersadar.
Laki-laki itu bangkit dan mendapati dirinya ada di sebuah tempat tidur yang tidak nyaman.
James memperhatikan betul-betul, tempatnya berada saat ini. Bukankah seharusnya ia ada di rumah sakit?
Dengan cepat James duduk. Ia melihat seorang wanita—yang bukan tipenya sama sekali—berdiri di samping tempat tidur dengan baju daster yang cukup norak.
"Si-siapa kamu?!" seru James syok. Ia tidak menyukai apa yang ia lihat.
"Ih, Bapak ngelindur. Ya istrimu, lah!" sahut wanita itu sembari mengerutkan kening bingung.
"Hah?" Baru saja James ingin menyahut, kepalanya terasa seperti ditusuk jarum. "Aduh ...."
"Nah! Makanya jangan ngelindur ... kualat, kan!"
Saat ini James bangun di sebuah kamar yang ukurannya begitu pas-pasan. Hanya ada tempat tidur dan lemari baju. Jauh berbeda dengan miliknya di rumah. Meskipun bukan orang kaya raya, tapi miliknya sudah tentu jauh lebih baik.
"Sumpah ... ini saya di mana? Kamu nyulik saya, ya?!" seru James lagi. Ia tahu rumah dan hidupnya. Yang ini sudah pasti bukan miliknya.
"Pak, eling. Sadar Pak, sadar. Kamu berharap lahir di keluarga konglomerat, hah?" tanya wanita tadi yang mengaku-ngaku sebagai istrinya.
Wanita itu melangkah keluar dari kamar meninggalkan James.
Setelah wanita itu pergi, James bergegas pergi ke arah lemari untuk mencari baju yang lebih pantas. Ia mau pergi dari sana.
Namun, betapa terkejutnya James saat melihat pantulan dirinya sendiri di depan cermin. Jelas-jelas sosok yang ada di pantulan cermin bukanlah dirinya. Ia melihat sosok orang lain di sana, membuat James hanya bisa membulatkan netranya.
"Wa-wajah siapa ini?!" James panik. Ia buru-buru mengambil dompet pria yang terlihat ada di atas meja. Dengan terburu-buru, James membuka benda itu.
Hanya berisi selembar 20.000 rupiah dan KTP yang sudah usang.
"Joko Anwar? Siapa?"
Akhirnya, karena tidak bisa menerima perubahan besar itu, James malah pingsan. Ia jatuh kembali di atas tempat tidurnya tadi.
***
James terbangun. Ia melihat cahaya yang begitu terang dan di sampingnya sudah ada sosok laki-laki yang tadi ia lihat di cermin dan KTP.
"Kamu pasti bingung, ya? Tenang saja James, ini hanya sementara. Kamu harus tinggal di tubuhku untuk sementara, karena anakku lagi butuh pertolonganmu. Kamu mengalami kecelakaan dan jatuh koma, jadi bisa masuk ke tubuhku dengan mudah."
"La-lalu kamu sendiri di mana?" tanya James yang kaget kenapa ia merasa obrolan mereka itu biasa saja terjadi.
“Jiawaku terlalu lemah untuk kembali ke tubuh ini. Sesuatu terjadi dan aku hanya bisa seperti ini.” Sosok itu menjelaskan. “Tenang saja, kalau anakku sudah tertolong, kamu bebas untuk kembali ke tubuhmu lagi ....”
Setelah mendengar semua itu, James terbangun kembali di atas tempat tidurnya yang tidak nyaman. Ia kembali berdiri dan mengamati apa yang ada di depannya.
Apa yang terjadi padanya sama sekali tidak masuk akal. James masih berpikir jika ia belum sepenuhnya bangun dari tidur.
“A-apa itu tadi?” tanya James kepada diri sendiri. Seharusnya ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat di dalam mimpi, tapi ia ingin percaya.
Berdasarkan atas hal itu, James memutuskan untuk menolong anak dari sosok di dalam mimpi. Dalam hal ini, anak itu adalah anaknya sendiri. Ia hanya ingin lekas kembali ke kehidupannya dulu.
***
James atau yang sekarang bernama Joko Anwar, duduk di antara istri dan anak-anaknya. Mereka sedang makan malam bersama dalam diam. Selain wanita yang merupakan istri dan anaknya yang disebutkan di mimpi tadi, ada juga seorang balita yang terlihat bingung dengan keberadaan James di sana. Mungkin ia tahu kalau James bukan ayahnya. Bukankah anak-anak masih begitu peka?
“Jadi ... apa kau sudah merasa lebih baik?” tanya wanita yang berperan sebagai istri James. Ana namanya. Cantik tapi terlihat begitu kelelahan.
James mengangguk meskipun ia pernah merasa lebih baik. Lalu, setelah James meminta penjelasan terperinci dari Ana, ia jadi tahu masalah apa yang sedang terjadi dengan anak keluarga itu. Ia merasa begitu familiar dengan hal yang terjadi dan yakin sekali jika semua bisa ia selesaikan dengan mudah.
"Besok kita akan ke sekolah Denish ... akan kubuat mereka ganti rugi atas semua yang terjadi ...." Joko Anwar begitu yakin dengan apa yang ia katakan.
***
Sekolah Denish, SMA Budi Luhur.
"Pilihannya hanya dua, putus beasiswa atau mencabut tuntutan," kata wanita tua di hadapan Joko saat ini.
Deja Vu. Ya, hal itu lah yang dirasakan Joko atau James saat ini. Ia sadar betul jika pernah berada di posisi wanita di hadapannya itu pada satu waktu.
Dengan apa yang Joko ketahui, ia mulai bicara.
Banyak hal yang ia ungkapkan kepada sosok di depannya. Membuat wanita itu terdiam dan sesekali bergidik ngeri. Mungkin ia membayangkan semua hal yang Joko jelaskan padanya. Joko tahu jika wanita memang lebih paham dan lekas takut ketimbang dirinya dulu.
"Jadi, saya tidak masalah jika anak saya putus beasiswa. Tapi setelah itu, sekolah ini akan malu dan mungkin tutup lebih cepat dari yang kalian duga. Media sosial setajam itu, Bu ...." Joko mengakhiri ucapannya dengan memperlihatkan sebuah screenshot akun fake yang ia temukan di internet.
Bermodalkan follower yang massive di foto itu, Joko mengancam guru BK di depannya dan Denish agar memberikan ganti rugi atas motor Denish yang dirusak dengan bar-bar oleh sekelompok anak di SMA yang sama.
Beruntung, anak-anak itu bukanlah salah satu dari anak pejabat yang bersekolah di sana. Hanya anak seorang guru yang mungkin punya andil dalam ancaman yang dibuat guru BK saat ini.
Guru BK yang dimaksud menelan saliva dengan susah payah. Ia mengangguk kemudian mengambil HP-nya sendiri untuk menghubungi seseorang.
"Saya kira pertemuan kita sampai di sini saja, Pak. Untuk uang ganti rugi, akan kami kabarkan lagi saat sudah terkumpul semuanya ...," kata guru itu berharap Joko dan Denish pergi dari ruangannya sesegera mungkin.
"Baiklah. Kalau begitu saya dan Denish pamit, Bu."
***
Rumah Joko Anwar.
Senyum Joko tidak mau hilang. Ia senang karena uang ganti rugi itu akan mereka terima. Istrinya jadi tidak perlu pusing lagi dengan hal itu.
Langkah kakinya semakin dipercepat, karena ia ingin memberitahukan kabar menyenangkan itu kepada Ana lebih cepat lagi.
Namun kemudian, tiba-tiba saja dadanya terasa sakit. Joko memegangi dada kirinya yang terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Seketika itu juga, Joko ambruk dan hilang kesadaran ....
"BAPAAAK!!!" Ana menjerit histeris.
***
Rumah Sakit Umum.
James terbangun dengan napas yang tidak beraturan. Hal pertama yang ia lihat adalah selang infus terhubung ke pergelangan tangannya. James ingin bangkit dan duduk, tapi tubuhnya masih tidak bertenaga.
"Bro ... santai. Mau ke mana?" tanya seorang laki-laki yang begitu ia kenal, adiknya Andre.
"Andre ... aku di mana?"
"Rumah sakit? Kamu tidak ingat sudah ditabrak oleh sebuah motor matic? Istirahat saja ... aku akan panggilkan dokter untuk melihat kondisimu." Andre meninggalkan sosok James.
James mengangguk. Sepeninggal adiknya, James mengambil sendok stainless yang ada di atas nakas di sampingnya. Ia melihat baik-baik pantulan dirinya di sendok itu.
Ya, itu wajahnya sendiri. Semua telah kembali normal. Hal itu cukup melegakan dan berhasil membuat James tenang.
"Apa tadi itu mimpi saja ya? Tapi terasa begitu nyata. Ternyata ... selama ini aku begitu jahat. Melakukan semua itu kepada orang yang lebih lemah." James tidak tahu apakah semua itu nyata atau tidak, tapi ia begitu menyesal dan bertekad untuk berubah.
Bagai terlahir kembali, James akhirnya sembuh total dan memilih untuk resign dari pekerjaannya di sekolah lama. James memilih untuk kembali mengambil sekolah Hukum dan ia bertekad untuk bisa menjadi pengacara untuk membela masyarakat yang lemah.
Baginya, tidak ada kata terlambat untuk memulai satu kebaikan.
Sesekali James melewati rumah Joko Anwar yang bisa ia ingat dengan baik. Ternyata Joko telah meninggal dunia karena serangan jantung. Akan tetapi, istri dan anak-anaknya menjalani kehidupan yang baik.
Ana memiliki sebuah warung kecil yang cukup laris dan Denish sudah memiliki motornya kembali.
Terkadang, James mengirimkan sedikit uang untuk janda itu. Ia mengaku sebagai teman lama yang mencicil utang pada almarhum Joko.
Rasanya lebih baik saat kamu punya kesempatan kedua ... manfaatkanlah semua itu dengan maksimal. []