Di Suatu malam, Ayana sedang menonton televisi didalam kamarnya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan yang berasal dari pintu kamarnya "tok-tok-tok" dan perlahan terbuka, ternyata yang telah mengetuk pintunya adalah kakeknya si Ayana. "Ini sudah larut malam, lagi-lagi kamu belum tidur ?", tanya kakek kepada Ayana. "Iya kek, saya akan segera tidur". Kakek pun mengangguk kepala dan kemudian menutup pintu kamarnya. Ayana pun segera segera menutup televisinya, dan menutup lampunya. Ketika ingin tidur, Ayana berpikir : "Padahal bagian serunya sudah mau mulai, tapi kakek malah datang dan memeriksa saya sudah tidur atau belum. Yah mau gimana lagi ? memang sudah saatnya saya harus tidur lelap sih".
Keesokan harinya, seperti biasa Matahari berseri dan langit pun bersih. Begitu juga dengan si Ayana., ia berangkat sekolah seperti biasanya.Tapi karena Ayana adalah satu-satunya cucu si kakek, beliau bersikeras ingin mengantar Ayana ke sekolah. "Sini, biar kakek antar kamu saja ke sekolah", "tidak usah kek, saya bisa sendiri kok, lagipula jarak dari rumah dekat, hanya jalan beberapa langkah saja", jawab Ayana. Meski Ayana sudah menjawab seperti itu, kakeknya tetap memaksa untuk mengantarnya. Pada awalnya Ayana berminat tidak ingin merepotkan kakeknya dan pada akhirnya, ia mengikuti kehendak kakeknya juga. "Yah, mau gimana lagi ? Kakek kan sudah tua. Wajar sih kalau kakek keras kepala", pikir si Ayana.
Beberapa saat kemudian, entah kenapa Ayana merasa tak kunjung sampai ke sekolah. Ayana pun menyadari sesuatu, "kakek !, kalau mau menuju ke sekolah bukan lewat jalan ini melainkan sebaliknya !". Setelah mendengarnya, seketika kakek menghentikan motornya dan diam sejenak kemudian berkata:"oh iya !, maaf ya kakek lupa pula ada kamu". Lalu pun kakek balik lagi menuju ke sekolah. Sesampainya di sekolah, kakek pun bertanya:" kenapa kamu begitu awal masuk sekolah ?". Ayana menjawab dengan heran :" sekarang kan sudah pukul 08.25, lima menit lagi sudah masuk sekolah". Lagi-lagi kakek berdiam sejenak lalu berkata:"eh iya, ya sudah kamu cepat masuk sana nanti terlambat !". "Baik kek", jawab Ayana. Kakek pun pulang dan Ayana segera menuju ke kelasnya. Di tengah perjalanan menuju kek kelas, Ayana pun berpikir :" hari ini kakek kenapa ya ?, Biasanya beliau tidak seperti ini. Apa dikarenakan usia kakek yang sudah tua ?".
Selepas sekolah, seperti biasa Ayana pulang dengan berjalan kaki. Sesampainya di rumah, Ayana melihat ada dua orang yang sedang berdiri didepan rumah terlihat gelisah. Ayana pun mencoba mendekati mereka dan ternyata mereka adalah orangtuanya Ayana, Ayana pun bertanya:" pa, ma, kapan kalian pulang ? Bukannya sedang kerja ? Lalu mengapa kalian terlihat begitu gelisah ?". Mamanya hanya diam, sedangkan papanya perlahan memegang bahunya dan bertanya:" Nak, apakah kamu tau kakekmu sedang berada dimana ?". Ayana pun menjawab : "memangnya kakek dimana lagi selain di rumah ?". Setelah mendengar jawabannya Ayana, papanya hanya diam lalu berkata : "saat kami pulang sampai sekarang. Kakekmu tak kunjung balik ". Mendengar hal itu, seketika isi kepala Ayana terasa kosong. Kekosongan tersebut diisi oleh rasa heran dan rasa takut atas kehilangan kakek. Wajahnya mulai memucat, seluruh tubuhnya mulai bergetar, seketika kedua kakinya melemas dan perlahan Ayana terjatuh. Papanya yang melihat keadaan si Ayana, pun menyuruhnya agar jangan khawatir dan segeralah masuk masuk ke kamar. Mamanya sudah menelepon polisi untuk membantu mencari kakek. Semua orang mengerahkan seluruh usaha mereka dalam pencarian kakek, sedangkan Ayana tidak melakukan apa-apa bagaikan patung aja. Ayana berbaring di kasur dan diam sejenak. Beberapa saat kemudian, ia mulai mengeluarkan air mata karena ia merasa tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membantu mereka. Yang bisa Ayana lakukan hanyalah berdoa agar kakeknya dapat ditemukan dalam keadaan sehat.
Tanpa sadar Ayana tertidur, kemudian ia melihat kearah jam. Ternyata sudah jam 3 sore. Tiba-tiba ada sesuatu yang terlintas dipikirannya, yaitu Sungai Kentara. Entah kenapa dan bagaimana Ayana bisa memikirkan Sungai Kentara, tetapi ia merasa bahwa sungai itu ada kaitannya dengan kehilangan kakeknya. Seketika Ayana bangkit dari kasur dan segera lari keluar dari rumahnya. Ia lari sekencang mungkin menuju ke Sungai Kentara tersebut. Sesampainya di sungai itu, ia melihat seseorang yang tidak terasa asing baginya, dan ternyata orang itu adalah kakeknya si Ayana.
Air pun keluar dari matanya seketika membanjiri mukanya, ia segera berlari kearah kakeknya sambil menjerit: "kenapa kakek menghilang secara tiba-tiba ?, semua orang mencemaskan kakek tau !". Kakeknya dengan muka terkejut dan juga kebingungan berkata :"kamu kenapa menjerit-jerit nak ? lalu kamu siapa ?". Ayana yang mendengar itu seketika berhenti dan berdiam sejenak. " saya adalah cucu kakek ! harusnya kakek tau !" jawab
Ayana . Kakeknya keliatan semakin bingung dan berkata: "cucuku masih berumur dua tahun dan sekarang dia bersama ayah dan ibunya". Ayana pun mulai ragu-ragu untuk bertanya tahun berapakah ini dan beliau malah menjawab tahun 2010.
Akhirnya Ayana yakin bahwa kakeknya benar-benar sudah pikun. Ia hanya bisa berdiam diri dan menerima kenyataan. Tiba-tiba kakek menyuruhnya kemari dan duduk disampingnya. Seperti biasa Ayana pun hanya menurut dan duduk disampingnya. Kemudian kakeknya bercerita ketika dulu beliau masih muda, beliau dan keluarganya meliputi istri dan anaknya sering datang kesini dan menikmati pemandangan Sungai Kentara yang indah. Beliau mengatakan bahwa dulunya Sungai Kentara ini sangatlah indah, airnya sangatlah jernih dan segar. Benar-benar pemandangan yang memanjakan mata. Beliau juga mengatakan bahwa sungai ini memiliki banyak kenangan.
Tetapi seiring berjalannya waktu, kesehatan istrinya memburuk dan akhirnya meninggalkan nya . Begitu juga dengan Sungai Kentara, semakin lama semakin kotor dan bau apalagi semenjak anaknya mendapatkan pekerjaan, anaknya lebih mementingkan pekerjaan dari padanya, bahkan sangat jarang untuk menjenguknya.
Awalnya kakek berpikir bahwa beliau akan sendirian terus sampai akhir hayatnya . Tetapi semenjak Ayana hadir di kehidupannya. Kakeknya pun mulai menunjukkan senyumannya yang sudah lama tidak ditunjukkannya. Ayan yang mendengarkannya pun mulai mengeluarkan tangisan terharu akan cerita kakeknya. Tiba-tiba dia melihat sosok bayangan masa kecilnya bersama mama,papa, dan kakeknya yang sedang bersenang di Sungai Kentara ini.
Singkat cerita Ayana pun mengantar kakeknya pulang ke rumah.
" giliran Ayana yang mengantar kakek pulang ya ".
Fin.