"Selamat pagi, Al---"
"Keluarkan aku dari sini!" Bergegas pemuda itu beringsut.
Meski telah mendengar teriakan yang menusuk, wajah cantik si gadis masih datar tanpa emosi.
"Aku sudah muak! Apa ini? Kau ingin menguburku hidup-hidup? Di mana-mana hanya ada kuburan, batu nisan, pohon mati. Aku takut, takut ...."
"Allen, tidak bisa. Aku---"
"Seharusnya kita merayakan pesta Halloween hari ini! Aku rindu makan bersama keluargaku, adik-adikku ... rasanya lapar dan haus. Keluarkan aku ... mohon."
"Allen, aku bisa menghilangkan rasa lapar dan hausmu. Jangan menangis, semua akan baik-baik saja."
"Apa maksudmu? Dan ... baik? Tinggal di tempat seperti ini baik? Tidak ada tanda kehidupan di sini! Hanya aku ... kamu, dan makam yang tersebar. Pepohonan kering. Abu-abu. Setiap aku memejamkan mata mengenyahkan itu semua, kamu selalu berkata 'selamat pagi' ketika aku kembali membuka mata. Jenuh! Aku bosan mendengarnya! Seolah-olah ini adalah hal yang wajar!"
Ekspresi seperti menelan asam, tangisnya kembali pecah dalam emosi. "Aku lelah, kau dengar? Aku lelah!"
"Maaf, Allen."
Hening menenggelamkan mereka. Tak lama hingga sang pemuda kembali membuka mulut.
"Ah, tidak-tidak, jangan meminta maaf. Aku yang salah. Maaf sudah membentakmu. Aku hanya ... emh, terlalu banyak pikiran, padahal kita sama-sama terjebak di sini. Aku tidak bisa tidur, pusing, akhirnya meledak. Maaf sudah kasar."
Masih di posisi yang sama, pemuda itu mulai memeluk lutut. Menunduk. "Maaf sudah berlebihan. Aku hanya ... bingung, kenapa bisa ada di sini? Di mana jalan keluar?"
"Tidak ada jalan keluar, Allen."
Pemuda itu mendongak. Mata biru tegas menatap si gadis. "Pasti ada, ayo, kita cari lagi."
"Ah, ke mana?"
"Tidak tahu ... coba saja berjalan dulu. Maaf, permisi."
"Eeeeh?! Apa yang kamu lakukan? Rok---rokku!"
"Jangan berpikiran jelek! Kotor, mencolok sekali debu menempel karena warnanya krim susu dibalik gaun hitam, jadi aku bersihkan. Lagi pula rokmu panjang, tak akan terlihat."
Semburat merah jelas terlukis di pipi si gadis.
"Ahahaha, bercanda. Aku hanya ... mencairkan suasana. Ah, tidak enak. Tadi aku langsung memarahimu. Jadi ... umh, di sini hanya ada debu, kelam, duduk harus hati-hati. Kan, bajuku kotor karena tadi tidur di lantai berbatuan tak rata itu. Suram, bahkan langit tak berwarna. Ke mana matahari? Awan pun tak ada."
"Mungkin ... lebih baik seperti ini, suasana Halloween terasa lebih nyata, 'kan?"
Lelaki itu terdiam, sejenak. "Tidak. Ayo, lebih cepat mencari lebih cepat ketemu."
"Iya. Allen, tanganmu hangat, seperti biasa."
"Dan kamu dingin seperti biasa. Katakan padaku jika merasa sakit atau tidak enak, ya?"
"Ummm, terima kasih. Allen, kamu baik. Terlalu baik. Membuatku ... takut."
"Baik? Tiba-tiba memarahimu tanpa sebab, baik? Ahahaha."
Si gadis terdiam, merunduk dengan erat menggenggam tangan Allen. Masih menelusuri tempat serupa taman yang ditinggalkan selama berpuluh tahun.
"Allen, bagaimana rasanya jika ... ditinggal pergi?"
"Maksudmu? Oh, itu. Takut yang kamu ucap tadi takut jika ditinggal?"
Lawan bicara tak menjawab.
"Aku tidak akan pergi."
"Janji?"
"Ya. Lagi pula, hanya ada kita. Pada siapa lagi aku ...."
Si gadis tersenyum manis di bibirnya yang tipis. "Aku senang, cuma ada kita. Jadi bisa lebih dekat."
"Hah?!" Allen meninggikan suara. Jelas tergambar rasa bingung dan heran di dalamnya, membuat si gadis kembali merunduk.
Sunyi.
"Hey, itu."
"Apa?"
"Jangan menunduk terus. Lihat ke arah mana jariku menunjuk."
"Pancuran? Air mancur batu putih?"
"Iya, lumayan sulit dilihat dari sini, patung air mancurnya yang mencolok. Ah, entah hutan atau apa ... kumpulan pohon kering ini sedikit menghalangi. Lebih baik ke sana. Mungkin, kita bisa minum."
"Allen, pelan-pelan."
"Lebih cepat lebih baik."
"... Percuma."
"Tidak ada kata percuma jika kita belum mencoba."
"Allen, kamu selalu optimis."
"Cara untuk bertahan hidup, kau tahu?"
"Iya, tapi percuma."
"Ti ... Tidak."
"Sudah kukatakan, 'kan?"
"Ahhh, aku tak paham. Apa-apaan ini. Segalanya mati. Segalanya rusak."
"Sudah rusak, yah, patung malaikat itu tidak ada kepalanya." Si gadis cekikikan.
"Aaakh!" Si pemuda membanting badan pada pinggiran air mancur. "Tempat apa ini. Kota mati? Sudah berapa lama kita terjebak?"
"Allen, hati-hati jika duduk."
"Masa bodoh, aku sudah tidak peduli lagi. Kamu juga duduk, dekat sekali."
"Ah ... maaf, aku akan menjauh---"
"Tidak! Tidak apa-apa. Sini."
"Tanganmu hangat, Allen."
"Iya, aku tahu. Maaf. Pikiran sedikit kacau."
"Optimis, Allen."
"Iya, optimis. Haaah. Aku ingin mencoba tidur lagi, tapi sepertinya percuma. Aku tidak mengantuk sama sekali. Lagi pula, aku tidur hanya berharap jika ini mimpi. Lalu terbangun sudah di atas kasur. Namun ...."
"Tidur .... Allen, apa kamu tahu tentang Nightmare Syndrome?"
"Hem? Ya, pernah dengar. Itu suatu kutukan dari iblis yang membuat orang tidak bisa bangun dari tidurnya, kemudian merenggut jiwa perlahan. Seperti pergi ke dunia satu arah. Tunggu, kita mengidap Nightmare Syndrome? Apa kita di dalam dunia itu? Ini semua ... kuburan, 'kan? Apa kita akan mati?" Raut Allen menggambarkan tidak percaya.
Senyap, hingga tawa si gadis pecah dan bergema ke seluruh penjuru. "Aaah, maaf Allen aku berlebihan. Eh, kamu ikut tertawa? Meski ... dipaksa."
"Ya. Aku pikir, otak kita mungkin kacau terlalu lama di tempat ini. Ahahaha."
"Air mancur ... tidak seperti apa yang kamu bayangkan."
"Begitulah. Lagi pula aku sudah tidak haus lagi."
"Karena aku menghilangkan dahaga dan laparmu, Allen."
"Aku tak paham."
"Tidak ada yang perlu kamu pahami, Allen. Lalu, bagaimana pendapatmu tentang kematian?"
"Huh? Semua orang akan mati. Pasti."
"Bagaimana jika orang di sekitar kamu mati?"
"Tentu saja sedih."
"Iya ...," gumam si gadis dengan nada rendah.
Mengetahui gelagat murung dari lawan bicara, pemuda ini menarik napas panjang. "Namun tidak ada yang perlu disesali karena itu pasti akan terjadi. Jika kita hidup dalam mimpi ... yah, selama kita masih bisa mengingat mereka, akan terus terkenang."
Gurat sabit jelas terukir di bibir merah muda. "Benar ... itu yang aku suka darimu, Allen. Pikiran kita sama."
"H-haaah? Sudah cukup basa-basinya. Ayo, kita pergi lagi."
"Allen, sini. di belakangmu."
"Apanya yang---oh, astaga! Ke mana air mancurnya?! Kenapa tiba-tiba ... ini benar-benar pemakaman! Sebelumnya hanya ... dan meja pesta?! Apa-apaan ini?"
"Allen kamu ingin merayakan Halloween bukan? Aku bisa mewujudkan segalanya di sini! Ayo, aku sudah siapkan semuanya! Mari kita datangkan kue!"
"Kamu tahu tempat ini?! Sudah kuduga, ada yang tidak beres!"
Alih-alih, bibir merah tersebut menggumam. "Heeem, Allen, kamu masih tidak mengerti juga. Kau tahu? Di malam 31 Oktober para iblis terbebas ke dunia manusia, agar kehadirannya tidak dicurigai maka terciptalah pesta Halloween!"
"Mengerti? Apa maksudnya?! Keluarkan aku dari sini!"
"Trick or Treat! Aku tidak menyangka kamu akan memilih Trick! Ah, apa kamu benar ingin keluar?"
"Tentu saja! Kau ...!"
"Itu, pintu."
"Pintu? Sejak kapan---ini tidak menempel di tembok, hanya berdiri ... lupakan!"
"Kau suka, Allen?"
Memasuki pintu, terlihat pohon besar di tengah genangan air dan dikelilingi berbagai tumbuhan. Gaun hitam yang dikenakan berkibas, juga rambutnya yang memanjang. Ia tak kunjung menderap langkah, masih mematung menatap punggung sang pemuda.
"Untuk apa? Aku yang membawamu ke sini, inilah Trick milikku! Menyeret mereka semua dalam mimpi, sehingga tidak ada lagi kematian. Bukankah ini keinginan terindah? Kami para iblis membuat impian kalian menjadi nyata di malam Halloween!"
Tanpa suara sedikitpun, sosok si gadis sudah tepat di depan mata. Mulutnya tersenyum lebar seolah-olah bisa robek kapan saja dengan bola mata hitam nyala merah bagai berlubang. "Iya, teruslah berwajah seperti itu! Mari kita hidup abadi dalam ingatanku, seperti yang kamu katakan. Seperti janjimu tidak akan meninggalkanku. Terus ... hingga kamu mati termakan oleh ingatanku sendiri. Happy Halloween!"