Diandra terkesiap melihat wajah menyeringai saat membuka pagar rumahnya. Ia mengucek matanya yang tanpa kacamata, setelah dilihat dengan seksama ternyata itu hanya lampu halloween yang dibuatnya kemarin.
"Bikin kaget aja!"
Ia tak mengira lampu halloween itu bisa menyeramkan juga.
Ia kemudian teringat akhir pekan lalu. Diandra bersama Billy dan kedua orang tuanya pergi ke Pengalengan ke rumah tantenya.
Saat itu sedang panen selada, cabai, dan wortel. Diandra diajak ikut memetik hasil panen di ladang.
Ketika sore hari, Diandra melihat sebuah labu cukup besar menyembul di tengah ladang. Hampir tak terlihat.
"Tan itu kok labu cuma sendirian?" Tanya Diandra.
"Mana?"
"Itu di tengah ladang." Tunjuk Diandra.
"Seingat tante, tante gak nanem labu. Mungkin tumbuh sendiri."
"Hmmm..."
Diandra berpikir kalau labu itu bisa dibuat lampu halloween kayaknya lumayan juga, pikirnya.
"Buat aku boleh?"
"Ambil aja. Tapi lekas, udah keburu sore." Ujar tantenya sambil pergi.
Diandra lalu melihat labu yang telah menguning itu. Warnanya sempurna. Ia kemudian memetiknya dengan susah payah. Membopongnya ke mobil sendirian.
Pada awalnya Diandra ragu untuk menjadikannya lampu halloween karena bentuknya yang tak asimetris. Tidak bulat sempurna. Namun saat di rumah akhirnya ia melubanginya untuk membuat kedua matanya, dan mengukir senyum menyeringai dengan gerigi tajamnya. Khas halloween.
Sekarang Diandra tak ingat kalau menaruh lampu berwarna remang - remang di dalam labunya itu.
"Ah, pasti kerjaan si Billy," Ujarnya.
Ia kemudian masuk rumah. Mamanya sedang menantinya untuk mengomelinya, pasalnya ia telat pulang sekolah lagi.
***
"Ma, tiga hari lagi ada acara Halloween, Mama udah nyiapin kostum aku kan?" Tanya Diandra pada mamanya yang sedang menyetrika baju jahitan pelanggannya.
Mamanya menggeleng. "Belum sempat!"
Diandra cemberut. "Terus? Tiga hari lagi lho Ma!"
"Terus wajib ya ikut acara begituan?" Mamanya balik bertanya.
"Cuma have fun aja Ma. Semuanya ikutan." Diandra mencari alasan.
"Kan Mama tanya, wajib enggak?" Mamanya kini berhenti sejenak dan menatap mata anak gadisnya.
"Enggak Sih! Tapi masa anak Mama yang populer ini gak ikutan. Norak ah!"
Mamanya menggeleng. Ia tak habis pikir anaknya ngotot dengan acara itu. Ia melirik sebuah gambar desain gaun yang disodorkan Diandra minggu lalu. Mamanya berpikir bagaimana ia bisa membuat gaun serumit itu dalam waktu tiga hari? Dan ia belum memutuskan untuk menyetujui Diandra ikut party di halloween nanti.
***
Di sekolah, Diandra antusias membicarakan party halloween bersama teman - temannya. Mereka cekikikan dengan centilnya ketika melihat teman - teman cowok mereka lewat di koridor sekolah.
"Tuh Deryl." Ucap Shinta.
Shinta dan Maya lalu spontan mendorong Diandra tepat menabrakkan dirinya ke punggung Deryl yang lewat.
Deryl berhenti menangkap tangan Diandra. Mereka pun canggung.
Diandra melirik teman - temannya kesal.
"Ayo Din cepet ngomong." Bisik Maya kedengeran Deryl.
Deryl bingung.
"Lo gapapa kan Diandra?" Tanya Deryl.
Diandra nyegir karena malu atas acara dorong - dorongan tadi. "Iya gapapa."
"Oke, gue ke kelas dulu."
Maya dan Shinta sewooot. "Ayo cepetan ngomong."
"Enggg....Deryl bentar. Ngomong - ngomong lo ikutan acara halloween party gak besok? " Tanya Diandra ragu.
"Belum tau juga sih, kenapa?" Deryl menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Diandra menarik nafasnya. "Lo belum punya pasangan kan? Mau gak lo jadi pasangan halloween gue ntar? " Tanya Diandra malu - malu.
Deryl berpikir sejenak. "Boleh deh!" Ia mengangguk.
Diandra menahan girangnya. Ia akan berpasangan dengan cowok ganteng sesekolahnya. Yes, Diandra memekik kegirangan di depan teman - temannya.
***
Pukul 20.00 malam
Diandra pulang telat lagi. Ia membuka pagar rumahnya dan mendapati lampu halloweennya menyambutnya lagi dengan seringainya.
Diandra kaget untuk kesekian kalinya. Seolah senyuman itu berbeda setiap harinya. Dan matanya seolah hidup menatap Diandra yang selalu pulang telat.
"Kayaknya gue belum terbiasa dengan lo, Mr. Pumpkin! " Ujarnya pada lampu halloween yang ia beri nama Mr. Pumpkin itu.
Ia pun kemudian membawa labu halloween itu ke kamarnya. Meletakannya di sudut meja belajar.
"Nah kalo begini, lo gak perlu ngagetin gue pas buka pager rumah. Lo cukup duduk manis disini." Ujarnya mengajak lampu itu bicara.
***
Besoknya, Diandra pulang sekolah lebih awal untuk berdandan. Hari ini adalah hari halloween, dan nanti malam sekolah mengadakan acara halloween yang perdana.
Diandra buru - buru mencari mamanya di dapur.
"Ma, baju aku mana?" Tanya Diandra menyodorkan tangannya. Seolah meminta gaun itu cepat - cepat diberikan.
"Duh hari ini ya!" Mamanya pura - pura lupa. Ia sebenarnya tak menyetujui Diandra ikut acara party Halloween itu.
"Mama jangan - jangan sengaja gak buatin gaunnya aku kan!!!!" Diandra merasa kecewa. "Mama kok tega ngebohongin aku?"
Mamanya memegang tangan Diandra. "Sayaang..Mama bukan bohongin kamu, tapi Mama cuma pengen kamu gak ikut party itu, apalagi acaranya sampe tengah malem."
"Diandra kan udah gede Ma. Mama cari alasan aja." Diandra menepis tangan mamanya dan menangis ke kamar.
Ia tak menyangka acara halloween yang dinanti - nantikannya akan hancur karena mamanya membohonginya.
Ia melihat lampu halloweennya di sudut meja. "Mr. Pumpkin, gimana nih, gue kecewa gak bisa ikutan." Ujarnya menangis tersedu.
Ia menangis tak hentinya sampai matanya sembap dan tertidur.
Ketika magrib tiba ia terbangun dan merengut. Ia kemudian pergi mandi untuk menyegarkan badan sekaligus moodnya yang buruk karena tak jadi ikut acara halloween.
Saat keluar pintu kamar mandi, ia melihat sebuah gaun persis yang ia desain tengah terbaring di kasurnya.
Diandra terkejut. Mungkinkah mama sebenarnya membuatnya untuknya, pikirnya. Dan tadi ia membohonginya hanya untuk memberi kejutan ini? Seribu tanya Diandra.
Tanpa pikir panjang ia pun mengenakan gaun itu. Gaun yang di desain berwarna putih dengan cipratan darah palsu itu sangat detail dan sempurna.
Tingtong. Suara bel rumahnya berbunyi.
Itu pasti Deryl menjemputnya. Diandra buru - buru bersiap. Lalu membuka pintu. Dan ternyata benar Deryl.
"Udah siap?" Tanya Deryl.
"Iya. Yuk pergi. "
Deryl menawarkan tangannya, Diandra merangkulnya dengan manis. "Ma, aku pergi dulu ya. Makasih gaunnya." Ujarnya.
Mereka berjalan ke sekolah karena jaraknya dekat dengan rumah Diandra. Diandra sedikit kecewa mengapa Deryl tak menjemputnya dengan mobil Mercy papanya. Tapi ya sudahlah, ia cukup bahagia malam ini.
Beberapa saat lamanya ia berjalan, Diandra merasa perjalanan ke sekolahnya terasa begitu lama. Di sepanjang jalan ia pun terheran kenapa sepi banget.
Dilihatnya jam tangannya, masih jam 19.30.
"Kok, aneh ya, sepi banget." Ujar Diandra.
"Perasaan lo aja kali." Ucap Deryl. "Eh mending kita pake jalan pintas ini aja yuk, biar cepet sampe sekolah." Pintanya.
Diandra melihat di depannya adalah sebuah taman hutan yang terkenal angker.
"Ih nggak ah." Tolak Diandra.
"Gak usah takut, kan ada gue Di." Ujar Deryl.
Diandra agak ragu - ragu namun nampaknya ia tak punya pilihan lain selain mengikutinya karena bakal telat ke acara halloweenya.
Diandra memegang erat tangan Deryl. Ia memasuki taman yang dirimbuni pepohonan besar itu. Taman ini sepi saat siang hari apalagi saat malam hari.
Diandra menengok kanan kiri, suara burung hantu mengiringi. Hujan rintik - rintik sedari tadi juga membasahi.
"Deryl cepetan yuk. Serem nih. Baju gue juga lama - lama basah ntar." Diandra mulai cemas.
Tangan Deryl yang sedari tadi sedingin es tak menenangkan rangkulannya. Deryl tak biasanya malam ini.
Saat tiba di sekolah Deryl dan Diandra langsung menuju aula. Diandra terheran mengapa belum ada temen - temennya yang datang.
"Kok belum pada dateng ya?" Diandra terheran.
"Tunggu aja, nanti juga dateng."
Satu jam lamanya Diandra menunggu, akhirnya teman - temannya datang.
Mereka datang dengan meriah, dengan kostum yang khas dan sukses membuat Diandra yang penakut merinding. Ia mencari Maya dan Shinta tapi semua yang datang memakai topeng, ia kesulitan mengenali mereka.
Deryl bilang tidak usah khawatir, lalu ia mengajak Diandra berdansa.
Sesaat rasa cemas Diandra lenyap. Ia kemudian meraih tangan Deryl dan mereka berdiri di tengah aula disaksikan teman - temannya.
Diandra tersipu karena menjadi pusat perhatian, ia terhanyut dalam keromantisan. Ia tak menyangka pujaannya hari ini memperlakukannya dengan manis.
Mereka pun berdansa.
Saat berdansa, gaun Diandra berkibar karena gerakannya sendiri. Angin yang menyibakkan gaunnya membuatnya mencium bau amis.
Ia melihat gaunnya. Memang ada noda - noda darah sesuai desain gambarnya. Ia lalu mencuil noda darah buatan itu, dan ternyata masih basah.
Mereka sedang berdansa dalam alunan lembut, Diandra diam - diam mencium noda darah pada gaunnya. Bau amis darah asli.
Diandra mulai berpikir, "aku pikir ini cat tapi kenapa Mama memberinya darah ayam?"Diandra berpikir noda darah di gaunnya adalah darah ayam.
Sesaat ia terdiam. Dipandanginya Deryl. Ia baru menyadari kalau wajah Deryl sepucat mayat. Dan tangannya dari saat genggaman pertamanya di rumah...tak pernah hangat.
Ia tak ingin menggubrisnya, tapi hal itu terus mengganggunya. Dan ketika ia memegang leher Deryl, sesuatu seperti tato mengganjal di lehernya.
Diandra diam - diam memutari Deryl untuk melihat apa yang ada di lehernya.
Mata Diandra terbelalak alangkah terkejutnya. Memang benar seperti ada sebuah ukiran tato di leher Deryl. Dan tulisan itu adalah "Mr. Pumpkin" persis seperti yang diukir pada labu halloween miliknya di rumah.
Diandra tak bisa bernafas. Ia mencoba memahami keganjilan - keganjilan yang muncul semenjak ia datang kemari.
Deryl sendiri, tingkah lakunya, lalu gaun ini. Ia kemudian melihat ke sekeliling, pandangan - pandangan menyeramkan seakan melototinya. Entah mengapa Diandra tak mengenal mereka satupun.
Entah karena lampu remang - remang di aula atau karena ia tak memakai kacamata, Diandra seolah melihat mereka ternyata melayang tanpa kaki.
Diandra tiba - tiba merasa sesak dan pusing.
Deryl menatap Diandra dengan dingin dan tajam. "Kenapa Di?"
Diandra terlihat sepucat dirinya. Bulu kuduknya merinding.
Ia berpikir setenang mungkin walaupun sudah ketakutan.
"Gak, gue kebelet pipis. Gue ke toilet dulu ya!" Diandra berkilah.
Genggaman tangan Deryl begitu erat membuat Diandra yang panik dengan tergesa menepisnya.
Ia kemudian perlahan meninggalkan ruangan itu dengan seribu hawa dingin menusuk - nusuk tengkuknya.
Di luar aula ia berlari sekencang mungkin tanpa menoleh kebelakang. Diandra menyadari bahwa diluar malam telah semakin larut, benar - benar sepi.
Saat melewati parkiran tadi ia heran mengapa tak ada kendaraan teman - temannya satupun yang terparkir.
Dengan ketakutan ia pergi ke jalanan ramai dan mencegat taksi meninggalkan sekolahnya yang ternyata gelap.
Suara dering ponselnya tiba - tiba mengagetkannya.
Telpon dari Maya.
"Halo, Lho kok gak bales - bales pesan gue sih Di dari tadi siang. Lo tidur? Lo tau kan acara halloweennya batal gara - gara kepala sekolah tiba - tiba gak bolehin. Sore anak - anak udah dikasih tau mereka kecewa sih termasuk si Deryl yang batal ngedate sama lo. Dia bilang dia chat lo tapi gak bales - bales. Terus ini ibu lo nyariin lo, katanya lo pergi tiba - tiba masih pake baju sekolah lagi. Lo katanya jadi aneh suka ngomong sendiri. Halo Di...Diandra..."
Deg.
Diandra mencerna kata - kata temannya. Ia kemudian melihat notifikasi di ponselnya, 45 kali panggilan tak terjawab dari Mama, 10 kali panggilan dari Shinta dan puluhan chat dari Maya juga Deryl.
Menyadari semua itu ia bertanya - tanya, "lalu semua yang berpesta tadi siapa?" Diandra bergidik ketakutan membayangkan 'mereka' yang datang.
Berarti yang mereka kenakan bukanlah memakai kostum.
Tapi itu sosok nyata mereka.
Sosok yang dilihatnya tadi, sosok kunti, sosok pocong, sosok nenek - nenek, sosok tanpa kepala dan sosok - sosok menyeramkan lainnya berpesta ria di malam halloween.
***
Halo readers, dukung penulis dong, jangan lupa pencet like dan komentarnya ya...terima kasih udah baca karyaku 🙏😀