Aku adalah Aira Putri Permata, ibu dan ayah biasa memanggil namaku dengan sebutan Aira. Aku berasal dari keluarga yg sederhana, kadang kebutuhan kami tercukupi dan kadang juga tidak. Aku berumur 12 tahun dan beranjak naik kelas 2 SMP. Aku mempunyai kakak laki laki bernama Rheza Putra Pratama, kakak ku berumur 17 tahun, ia kelas 3 SMA. Tetapi dia bersekolah di pondok pesantren Khozainul Ullum, lebih tepatnya berada di Jawa Tengah. Nama ayahku adalah Deo Hans dan ibuku adalah Erly Permata Sari. Aku tinggal di Bandar Lampung...
Suatu hari, aku ingin berangkat ke sekolah. Dan ayahku ingin berangkat kerja, ayahku bekerja sebagai kuli bangunan, ibuku hanya seorang guru tk honorer...
Ayahhh, ibuuu. Ade berangkat yaa (Ujar ku)
Iya sayang, hati hati ya (Jawab ibuku)
Iya nak, kamu hati hati dijalan (Tambah Ayahku)
Iya bu, yah... (Ucapku dan sembari bersalaman dengan kedua orangtuaku)
Selepasnya aku berpamitan, aku pun bergegas pergi ke sekolah. Aku bersekolah di SMPN 24 B. Lampung. Aku sudah terbiasa pergi dan pulang dari sekolah mengendarai angkutan umum...
Bang (Ujarku sambil menyetop angkutan umum yg lewat)
24 ga bang?!! (Tanyaku kepada supir angkutan umum)
Iya dek (Jawab abangnya)
Aku pun langsung menaikkan angkutan umur tersebut dan sesampainya di sekolah...
Ini bang uangnya (Aku menyerahkan uang ongkos yaitu sekitar Rp 2.000,00)
Iya dek, mkasih ya (Ujar abang abang itu)
Iya bang sama sama (Jawabku)
Aku pun langsung bergegas masuk ke dalam gerbang sekolah dan mencari titik letak kelasku. Dan setibanya aku dikelas, aku langsung disambut oleh kedua sahabat terbaikku, yaitu Novina Ardilla Rossa [[Vina]] & Ni Nyoman Aprilia Putri Artani [[April: Non Muslim]] Aku pun langsung menyapa mereka berdua...
Hi Vina, April.... (Ujarku)
Hii Airaaaaa, Akhirnya kamu datang juga (Jawab Vina)
Iya, kita nungguin kamu lho daritadi (Tambah April)
Iya maaf ya aku terlambat sedikit (Pintaku)
Iya gapapa, ayo buruan taruh tas mu. Bel sebentar lagi berbunyi (Ujar Vina)
Aku pun langsung menaruh tas ku di bangku tempat dudukku... Ya seperti anak anak pada umumnya, tradisi turun temurun anak Indonesia. Sesudah baris berbaris dan masuk satu persatu kedalam kelas, Selanjutnya membaca do'a untuk menuntut ilmu dan menyanyikan lagu kebangsaan, lebih tepatnya "Indonesia Raya"
Indonesia Raya, Merdeka Merdeka, Tanahkuu Negerikuu yg kucintaaa. Indonesia Raya, merdeka merdeka, hiduplah Indonesia Raya (Laguan kami)
Selanjutnya, ibu guru pun langsung memberikan tugas mata pelajaran hari ini. Yaitu Pkn, Ipa, dan Penjas...
Ayo anak anak, silahkan kumpul tugas yg ibu berikan tadi. siapa yg sudah langsung kumpul di depan ya (Ujar bu Suhita, Yaitu guruku)
Iya buuuu (Smua murid termasuk aku)
Akhirnya jam yg dinanti nanti yaitu bel istirahat...
Kringg.... Kringg....
Yuhuuuu istirahaattttt (Ujar semua murid murid)
Ayo Aira, kita ke kantin. Aku akan mentraktir kalian semua (Ujar Vina)
Wah kamu srius Vin?!! (Jawabku)
Iya (Tambah Vina)
Asyikk, aku bisa makan sepuasnya (Ujar April)
Begitu juga seterusnya, hari hari kulalui tanpa ada rasa canggung. Hari, Bulan, Tahun kini telah berganti. Tak terasa, aku kini sudah sarjana, dn kakak ku sudah pulang dari pondok pesantrennya dan mempunyai kehidupan sendiri. Ya... Dia sudah menikah dan mempunyai seorang anak, Tak terasa pula. Ayah dan ibuku yg kini amat sudah menua, rambutnya yg sudah putih, Kulitnya yg sudah kriput telah menutupi semua bagian tubuhnya...
Ayah ibuuuuu, lihat akuu (Semangatku sambil menunjukkan Baju sarjanaku)
Wah, anak ayah sudah sarjana, selamat ya nak (Ujar ayahku)
Iya ayah, ini juga berkat ayah, karena selama ini ayah telah mendidikku dan menafkahiku dengan kringat ayah. Mungkin aku tidak bisa membalas jasamu, namun jasamu akan selalu ada di benakku (Jawabku)
Selamat ya sayang, anak ibu sudah sarjana. Sudah besar, Kamu makin cantik (Tambah ibuku)
Terima kasih ibu (Aku pun memeluk ibuku sambil menangis)
Bu, trima kasih. Tanpa ibu aku bukan siapa siapa, tanpa ayah aku ga akan bisa jadi seperti ini. Kalian adalah orang yg amat aku sayangi, Semoga kalian bisa melihat anak sampai cucuku nanti. Maafin Aira, Aira ga bisa balas jasa ibu dan ayah. Aira hanya bisa memendamnya (Ujarku)
Tidak apa nak, kamu kenapa menangis. melihatmu memakai topi sarjana ini saja ibu dan ayah sudah bangga. Terima kasih telah menjadi anak yg bisa membanggakan kami, walaupun kita tidak berasal dari keluarga yg sejahtera. Namun apapun akan ibu dan ayah lakukan agar kamu dan kakakmu bisa menjadi anak yg sukses, jangan seperti ayah dan ibumu ini. Kerja saja pas pas an, gaji ibu dan ayah saja kadang tidak cukup untuk kita makan. Tetapi ibu sama ayah bangga kamu dan kakakmu dapat mengangkat derajat kami nak (Tambah ibuku)
Ingat ya nak, jika kamu telah sukses. pikirkanlah kehidupan orang dibawahmu. Seringlah sedekah, Jangan tinggalkan sholat, Perbanyaklah dzikir dan baca Al Qur'an. Janji sama ayah (Pinta ayahku)
Aira janji ayah, ibu. Aira akan turuti permintaan kalian (Jawabku)
Tidak selang lama dari itu, ayahku meninggalkan ku, ibuku dan kakakku untuk selama lamanya. Dan tidak selang lama dari ayahku, ibuku menyusul ayahku. Kini aku tidak punya seorang yg selalu menyemangatiku, dua orang yg ku syang. kini telah tiada, meninggalkanku untuk selama lamanya. Aku baru sadar, itulah permintaan terakhir mereka. Maka dari sini, janganlah kalian melawan dan durhaka kepada kedua orang tua. Tanpa mereka, kalian itu bukan siapa siapa. Tanpa kalian, kalian itu tidak bisa hidup! Sekali saja kalian durhaka kepada mereka, bau neraka pun sudah tercium dibenak kita. Janganlah melawan nasihat kedua orangtua terlebih lagi kepada seorang ibu, surga berada di telapak kakinya. Jika kita berdosa kepadanya, jauhlah surga itu. Bagi seorang kaum muslimin dan muslimat, Jangan pernah lah kalian durhaka kepada seorang ibu. Ingat lah jasa jasanya "Mengandung selama 9 bulan, melahirkan dengan taruhan nyawa, dan menyusuinya tanpa letih dan merawatnya tanpa ada kata lelah"
Sekian dari saya, apabila ada salah kata, saya mohon maaf...
Penulis: Clarissa Putri Dhewantary ☺