Terkadang sebuah rahasia kecil bisa menjadi pintu untuk hal-hal besar. Jagalah rahasia-rahasia kecil di antara kita, hingga pada saat yang tepat ia berdampak besar bagi kehidupan kecil kita.
Dengan mata masih terpejam, Rawi mendengar sayup suara orang menyapu halaman depan rumah diiringi kokok ayam sahut menyahut. Sesekali suara panggilan tukang jamu gendong, atau piring yang sengaja didentingkan dengan sendok oleh tukang bubur, serta terompet tukang roti seolah berusaha mengusik Rawi untuk segera bangun dari tidurnya.
Melalui jendela kamar, cahaya matahari menerobos masuk dan tak pelak membuat Rawi membuka matanya yang terasa sepat. Ingatan tentang acara pengajian semalam di rumahnya menggenapi kesadarannya. Ini hari ke delapan sejak kematian adik kesayangannya yang terpaut usia delapan tahun lebih muda. Adiknya meninggal di usia yang bahkan belum genap lima belas tahun. Selama tujuh hari berturut-turut digelar acara pengajian untuk mendoakan keselamatan arwah adiknya di alam kubur. Rasanya Rawi masih tak ingin percaya, meski sebulan sebelum kematiannya, Adit mengalami sakit yang parah, yang seolah memberi kabar bahwa selayaknya Adit beristirahat dengan lebih tenang melalui kematiannya.
Bangkit dari tempat tidur, Rawi keluar hanya mengenakan celana pendek biru berbahan jersey dari kamarnya yang sempit di lantai dua menuju balkon kecil tempat dia biasa merenung. Sepulang dari masjid untuk salat subuh tadi, Rawi yang biasanya membaca Alquran menyongsong waktu syuruk, memilih untuk tidur entah karena rasa kantuk atau ingatan terakhir salat subuh bersama Adit membuatnya pilu.
Bagaimana tidak pilu, di masjid Nurul Fitrah, tempat mereka biasa melaksanakan ibadah, Adit mendadak pingsan tanpa aba-aba di saat imam tengah menyelesaikan bacaan Al Fatihah. Saat itu Rawi langsung membatalkan salatnya dan membopong Adit untuk meminta pertolongan. Beberapa orang di barisan belakang turut membatalkan salat dan membantu Rawi membawa pulang Adit.
Rawi melihat ibunya masih menyapu halaman depan. Meski cukup jauh, Rawi bisa melihat raut kesedihan di wajah ibunya yang dibingkai jilbab kaos warna krem. Di salah satu sudut halaman tampak setumpuk daun rambutan kering. Setelah selesai menyapu, ibunya akan membakar sampah kering tersebut. Rawi menarik napas iba, tentu saja ibunya merasa jauh lebih sedih darinya.
Rawi menyandarkan punggungnya hingga kepalanya terantuk ke dinding. Membiarkan sinar matahari menghangatkan dadanya yang terbuka. Suara burung-burung prenjak di pucuk-pucuk pohon rambutan menuntunnya untuk memejamkan mata. Tak berapa lama, seorang pria berpakaian training melewati jalan depan rumah Rawi dengan berlari-lari kecil. Pria tersebut menghentikan larinya dan menyapa Rawi, “Bang Rawi! Nggak lari nih?”
Rawi menegakkan tubuhnya, berdiri dan menopang tubuh dengan dua tangan dilipat di pagar besi balkon. Dia menyahut, “Nggak dulu deh, gue baru bangun, Man.”
Pria tersebut melambaikan tangan dan kembali berlari. Ingatan Rawi mengawang pada kali terakhir dia dan Adit lari pagi bersama. Adit tidak terlalu suka berolahraga. Dan memang tidak bisa berolahraga terlalu berat. Lari pagi adalah olahraga yang tidak pernah bisa ditolak Adit saat Rawi mengajaknya. Ah.. sejak sepeninggal Adit, baru disadari Rawi meninggalkan kebiasaan tersebut sepanjang delapan hari terakhir.
“Mandi sana, Wi!” Seru ibunya dari bawah.
“Masih pagi, Mak!”
“Ya justru karena masih pagi, Wi. Bapak lagi ke tempat Pak RT. Entar kamu anterin Bapak ke tempat Cang Ipin. Dia gak bisa datang ngaji semalem kan, kue-kue dan besek bawain aja ke sana. Emak udah beli ketan tadi, sarapan dulu sebelum jalan.”
Ibunya pun pergi masuk ke dalam rumah. Rawi masih bertengger di pinggir balkon, kini berbalik memunggungi jalan, punggungnya yang terbuka menantang matahari. Kini panasnya matahari mulai terasa dan bulir keringat mulai tampak di punggungnya. Dia masih termenung sejenak. Entahlah, masih saja dalam pikirannya berkelebat kenangan-kenangan bersama Adit. Ini sudah hari ke delapan, mengapa tak juga berkurang rasa kehilangannya.
Rawi ingat betul ada rahasia kecil yang diminta orang tuanya untuk tetap dijaga. Rahasia kecil tentang Adit yang harus disimpannya sejak kecil. Rahasia yang menjadi alasan mengapa keluarga mereka pindah dari rumah di Jakarta Pusat ke pelosok Cimanggis. Yang Adit ketahui hanya bahwa dia lahir di Jakarta kemudian mereka pindah ke Depok.
Bicara soal rahasia, karena terpengaruh oleh film-film dari Barat hasil menonton di televisi tetangga, Rawi mengajak Adit yang masih kelas tiga sekolah dasar untuk menimbun ‘rahasia kecil’ untuk masa depan. Mereka menuliskan di atas kertas kecil tentang rahasia diri mereka yang ingin mereka ingat di masa depan, kertas tersebut ditaruh di dalam botol kaca bekas parfum ayah mereka dan ditimbun di tanah belakang rumah. Mereka berjanji hanya akan membukanya setelah mereka dewasa atau saat tanah di belakang rumah di jual ayah mereka.
Keseruan itu benar-benar hanya hal konyol belaka. Karena saat Adit memasuki SMP, bocah itu mengakui pada kakaknya kalau dia menggali tempat rahasia mereka dan membuang catatannya karena merasa malu menuliskan hal-hal bodoh. Rawi tak terlalu ambil pusing karena sebenarnya dia pun hanya memasukkan lembar kosong ke dalam botol tersebut. Saat itu Rawi berujar bijak pada adiknya,
“Biarin aja, Dek. Rahasia tetap jadi rahasia. Sebuah rahasia kecil, meskipun konyol, mungkin saja berdampak besar bagi kita. Dengan membuang botol itu dan merasa kalau tulisanmu tak berarti, sebenarnya kamu menemukan bahwa saat ini ada hal lain yang lebih penting yang perlu kita pikirkan. Kamu belajar menjadi dewasa.”
“Aku kan baru SMP, Bang. Aku nggak mau jadi tua. Abang juga jangan buru-buru tua.”
Rawi tertawa mendengar ucapan adiknya itu dan memeluk sambil mengacak-acak rambutnya. Sebentar saja, bocah itu sudah berontak dan mereka sudah beradu jotos menunjukkan kekuatan masing-masing. Canda khas mereka adalah saat Adit berhasil meninju dada bidang kakaknya dan Rawi menjerit berpura-pura kesakitan mendapat pukulan lemah adiknya. Mereka tertawa bersama. Pertumbuhan fisik Adit yang lambat membuat Rawi merasa bertanggung jawab atas dirinya. Dalam hati Rawi berjanji untuk selalu menjaga adiknya. Dan perasaan itulah yang paling membuatnya terpukul atas meninggalnya Adit.
Turun ke lantai bawah, dari anak tangga terakhir Rawi bisa melihat ibunya duduk lesu di bibir ranjang di kamar Adit yang pintunya terbuka. Ada buku di tangannya yang sepertinya menjadi alasan kelesuan ibunya.
“Kenapa, Mak?” Rawi bertanya di ambang pintu.
Ibunya mengangkat kepala dan melihat Rawi dengan mata berkaca-kaca.
“Barusan Emak beberes kamarnya Adit, Wi… Emak baru inget kalau selama sakit Adit selalu minta buku buat dibaca. Nih kamu baca deh. Dia nulis tentang kamu di buku ini.”
Adit mengerutkan keningnya. Dia meraih buku novel terjemahan berjudul Family Life karya Akhil Sharma. Buku yang diberikan Rawi sebagai hadiah ulang tahun terakhir Adit sebelum akhirnya dia jatuh sakit. Rawi menelan ludah, seperti tak siap dengan apa yang akan dibacanya. Buku tersebut murni tak pernah dia tahu isinya, dia membelinya atas rekomendasi teman perempuannya. Dari sudut matanya dia melihat ibunya pergi meninggalkan dirinya yang bersandar di pinggir pintu.
Adit membuka halaman demi halaman buku tersebut. Tak ada apapun di halaman depan, semua berisi tulisan. Sampai pada halaman biografi penulis, iklan dan halaman kosong di bagian belakang. Ada beberapa tulisan yang Rawi kenal sebagai tulisan Adit.
Kalimat pertama Adit menulis, “Aku mau sembuh, Emak.”
Satu kalimat tersebut langsung membuat kedua mata Rawi memanas. Dia menghela napas dan memutuskan untuk duduk di bibir ranjang. Baru satu kalimat sudah membuat pikirannya berlarian mengingat saat-saat Adit dirawat di rumah sakit. Kemudian juga saat keluarga mereka tak bisa melanjutkan perawatan di rumah sakit sehingga harus dilanjutkan berobat jalan dengan merawatnya di rumah. Rawi yang hanya kerja serabutan, ikut berjuang mencari uang untuk menebus biaya pengobatan Adit. Sehingga membuatnya jarang menjenguknya di kamar. Kata dokter liver Adit sudah kena. Sekali salah makan, anfal sudah.
Kalimat kedua Adit menulis, “Aku mau lari lagi sama Abang.”
Rawi masih berusaha membendung goncangan yang mendadak menghantam dadanya saat membaca kalimat tersebut.
Kalimat ketiga Adit menulis, “Aku nggak mau kayak Ajay yang merasa tersingkir karena ibunya merawat Birju. Aku sakit begini, Bang Rawi nggak merasa tersingkir, ‘kan?”
Rawi menebak Ajay dan Birju adalah tokoh dalam buku tersebut. Dia tak sampai hati membaca responnya terhadap cerita tersebut. Rawi berjanji akan membaca buku itu sehingga tahu seperti apa perasaan Adit saat membacanya.
Kalimat keempat berada di halaman terakhir yang kosong, ditulis dengan cukup panjang dibandingkan dengan tiga kalimat sebelumnya. Rawi menarik napas, mempersiapkan diri.
Adit menulis, “Aku kecewa sama Bang Rawi. Waktu aku gali itu botol di tanah belakang, Bang Rawi cuma taruh kertas kosong. Dan aku juga kecewa dengan Bang Rawi karena ternyata rahasia yang Bang Rawi simpan ada hubungannya denganku. Akhirnya aku tahu kalau aku sama Bang Rawi bukan saudara kandung. Apa karena itu Bang Rawi jarang nengokin aku saat aku dirawat. Aku tahu dari Cang Ipin yang ngobrol sama Bapak di rumah sakit. Mereka pikir aku lagi tidur, padahal aku dengar semuanya. Kenapa Bang Rawi nggak cerita soal ini? Aku sebenarnya anak siapa, Bang? Aku juga nggak berani nanya ke Emak. Aku tahu Emak pasti bakal sedih,…”
Rawi tak tahan, matanya sudah kian memanas, air mata sudah merembes. Rahasia kecil yang sebenarnya ingin dia tulis dulu namun diurungkan, menjadi luka saat Adit menemukannya. Rawi ingat betul saat itu dia berniat menulis, “Allah kasih Adit di saat Abang kesepian, siapapun Adit, Bang Rawi adalah abang Adit. Sampai kapan pun, sampai tua sekalipun.”
Tulisan Adit berlanjut, “Tapi aku kecewa cuma karena itu, aku tetap senang punya abang kayak Bang Rawi. Padahal Bang Rawi tahu kalau aku adik tiri, tapi Bang Rawi bener-bener jadi abang buatku. Aku yang katanya nggak bakal bisa tumbuh besar ini, mustahil bisa bertahan dari ejekan atau ledekan temen-temen tanpa Bang Rawi yang selalu kasih semangat dan benar-benar ngelindungin aku. Aku nggak mau punya abang yang lain. Aku cuma mau Bang Rawi. Emak, Bapak, Abang…Adit minta maaf karena udah nyusahin semua. Adit nggak bisa ngomong langsung karena pasti nggak bakal keluar kalimatnya.”
Rahasia kecil itu sudah meluruh. Membuka luka baru.
Tumpah sudah air mata Rawi. Sesekali terdengar isaknya di tengah tangisnya yang tak bersuara. Rawi mengingat pesan terakhirnya pada Adit perihal menjaga rahasia, “Jagalah rahasia-rahasia kecil di antara kita, hingga pada saat yang tepat ia berdampak besar bagi kehidupan kecil kita.”Rawi tidak merasa gagal. Dia berhasil menjaga rahasia tersebut sepanjang hidupnya. Namun Allah mengizinkan Adit mengetahuinya, meski di saat-saat terakhir hidupnya