"Kak, ini espresso coffee nya. Terima kasih atas pesanannya." Seru pelayan kedai kopi. Seorang gadis dengan sebuah novel ditangan kirinya, dengan lekas ia berjalan menuju pinggir pantai, duduk seorang diri di atas pasir pantai, ditemani suara ombak yang menenangkan. Namanya Diandra, seorang pelajar SMA yang tengah menikmati liburannya. Sore ini, dikala senja, langit memancarkan sinar jingga yang sangat pekat. Ia menikmati espresso coffee nya dipantai.
Dari jauh terlihat seorang lelaki yang tengah memotret langit senja. Saat Diandra melihatnya, ia berbadan cukup tinggi, memiliki hidung mancung, dan rambut yang tertiup angin pantai. Ia menggenakan kemeja putih dan celana jeans. Keberadaannya tak jauh dari Diandra. Sama-sama menikmati indahnya senja yang tak lama lagi akan digantikan oleh malam yang gelap. Diandra menghiraukan lelaki itu, ia asik menikmati espresso nya.
Tak terasa, espresso yang sudah lama gadis itu genggam habis begitu saja. Tanpa pikir panjang, Diandra lekas meninggalkan hamparan pasir putih yang terus diselimuti ombak. Baru beberapa langkah kaki ia berjalan, terdengar seseorang memanggil Diandra.
"Heii! Kamu!!" teriak lelaki tersebut ke arah Diandra.
Mendengar suara tersebut, Diandra merespon, dia pun membalikkan tubuhnya.
"Kamu manggil aku?" tanya Diandra sambil melihat ke arahnya.
"Iya kamu, tunggu disitu!" pintanya, ia pun mulai menghampiri Diandra.
Sementara Diandra berdiri diam dengan ekspresi wajah mengerutkan dahi.
"Ini dia mau ngapain?" pikir Diandra dalam hati.
"Novel mu tertinggal." kata pria tersebut sembari menunjukkan novel itu kepada Diandra.
Diandra menatap matanya yang bewarna hitam pekat dengan bulu mata yang cantik. Dengan keheranan, Diandra masih terus memandanginya.
"Ini novel punya kamu kan?" tanya lelaki itu.
"Hmm.. iya, ini punyaku." jawab Diandra dengan pelan sambil mengambil novel miliknya yang ada pada genggamannya.
Saat Diandra hendak melanjutkan perjalanannya menuju hotel, lelaki itu tiba-tiba saja memanggilnya kembali. Mau tak mau Diandra menghentikan langkahnya lagi.
"Tunggu, di kakimu ada luka, kamu gapapa?" lontar lelaki tersebut. Tangannya menunjuk ke arah kaki Diandra.
"Ah, ini tadi cuma kena benturan batu, gapapa kok." jawab Diandra.
"Yakin? Kamu tinggal di Grizelle Hotel kan? Kita bisa pulang bareng." ujar lelaki itu dengan ekspresi wajah yang ramah.
"Gapapa, aku mau pulang sendiri aja. Aku harus cepet pulang, udah dicari in nih." jawab Diandra sambil menyeka rambut yang tertiup angin.
"Yaudah kalo gitu. Tapi, nama kamu siapa?" tanya lelaki itu.
Diandra semakin heran dengannya. Diandra tidak memperdulikan pertanyaannya, ia hanya menjawab dengan senyum.
Dengan rasa penasaran yang semakin besar saat Diandra menuju ke hotel, sesekali ia menengok ke arah belakang untuk memastikan keberadaannya. Apakah lelaki itu belum beranjak pergi atau malah sebaliknya. Ternyata, lelaki tersebut sudah hilang entah ke mana. Tanpa berpikir panjang, Diandra lanjut berjalan karena langit sudah di selimuti oleh pekatnya malam. Sesampainya di hotel, Diandra dengan segera membersihkan dirinya. Setelah itu ia langsung merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah di atas kasur, dan berniat untuk langsung tidur.
Tetapi, apa yang terjadi? Malam kian larut, bulan pun semakin tinggi. Padahal jarum jam sudah mengarah ke angka dua belas dan Diandra belum bisa tertidur. Entah mengapa, Diandra malah memikirkan lelaki yang bertemu dengannya sore tadi. Memikirkan bagaimana cara agar dia bisa bertemu lagi dengannya.
Dan satu hal, perasaan bersalah menghantui Diandra. Lelaki itu sudah berbuat baik kepadanya, sedangkan Diandra tidak memberikan feedback, bahkan ucapan terima kasih saja tak keluar dari mulutnya.
Diandra pun tidak mengetahui nama lelaki itu.
"Sebenernya, itu bukan sifat asli dalam diriku, aku ngga sejutek itu kokk, arghh." ucap Diandra dengan rasa kesal.
Keesokan harinya, Diandra mencoba untuk sekali lagi menikmati liburannya. Mencoba berbagai macam wisata seorang diri. Diandra juga beberapa kali mencoba berkeliling di sekitaran pantai, beberapa hotel juga ia kunjungi, semata-mata hanya untuk mencari lelaki itu. Tetapi, ia tak bisa menemukannya kembali. Namun Diandra sangat berharap bisa menemuinya, setidaknya untuk mengucapkan kata terima kasih.
Tiga hari sudah berlalu. Esok adalah hari bagi Diandra untuk kembali pulang, kembali dengan segala kesibukan, juga sekolah. Diandra tidak ingin menyia-nyiakan hari terakhir ini, ia ingin memandangi senja sekali kali. Dia pun kembali mendatangi pantai, tak lupa dengan se-cup espresso coffee yang sudah ia beli di kedai kopi sebelumnya. Senja pun kembali menyapa.
Nyatanya, sore ini senja bukan memberikan warna jingga pekat, melainkan warna merah muda, berpadu dengan warna ungu yang indah. Bagi Diandra, senja adalah sebagian nikmat yang diberikan Tuhan untuk kehidupan.
Tiada yang lebih baik dari pantai saat matahari terbenam, sungguh memukau menyaksikan deburan ombak yang berpadu dengan nuansa merah muda, ungu, dan biru yang cantik.
Berkeluh kesah, membuang semua beban, mencurahkan kegelisahan hati, dan jenuhnya pikiran Diandra kepada suara ombak yang menghampiri, serta disaksikan oleh senja. Tempat ini menjadi saksi penyebab rasa penyesalan yang ada pada diri Diandra. Sampai sekarang, lelaki itu tak ia temui juga.
Bagaimana bisa Diandra memikirkan sebuah perihal yang tak pernah ia kenali ini? Memang benar, penyesalan akan datang jika semuanya sudah hilang dan berakhir.
Diandra, seorang gadis SMA, si pengemar kopi dan penikmat senja. Dan senja hari ini, sangat cantik. Esok tak bisa lagi Diandra menikmati senja di sini, di tempat yang sama.