Persahabatan yang dulu diagung-agungkan oleh Mai kini hanya tinggal sebuah nama. Kedelapan sahabat yang ia sayangi telah menjauh tanpa alasan yang pasti. Mai tidak pernah melakukan kesalahan apapun kepada mereka. Tetapi mereka menjauhinya. Mai selalu menutupi kesedihannya didepan semua orang. Jauh dibelakang mereka Mai selalu menangis. Tetapi yang terpenting bagi Mai adalah semua orang termasuk sahabatnya melihat Mai bahagia setiap hari walaupun itu hanya dibibir saja.
Siang yang terik ini mata pelajaran terakhir di SMA BINA BANGSA telah usai. Siswa berhamburan untuk pulang kerumah masing-masing. Didepan pintu gerbang sekolah Mai berpapasan dengan Fye. Fye yang dulu jadi sahabat baiknya. Fye hanya menatap sejenak lalu pergi meninggalkan Mai. Hati Mai begitu teriris. Ia sangat menyayangi Fye. Tetapi Fye menjauhinya tanpa sebab.
“ Mai, belum pulang,? “ Rey mengejutkan Mai dari belakang. Rey juga sahabat Mai. Tetapi Rey tidak sama dengan yang lain. Ia masih mau bersahabat dengan Mai. Hanya Rey lah satu-satunya orang yang masih mau menemani dan mendengarkan curahan hatinya.
“ Kamu gak kenapa-napa kan, Mai.”
“ Enggak,, Enggak apa-apa kok, Rey. Ya udah, ayok kita pulang. “
Sudah tiga bulan Mai tidak pernah lagi merasakan indahnya kebersamaan bersama kedelapan sahabatnya. Mai sangat merindukan masa-masa itu. Hari ini adalah hari kelulusan kelas 12 bagi tingkat SMA sederajat. Mai mendapatkan message dari Rey.
“ Mai, kita diajak ngumpul bareng seperti dulu lagi sama mereka. Datang ya ke taman kota setelah lihat hasil kelulusan. Aku tunggu di sana. Ok. “
“ hhh..” Mai menghela nafas berat. Terpaksa ia bergegas menuju parkir untuk pergi ke taman kota. Sesampainya di taman semuanya sudah berkumpul ada Uwi, Rey, Shu, Flo, Fye, Andra, Tom, dan Rian. Dengan langkah perlahan Mai mendekati mereka. Acara makan-makan itu pun dimulai. Semua berebutan makanan seperti biasa. Tetapi Mai hanya terdiam. Rey mendekati Mai yang duduk sendiri dibawah pohon. Lalu satu persatu mereka mendekati Mai kecuali Fye.
“ Mai, kenapa sendirian,? “ Tanya Rey. Mai menatap mereka satu persatu. Tiba-tiba air matanya menetes perlahan dipipinya.
“ Mai ! kamu kenapa.?! “ Andra yang tidak tahu apa-apa menjadi panik.
“ Ceritakan kepada kami apa masalahmu, Mai.” Tom mendesak Mai.
“ Apa.... Kalian,,, menganggap aku teman.? “ Mai perlahan membuka suara.
“ Apa maksudmu.? “ Rian mengerutkan keningnya.
“ Selama ini kalian jauhi aku tanpa sebab. Apa aku udah tidak dianggap sahabat lagi. Padahal aku sayang banget sama kalian.” Mai mulai menangis. Semua terdiam, entah itu diam karena sadar atau berusaha menutupi kesalahan. Suasana menjadi hening. Mereka tidak bisa mengucapkan sepatah katapun dihadapan Mai. Mai mengalihkan pandangan kearah Fye yang sejak tadi duduk terpisah dengan mereka.
“ Kamu. “ Mai menunjuk kearah Fye. Fye menatap Mai tanpa mengucapkan sepatah katapun.
“ Kenapa kamu begitu benci sama aku. Apa salah aku, Fye. Asal kamu tau Fye aku gak pernah benci sama kamu. Tapi kenapa kamu lakukan itu sama aku, Fye.” Fye hanya terdiam. Ia tidak berani membuka mulut.
“ Mungkin kamu fikir kamu itu gak berguna buat aku, tapi kamu salah. Kamu itu penting buat aku. Dulu kamu teman terbaik aku. Kita selalu bersama dan tertawa bersama. Kita selalu bercerita bersama, makan bersama bahkan tidur bersama. Tiba-tiba kamu jauhi aku Fye dan kamu selalu pergi bersama Shu kemanapun. Padahal rumah kita berdekatan. Aku kamu anggap apa Fye. Apa salah aku hingga kamu campakkan kayak gini. Kamu menjelek-jelekkan aku dihadapan teman-teman yang lain. Sehingga mereka semua benci sama aku. Aku kecewa sama kamu, Fye. Kalian semua... Uwi,Rey, Flo, Shu, Andra, Tom, Rian, kalian gak pernah tau kalau sayang aku gak bisa diukur dengan apapun.” Semua terdiam mendengar kata-kata Mai.
“ Aku sadar kok kalau aku gak pantas jadi sahabat buat kalian, awalnya aku gak siap pergi tapi sekarang aku siap pergi dari hidup kalian. Aku selalu berdoa untuk kebaikan kalian.” Mai bergegas menuju mobil dan pergi dari tempat itu. Tidak ada yang bisa menghentikan Mai.
“ Shu, Fye, apa yang kalian lakukan.” Uwi menatap mereka bergantian. Fye dan Shu hanya terdiam. Dan saling menatap satu sama lain. Beberapa menit kemudian handpone Andra berdering.
“ Halo. Ini siapa ya.”
“ Apa kamu teman Mai.” Kata suara diseberang sana.
“ Ia saya teman Mai. Maaf anda siapa.? “
“ Saya dari pihak kepolisian. Tadi Mai mengalami kecelakaan dan sekarang keadaannya kritis.”
“ Apa ! sekarang dia dimana, pak.” Nada suara Andra meninggi membuat yang lain terkejut dan mulai was-was.
“ Dibawa kerumah sakit.” Setelah pihak kepolosian memberi alamat rumah sakit Andra berusaha menenangkan diri.
“ Ada apa, Ndra.? Tanya Flo.
“ Mai kecelakaan dan keadaannya kritis.” Semua terperanjat mendengar kabar itu. Rey menatap Fye dengan tajam.
“ Semua ini gara-gara kamu, Fye. Kalo sampai terjadi apa-apa dengan Mai aku gak akan pernah memaafkan kamu.! Rey bergegas menuju mobil dan pergi kerumah sakit. Yang lain mengikuti Rey.
Sampai dirumah sakit mereka menjumpai ayah dan ibu Mai yang sedang duduk dikoridor rumah sakit. Mereka berlarian kearah ayah dan ibu Mai. Ibu menangis, Rey berusaha menenangkan Ibu. Tidak berapa lama kemudian dokter keluar dari ruangan dengan raut wajah yang muram. Semua berhamburan kearah dokter.
“ Bagaimana keadaan Mai ,dok. Dia baik-baik saja, kan?.” Tanya Tom.
“ Maafkan saya.” Sahut dokter dengan suara lirih.
“ Dok, anak saya baik-baik saja ,kan.? Tanya Ibu.
“ Maaf, sekali lagi kami minta maaf. Kita sudah terlambat.”
“ Maksud dokter.?! “ sahut mereka bersamaan.
“ Mai sudah pergi.”
“ Tidak mungkin ,dokter. Tidak mungkin ! “ mendengar itu Ibu jatuh pingsan. Suasana menjadi riuh. Semua menangis mendengar kepergian Mai secepat itu. Perlahan Fye mendekati ranjang tempat tubuh Mai berbaring dengan ditutupi kain putih yang telah bersimbah darah. Tiba-tiba Rey menarik tangan Fye kuat-kuat sehingga Fye sedikit terlempar kebelakang.
“ Semua gara-gara kamu. Sampai kapanpun aku gak akan maafin kamu, Fye.! “ Uwi berusaha menenangkan Rey. Flo menarik Shu dan Fye keluar ruangan.
Setelah kejadian itu, Fye menjadi anak yang pemurung. Semua kata-kata Mai terngiang ditelinganya. Rasa bersalah telah menggunung dihatinya. Dengan tekad yang kuat ia berniat untuk menemui semua teman-temannya.
“ Taman ini dulu tempat kita kumpul bareng untuk yang terakhir kalinya bersama Mai. “ Fye mulai membuka pembicaraan.
“ Disini aku ingin minta maaf sama kalian semua. Terutama sama Mai. Rey aku minta maaf banget sama kamu. Jujur aku menyesal. Sejauh ini aku belum tenang kalo kamu belum maafin aku. “
“ Kenapa minta maaf sama aku. Harusnya sama Mai. Aku mewakili Mai disini. Aku dan Mai maafin semua kesalahan kamu kok, Fye.”
“ Iya kami maafin kamu Fye. Kita masih sahabat kan? “ Fye tersenyum dan memeluk mereka. Mereka semua menangis terharu.
“ Ia sampai kapanpun kita sahabat.”
Sejak saat itu hubungan persahabatan mereka menjadi erat. Mereka saling berjanji untuk menjadi sahabat sejati yang peduli satu sama lain. Mereka ingin membuat Mai bahagia dialam sana.
“ Mai, meskipun aku belum sempat minta maaf langsung dihadapan kamu. Tapi aku yakin kamu pasti bahagia kalo persahabatan kita gak pernah putus. Aku sayang kamu Mai. Semoga kita bisa bertemu kelak. “ Setelah mendoakan yang terbaik untuk Mai, Fye beranjak dari makam tempat Mai beristirahat. Dengan senyum dibibirnya Fye bersemangat untuk menjalani hari-hari bersama sahabat yang lain demi Mai.