Hari ini adalah hari Hallowen. Untuk hari ini, aku selalu menunggunya setiap tahun. Bahkan, aku lah yang paling antusias untuk merayakan hari ini. Tapi, tahun ini, semangat dan antusias ku seakan sudah meluap, hilang. Tidak sama seperti tahun lalu.
Mungkin kalian penasaran kenapa aku seperti itu. Jack, pacarku tidak ada di hari spesial ini. Dia sudah menghilang hampir dua bulan ini. Kami lose contact. Selama dia hilang aku selalu menunggu telpon darinya. Tidak! Bahkan, satu pesan berbentuk 'Hai' saja tidak pernah terkirimkan padaku.
Aku mendesah pelan. Hari sudah semakin malam. Sebentar lagi perayaan Halloween akan dimulai. Tapi aku masih saja belum berdandan ala kostum Halloween karena, yeah, aku tidak bersemangat lagi.
"Mia! Apa kau didalam? Apa aku boleh masuk?" Suara nyaring milik Melinda terdengar di telingaku. Dia sahabatku sejak kami duduk di bangku SMA. Kami juga bertetanggaan. Karena itu kami sering sekali bertemu seperti ini.
"Ya, masuk saja," jawabku pelan.
Melinda masuk setelah mendengar izin dariku. Dari pantulan kaca tempatku duduk, Melinda sudah siap dengan kostum Halloween dengan kostum biarawati. Walaupun begitu, ia masih terlihat cantik, tidak menyeramkan dimataku.
"Kenapa belum bersiap-siap? Kau tidak merayakan Halloween tahun ini?" Tanyanya sembari duduk di pinggir ranjang ku. Aku menaikkan bahuku acuh tak acuh sambil melihat Melinda di pantulan cermin.
"Kau tahu, jika kau tidak merayakannya hari ini, kau akan menyesal seumur hidupmu," kata Melinda sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
Aku sontak menaikkan alisku. Memangnya apa yang akan terjadi jika aku tidak merayakan Halloween? Apa aku akan mati? Tidak, bukan?
"Memangnya kenapa?" Tanyaku sedikit penasaran.
Dia tampak menimang-nimang. Sepertinya dia sedang berunding dengan pikirannya. "Aku tidak tahu. Yang penting kau harus bersiap-siap malam ini."
Oke. Aku melupakan sesuatu—bahwa Melinda bisa menjadi menyebalkan seperti ini. Dia memang suka membuat orang penasaran, tapi tidak suka dibuat penasaran oleh orang lain.
Aku masih tidak bergeming, membuat Melinda gemas denganku. "Kubilang cepat!" Melinda menarikku menuju lemari pakaianku. Aku hanya pasrah saja, membiarkan Melinda mengurus diriku.
Saat Melinda membuka lemariku, aku mengernyitkan dahi melihat salah satu gaun putih yang aku yakini adalah gaun pengantin bersemayam di lemariku. Aku menatap Melinda menuntut penjelasan. Seolah Melinda paham, ia hanya mengangkat bahu.
"Sepertinya gaun ini sudah disiapkan untukmu," kata Melinda padaku. Dia menarik gaun itu, mengeluarkannya dari lemariku.
"Ini pesta Halloween. Kenapa pakai gaun seperti ini?" Tanyaku.
"Diam dan pakai saja," tuntut Melinda.
Pada akhirnya, aku hanya bisa memakai gaun itu dengan terpaksa. Walau kutahu, gaun ini sangatlah tidak cocok untuk pesta dengan tema menyeramkan seperti ini. Aku bisa saja diolok-olok nantinya oleh orang-orang yang sedang berpesta dibawah sana.
Dengan telaten, Melinda menaikkan resleting gaunku. Ini benar-benar berat seperti gaun pernikahan asli. Aku menatap kesal pada Melinda yang masih saja sibuk dengan diriku.
"Melinda, ini berat," kataku meringis kecil.
"Tahan saja. Ini tidak akan lama," sahutnya. Ia mulai memoles wajahku dengan polesan tipis. Memakai lipstik berwarna merah tapi tidak terlalu menyala. Lalu sapuan blush on di pipiku dengan gradasi warna pink pudar.
"Selesai! Ayo kita kebawah," kata Melinda lagi.
Aku hanya menurut saja. Didepan sana, ada sepasang sepatu tinggi yang mungkin sudah disiapkan oleh Melinda. Aku memakainya. Tidak mungkin aku memakai sendal dengan pakaian seperti ini. Benar-benar memalukan.
Akhirnya, kami berdua sampai dihalaman belakang dimana pesta sedang dirayakan. Semua orang memakai kostum yang menyeramkan. Berbanding terbalik denganku yang memakai gaun pengantin. Seketika aku malu untuk bergabung dengan mereka.
Menyadari pergerakan ku yang tiba-tiba berhenti, Melinda menarik tanganku lagi dan berbisik, "Jangan malu-malu. Kau sudah ditunggu banyak orang."
Dan pada akhirnya, langkahku berhenti di tengah-tengah mereka yang awalnya sibuk dengan obrolan hangat mereka, berganti menjadi menatap aku dengan tatapan penuh tanya.
"Ini Mia? Kenapa pakai baju seperti ini?" Tanya ibuku dengan tatapan cukup aneh padaku.
"Melinda yang menyuruhku memakai ini," belaku.
"Kau tidak lupa tanggal, kan? Ini hari Halloween, bukan hari pernikahanmu." Sontak semua orang tertawa dengan lelucon ayahku. Aku benar-benar malu. Ingin pergi dari sini.
"Tidak ada yang boleh menertawakan ratu Mia selain aku."
Suara itu—suara yang tidak asing lagi bagiku. Itu seperti suara Jack, pacarku yang hilang dua bulan ini. Aku berbalik, mendapatinya memakai kostum jas yang jika aku bandingkan sangat cocok dengan pakaianku saat ini.
"Oh, sepertinya pangeran telah datang," bisik ibuku dibelakang sana.
Aku benar-benar tidak percaya. Dia berjalan mendekat ke arahku. Orang menyebalkan itu akhirnya datang. Dia ada di depanku.
"Dasar menyebalkan!" Aku memukul dadanya. Dia hanya tertawa renyah didepanku.
"Maaf. Sekarang aku sudah datang. Jangan memukulku lagi."
"Aku benar-benar ingin membunuhmu."
"Lalu siapa yang akan menjadi pangeran di pesta ini?"
Aku terdiam. Rasanya air mataku ingin mengalir.
"Maafkan aku. Aku menghilang beberapa bulan ini. Dan aku juga minta maaf tidak memberi kabar padamu." Dia memelukku dengan erat. Lalu ia melepaskannya karena aku susah bernafas.
Jack tampak mengambil sesuatu dari balik jasnya. Sebuah kotak cincin menghiasi pandanganku. Jack berlutut didepanku.
"Will you marry me, Mia Johnson?"
Aku menutup mulut, tidak percaya dengan apa yang ia lakukan. Kenapa pesta ini menjadi seperti ini?
Aku beralih menatap keluargaku, dan Melinda. Ia terlihat tersenyum-senyum sendiri disana. Sekarang aku tahu kenapa Melinda memaksaku untuk datang kesini. Aku benar-benar terharu.
"TERIMA! TERIMA!" Teriakan ibuku terlalu mendominasi. Aku kembali menoleh kearah Jack, dia masih menunggu jawabanku. Dan yang kulakukan, hanya mengangguk.
"YEAH!!!" Mereka semua kembali berteriak. "Akhirnya aku akan punya menantu," kata ibuku disusul tawa yang lain.
Jack memasangkan cincin itu padaku. Setelah itu, Jack melakukan hal yang tidak pernah aku duga bayangkan sebelumnya. Bahkan dia melakukannya didepan orangtuaku. Dia menciumku. Benar-benar menciumku.
Di telingaku hanya terdengar suara siulan dan godaan dari keluargaku.
Pesta Halloween yang menyeramkan ini berganti menjadi pesta dengan penuh kejutan bagiku. Aku benar-benar bahagia melihat Jack kembali. Dan untuk Melinda, aku berterimakasih kepadamu.
Halloween ini tidak akan pernah terlupakan untukku.
****
JANGAN LUPA LIKE YA💖💖💖
THANK YOU 🐰