"Chika sayang", suara wanita paru baya terdengar memanggil cucunya.
Chika yang lagi duduk di sofa di ruang keluarga, Gadi belia umur awal 17 tahun itu buru berlari menuju pintu depan dengan ceria.
"au", ujar Chika lalu memegang ibu jari kakinya yang kesandung tiang piano di ruang tamu, gadis cantik berhidung bagir itu meringis sakit.
Dengan susah berjalan menuju pintu depan. Rambut hitam panjangnya beberapa kali dia sibak kebelakang karna menutup muka cantiknya. karena dia berjalan tertatih tatih menunduk melihat ibu jarinya yang terasa nyeri.
ceklek
Chika membuka pintu rumahnya.
"Ada apa sayang, oma denger tadi kamu kesakitan", wanita paru baya yang tetap cantik itu bertanya pada cucunya yang cantik begitu melihat Chika.
" gak papa om tadi chika ke sandung tiang piano", walau chika tidak mengaku wanita berambut di sanggul cepol itu tahu dari wajah chika yang murung. begitu juga opanya.
"ya sudah ayo kita masuk", ajak omanya lalu memeluk chika. opanya mengusap punggung cucu tunggalnya .
"lain kali hati-hati jgn buru-buru", nasehat opanya yang berjalan di samping chika dan omanya. chika mengangguk di dalam pelukan neneknya.
Mereka duduk di ruang tengah. oma chika begitu telaten mengobati chika. opanya lebih Fokus nonton tv tetapi sesekali melirik ke chika yang ada di sampingnya lalu menggeleng dan tersenyum melihat cucu kesayangannya itu meringis.
"oma pelan-pelan dong, sakit tahu!",ucapnya cemberut wajah di tekuk.
"ini ni kalau ceroboh, persis opa kamu", ujar nenek chika kesal melirik opa chika. opa chika bukanya marah ia menyengir dan tersenyum menatap istrinya.
"sudah-sudah chika jangan di marah lagi", opa chika tidak mau istrinya merepet lagi, kalau sdh merepet bisa berabe. chika tersenyum.
"kenapa kamu cengar-cengir kayak gitu", omah chika bertanya sembari memberi obat luka di luka chika.
"gak oma, tu opa gelitikin chika", ujar chika gelagapan ketahuan menertawakan opa dan omanya sedikit bertengkar.
"Ni sdh",
"makasih oma ku yang cantik", ujar chika menatap omanya tersenyum bahagia.
"kamu tu paling bisa, ya", ucap omanya lalu tersenyum menyubit pipi chika. opa chika tersenyum kembali.
Wanita paru baya itu mengedarkan pandanganya ke seluru ruangan di rumah anaknya lalu bertanya.
"sayang mama mu mana",
"oh iya chika lupa, memberi tahu oma, mama ke mini market di depan", gadis remaja itu baru ingat dan memberi tahu neneknya. sambil menepuk jidat.
"ya udah oma ambil cemilan untuk opa kamu", wanita berkulit putih itu beranjak pergi ke dapur.
chika bercerita dengan opanya mereka tertawa bersama saat di tinggal omanya ke dapur.
"oma kami tu sebenarnya lebih ceroboh dari kamu waktu remaja", ujar opanya tersenyum. pria tampan paru baya itu mengenang masa pacarannya.
"oh, ya chika baru tahu opa", ujar chika penasaran, melototi opanya seakan meminta jawaban dari rasa penasarannya. chika yang tadi duduk menyamping kini duduk menghadap opanya.
"ayo ngomongin apa?", tanya oma chika yang masih berdiri di pintu dapur dan ruang kelurga sambil membawah nampak.
baik chika atau opanya langsung nyegir saling tatap mereka ketahuan.
"oma ceritain dong waktu oma opa pacaran", chika gelendotan di tangan omanya yang kini duduk di sampingnya. opanya tertawa ngakak. bila mengingat oma chika jatuh ke kali.
oma chika menatap tajam suaminya, chika bingung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, chika pun menoleh kiri kanan karena di tengah-tengah.
"ayo dong opa ceritakan", chika menggoyang goyang tangan opanya.
opa chika melirik istrinya. oma chika menghela nafas tanda setuju. tapi oma chika takut ke tahuan dia lebih ceroboh dari cucunya.
Sebelum bercerita opa chika meminum teh sebelum memulai cerita, chika dengan rasa penasarannya terap menatap opanya inten.
"kamu tu ya kalau ada maunya", ujar opa chika. chika tertawa. omanya yang sedari tadi cemberut ikut tertawa. chika tersenyum karena di liputi rasa penasaran
pikiran pria umur 60an itu melayang ke tahun 80'an , lalu tersenyum bila mengingatnya.
hari itu tepat tanggal 10 bulan juni tahun 1980.
baskoro yang kuliah di kota kini kembali ke desanya karena libur dan ingin menemui gadis pujaan hatinya, gadis itu bernama jamila si kembang desa.
sudah sering mereka berbalas surat tetapi rasa cinta baskoro belum ia ungkapkan melalui surat karena baskoro ingin mengungkapkan langsung saat mereka bertemu dengan pujaan hatinya. tidak melalui surat.
baskoro merenung di bingkai jendela rumah panggung adat palembang itu, ia menatap ke depan.
"Woy, ngapain lu melamun, mikirin jamilan ya", kuncoro yang kini ada di bawah jendela meneriaki baskoro, baskoro terkejut kuncoro tertawa ngakak telah berhasil menggoda baskoro.
"sialan lu", ujar baskoro kesal, memelototi sahabatnya itu, kuncoro adalah sahabat baskoro yang terkenal usil, jahil dan lucu itu.
Kuncoro bukanya balik marah, malah tambah ngakak. baskoro mukanya merah padam. baskoro yang malu jadi perhatian tetangga meletakkan tunjukny di depan mulut, tanda diam. kuncoro berhenti tertawa. tapi kini mengedipkan matanya dan kembali tertawa.
Baskoro yang kesal turun dari rumah menghampiri sahabatnya itu. baskoro menarik tangan kuncoro mengajaknya duduk.
"lu tu ya paling seneng buat orang kesal", baskoro menatap sahabatnya yang muka pas-pasan jengkel.
"lah berarti bener dong lu suka jamila", kini kuncoro balik bertanya. baskoro dian sala tingkah
"benar", kuncoro bertanya dengan raut muka di buat rada polos, lalu tertawa puas.
"iya iya, tapi pelanin dikit, ketawa lu itu songong", ujar baskoro menohok.
"ok", kata kuncoro sedikit menguasai dirinya agak tidak tertawa, tapi tetap cengar cengir. baskoro kesal bukan main kalau bukan temannya sudah dia tonjok dari tadi.
"kak baskoro dan kak kuncoro lagi ngapain", sapa jamilan yang kebetulan lewat di jalan setapak disebelah rumah baskoro.
dag dig dug der.
Detak jantung baskoro demikian kuat, tapi jamila lebih bisa mengendalikannya dengan tersenyum manis menatap kedua orang yang bersahabat itu duduk di bangku di bawah rumah baskoro.
Baskoro terpesona menatap kecantikan jamila si kembang desa. hingga tangannya yang menopang dagu terlepas, baskoro terkejut dan sala tingkah.
Sedangkan kuncoro yang sedari tadi melihat sejoli itu ikut senang. tapi dasar si peak kuncoro melihat baskoro terkejut karena tangannya terlepas dari dagu karena terpesona dengan jamila kuncoro tertawa.
Jamila tersenyum simpul, dan baskoro menghajar kuncoro, si biang kerok makin tertawa.
"sudah-sudah" ujar jamila. merekapun berhenti.
baskoro merapikan baju dan celananya menghampiri jamila yang berdiri sedari tadi di dekat pohon jambu.
"mau kemana dek jamila", tanya baskoro gugup, di dekat jamila.
"mau ke pasar kak", jawab jamila yang tak mau menatap wajah pujaan hatinya.
"suit suit", goda kuncoro bersiul ke arah baskoro. baskoro menatap tajam.
"ayo dek kakak antar ke pasar", ajak baskoro. gadis cantik itu tidak menjawab tapi mengangguk tandahnya setuju.
Mereka berjalan di jalan setapak menuju pasar. tak ada yang mereka bicarakan, mereka sering banyak dia dan sesekali saling melirik, sampai pulang dari pasar.
"tembak ga ya", kata itu berulang kali bergema di dalam hati baskoro.
hinga mereka sampai di jembatan yang di bawahnya di aliri air sungai yang jerni. mereka istirahat sejenak.
'inilah kesempatan kesempatanku nembak', bisik hati baskoro pemuda terkenal tampan di desanya.
baskoro yang sedari tadi hatinya bagai mau copot menarik nafas dalam, dan memberanikan diri memegang tangan jamila. spontan jamila menatap baskoro.
"duuuu, dia ganteng banget, rasanya aku mau pingsan", bisik hati jamila, muka jamila merah padam menatap mata elang baskoro.
"dek kamu mau enggak, jadi pacar kakak", tanya baskoro bertanya, entah kekuatan dari mana baskoro tak tahu tapi yang pasti libur kali ini jamila harus jadi pacarnya.
jamila diam sejenak, tapi dari raut muka jamila tidak menolak.
jamila menarik tangannya sedikit menjauh dan memunggungi baskoro. kepalanya menoleh baskoro.
"aku mau", jawab jamila, sambil menutup mukanya dengan kedua tanganya jamila malu pada baskoro.
pemuda bertubuh atletis itu bahagia sekali mendengar jawaban jamila mau menjadi pacarnya.
Jembatan ini menjadi tempat sejara bagi baskoro dan jamila, setiap dia pulang kampung pasti mereka berhenti di sini walau kini jauh berbeda.
chika yang sedari tadi mendengar cerita opanya terpesona, tak berkedip mata chika menatap opanya dengan mulut terbuka.
"anak gadis tidak boleh mulutnya begitu", tegur omanya.
"apa si oma, biarin aja aku lagi fokus dengerin cerita opa", ujar chika kesal. jamila tersenyum lalu mengusap rambut cucunya itu yang persi dirinya muda dulu.
"tapi opa chika kok tidak nemu oma ceroboh dari opa?", gadis yang masih lugu itu bertanya lalu menoleh ke atas, dan mengetuk ngetukan jarinya ke kening.
"haha" baskoro tertawa, "kamu ini bisa aja menggoda oma kamu, setelah itu", sambung baskoro gemas melihat chika di sampingnya. jamila iku tertawa.
Setelah baskoro menyatakan cinta, jamila dan baskoro melangkah pulang bergandengan tangan, saling tatap satu sama lain dan saling mengagumi.
Di depan jamila ada sebongkah batu, karena terus saling padang jamila tidak menyadarinya kaki jamila tersandung dan hampir jatuh, untung cepat baskoro menangkap tubuh jamila oleng.
mereka saling tatap.
"so sweet, kayak di film-film", ujar chika.
jamila malu mukanya memerah, dan menaikan satu alis menatap baskoro. jamila malu pada chika. baskoro malah mengedipkan mata menggoda istrinya yang tetap cantik di usia senja.
"cerita apa si mama denger dari luar kok seruh banget", tanya kiran yang kini ada di belakang sofa, memeluk chika dari belakang.
chika bercerita sambil mengodah jamila, kinan tertawa.
"ih no bocah bisa aja", ujar jamila kesal menjewer chika.
Selesai.