Suara gedoran pintu depan rumah terdengar nyaring. Aku terkejut, tentu saja. Pada saat itu, sepertinya, aku yang masih terjaga sendirian di rumah. Jadi, aku lari tergopoh-gopoh, membukakan pintu.
"Mak, tolong aku! Sembunyikan aku, aku dipaksa kawin sama si A."
Aku tak percaya dengan apa yang baru kulihat. Laki-laki muda, wajahnya sering menghiasi layar ponsel di berbagai laman. Muncul di hadapanku dengan ekspresi ketakutan. Kepala yang menoleh ke sana ke mari.
"Ka-Kamu ... beneran ini kamu? Kenapa bisa sampai sini?" tanyaku.
"Panjang, Mak, ceritanya." Ia masih memandang sekeliling dengan gelisah.
"Ya sudah, masuk sini masuk!"
Laki-laki itu langsung lari secepat kilat menuju sebuah kamar.
"Eh, jangan ke situ! Itu kamar adikku, masih anak gadis."
Kemudian, ia mengalihkan arah larinya ke kamar lain, dengan mengangkat kain jarik yang ia pakai. Aneh bukan? Seorang laki-laki muda mengenakan pakaian beskap lengkap di siang bolong seperti ini. Berlarian, mencari tempat persembunyian.
Setelah mengunci pintu depan, aku menyusulnya. Ia sembunyi di kamar di mana kedua anak laki-lakiku sedang tidur siang. Kutempelkan jari telunjuk ke mulutku. Berisyarat padanya.
"Joon, kamu ngapain pakai baju kayak gitu lari-larian. Kabur dari konser apa gimana?" Aku menurunkan volume suaraku, hampir seperti berbisik, berbicara pada laki-laki yang meringkuk di pojok kamar. Memeluk kedua lututnya. Kilauan prada di kain jarik dan payet pada beskapnya membuat ia seperti diselimuti cahaya.
"Aku dipaksa kawin, Mak!"
Aku membekap mulutku, menahan tawa yang hampir saja terlepas.
"Mana ada yang bisa memaksa idol sepertimu untuk kawin! Jangan ngadi-ngadi, kayak judul novel terkenal di Noveltoon aja!"
"Noveltoon? Adakah? Tapi Mak, buktinya, aku sembunyi di sini. Untung gak ada yang mengenaliku di daerah ini." Laki-laki berwajah tampan itu menatapku dengan pandangan kesal.
Aku tertawa sekarang. Tertawa keras sampai memegangi perutku sendiri.
Namun, aku tiba-tiba terhenyak. Terbangun dari tidur. Terkejut. Melongo. Terasa seperti peristiwa nyata. Kubuka korden yang menutupi jendela kamar. Hari masih gelap, lampu kamar bahkan masih mati seperti awal aku membaringkan badan. Kedua anak laki-lakiku masih tertidur nyenyak di ranjangnya masing-masing. Kemudian, aku teringat dengan Kim Namjoon tadi. Kuedarkan pandangan. Tidak ada sosok laki-laki tersebut. Sama sekali.
Aku tertawa. Sendirian. Pada dini hari. Ternyata, aku hanya bermimpi!