Tentang sebuah kisah manis yang tidak akan pernah terlupa, pertemuan yang indah di hari itu begitu membekas, sehingga membuatmu selalu terbenam dalam hatiku.
***
Hari itu adalah saat-saat Masa Orientasi Siswa di SMA Antariksa sedang dilaksanakan, saat yang sangat mendebarkan dengan wajah-wajah baru yang mengisi sekolah itu.
Sebuah tahun yang begitu indah mendapati Raja dan Ratu MOS yang mendukung dengan wajah tampan dan cantik, bak sepasang kekasih yang memanjakan mata dan hati.
Semua siswa mengakuinya, bahkan sosok ketua osis yang menjabat kala itu ketika menatap keduanya di lain waktu begitu terpana dengan visual yang disajikan pada tahun itu.
Arjuna yang lelah dengan begitu banyak pujian yang diberikan untuknya, menghela napas dengan berat.
Sempat terlintas dalam pikirannya, bahkan masih ada banyak yang lebih tampan dan memungkin untuk terpilih menjadi Raja MOS ditahunnya, tetapi mengapa harus dirinya yang sangat tidak seberapa malah mendapat vote tertinggi dalam pemilihan itu.
"Wih, Raja MOS bengong aja pagi-pagi." sahutan dari salah satu temannya membuat Arjuna menahan bibirnya untuk tidak mengumpat kesal.
Ini yang paling lelaki itu tidak suka, terlalu dibangga-banggakan dengan gelar yang sama sekali tidak ia sukai.
"Apasih!"
Teman Arjuna tertawa pelan, "ah pagi-pagi dah badmood aja, samperin tuh Ratu MOS nya biar seger!"
Arjuna hanya berdesis pelan tidak peduli sama sekali dengan apa yang temannya ucapkan.
Semenjak pemilihan Raja dan Ratu MOS di kemarin hari, lelaki itu tidak ingin sama sekali untuk menatap wajah sosok yang mendapatkan pujaan dari banyak orang, menyanjungkan namanya yang mencerminkan wajahnya.
Arjuna memang sempat mendengar garis nama sosok yang belum sempat dirinya lihat dengan jelas wajahnya itu, namun belum sempat sehari juga Arjuna telah melupakannya.
Memang rasa ketidakpedulian lelaki itu sangat melekat dalam dirinya, sehingga merasa bahwa semua hal yang tidak penting juga tidak perlu dirinya ingat.
Arjuna melangkah keluar dari kelas kelompok MOS nya, telinga lelaki itu sudah tidak sanggup mendengar kata-kata menjijikan yang terus menusuk gendang telinganya. Arjuna memilih untuk mencari sedikit udara segar di kala jam istirahat menjelang.
Lelaki itu terus melangkahkan kakinya kesatu penjuru SMA Antariksa yang menarik perhatiannya. Sembari tersenyum pelan, Arjuna melangkah ke arah lapangan basket yang sangat luas dengan beberapa orang yang berdiri di atasnya.
Arjuna tersenyum dan menatap beberapa kakak kelas yang saling berebut bola basket di lapangan itu, jauh diujung sebelah sananya lagi yang belum Arjuna perhatikan juga berdiri beberapa anggota cheerleader yang sedang melaksanakan kegiatan mereka.
Rasanya Arjuna ingin sekali berjanji pada dirinya sendiri untuk harus bisa menjabat sebuah gelar kapten basket di sekolah ini, tak peduli dengan Raja MOS, Arjuna lebih bangga jika bisa menjadi orang terhormat di klub basket.
Impiannya semenjak masih di sekolah dasar adalah semua itu, bukan yang tebar pesona. Namun Arjuna sangat ingin memegang bola memantul itu dan mencetak banyak skor di jaring, hal itulah yang baru bisa Arjuna sebut dengan suatu kebanggaan.
Dwimanik Arjuna akhirnya beralih dari sekumpulan anak basket dan menatap keadaan lain di lapangan besar itu. Ia akhirnya menyadari keberadaan sebuah klub lain yang juga sedang aktif disana, klub cheerleader yang bertabur visual indah dan memanjakan mata.
Arjuna hanya tersenyum tipis kembali menatap keseluruhan, mungkin beberapa tahun lagi orang-orang yang ada di lapangan ini akan berganti dan salah satu dari semua ini adalah Arjuna si kapten basket yang penuh pesona dengan keahliannya.
Dengan langkah tenang Arjuna bergerak membalikan tubuhnya untuk kembali ketempat yang seharusnya ia berada, tetapi gerakan lelaki itu sedikit terkesiap saat mendapati seseorang yang berdiri beberapa langkah darinya.
Sosok yang hanya tampak dari samping di sisi Arjuna, dwimanik yang menatap begitu damba klub cheerleader yang sebelumnya Arjuna lihat.
Gadis itu yang Arjuna yakin menahan senyum dibalik wajah dinginnya yang begitu elegan.
Setelah beberapa saat Arjuna menikmati keindahan ukiran wajahnya, sosok cantik itu melakukan langkah yang sama dengan Arjuna seperti berbalik pelan menggerakkan badannya memutar.
Namun sama terhentinya dengan apa yang Arjuna rasakan, mata dengan iris indah itu membalas tatapan lekat dari dwimanik milik Arjuna, sontak bibir penuh lelaki itu tertarik membentuk senyuman manis mendapati keseluruhan dari wajah Cantik itu.
Sapuan merah di kedua pipinya membuat Arjuna makin melebarkan senyumnya, entah darimana keberaniannya. Arjuna melangkah lebih dekat kepada sosok cantik bak bidadari yang megetarkan hatinya itu.
Sedangkan di sisi perempuan itu, ia mengerang didalam hatinya, merutuk kepada dirinya yang langsung salah tingkah hanya dengan senyuman manis yang diberikan Arjuna kepadanya.
Arjuna si lelaki yang kemarin mengunci matanya untuk tidak beralih sedikit pun darinya, senyumnya yang begitu manis selalu berhasil membuatnya meleleh ketika bertemu pandang dengannya.
Semakin canggung saja ketika Arjuna berdiri didepannya dengan jarak dekat tanpa menghilangkan senyum yang terukit indah di wajahnya.
Sosok dengan rambut panjang terurai dan sedikit jepitan itu yakin bahwa pipinya pasti sudah seperti warna buah strawberry yang sangat sering ia makan.
Berusaha mengalihkan kegugupannya, perempuan itu mendanga dan membalas tatapan mengunci milik Arjuna, memberanikan untuk bertanya dengan isyarat mata.
Seperti sadar dengan kegundahan perempuan itu, Arjuna makin terlarut dalam pesona yang tercurah dari sosok itu, hingga tanpa sadar bibirnya tergerak dan mengatakan sebuah hal yang begitu berarti untuk keduanya saat itu.
"Cantik."
Mata Arjuna berbinar seiring dengan ucapannya terdengar di telinga sosok yang pipinya makin memerah tebal. Tanpa harus tahu hal apa yang dituju Arjuna dengan kata itu, dirinya sudah merasa begitu melayang dengan ucapan lelaki itu.
Sampai ketika dwimanik Arjuna jatuh di sebuah lencana yang terpasang di seragam bagian depan perempuan itu, mata Arjuna sedikit terbelalak kencang dan badannya tersentak.
"Kamu, Ratu MOS?"
Perempuan itu mengedipkan matanya berkali-kali ketika mendengar pertanyaan dari Arjuna. Gerakan tubuhnya tampak salah tingkah dengan garis wajah yang dingin dan pipi memerah, dirinya menganggukkan kepalanya pelan.
"Hmm." gumaman pelan yang tercetus dari bibir perempuan itu membuat Arjuna rasanya ingin terbang ke atas awan.
Suaranya yang indah begitu terasa tidak pantas untuk terlintas di telinga Arjuna, karena sangat memabukkan dirinya kedalam pesona perempuan itu.
"Aku, Raja MOS."
Arjuna merutuk didalam hatinya.
Pernyataan bodoh apa ini?
Tentu saja perempuan itu tahu siapa dirinya, dia tepat berdiri di samping Arjuna kemarin hari. Hanya saja lelaki bodoh ini malah menyia-nyiakan sajian indah dari Tuhan di hari kemarin dan tidak melirik kearahnya sedikit pun.
Sama seperti yang Arjuna rasakan, perempuan itu terbingung dalam diamnya.
Dia sudah sangat mengetahui tentang lelaki itu, tanpa harus mengatakan apapun jelas Arjuna kemarin bersanding disampingnya untuk menerima penghargaan yang sama.
"Aku tahu."
Arjuna langsung menggaruk tengkuknya pelan, menjadi salah tingkah dengan tatapan teduh itu.
"Mm, Kalo gitu Aku Arjuna." dengan cepat lelaki itu memajukan tangannya agar dengan harapan sosok rupawan itu mau menjabatnya.
Helaan napas perempuan itu kemudian terdengar, tampak enggan menanggapinya lagi.
"Aku juga tahu."
Arjuna makin bingung sekarang, ia menarik tangannya lagi. Kenapa dirinya jadi sangat tolol seperti ini?
Wajah dingin yang tak lagi memerah pipinya, membuat Arjuna menjadi ciut, merasa sudah tidak menarik perhatian perempuan itu.
Sekarang Arjuna harus apa?
Kemana perginya keberanian dan mulut sablak milik Arjuna?
Arjuna berdeham lagi.
"Kalau begitu, siapa namamu?"
Perempuan yang Arjuna tuju mengerjapkan matanya pelan, ikut berdeham dan tubuhnya sedikit tersentak dengan pertanyaan Arjuna.
Namun segera dengan keberaniannya lagi, perempuan di depannya melirik pelan ke arah papan nama yang sudah terpasang dengan cantik di salah satu bagian seragamnya.
"Ini ada, kamu bisa lihat."
Sekarang Arjuna makin merasa aura dingin dan tidak bersahabat disekitarnya, seakan melihat pembelaan dari dalam diri perempuan itu yang tidak lagi terpesona dengan lelaki di depannya.
Namun tanpa pikir panjang, Arjuna mengikuti arah pandang sosok itu yang membuatnya tersenyum pelan.
"Permata?"
Sejenak Arjuna meloloskan senyum manisnya lagi yang hampir membuat pertahanan diri sang pujaan menjadi rapuh.
"Nama kamu indah," Arjuna tersenyum tipis menjeda ucapannya.
"Mencerminkan wajahmu yang juga sama indahnya, jernih seperti Permata dan juga mempesona sesuai ukirannya."
Sontak pertahanan yang Permata bangun kini runtuh kembali, pipinya berubah menjadi warna strawberry dan garis senyumannya yang tertarik pelan menahan tembakan pesona dari lelaki di depannya.
"Tapi aku baru tahu kalau Permata ternyata dingin." ucapan Arjuna membuat ia menaikan arah pandangnya.
Apakah dirinya tadi salah?
"Sikapmu seakan membeku."
Permata menunduk dalam seakan menyiratkan permintaan maaf kepada Arjuna tentang apa yang ia lakukan.
"Namun itu yang membuatku jatuh begitu dalam kepada pesonamu."
Arjuna tersenyum manis kembali menikmati ukiran indah yang diciptakan oleh Tuhan.
"Tetap seperti ini, membuatmu tercermin sebagai Ratu."
Arjuna lalu menarik napasnya dalam, sikap buaya yang sangat kontras dengan dirinya sekarang malah muncul tanpa diundang.
"Dan biarkan aku sebagai Raja yang menjagamu selayaknya Ratu, dan memperlakukanmu bagaikan Permaisuri."
Wajah Permata makin memerah saja dengan perkataan Arjuna yang menghaturkan hal-hal yang indah.
"Hai cantik, mungkin ini terlalu cepat."
Arjuna kembali menarik napasnya dengan sangat dalam, seakan mengarungi samudera dan terhempas di atasnya.
"Tetapi mungkin, aku jatuh cinta padamu."