Sinar jingga kemerahan mulai terlihat di ufuk barat. Bayang-bayang senja mulai muncul. Dengan menopang tangan kiri di dagunya, Aria duduk manis di samping rumah. Terlintas dalam benaknya, seraut wajah lelaki yang telah lama bersemi direlung hatinya.
Sebait kenangan tak satupun di alaminya bersama sang kekasih. Sudah sekian lama Affy terbaring diranjangnya. Kecelakaan maut telah merenggut kedua kakinya, membuat kebahagiaannya mulai memudar. Namun, Aria tak pernah lelah memberikan kasih sayang kepada Affy. Kesetiaan yang diberikan Aria kepada Affy semakin membuat cinta Affy begitu besar untuk Aria.
“maafkan aku Fy, mulai saat ini kita tidak akan saling komunikasi.” Ucap Aria ketika menjenguk Affy.
“mengapa Aria?? Ataukah kamu sudah tidak mencintaiku lagi??!.” Tanya Affy, dipandanginya wajah kekasihnya itu dalam-dalam.
“bukan..?! bukan itu maksudku, Fy.” Aria berusaha meyakinkan Affy.
“lalu apa Aria? Katakan padaku yang sesungguhnya !.” kata Affy dengan memaksa.
“lusa aku ujian akhir sekolah, dan aku memutuskan agar kamu lupain aku mulai dari sekarang !.”
“apa!! Melupakanmu? Aku mengerti kamu akan ujian, tapi gak gini caranya Aria ! aku gak mau lupain kamu. Aku sangat mencintaimu, Aria?.”
“tapi,, itu sudah menjadi keputusanku,, mau gak mau kamu harus terima? Pleasseee...!??” dengan penuh harap Aria memohon.
Dipandangilah wajah Aria dengan penuh rasa marah yang membara, terasa berat untuk melepasnya begitu saja, melupakan seseorang yang telah menjamur dihatinya. Namun, apalah daya, terpaksa Affy menerima keputusan itu dengan berat hati.
“baiklah,, jika itu maumu aria, tapi asal kamu tau, aku sangat mencintaimu, aku akan menunggumu sampai kapanpun,”
Aria bergegas meninggalkan Affy. Dengan kesedihan yang teramat dalam, Affy menitikkan air mata, kepergian Aria dalam hidupnya berarti memberi warna gelap dan mnghapus semua warna indah dihati Affy.
Tiga bulan telah berlalu, disekolah yang baru Aria menemukan hal-hal baru, cinta bagaikan kupu-kupu yang selalu siap hinggap dimana saja dan kapanpun juga. Dan kupu-kupu itu telah hinggap di hadapan Aria.
“hay, Aria?.” Sapa seseorang yang kini menggetarkan hati Aria.
“eh ! iya, hay juga !.” jawab Aria sedikit tersipu. Membuat kedua pipinya merah jambu.
“sendirian aja nih. Boleh donk aku ganggu kamu,hehe,,” katanya sambil tertawa terkekeh.
“ganggu boleh2 aja kok asal jangan gangguin.”
“eit,,apa bedanya ??.” seraya terheran-heran.
“yaa beda aja gitu loh, Anwar.” Aria tersenyum.
“btw, kamu tinggal dimana, ya?.” Tanya Anwar.
“masih sekitar indonesia, An.” Jawab Aria.
“achh,,Aria nih.!”
“hehehe,,” Aria malah tertawa melihat wajah Anwar yang memerah.
Waktu berjalan semakin cepat, Aria dan Anwar semakin dekat. Mulai lahir benih-benih cinta di antara mereka namun sulit untuk di ungkapkannya. Terasa itu menjadi beban dihati masing-masing, beban yang sangat berat, menyesakkan dada.
“Aria deket banget ya sekarang sama Anwar, udah jadian ya?” tanya Yudi suatu hari. Yudi adalah sahabat dekat Anwar.
“enggak kok kami Cuma sebatas teman biasa, gak lebih dari itu, Yud. Lagian dia juga gak ada ungkapin apa-apa kok sama aku, Yud.” Aria langsung menundukkan muka, sedih tambah kecewa.
“percaya deh sama aku, pasti bentar lagi Anwar bakalan nembak kamu.!” Yudi meyakinkan Aria.
“hmm.”
Suatu malam, Anwar dan Aria sedang duduk berdua di sebuah restoran. Lagi nge-date gitu lah istilahnya,hehe,,
“An, aku boleh tanya sesuatu gak sama kamu.?”
“enggak boleh. Maaf yaa.!” Anwar mukanya serius banget.
“eh, gak boleh sih an?? Emmm....”Aria cemberut.
“haha,,candaaa,, tanyalah,ia.” Anwar tertawa sambil memegang kepala Aria,, ciee tanda sayang tuh.
“kamu gak pernah suka sama cewek ya?” tanya Aria serius.
“enggak, aku sukanya ama cowok.”
“hah.!!” Sejenak Anwar terdiam menahan tawa.
“haha,,, canda lagi. Ya pernah lah aku suka ama cewek,, namanya aja lelaki normal.”
“iihh,, canda mulu dari tadi,, nyebelin, males mau tanya lagi !” Aria ngambeg.
“iyaa maaf,, masa harus serius terus sihh,, tanya lagi gih.?” Anwar membuka sesi pertanyaan untuk Aria.
“terus ngapa kamu gak pacaran.?”
“bentar lagi juga aku pacaran,,santai aja, woles.hee”
“emang udah ada calonnya?.”
“udah.!”
“haah. Siapa ? boleh donk aku dikasih tau.” Aria jadi kepo. Dadanya bergemuruh tanda cemburu.
“sehhh,, kepo amat Aria???. Gak boleh tau donk. Rahasia negara..”
“Cuma pengen tau aja kok ,An. Gak lebih...” Aria memastikan kebohongannya,heee
“kamu cemburu yaa??” Anwar kepo.
“ehh!! Apaan sihh! Ya enggak lah, ngapain harus cemburu, gak da gunanya nyemburuin kamu, kan?.” Aria mulai salting, uhuy;p
“ah masaaaa.. hahaha!” Anwar terus menggoda Aria, Aria nambah kesel.
“aku malas lah tanya lagi, kamunya gak pernah serius. Canda mulu dari tadi.”
“orangnya gak jauh dari sini kok.” Tiba-tiba Anwar menjadi serius.
“orang ? maksudmu apa An? Ada teroris yang deketin kita ya?” Aria bingung. Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba Anwar ngomong kayak begitu.
“iya ! cepet kamu ngumpet gih.”
“seriusan ! jangan bikin aku takut, ih.”
“hahaha..! aku lagi serius loh, ia. Kamu yang mulai bercanda.”
“habis kamu gak ada angin gak ada ujan tiba-tiba ngomong orangnya ada disini kan aku jadi bingung.” Aria manyun.
“suatu saat kamu juga akan tahu sendiri maksud ucapanku tadi Aria. Tapi kalo kamu pengen tau sekarang juga aku akan kasih tau, kok. Itu tergantung kamu sendiri.”
“iya. Aku pengen tau sekarang.”
“dengerin baik-baik ya. Jangan bercanda mulu.” Jantung Anwar berdegup kencang.
“siip.” Aria mulai serius menatap Anwar. Tujuannya sih Cuma pengen dengerin cerita Anwar.
“Aria, gini loh.” Anwar tiba-tiba merasa belum siap. Padahal sudah sejak dirumah ia mempersiapkan diri.
“gini gimana, an?”
“Aria, aku suka kamu. Kamu mau gak jadi pacar aku?” mata Aria terbelalak, heran dan terkejut mendengar ucapan Anwar yang begitu serius. Jantungnya berdegup kencang tidak seperti biasanya. Bibirnya seakan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Anwar menjadi semakin bergetar. Bimbang antara kecewa atau bahagia nantinya setelah mendengar jawaban Aria.
“Aria, kok diam aja. Ayo dong jawab. Aku serius sayang sama kamu.” Anwar meraih kedua tangan Aria dan menatapnya serius. Setelah menarik nafas panjang untuk menguatkan dirinya Aria membuka mulut. Kali ini Aria juga menatap Anwar dengan serius.
“iya, Anwar. Aku mau jadi pacar kamu.” Jawab Aria. Hati Anwar menjadi lega. Seakan terlepas semua beban yang menimpanya sejak beberapa menit tadi.
Pada suatu hari, disekolah Yudi menghampiri Anwar yang sejak tadi duduk dibawah pohon didekat perpustakaan sambil tersenyum sendirian. Yudi merasa bingung melihat sahabatnya bertingkah aneh layaknya orang gila.
“hey brow ! kenapa sejak tadi kamu senyam senyum gitu. Lagi kesambet setan pohon besar ini atau emang udah gak waras lagi.?” Yudi mengejutkan Anwar. Anwar pun terperanjat sehingga ia terjatuh dari tempat duduknya.
“ah, ngagetin aja kamu nih ! enak aja aku dibilang gak waras. Aku masih normal kali.”
“sorry brow, bercanda. Eh, lagi seneng ya? Dapat nilai tinggi ulangan tadi? Atau dapat traktiran dari temen-temen? Atau dapat voucher belanja gratis? Atau menang undian? Atau..”
“eehh! Stop deh Yudi. Enggak semuanya yang kamu bilang. Intinya aku lagi seneng aja.” Anwar memotong pembicaraan Yudi. Yudi jadi semakin penasaran.
“ada apaan sih. Ceritain dong, bro.”
“aku jadian.” Sahut Anwar sambil tersenyum.
“widdihh,,, jadian sama cewek.”
“enggak.”
“terus??”
“sama cowok.”
“idih bussett.. serius??” Yudi terperanjat. Anwar yang tadinya pasang muka serius ketika melihat ekspresi Yudi menjadi tertawa terbahak-bahak.
“ya kamu ngasih pertanyaan salah gitu. Harusnya nanya jadian sama siapa? Cewek yang mana? Gitu? Bukan nanya jadian sama cewek. Udah jelaslah jadiannya sama cewek.”
“haha..iya juga ya. Iya deh aku ganti pertanyaannya, jadian sama siapa, bro?”
“Aria” Yudi terkejut mendengar jawaban Anwar. Seketika raut mukanya berubah drastis. Yudi merasa cemburu karena ia juga menyukai Aria. Namun ia mencoba untuk tersenyum.
“oh. Selamat ya. Semoga langgeng.”
“thank you, brother.” Anwar merangkul pundak Yudi. Yudi hanya tersenyum kecut.
Waktu telah berlalu, hari-hari yang indah selalu dilewati bersama Anwar membuat wajah Aria begitu cerah sepanjang hari. Namun, kebahagiaan yang Aria rasakan tidak selamanya abadi, selalu saja ada awan hitam yang ingin merubah kecerahan itu menjadi gelap. Taman yang indah telah diukirnya sejak lama namun kini hancur bagai diterpa badai. Awan hitam itu telah menjadi mendung yang gelap hingga hujan pun berderai membasahi bumi.
Matahari yang menjadi sumber kekuatan kini sinarnya telah tertutup oleh mendung dan awan gelap itu. Sehingga kekuatannya ikut meredup.
“apa yang terjadi padamu Aria. Kenapa kamu menangis? Apa ada yang menyakitimu. Ceritakanlah padaku, Aria.” Tanya Yudi ketika melihat Aria menangis. Aria hanya terdiam dan lemah tak berdaya. Yudi merasa iba melihat kesedihan gadis itu. Didekapnya Aria dengan penuh kasih sayang. Tangis Aria semakin menjadi-jadi. Yudi berusaha menenangkan Aria. Setelah Aria sedikit tenang Yudi menghapus air mata yang masih mengalir dipipinya sambil bertanya.
“ayo cerita sama aku, Aria.”
“Anwar, yud.” Jawab Aria sambil terisak.
“aku udah putus sama dia. Dia tega bermain dibelakang aku, Yud.”
“apa?!!. Sejahat itu Anwar sama kamu. Aku gak nyangka. Apa itu benar.?” Yudi nyaris tidak percaya mendengar cerita Aria.
“aku lihat dia jalan bergandengan sama cewek lain di mall. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri mereka berpelukan. Saat aku hampiri mereka Anwar gak kenal sama aku.”
“udah lah kalo gitu kamu sabar aja. Lupain Anwar. Masih banyak yang lebih dari dia. Jangan nangis lagi ya. Kalo ada apa-apa bilang aja sama aku.”
“makasih, Yud.”
Bintang terlihat bersinar malam ini. Aria berdiri dibalik jendela kamarnya sambil menatap langit yang begitu gemerlap penuh bintang. Angin terasa membelainya menambah kesejukan dan ketenangan dihatinya. Ia teringat kepada Anwar. Aria kembali dalam kenangan masa lalunya.
“Anwar, kamu tau gak kalo bintang pernah bilang sama bulan kalo ia gak akan pernah ninggalin bulan sampai langit gak ada lagi. Kalo kamu ?”
“kalo aku gak akan pernah ninggalin kamu sampai nyawaku gak ada lagi”
“beneran?? Entar bohong.”
“beneran, sayang.”
“makasih, sayang.” Tiba-tiba handpone Aria berdering membuyarkan lamunannya. seketika matanya terbelalak melihat nama yang tertera dilayar handpone nya. Tangan Aria bergetar ia mencoba memberanikan diri untuk memencet tombol hijau di handpone nya.
“halo.”
“Aria maaf aku ganggu. Bisa ketemu malam ini.?”
“Anwar.”
“Aria aku mau ngomong penting. Mau gak mau kamu harus dateng ketempat biasa kita ketemuan. Aku tunggu.”
“An.. halo.. halo Anwar. Huffh,,” belum sempat Aria berbicara sambungan telfonnya sudah terputus. Aria menjadi gelisah, bimbang, hati kecilnya berkata ia ingin datang namun ia masih teringat dengan sakit hatinya. Beberapa menit ia berfikir akhirnya ia memutuskan untuk datang.
Sesampainya ditempat tujuan ternyata Anwar belum datang. Aria duduk ditempat biasa mereka duduk berdua dulu. Hatinya harap-harap cemas menanti kedatangan Anwar. Beberapa jam kemudian Anwar tidak kunjung datang. Perasaan Aria tidak enak seperti biasanya. Itu pertanda buruk namun Aria mencoba menepis pikiran negatif itu. Ia mencoba sabar sekali lagi untuk menunggu Anwar. Tiba-tiba handponenya berdering. Dengan semangat tanpa melihat nama phonebook nya Aria langsung mengangkat telfonnya. Ia berfikir itu Anwar.
“anwar, kamu lama banget sih datangnya. Aku udah nunggu lama.” Kata Aria sambil tersenyum.
“Aria. Ini Yudi.” Kata suara diseberang sana.
“oh. Yudi.”
“Aria, Anwar gak akan pernah datang. Lebih baik kamu pulang. Sampai kapanpun gak akan pernah datang, pulanglah Aria.”
“apa maksud kamu. Dia pasti datang.” Jantung Aria berdegup kencang. Kata-kata Yudi seakan memberi pertanda buruk yang menimpa Anwar.
“Aria, percaya sama aku.”
“ini sebenarnya ada apa. Yudi jujur deh sama aku.”
“Anwar,,, kecelakaan waktu mau nemuin kamu.”
“apa!!?” seketika handpone yang dipegangnya jatuh bersamaan dengan tubuh Aria. Air mata menetes perlahan dipipinya. Kekuatannya kian melemah. Ia menangis sekuatnya ditempat itu.
Aria berlari-lari dikoridor rumah sakit mencari alamat kamar tempat Anwar dirawat. Sampai ia tiba di ambang pintu Aria berhenti. Perlahan ia mendekati ranjang tempat Anwar terbaring. Air matanya terus menetes dipipinya. Ia meraih jemari Anwar dan mendekapnya.
“Anwar.” Kedua mata Anwar tertutup. Aria tidak sanggup melihat keadaan itu. Ia beranjak pergi namun langkahnya terhenti ketika tangannya ada yang menarik. Aria menoleh ia melihat Anwar menarik tangannya. Pada saat itu Yudi yang baru sampai didepan pintu kamar menghentikan langkahnya melihat Anwar memegang tangan Aria. Yudi melihat kemesraan yang terpancar dari mata mereka. Yudi melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu mencoba untuk membuang rasa cemburu yang bergemuruh didadanya. Yudi duduk dikursi koridor rumah sakit. Pikirannya berkecamuk.
“Aria, maaf aku gak menepati janjiku untuk datang menemui kamu.”
“kamu gak perlu minta maaf. Kamu gak salah.”
“Aria, aku masih sayang sama kamu.” Anwar tersenyum sambil menatap wajah Aria. Aria ikut tersenyum.
“aku juga masih sayang kamu, Anwar.” Aria memeluk Anwar. Anwar membelai rambut Aria sambil mengucapkan terimakasih. Aria sangat bahagia. Tetapi dirasakannya lama kelamaan pelukan itu mengendur. Jantung Aria berdegup kencang. Tiba-tiba Aria jadi takut untuk melepas pelukan itu. Dipanggil-panggilnya nama Anwar tetapi Anwar tidak menyahut. Perlahan-lahan Aria melepaskan pelukannya dan menatap Anwar. Anwar terlihat tersenyum sambil menutup matanya. Tanpa ia sadari air matanya meleleh perlahan. Dengan bibir bergetar Aria memanggil sekali lagi nama Anwar. Namun, Anwar masih terdiam. Di goyang-goyangkannya tubuh Anwar. Aria semakin bergetar. Pikirannya mulai kacau. Perlahan ia memeriksa nadi dipergelangan tangan Anwar. Seketika nafas Aria terhenti. Beberapa menit kemudian, Aria menjerit. Yudi yang berada diluar terkejut dan ia buru-buru masuk kedalam ruangan. Yudi melihat Aria menangis sambil memeluk Anwar.
“Aria. Apa yang terjadi.!”
“Anwar udah pergi, Yud.” Yudi terkejut setengah mati. Ia berusaha menenangkan Aria. Dokter telah menutup seluruh tubuh Anwar dengan kain putih. Keindahan yang sejenak telah ia rasakan kini hancur diterpa badai. Badan Aria menjadi lemas dan ia tidak sadarkan diri. Yudi membawa Aria kerumahnya.
Perlahan Aria membuka matanya. Dilihatnya sekeliling, seperti kamar laki-laki. Aria masih belum ingat apa-apa dengan kejadian yang baru ia alami. Antara mimpi dan kenyataan. Tetapi ia sendiri bingung kenapa ia ada diruangan yang lebih tepatnya adalah kamar laki-laki. Aria bangun dari tempat tidur dan ia mendekati meja yang banyak terpajang foto-foto. Itu foto Yudi. Aria mengambil salah satu bingkai foto. Diperhatikannya foto tersebut. Didalam bingkai itu ada gambar tiga orang. Pertama gambar Yudi, kedua gambar dirinya, dan yang ketiga...
“Anwar.! Anwar.. Anwar..!!” Aria kembali kacau ketika ingat sesuatu tentang Anwar. Yudi membuka pintu ketika mendengar teriakan Aria. Yudi berlari dan memeluk Aria yang sedang tidak bisa mengendalikan diri. Aria berusah meronta dari pelukan Yudi. Aria berlari menuju pintu depan, ia hendak pergi kerumah Anwar. Tetapi, Yudi mencegahnya sekuat tenaga. Ia takut keadaan Aria semakin parah saat melihat Anwar dimakamkan. Aria mulai melemah, ia kehilangan kekuatan. Ia tidak sanggup menerima kenyataan yang pahit menimpanya. Ia pasrah ketika Yudi membawanya kembali kekamar. Yudi memberi Aria segelas air putih. Namun, Aria tetap terdiam. Pandangannya kosong kedepan.
“Aria, minumlah.” Aria tetap terdiam.
“Aria, ayolah bangkit. Jangan lemah. Daripada kamu menyiksa diri kamu sendiri seperti ini. Malah membuat Anwar semakin sedih. Lebih baik kamu bangkit supaya Anwar bahagia.” Yudi berusaha menasehati Aria.
“aku yakin, Anwar gak nyuruh kamu untuk rapuh saat ia pergi untuk selamanya. Justru Anwar nyuruh kamu lebih semangat lagi.”
“Aria, kalo kamu bahagia, Anwar lebih bahagia.” Perlahan Aria menatap Yudi. Yudi tersenyum menyakinkan ucapannya kepada Aria.
“kamu gak usah takut terjatuh. Aku masih sanggup ada buat kamu, Aria.” Aria memeluk Yudi. Yudi sedikit terkejut namun ia tersenyum dan memeluk Aria dengan erat. Ia berharap hari esok akan hadir Aria yang baru. Aria yang selalu ceria dan tidak pernah menangis lagi.