Bukan Lelaki Idaman
(Cerpen fiksi)
By: Ana Juliana
[Dewa, maaf kita putus!]
Deg!
Aku menarik diri dari teman-teman yang sedang asyik bernyanyi bersama di iringi petikan gitar yang dimainkan oleh salah satu dari mereka.
Warung Mak Ijah letaknya sekitar 10 meter dari sekolah menjadi tempat favorit kami setelah selesai belajar untuk sekedar berkumpul dan seru-seruan.
Selain harga pada setiap menu yang ramah di kantong pelajar, rasa dari makanannya juga membuat betah, terutama sikap Mak Ijah yang ramah, merangkul kami seperti anaknya sendiri.
Sebenarnya Mak Ijah tidak terlalu tua, usianya sekitar 50 tahunan dengan postur tubuh yang tidak terlalu tinggi, dia sedikit gemuk, perawakannya terlihat seram, tapi sebenarnya Mak Ijah itu humoris.
Beberapa kali menelpon nomor si pengirim pesan, hendak meminta penjelasan, tapi nihil. Dia sama sekali tidak mengangkatnya.
Satu kalimat yang dia kirim melalui SMS mampu meluluh lantahkan hatiku.
Nyeri sekali!
Dadaku serasa terhimpit, mata mulai panas menahan tangis, aku menarik nafas beberapa kali untuk melonggarkan dada, dalam hati bertanya-tanya kesalahan apa yang sudah kulakukan hingga membuat dia mengambil keputusan ini?
Padahal hubungan kami baik-baik saja. Malam minggu kemarin kami asyik menghabiskan waktu di pasar malam, naik kora-kora, ombak banyu, bianglala, kami bahkan menonton pertunjukkan tong setan, dia tertawa lepas tanpa ada tanda-tanda kemarahan.
Tidakkah dia tahu? Ini seperti dia dengan sengaja menghunus pedang ke hatiku? Membuat rasa yang semula menggebu menjadi hancur berantakan.
Nadia, seorang gadis cantik yang memiliki lesung di kedua pipinya, dia memiliki mata almond dengan bulu mata yang lentik.
Seorang gadis yang membuatku tergila-gila sejak pertama kali melihatnya.
Dia memiliki alis tebal dengan bingkai rapi meski tidak dibubuhkan pensil alis. Bibirnya juga seksi nyaris berbentuk hati, hidungnya mancung dengan ujung yang lancip.
Sejak pertama masuk, Nadia menjadi idola bagi kaum Adam di sekolah.
Aku masih ingat betul bagaimana perjuangan mendapatkannya, bersaing dengan lelaki lain, berbagai cara dilakukan agar dia luluh, meski awalnya aku sempat pesimis karena tidak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan di hadapannya.
Wajahku?
Banyak orang bilang wajahku lumayan. Ya, hanya sebatas lumayan, tidak tampan seperti kebanyakan lelaki lain yang mengejarnya.
Jadi, alasan satu-satunya yang membuat Nadia luluh adalah ketulusan dan kesungguhanku dalam mendapatkan hatinya.
"Kenapa lu? Tiba-tiba ditekuk gitu mukanya?" tanya Hendra, salah satu sahabatku.
Aku sudah kembali bergabung bersama mereka dengan perasaan tidak karuan, tatapan kosong, tidak bisa menyembunyikan kesedihan hingga mereka dengan mudah menebak suasana hatiku.
"Nadia mutusin gue," jawabku lemah, suasana riuh menjadi hening seketika saat mereka mendengar kabar buruk itu.
"Kok bisa? Lu ngelakuin apa sampai diputusin?" tanya Ryan, sahabatku yang lain.
"Nggak ada, kita baik-baik aja. Gue juga bingung kenapa dia mutusin gue."
"Terus lu mau diam aja kayak gini? Meratapi nasib tanpa ngelakuin apa-apa?" Hendra menimpali dengan gemas,
"Terus gue bisa apa?"
"Ya lu susul lah! Minta penjelasan dari dia,"
"Gue nggak tahu rumahnya,"
"Dua tahun lu pacaran sama dia, sampai sekarang belum tahu rumahnya? Kacau lu!" Hendra terhenyak tidak percaya, yang lain geleng-geleng kepala merasa heran.
***
Esoknya, saat jam pulang aku menunggu Nadia di gerbang sekolah. Hendak meminta penjelasan darinya tentang keputusan sepihak yang membuatku tidak tidur semalaman.
Menit berlalu, Nadia terlihat berjalan keluar kelas bersama dua sahabatnya, mereka berbincang sambil sesekali tertawa, seperti tidak terjadi apa-apa.
"Nadia, kita harus bicara!" ucapku menghampiri Nadia, kedua sahabatnya pamit pulang duluan, memberikan ruang bagi kami bicara empat mata.
Aku mengajak Nadia berjalan menjauh dari sekolah, menuju warung Mak Ijah yang kebetulan sepi.
Nadia duduk, sedangkan aku memilih berdiri seolah sedang menghakiminya, pandangan ini tidak lepas dari wajahnya yang terus menunduk. Di wajah cantik itu tidak terlihat sedikit pun raut penyesalan, apakah memang cintanya padaku sudah benar-benar hilang?
"Kenapa kamu tiba-tiba mutusin aku?" tanyaku mulai mengawali percakapan, menghilangkan hening yang sejak tadi menyelimuti.
"Apa aku melakukan kesalahan yang nggak bisa di maafkan?" tambahku mencecar.
Nadia menggelengkan kepala, rambut panjangnya melambai-lambai mengikuti semilir angin.
"Lantas kenapa?" tanyaku lagi dengan dada yang mulai bergemuruh,
"Maaf, aku memiliki lelaki lain." ucap Nadia tanpa mengangkat wajahnya.
Seperti petir yang menyambar tepat di atas ubun-ubun, membuat badan lemas seketika, aku menghempaskan diri di kursi sebelah Nadia, tatapan semakin mengabur seiring sesaknya air di dalam mata, sedetik kemudian meluncur bebas membasahi pipi.
Tidak peduli seberapa kuat aku menahan, air mata malah semakin deras seolah mengungkapkan rasa sakit yang tidak mampu dideskripsikan dengan kata.
"Sudah lama?" tanyaku sedikit terbata,
"Kenalnya cukup lama, tapi baru kemarin pacaran, saat aku sudah memutuskanmu lewat SMS." ucap Nadia datar.
"Kuharap dia lebih baik dariku," Sesak di dada semakin menjadi tatkala aku mengucapkan itu.
Setiap hari aku selalu berusaha menjadi yang terbaik untuknya. Nyatanya, yang terbaik menurutku, berbeda dengan versi Nadia.
"Ya, dia anak dari keluarga kaya, dia bisa kapan saja menjemputku dengan motornya. Saat pergi kencan, dia royal mengeluarkan uang, tidak sepertimu yang kemana-mana hanya naik angkot saja. Saat kencan pun aku sering mengeluarkan uang sendiri. Kamu pikir aku bisa tahan dengan lelaki pelit macam kamu?"
Akhirnya alasan sebenarnya terungkap dari mulut Nadia, kejujuran dia membuat hatiku semakin ngilu. Meski dia bicara yang sebenarnya, tapi kenapa ini terasa sangat menyakitkan?
Ya, aku tidak mempunyai motor seperti kebanyakan siswa lain, karena keluargaku bukan orang kaya, pantas saja Nadia sering menolak saat aku ingin mengantarnya pulang naik angkot, mungkin dia malu karena teman-temannya sering dijemput dengan motor gede oleh pacarnya.
Dan lagi, bukannya tidak mau royal. Jika punya, aku rela memberi semua kepadanya, hanya saja uang jajanku terbatas.
Kadang tidak setiap hari aku mendapatkannya jika uang yang didapat bapak dari hasil menjual bakso keliling hanya cukup untuk makan saja. Saat ingin mengajaknya pergi malam mingguan, aku harus menyimpan seluruh uang jajanku seminggu penuh.
Ponsel Nadia berdering memecah ketegangan diantara kami.
"Ya, aku di dekat warung. Dari gerbang sekolah lurus saja." ucapnya kepada orang di seberang telepon.
Tidak lama datanglah seorang lelaki menggunakan almamater kampus ternama mengendarai motor Ninja keluaran terbaru.
Dia berhenti tepat di depan warung Mak Ijah, membuka helm full face, seketika wajahnya yang tampan menyembul beriringan dengan senyum yang memamerkan gigi putihnya.
Nadia beranjak menghampiri lelaki itu, mereka saling sapa dengan melemparkan senyum manis, laki-laki itu memakaikan helm karakter Doraemon di kepala Nadia. Aku hanya bisa menyaksikan pemandangan ini dengan tatapan nanar.
***
Sejak saat itu aku berjanji akan bekerja keras. Aku tidak pernah membenci Nadia, berkatnya aku termotivasi untuk menjadi orang sukses hingga akhirnya aku berada di titik sekarang.
Menjadi pengusaha bakso dengan 30 cabang lebih yang tersebar di berbagai kota. Meraih banyak penghargaan di usiaku yang baru menginjak angka 25 sebagai pengusaha muda sukses.
Aku juga sering di undang menjadi motivator di berbagai kampus, komunitas dan acara lainnya.
Nadia, sampai detik ini aku bahkan masih sering mengagumi kecantikan dari foto-foto yang bertengger di sosial media miliknya.
Tidak ada yang berubah, dia masih cantik seperti dulu, bahkan kurasa sekarang malah tambah cantik.
Sayangnya dia sudah bahagia dengan lelaki yang menjemputnya saat pertemuan terakhir kami, kebahagian mereka terlihat sempurna dengan hadirnya buah cinta mereka. Gadis kecil berumur dua tahun yang memiliki mata indah persis seperti ibunya.
Aku?
Masih menikmati kesendirian di tengah-tengah kesibukan mengurus bisnis.
-Tamat-
Bandung, 21 Desember 2022