3 bulan setelah pernikahan Rafa dan Audira, tak membuat Vera terus meratapi kesedihan yang tiada ujungnya itu. Ia malah semakin giat untuk terus menggapai impiannya menjadi seorang desainer muda.
Vera sadar, ini semua merupakan jalan kehidupan yang akan ia lewatkan dan itu semua akan mendapatkan gantinya yang lebih baik.
Setelah sukses menjalankan proses menjadi seorang desainer, Vera berniat untuk refreshing dari pekerjaannya yang lumayan padat dengan 'waktu sendirian' menurutnya sudah lebih dari cukup.
"Fabi ayyi aalaaa'i Rabbikumaa tukazzibaan" Ucapnya seraya mengikis senyum mengingat arti dari ayat surah ar-rahman tersebut.
Disaat ia mendongak melihat awan yang seakan ikut tersenyum, seorang anak perempuan dengan rambut yang dikuncir kuda datang mengguncang guncang bahu Vera
"Aunty aunty aku kehilangan mama aku, tolongin aku aunty tolong" ucapnya seraya menahan Isak tangis
"Oh tuhan apa semua anak kecil seperti ini, memanggilku dengan sebutan aunty, hah apa tadi, mamanya hilang, kebalik ga sih" Batinnya dalam hati, pasalnya setelah melihat gadis kecil itu, ia jadi teringat dengan shakeel, si bocah polos dengan wajah imut itu.
"Oke oke adik tenang dulu yaa, kita cari mamanya sama sama, tadi adik darimana dan inget ga lokasinya dimana?" tanyanya pelan agar si gadis kecil tersebut dapat mencerna kata per kata Vera
"Tadi aku dari mall depan nungguin mama beli sayuran di lantai dua, terus aku liat ada sepatu Dede bayi jatoh jadi aku tolongin, tapi mama langsung hilang gitu aja aunty hikss" ucapnya panjang lebar seraya mengusap air matanya yang hendak jatuh
"Gapapa gapapa kita cari sama sama yaa, niat kamu baik banget Allah pasti tolongin kok" Vera mengusap kepala anak itu untuk menenangkan agar tangisnya berhenti.
Setelah sampai di lantai satu, Vera bertanya kepada salah satu karyawan yang bekerja sebagai seorang kasir mengenai tempat petugas keamanan, biasanya para orang tua yang kehilangan anak anaknya akan melapor ke petugas keamanan untuk di konfirmasikan kepada seluruh pengunjung mall.
Sesampainya disana, benar saja, ia melihat kedua orang tua dengan raut wajah cemas mondar mandir menunggu sebuah informasi.
"Aunty itu mama sama papa disitu, ada Abang juga" ujarnya semangat dengan binar seri di wajahnya.
Gadis tersebut telah lebih dulu berlari kearah orang tuanya, mereka sontak memeluk sang anak, Vera tersenyum melihat keharmonisan keluarga tersebut.
"Darimana aja sih nak?, mama khawatir kamu diculik om om jahat"
"Shafa gapapa kok ma, karna di tolongin aunty cantik itu" Anak tersebut menunjuk Vera dengan senyuman yang merekah seakan sangat berterima kasih dikarenakan menemukan orang tuanya.
"Mohon maaf ini mbaknya yang udah nolongin anak saya ya?" Tanya ayahnya
Vera mengangguk "Tadi adiknya minta tolong buat cariin mamahnya katanya, syukur deh kalo ibu sama bapak juga ga mondar mandir naik turun lantai jadi ga susah carinya"
"Terima kasih banyak mbak, ga tau lagi kalo bukan mbak yang nolongin, saya nyesel banget milih sayur tapi lupa sama anak" ibu itu menggenggam tangan Vera
"Gapapa Bu, hati hati yaa, semua ini udah di atur sama Allah dan ia sebaik baiknya penolong kita" Vera mengelus telapak tangan ibu itu yang baginya terasa sangat dingin.
"Vera duluan ya Bu, dadah adik kecil" Vera melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan keluarga tersebut.
"Namanya Shafa dan sepertinya sebaya dengan Shaqeel, tapi Shafa dan lancar ngomong, tau deh bodo amat, anak kecil sama semua bentuknya." Vera kembali berjalan kearah taman dengan membawa satu kantung jajanan serta coklat.
3 bulan setelah pernikahan Rafa dan Audira, tak membuat Vera terus meratapi kesedihan yang tiada ujungnya itu. Ia malah semakin giat untuk terus menggapai impiannya menjadi seorang desainer muda.
Vera sadar, ini semua merupakan jalan kehidupan yang akan ia lewatkan dan itu semua akan mendapatkan gantinya yang lebih baik.
Setelah sukses menjalankan proses menjadi seorang desainer, Vera berniat untuk refreshing dari pekerjaannya yang lumayan padat dengan 'waktu sendirian' menurutnya sudah lebih dari cukup.
"Fabi ayyi aalaaa'i Rabbikumaa tukazzibaan" Ucapnya seraya mengikis senyum mengingat arti dari ayat surah ar-rahman tersebut.
Disaat ia mendongak menatap awan yang seakan ikut tersenyum, seorang anak perempuan dengan rambut yang dikuncir kuda datang mengguncang guncang bahu Vera
"Aunty aunty aku kehilangan mama aku, tolongin aku aunty tolong" ucapnya seraya menahan Isak tangis
"Oh tuhan apa semua anak kecil seperti ini, memanggilku dengan sebutan aunty, hah apa tadi, mamanya hilang, kebalik ga sih" Batinnya dalam hati, pasalnya setelah melihat gadis kecil itu, ia jadi teringat dengan Shakeel, si bocah polos dengan wajah imut itu.
"Oke oke adik, tenang dulu yaa, kita cari mamanya sama sama, tadi adik darimana dan inget ga lokasinya dimana?" tanyanya pelan agar si gadis kecil tersebut dapat mencerna kata per kata Vera
"Tadi aku dari mall depan nungguin mama beli sayuran di lantai dua, terus aku liat ada sepatu Dede bayi jatoh jadi aku tolongin, tapi mama langsung hilang gitu aja aunty hikss" ucapnya panjang lebar seraya mengusap air matanya yang hendak jatuh
"Gapapa gapapa kita cari sama sama yaa, niat kamu baik banget Allah pasti tolongin kok" Vera mengusap kepala anak itu untuk menenangkan agar tangisnya berhenti.
Setelah sampai di lantai satu, Vera bertanya kepada salah satu karyawan yang bekerja sebagai seorang kasir mengenai tempat petugas keamanan, biasanya para orang tua yang kehilangan anak anaknya akan melapor ke petugas keamanan untuk di konfirmasikan kepada seluruh pengunjung mall.
Sesampainya disana, benar saja, ia melihat kedua orang tua dengan raut wajah cemas mondar mandir menunggu sebuah informasi.
"Aunty itu mama sama papa disitu, ada Abang juga" ujarnya semangat dengan binar seri di wajahnya.
Gadis tersebut telah lebih dulu berlari kearah orang tuanya, mereka sontak memeluk sang anak, Vera tersenyum melihat keharmonisan keluarga tersebut.
"Darimana aja sih nak?, mama khawatir kamu diculik om om jahat"
"Shafa gapapa kok ma, karna di tolongin aunty cantik itu" Anak tersebut menunjuk Vera dengan senyuman yang merekah seakan sangat berterima kasih dikarenakan menemukan orang tuanya.
"Mohon maaf ini mbaknya yang udah nolongin anak saya ya?" Tanya ayahnya
Vera mengangguk "Tadi adiknya minta tolong buat cariin mamahnya katanya, syukur deh kalo ibu sama bapak juga ga mondar mandir naik turun lantai jadi ga susah carinya"
"Terima kasih banyak mbak, ga tau lagi kalo bukan mbak yang nolongin, saya nyesel banget milih sayur tapi lupa sama anak" ibu itu menggenggam tangan Vera
"Gapapa Bu, hati hati yaa, semua ini udah di atur sama Allah dan ia sebaik baiknya penolong kita" Vera mengelus telapak tangan ibu itu yang baginya terasa sangat dingin.
"Vera duluan ya Bu, dadah adik kecil" Vera melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan keluarga tersebut.
"Namanya Shafa dan sepertinya sebaya dengan Shaqeel, tapi Shafa dah lancar ngomong, tau deh bodo amat, anak kecil sama semua bentuknya." Vera kembali berjalan kearah taman dengan membawa satu kantung jajanan serta coklat.
Ya sisi yang kita ketahui dari Zaskia Veranda adalah Vera sangat menyukai segala macam jenis coklat dan akan selalu ia bawa kemana mana didalam tas kesayangannya.
***
#yang mau cerpen ini dijadiin novel komen yaa, masih ragu soalnya hhe
peace✌🏻