Bertha menggeliat demi mendapat sedikit rasa nyaman. Sungguh, siksaan yang teramat berat bagi cewek itu, berada dalam ruang yang sangat sempit dan gelap. Ya, Bertha benci ruangan sempit, apalagi pekat seperti ini.
Di hari yang lalu, Bertha bergerak sangat lincah—meski tak punya kaki—melompat ke sana kemari, bahkan berguling dari daun satu ke daun yang lain. Bertha yang suka ngemil, tak sulit mendapat camilan kesukaannya, pucuk daun jambu muda. Namun, kini Bertha merasa sangat tersiksa, harus bergelung di ruang gelap dan sempit dengan perut melilit menahan lapar.
"AH, AKU SUDAH TAK TAHAN LAGI. PERSETAN DENGAN PENJARA INI!" teriak Bertha sambil menggeliat lebih kuat.
Bertha menendang dengan kuat, mencakar dengan hebat, bahkan seluruh tubuhnya bergerak dengan sangat liar, tapi selaput yang mengekang seluruh tubuh Bertha, jauh lebih kuat.
"SIAL! AKU INGIN KELUAR!"
Suara Bertha terpantul pada tembok yang memenjarakan tubuhnya, membuat telinga terasa pekak.
"Au, kupingku rasanya budeg. Siapa sih yang teriak-teriak kayak orang kesurupan kayak gitu?" gumam Bertha frustasi.
Bertha tak menyadari, di ruangan yang teramat sempit itu dia sendirian, tanpa ada seorangpun yang menemani, benar-benar sendiri. Lalu, suara siapa itu tadi? Tentu saja suara Bertha sendiri.
"Aku lapar ...." keluh Bertha sambil memegang perut.
Tiba-tiba, terlintas sebuah ide di benak Bertha. Dia akan memanfaatkan kukunya yang panjang untuk merobek membran yang mengurungnya, ya ... sebuah ide yang sangat brilian sekali.
"YES, BERHASIL, SUKSES! KAMU HEBAT BERTHA!"
Sorak Bertha penuh kegirangan membahana, ketika membran itu sedikit koyak. Sinar matahari yang berhari-hari tak lagi Bertha jumpai, saat ini mulai mengintip dari balik membran yang koyak. Udara segar juga mulai menerobos masuk.
Bertha menghirup oksigen dengan rakus, memenuhi rongga dadanya yang berhari-hari terasa sesak. Setelah merasa cukup beristirahat, kembali Bertha melanjutkan perjuangannya. Dengan sekuat tenaga, Bertha merobek membran lebih lebar, dan beringsut keluar dari tempat itu.
"BERTHA? APA YANG KAMU LAKUKAN?"
Sesosok mahluk cantik terbang mengelilingi tempat Bertha melepas lelah.
"Ka ..., kamu siapa?"
"Kamu tak mengenali aku, Bertha?"
Bertha menggeleng lemah, sungguh dia tidak kenal dengan mahluk cantik itu. Tapi ... dia mengenalku? Aneh sekali, siapa dia? batin Bertha.
"Aku Niken, Bertha. Niken tetanggamu dulu di rumah lama, sebatang pohon jambu."
"Nik ... Niken? Kenapa kamu sangat berubah? Kamu sekarang cantik sekali, sampai aku pangling, tak lagi mengenalimu."
"Kamu juga nanti akan jadi cantik seperti aku, Bertha. Tapi ...."
"Tapi apa, Ken?"
"Ah, tidak. Kamu tunggu aja sayap kamu kering ya, nanti kamu bisa terbang dan cantik seperti aku."
Bertha memandangi seluruh tubuhnya. Baru saja dia menyadari, ternyata tubuhnya berubah. Tak ada lagi bulu-bulu kasar yang tumbuh lebat di sekujur tubuhnya. Karena bulu-bulu itu, dia dulu sangat dihindari oleh manusia. Kulit manusia akan bentol-bentol dan terasa gatal serta perih bila di garuk. Di punggung Bertha juga tumbuh dua pasang sayap yang tampak masih basah.
"Aku pergi dulu ya, Tha? Bunga-bunga di sebelah sana sangat menggoda untuk ku hisap sarinya. Perutku lapar sekali."
"Tunggu-tunggu, Ken! Kamu berkata akan menghisap sari bunga karena lapar? Bukankah makanan kita daun, ya?"
Niken tergelak karena merasa lucu mendengar perkataan Bertha. Bagaimana mungkin seekor kupu-kupu tidak tau kalau makanan mereka sari bunga?
"Udah, kamu tunggu aja sampai sayapmu kering, terus nanti susul aku ya, Tha! Sampai ketemu lagi."
Niken melesat terbang tanpa menghiraukan teriakan Bertha yang memanggilnya. Niken terus saja terbang pergi tanpa menoleh. Saat tiba di atas setangkai bunga kuning yang cantik, Niken terdiam, kemudian tersedu perlahan.
"Kasian sekali kamu, Bertha. Andai kamu lebih sabar dikit untuk menunggu, kamu tak akan mengalami nasib malang seperti sekarang ini," Niken semakin tersedu.
Rasa tak sabar yang dimiliki Bertha, kembali membuatnya bertindak sesuai kehendak hati dan pemikirannya sendiri.
"Aku akan menggerakkan sayapku ini dengan kuat, agar cepat kering tertiup angin. Tak sabar aku untuk menyusul Niken ke sana, bunga-bunga itu terlihat sangat menggoda. Ah, mungkin aku memang bosan makan daun-daun, hingga membayangkan betapa lezatnya menghisap sari bunga," gumam Bertha.
Menuruti kehendak hatinya, Betha mengerakkan sayapnya dengan kuat, bahkan teramat kuat, hingga tiba-tiba ....
KLEKK
Bunyi patah yang lirih, terdengar bagai guntur di siang yang sangat panas bagi Bertha. Terkejut, takut, itulah yang sekarang ini dirasakannya.
Dengan sangat hati-hati, Bertha mencoba mengerakkan sayapnya yang patah. Usahanya yang pertama kali ternyata gagal. Dengan menguatkan hati, Bertha mencoba sekali lagi, namun berakhir dengan kegagalan lagi.
Bulir bening mulai merembes dari kedua mata Bertha, hingga membasahi pipinya. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya, hingga membuat sayapnya menjadi lepek.
Berkali-kali Bertha kembali mencoba, sampai dia merasa putus asa. Menangis dan meraung sekuat tenaga Bertha lakukan, tapi tak mengubah keadaan. Sayapnya tetap patah dan Bertha tak bisa terbang.
"Aku cacat, aku tak berguna, aku putus asa, aku mau mati saja."
Berulang kali Bertha menggumamkan kata-kata itu bagai sebuah mantra, tapi tak membuat keadaan berubah menjadi baik. Rasa lapar juga membuat Bertha sangat tersiksa, namun apa daya, tangkai bunga itu terlalu mustahil untuk dijangkau.
Bertha hendak memakan pucuk jambu muda di dekatnya, makanan yang dahulu sangat disukainya. Tapi entah kenapa, saat ini Bertha sangat tidak tertarik untuk sekedar mengunyahnya.
"Apa yang harus kulakukan ya Tuhan? Kenapa Engkau tidak mencabut saja nyawaku, agar aku terlepas dari penderitaan ini?" keluh Bertha.
Terlintas juga dalam benak, untuk menjatuhkan diri ke bawah, ke arah batu-batu runcing yang tertata rapi di bawah pohon jambu, tapi Bertha takut merasakan sakit.
Dari kejauhan, tampak setangkai bunga seperti terbang ke arahnya, membuat Bertha mengucek matanya agar lebih jelas melihat. Tangkai bunga itu semakin lama semakin dekat, tapi Bertha yang sudah sangat putus asa, menganggapnya hanya sebuah fatamorgana.
"Rasa lapar membuat orang berhalusinasi," gumam Bertha sambil menutup matanya, pasrah pada nasib yang akan membawanya.
"Ber, Bertha, bangun! Ini ku bawakan setangkai bunga untukmu, hisap lah sarinya, dan redakan lapar mu," kata Niken sambil mengguncang bahu Bertha pelan.
"Nik ... Niken? Ini beneran kamu, aku gak mimpi, kan?"
"Enggak kok, ini nyata. Aku memang membawakan setangkai bunga untuk kau hisap sarinya."
Dengan rakus, Bertha menghisap sari bunga itu sampai habis, membuat perutnya sedikit merasa kenyang.
"Ken, boleh aku bertanya?"
"Tanya apa, Tha?"
"Kenapa sayapmu masih utuh dan sayapku malah patah?"
"Itu karena kamu terlalu memaksa untuk keluar dari kepompong. Semua itu ada waktunya sendiri-sendiri, Tha, karena kalau dipaksa, sayapmu akan patah seperti sekarang ini."
"Jadi, Ken, aku cacat karena kesalahanku sendiri?"
"Iya, Tha. Itu semua karena kamu kurang sabar."
Bertha menangis tersedu, menyesali semua kesalahan yang sudah dia lakukan. Namun, penyesalan datangnya akan selalu terlambat.
Niken membiarkan Bertha yang menangis dan meraung menyesali semua perbuatannya. Tapi dalam hati Niken berjanji, akan selalu membawa setangkai bunga untuk Bertha, sampai tubuhnya menjadi renta, dan tak sanggup untuk terbang lagi.