Adakalanya, seorang remaja menjalani kehidupan sekolahnya dengan penuh luka dan menyembunyikan lukanya.
Tetapi, ada juga seorang remaja yang menjalani kehidupan sekolahnya dengan selalu berpura-pura baik dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.
Kesampingkan tentang dua tipe remaja di atas, ada juga seorang remaja yang tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya dan mempunyai mulut pedas.
Banyak sekali tipe remaja di dunia yang luas ini. Dan... aku hanya bisa memberitahukan tiga tipe remaja di atas.
Di tahun keduaku, hari pertama masuk sekolah setelah beberapa Minggu liburan.
Tampak jalanan menuju gerbang sekolah sangat ramai anak-anak yang berjalan maupun mengendara datang memasuki halaman.
Deru mesin terdengar sampai sini—rooftop sekolah. Canda tawa serta obrolan para murid pun sayup-sayup kudengar. Apalagi suara cipratan air yang pasti pelakunya adalah murid yang kekanak-kanakan atau jahil.
Bau hujan yang membekas masih bisa diterasa. Tadi malam... hujan mengguyur kota semalaman. Itu sedikit aneh, bukankah sekarang musim kemarau?
Ya. Itu mungkin akibat pemanasan global jadinya cuaca tak menentu.
Akibat ya...
Ketika aku memejamkan mataku. Aku selalu teringat akan sesuatu. Mungkinkah itu akibat juga?
Aku terbangun dari posisi terbaringku. Menoleh ke kanan-kiri dan tak sengaja mataku menangkap sebuah pemandangan yang buruk.
Di bawah, ah—lebih tepatnya di gang sempit. Terjadi pembullyan.
Tentunya murid-murid yang berjalan disekitarnya tak menyadarinya atau lebih tepatnya mengabaikannya karena tidak ingin mendapatkan getahnya.
Kasihan...
Korbannya itu salah satu contoh tipe remaja ke satu.
Tapi, apa peduliku?
Ternyata berangkat kepagian malah menemukan pemandangan yang buruk.
Seringkali aku melihat pemandangan itu. Anak-anak remaja yang nakal. Remaja yang hanya bisa menindas orang lain.
Aku berpikir bahwa...
Remaja.
Anak-anak yang masih terjebak dalam masa pubertas.
Suasana hati yang tidak menentu. Pemikiran yang kekanak-kanakan. Masih sulit membedakan yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Naif, labil, dan penuh tekanan.
Aku terjebak di masa remaja, masa pubertas ini.
Masa di mana seseorang tertawa, menangis, dan bertengkar karena hal sepele.
Dan dengan mudahnya jatuh cinta ke lawan jenis.
Sial! Aku ingin segera dewasa.
Aku ingin segera keluar dari rumah neraka itu.
Aku.. ingin terbebas dari belenggu seorang anak semata wayang yang harus menanggung beban keluarga.
Apakah aku bisa ... keluar dari nasib ini?
“Yo, Ethan! Lo ke mana aja?”
“Dari rooftop.”
Mungkin diriku sendiri merupakan salah satu contoh remaja tipe kedua. Pura-pura baik dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Melempar senyum di mana pun berada.
Orang munafik yang berpura-pura baik tapi hatinya kasar. Menyembunyikan kepribadian aslinya untuk menyenangkan orang-orang disekelilingnya.
Miris.
Dua Minggu kemudian.
Kelasku kedatangan murid baru. Katanya, dia adalah seorang siswi cantik dan menggemaskan.
Sesekali telingaku mendengar keluh kesah anak-anak perempuan di kelasku—gegara anak pindahan itu bukan seorang cowok ganteng.
Dasar cewek.
Bel sudah berbunyi 10 menit yang lalu. Namun, tidak ada tanda-tanda guru yang datang bersama murid baru.
Sayup-sayup terdengar suara sepatu hak tinggi mendekati kelasku bersamaan sedikit percakapan kecil.
Seorang guru wanita yang biasa dipanggil Bu Anik pun nampak masuk ke kelas. Dan diikuti oleh...
Dia.
Si murid baru itu.
“Hai, semua! Namaku Varsha Mashika! Panggil aku Varsha atau Parsha juga boleh kok! Salam kenal ya...!”
Tak kusangka aku akan bertemu dengannya lagi.
... Gadis hujan.
Gadis yang menyelamatkan diriku dari keputusasaan.
Dia kembali datang ke kehidupanku yang ... penuh kebohongan ini.