Aku berlari terseok-seok menelusuri pinggir danau, darah menetes dari kakiku di sepanjang jalan yang kulalui. Aku sudah tak sanggup lagi berlari. Tapi mereka masih mengejarku. Aku ambruk bertumpu pada tangan dan lututku. Bulir air mata jatuh menetes di genangan danau malam itu. Sesosok wajah yang terpantul di sana membuatku ngeri. Wajah penuh sayatan itu, hitam dan membusuk. Kusibakkan air itu mengaburkan pantulan wajahku. Aku tak boleh mati di sini. Aku ayunkan kembali langkahku.
***
Entah kapan aku mulai merasakan kehidupan ini, jika aku bisa memilih aku ingin tidak pernah hadir di antara manusia-manusia itu. Aku terbangun di suatu pagi dengan tubuh penuh sayatan, aku hanya merasa sangat bahagia. Aku tak pernah tahu tubuhku dianggap tak normal sebelum mereka mulai mengasingkan aku dan menyebutku monster. Aku hidup bersama seorang wanita yang kusebut ibu. Mereka memanggilnya penyihir tua. Aku tak pernah tahu alasannya, mengapa mereka memanggil wanita yang begitu baik sebagai penyihir. Paling tidak aku merasa aman selama ibu ada bersamaku.
"Kau bukan monster. Kau anak baik, jadi jangan dengarkan mereka." Selalu itu yang diucapkan ibu dengan lembut ketika aku pulang dengan luka lebam akibat lemparan batu.
"Bertahanlah. Kau anak yang kuat," ucap ibu mengusap kepalaku ketika aku pulang dengan wajah sedih karena mereka terus memanggilku monster.
"Aku akan melindungimu, jadi jangan takut. Pulanglah langsung ketika mereka mengejarmu." Itu ucapannya ketika aku pulang dengan menangis karena para warga mengacungkan parangnya padaku ketika aku hendak membeli beras. Atau ketika kami berjalan bersama di keramaian, ibu akan menggenggam tanganku kuat. Seakan mengatakan pada mereka, aku adalah anaknya dan tak ada seorang pun yang boleh mencemoohku. Ketika bersama ibu, mereka tak berani macam-macam padaku. Mereka takut pada ibu.
Di suatu malam ketika aku pulang dari mencari kayu bakar, aku menemukan pondok yang kami tempati hangus tak bersisa. Aku jatuhkan kayu bakar yang susah payah aku kumpulkan, dengan langkah tergopoh-gopoh aku berlari mendekati gundukan arang itu. Aku tak peduli pada gubuk itu, aku mencari ibu.
"Ibu!" panggilku lantang, namun tak ada suara. Ke mana dia? Dia tak pernah meninggalkan gubuk. Tubuhku gemetar membayangkan kemungkinan yang terjadi. Manusia itu, apakah mereka membawa ibuku? Aku kembali mencari-cari di setiap bongkah arang yang tersisa. Aku tak berharap menemukannya di sana. Aku tak berharap juga mereka membawa ibu pergi.
"Ibu!" suaraku yang parau terdengar menakutkan menggema di hutan itu.
Krekk
Aku merasakan sesuatu di bawah kakiku. Aku melihat apa yang kuinjak. Tulang manusia. Tidak. Aku segera meraih tulang itu. Tulang yang telah legam oleh arang. Aku tak ingin mempercayai itu, tapi itu pasti tulang ibu. Mereka membakarnya!
Aku menangis sepanjang jalan dengan tulang ibu yang berhasil aku kumpulkan. Ibu bilang padaku aku tak boleh menyakiti manusia, tapi ini sangat tak adil. Aku bahkan tak pernah menyentuh mereka, diam ketika mereka melempari aku batu dan segera berlari ketika mereka mengacungkan parang mengusirku. Aku diam saja, karena ibu selalu bilang bahwa manusia itu baik. Tapi kenapa? Kenapa mereka mengambil satu-satunya orang yang aku miliki? Ibu... . Dan kenapa kau tinggalkan aku sendirian?
***
Hari berlalu dengan aku yang berpindah-pindah di hutan itu, aku memakan hewan apa saja yang kutemukan. Ibu biasanya membakar mereka sebelum memakannya. Tapi aku tak pernah bisa membuat api, jadi aku memakan mereka mentah-mentah. Aku tak bisa merasakan apapun, ketika ibu bilang asin, manis, asam, yang kurasakan hanya hambar. Jadi selama perutku terisi, aku tak masalah memakan apapun. Aku tidur di atas pohon. Aku berusaha keras menaiki pohon itu dengan tubuhku yang lemah. Aku tak ingin manusia menemukanku di bawah. Setelah sekian lama, aku terbiasa memanjat pohon.
Aku menemukan pohon yang tinggi hari ini. Aku bersiap menutup mataku, ketika kudengar sayup-sayup manusia sedang berbicara. Jantungku berdegup sangat kencang, setiap kali mendengar suara mereka aku langsung ketakutan. Apakah mereka akan menemukanku?
2 orang manusia berjalan di bawah pohon yang sedang kutempati. Sepertinya sepasang kekasih karena sedang berpegangan tangan dengan mesranya. Aku menahan napasku. Aku berharap mereka tak melihatku. Namun menit berikutnya terjadi adegan yang membuatku mual. Pria itu menusuk wanita itu dengan pisau yang dia ambil dari saku celananya, kemudian pergi meninggalkannya di sana.
Aku gemetar melihat darah di perut wanita itu. Aku harus bagaimana? Akhirnya aku putuskan mendekati wanita itu.
"Tolong aku." Wanita itu menatapku penuh kengerian namun masih meminta tolong padaku. Aku segera mengangkat tubuhnya. Aku ternyata kuat mengangkatnya, tubuh kecilnya sangat ringan. Aku berlari menuju perkampungan terdekat. Aku akan menyerahkannya ke rumah terdekat dan berlari menjauh.
Aku terkejut begitu kami sampai di perkampungan. Suasana sangat ramai, labu oranye bertengger di setiap rumah. Rupanya ini hari Halloween, aku tak sadar. Aku teringat halloween tahun kemarin, aku bisa berjalan sesuka hati di perkampungan yang tak kukenal. Walau mereka akhirnya menjauhiku karena bau busuk dari tubuhku. Aku terpesona selama beberapa detik, sebelum orang-orang mulai berteriak. Aku terpaku di tempatku. Kerumunan orang itu dengan cepat makin membesar. Mereka menatapku dan menunjuk-nunjuk penuh kengerian pada gadis yang sedang ku angkat. Aku segera meletakkan gadis itu di sana. Aku tak ingin lebih dekat dengan mereka.
"Hana! Itu Hana anak Pak Hurai."
“Itu monster anak si penyihir!”
“Benarkah? Aku baru melihatnya. Aku baru dengar rumor tentangnya. Menakutkan sekali. Dia membunuh orang.”
"Cepat bunuh monster itu, apa yang telah dilakukannya pada Hana!" Suara-suara itu makin bising. Aku ingin mengatakan aku hanya mengantar gadis ini untuk diselamatkan, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutku. Aku bahkan tak kepikiran mengatakan dia mungkin saja akan dibunuh. Cepatlah, bawa gadis ini ke dokter. Aku memilih segera menjauh dari sana karena tahu mereka tak akan mendekati gadis itu jika aku masih di sana.
Namun begitu mereka mendekati Hana dan menemukan sebuah pisau tertancap di perutnya, mereka menjadi beringas. Mereka meraih apapun yang ada di samping mereka. Mereka mengejarku! Oh, apa yang kulakukan? Kenapa mereka marah padaku? Aku berlari ke dalam hutan, langkahku tak secepat mereka. Mereka berlari sangat cepat, bagaimana ini? Ibu .... Tolong aku.
Aku berlari melewati sulur-sulur tanaman yang makin mengoyak kulitku. Beberapa kali kakiku terantuk akar pohon yang tak terlihat digelapnya malam itu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu membelah betisku. Sebuah parang mendarat di sana. Mereka melemparkan parang padaku. Kenapa ini sakit sekali, lebih sakit dari lemparan batu. Tanpa berhenti, aku berusaha menarik parang yang masih menancap di betisku. Darah langsung mengalir dengan deras, tubuhku gemetar. Aku melihat danau di depan, berarti aku telah mencapai tengah hutan. Jika aku terus berlari mungkin aku akan selamat. Tengah hutan itu sangat belantara, tak pernah ada manusia yang mau mengambahnya. Karena memang memiliki medan yang sulit dilalui. Aku harus sampai sana.
Aku berlari terseok-seok menelusuri pinggir danau, darah menetes dari kakiku di sepanjang jalan yang kulalui. Aku sudah tak sanggup lagi berlari. Tapi mereka masih mengejarku. Aku ambruk bertumpu pada tangan dan lututku. Bulir air mata jatuh menetes di genangan danau malam itu. Sesosok wajah yang terpantul di sana membuatnya ngeri. Wajah penuh sayatan itu, hitam dan membusuk. Kusibakkan air itu mengaburkan pantulan wajahku. Aku tak boleh mati di sini. Aku ayunkan kembali langkahku. Namun belum lagi aku berdiri, sebuah tangan menyeretku dari pinggir danau. Mereka berhasil menangkap ku! Tidak.
Dengan samar aku melihat mereka mengayunkan parang padaku. Aku mendengar bunyi tulang patah dari tangan dan kakiku. Telingaku sayup-sayup mendengar mereka berteriak monster. Aku tak bisa bernapas, sakit. Ibu .... Maafkan aku tak bisa bertahan. Aku merasakan air mataku kembali mengalir sebelum semuanya menjadi gelap.