Terbayang lagi dalam ingatan Meena bagaimana ekspresi wajah papanya dulu ketika mendengar kabar buruk itu.
Vicky, suami Meena, kala itu kembali masuk penjara untuk kedua kalinya. Kasus yang sama menjeratnya lagi.
Vicky bekerja di sebuah bank milik swasta. Ia dan beberapa temannya terlibat kasus penggelapan uang di bank tersebut.
Awalnya Vicky tergiur dengan janji keuntungan besar dari teman-temannya. Vicky berfikir keuntungan yang diperolehnya nanti akan dapat digunakan untuk melunasi hutang-hutangnya.
Meena kerap kali menegur suaminya agar menghentikan kebiasaan buruknya bermain judi online. Tapi semuanya berujung keributan sehingga Meena berfikir dia lebih baik mengalah dan diam demi keutuhan rumah tangganya.
"Heh! Emang kurang apa aku nafkahi kamu dan anak-anak kita?!" Bentak Vicky sehari sebelum dia ditangkap oleh pihak yang berwajib.
"Iya, Vicky. Aku tahu... Aku paham... Tapi kalau kalah lagi, hutang kamu akan bertambah!"
"Dengan apa nanti kamu membayar semua hutang-hutang itu? Bagaimana nasib anak-anak kita nanti?"
Meena mulai terisak-isak dalam tangisnya. Ia tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya.
"Ahh!! Sebagai istri yang baik, harusnya kamu dukung aku, do'akan aku menang. Bukan ngomong asal begitu! Kalau aku menang, kan kamu juga yang senang!"
"Lagipula kenapa harus khawatir, kamu kan masih punya banyak harta warisan. Kita bisa memanfaatkan itu nanti jika terdesak sekali."
Vicky berkata sekenanya. Dia menghela nafas dan beranjak pergi meninggalkan Meena yang masih menangis terisak-isak di kamar.
Esok harinya, Vicky ditangkap oleh polisi dan harus menjalani pemeriksaan terkait kasus penggelapan uang. Setelah proses persidangan, Vicky ditetapkan sebagai salah satu pelaku. Dia mendekam di penjara untuk kedua kalinya dengan kasus yang tidak jauh berbeda.
Meena dan kedua puterinya shock luar biasa. Meena berusaha melakukan apapun demi bisa menebus suaminya agar bisa bebas dari hukuman.
Hingga suatu hari, dia teringat kembali akan kata-kata suaminya. Meena pun sengaja menemui papa dan mamanya untuk membicarakan hal itu.
"Meena! Berapa kali papa sudah katakan, dia bukan pria baik-baik!" Tegas suara Tuan Malhotra.
Mama Meena hanya bisa terdiam. Wanita itu sudah kehabisan kata-kata.
"Pa... Tolonglah kami... Vicky berjanji dia akan mengganti itu semua nanti..." Lirih suara Meena.
"Papa tidak membesarkan dan menyekolahkan kamu untuk jadi perempuan bodoh, Meena!" Ujar Tuan Malhotra.
"Sudah berapa kali dia berbohong dan kamu masih saja percaya..." Tukas Tuan Malhotra berang sambil beranjak pergi meninggalkan Meena dan Nyonya Malhotra.
"Ma... Meena harus bagaimana? Kasihan anak-anak, ma... Hiksss..." Isak Meena pilu.
Nyonya Malhotra memeluk Meena dan ikut menangis tersedu.
Waktu berlalu dan Meena tetap pada pendiriannya. Ia menjual harta warisan dari papanya berupa sebuah ruko tingkat tiga di pusat kota. Akhirnya Vicky bisa dibebaskan setelah sebulan mendekam di dalam sel tahanan.
Tuan Malhotra marah besar setelah mengetahui hal itu. Kemarahannya hari demi hari membuat kesehatannya terganggu.
Hingga pada suatu hari, ketika Meena datang kembali ke rumah kedua orang tuanya dengan membawa kabar buruk yang memperparah keadaan, Tuan Malhotra jatuh pingsan dan mengalami stroke.
Tuan Malhotra tidak mampu menahan emosinya ketika mengetahui Vicky ternyata telah berselingkuh dengan wanita lain dan mengabaikan Meena dan anak-anaknya.
Hari demi hari berlalu, kesehatan Tuan Malhotra semakin memburuk. Setelah koma selama tiga hari, Tuan Malhotra pun meninggal dunia.
Meena merasa dirinya semakin hancur. Hatinya telah hancur oleh suaminya. Kini hatinya remuk lagi karena kematian papanya.
Kini Meena terduduk lesu dan pilu menatap pusara papanya. Dia mengenang semua kesalahan yang pernah dilakukannya. Dia tahu, papanya sakit karena memikirkan masalah-masalah yang dia hadapi bersama suaminya.
Penyesalan datang menghinggapi benak Meena. Namun semua sudah tidak berarti. Papanya telah pergi. Suami yang dicintainya juga telah meninggalkan dia dan kedua anaknya.
"Papa... Maafkan anakmu ini..." Meena menangis sejadi-jadinya.
Meena merasa hidupnya sudah tidak berguna. Ingin rasanya dia mengakhiri hidupnya. Namun wajah kedua anaknya membuat dirinya tersadar. Dia harus tetap hidup demi membesarkan kedua anaknya.
Nyonya Malhotra menyentuh pundak Meena. Wanita itu terlihat semakin renta.
"Meena... Ayo kita pulang..." Ajak Nyonya Malhotra dengan wajah sendu.
Meena tidak menyahut. Pelan-pelan dia bangun dan mengikuti langkah Nyonya Malhotra menuju mobil mereka.
Sejenak kemudian, mobil yang membawa Meena dan Nyonya Malhotra telah meninggalkan tempat pemakaman. Gerimis mulai turun seolah ikut berkabung atas kesedihan Meena.
***TAMAT***