Mereka ada di samping kita, mereka menatap kita dari tempat yang dekat tapi sangat jauh.
Fanfic dari game Dreadout
"Linda...."
Sebuah suara cukup keras membangunkan seorang gadis berambut hitam panjang. Mata yang tadinya terpejam sukses terbuka dengan dramatis.
Napas berhembus cepat, selalu seperti ini. Linda tidak memerlukan alarm untuk bangun. Suara keras entah punya siapa selalu membangunkan Linda.
"Siapapun itu, terimakasih."
Linda berucap dalam hati, mata beriris hitamnya memperhatikan suasana kamar yang masih sama seperti malam terakhir dia tidur.
Meja dekat jendela yang tertutup, satu laptop model lama menghiasi meja belajar itu. Beberapa buku tulis dan paket juga menemani laptop.
Sebuah lemari dari bahan plastik berada di sudut kanan dekat jendela. Di atasnya terdapat satu kardus mie instan sejuta umat.
Mata Linda beralih pada sisi kiri dekat jendela, satu kamar mandi kecil berada di sana. Dengan semangat, Linda langsung berjalan untuk mandi.
Linda tidak pernah mau lama berada di kamar mandi, lima menit kemudian gadis dengan tinggi 165 senti meter itu keluar hanya menggunakan handuk.
Linda berjalan ke arah lemari, mengambil seragam putih abu-abu lalu dia memakainya dengan cepat.
Sebuah cermin besar di sudut kiri dekat tempat tidur menjadi tempat untuk bercermin dan merapikan pakaiannya.
Mata beriris hitam itu memperhatikan pantulan dirinya yang sudah rapi. Rok abu-abu di atas lutut, menampilkan kedua kaki jenjang terbalut kaos kaki putih cukup tinggi.
Baju putih berlogo SMA juga sudah terpasang cantik membentuk lekuk tubuh Linda. Dua kancing bajunya terbuka karena dada Linda yang terlihat sedikit besar dari ukuran untuk seusia Linda pada umumnya.
Seragam sekolahnya sudah rapi, baju yang dimasukan membuat lekuk tubuh Linda semakin indah untuk di lihat.
"Linda Melinda!"
Suara tidak asing terdengar dari luar kamar Linda, gadis berambut poni tail itu langsung menggendong tas miliknya. Dengan buru-buru keluar kamar untuk menemui sang pemilik suara.
"Selamat pagi, Teh Lisna." Linda menyapa ibu kostnya yang sedang berdiri dekat tangga.
"Maneh teh ngomong naon? Cik lalaonan!" Lisna, ibu kost Linda tidak paham dengan perkataan Linda.
Linda Melinda, gadis cantik dengan tampilan sekolah seperti bad girl ini tidak bisa berbicara dengan lancar. Vita suaranya rusak. Jika Linda berbicara, suaranya akan terdengar seperti hanya satu huruf.
"Se... La... Ma... Pa... G." Linda susah payah berbicara untuk membuat ibu kostnya paham, tapi sayang hal itu tidak bekerja dengan baik.
"Ah... Kumaha maneh. Nu penting, kade ulah poho bayar kost."
Lisna berbicara pada Linda menggunakan bahasa sunda, dia tidak peduli Linda berbicara apa. Seumur hidup, dia tidak akan paham dengan perkataan Linda yang gagu.
Linda mengangguk paham, dengan senyum manis dia berjalan meninggalkan Lisna. Linda sebelumnya sudah pamit, tapi tidak dihiraukan.
Linda sudah biasa, dia tidak pernah ambil pusing karena itu. Yang penting fokusnya adalah belajar dan bekerja untuk melangsungkan hidupnya.
Linda Melinda, gagu tidak bisa berbicara jelas, yatim piatu, dari lulus SD memutuskan untuk pergi ke kota demi melangsungkan hidupnya. Dia sendiri, tapi setiap detiknya rasa syukur terus bertambah.
Apalagi sekarang, Linda bisa menghasilkan uang dengan bekerja dan sekolah karena beasiswa. Untuk Linda, mengeluh tidak ada dalam kamusnya.
Berangkat sekolah menggunakan uber, kini Linda sudah sampai di sekolah Taruna Bangsa. Ini hari pertama dia bisa kembali sekolah setelah kejadian itu. Hati nya sedikit teriris mengingat kembali kejadian itu dan dengan tegar Linda berjalan ke arah kelasnya.
"Si gagu punya berapa muka sih? Dia gak malu ya?"
Suara menyakitkan menjadi teman Linda saat sedang berjalan ke kelas. Linda berusaha untuk menulikan pendengarannya.
"Udah gagu, so kecantikan banget sih. Lihat roknya yang di atas lutut! Dasar jalang!"
Kini suara lain menyahut, tatapan tajam dari mereka membuat jantung Linda semakin berdebar kencang.
"Dasar pembunuh! Bagaimana jalang model kayak gitu membunuh sahabatnya sendiri?"
Yang ini membuat Linda terdiam menunduk menatap sepatunya. "Shelly, Linda kangen." Satu tetes air mata berhasil lolos tidak bisa Linda tahan.
"Seharusnya dia berada di penjara!"
Linda menegakkan wajahnya menatap orang yang berbicara terakhir. "Linda tidak salah!" Hanya dalam hati Linda bisa membela dirinya.
Orang yang di tatap Linda, menatap Linda rendah dan jijik. Pria itu dengan tega meludahi sepatu Linda. Membuat gadis dengan rok pendek di atas lutut itu menahan napas.
Linda sangat syok mendapatkan perlakuan tidak bermoral seperti ini. Dengan langkah cepat, Linda berjalan ke arah kelasnya yang sudah dekat.
Kelas Linda ada di lantai dua, tinggal satu baris tangga dia sudah sampai di depan kelas. Ada beberapa siswa di depan kelas, masing masing ada yang sedang mengobrol, menikmati pemandangan sekolah. Beberapa ada di dalam kelas.
Tanpa menyadari situasi di sekeliling, Linda langsung memasuki kelasnya. Tapi satu hal yang membuat Linda terdiam di pintu masuk adalah tubuhnya seketika basah terkena sesuatu.
Linda merasakan kulitnya panas terkena air tadi. Matanya melihat banyak sekali biji kecil di baju dan tangannya. Linda tahu apa itu dan hatinya menjerit tidak terima di kerjai seperti ini.
"Beruntung air cabe rawit itu tidak mengenai wajah dan matamu, Linda!"
Suara girang dari dalam kelas memperhatikan Linda dengan bahagia. Tangannya memegang sebuah ponsel dan Linda yakin dia sedang direkam.
Air mata Linda tidak bisa di tahan mendapatkan perlakuan dari teman sekelasnya. Dia tidak menyangka akan mendapatkan semua ini, apalagi saat seorang siswa berjalan ke arahnya.
Mata Linda menatap tangan siswa itu, sebuah tepung langsung mendarat di kepala Linda. Seketika kembali hal tersebut membuat setiap orang yang menonton tertawa.
"Kami malu mempunyai teman kelas pembunuh seperti mu, Linda!" Siswa tadi berbicara dengan tinggi di hadapan Linda yang semakin mengeluarkan air matanya.
"But, selamat datang. Ini sedikit hadiah dari kami," sahut yang lain dari arah belakang Linda.
Linda hanya bisa menangis tanpa suara. Hatinya sangat hancur, mendapat perlakuan seperti ini membuat Linda merasakan sakit dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Dasar jalang pembunuh sialan!"
Linda tersadar, matanya menatap baju yang basah. Dia langsung berlari cepat ke arah kamar mandi. Mata dan hatinya seperti berdarah. Rasa malu menambah plus rasa tidak menyenangkan.
Malu, baju ketatnya tembus pandang karena basah. Linda semakin panik, mengabaikan tatapan aneh dan puas dari setiap siswa yang melihat. Mereka paham Linda sudah mendapat hadiah special dari teman sekelasnya dan Linda memang pantas mendapatkan semua itu.
Begitulah isi kelapa yang sedang memperhatikan Linda berlari.
Linda langsung masuk ke dalam wc, melepaskan baju basahnya. Linda dengan air mata yang masih mengalir, membilas baju nya sampai merasa air cabe itu hilang. Hatinya mengabaikan satu tatapan kosong yang sejak awal sudah menyambutnya.
"Tega!" Linda menjerit dalam hati, dia tidak bisa keluar WC dengan baju basah tembus pandang ini. Juga, Linda tidak bisa berada di dalam WC berlama-lama.
Dengan berat hati, setelah membersihkan diri dia keluar dari WC. Bekas air mata masih mengalir tanda hatinya masih sakit menerima perlakuan kejam teman temannya.
Linda Seketika terkejut saat melihat sosok tinggi bertubuh kekar yang berdiri di depan WC. Linda langsung menunduk menghindari tatapan datar dari siswa pria di hadapannya.
"Ini, gue tahu lo butuh." Dengan nada dingin dan datar, pria itu memberikan satu pasang seragam dengan handuk.
Tanpa menunggu jawaban Linda, pria itu langsung pergi dari hadapan Linda. "Terimakasih, Juan." Linda hanya bisa berterimakasih dalam hatinya. Linda senang Juan tidak membencinya, meski tatapan dingin dan tajam dari pria itu sedikit bertambah.
Tapi tidak masalah, setidaknya ada hal yang Linda syukuri hari ini. "Shelly, Linda minta maaf."
Perasaan senang Linda rasakan, dia sangat bersyukur karena Juan, siswa laki laki itu membantu dengan membawakan baju baru. Jika tidak ada Juan, Linda tidak tahu harus apa dan mungkin dia tidak bisa ikut kelas.
Linda memperhatikan pantulan tubuhnya di cermin, sudah rapi dengan seragam kering pemberian Juan. "Linda!"
Suara itu, Linda tiba tiba tersadar saat kembali mendengar suara yang memanggil namanya dengan nada tinggi.
Memang akhir akhir ini Linda cukup intens mendengar suara yang memanggil namanya itu. Tapi Linda tidak tahu pada tujuan suara itu sebenarnya.
Dilain sisi, Linda merasa terbantu dengan suara itu tapi juga terganggu. Apalagi saat ini Linda ada di kamar mandi, perasaan yang sendari tadi dia tahan bertambah besar hingga membuat pergerakan mereka menjadi lebih sering.
Linda menghembuskan napasnya berat. Dia sudah biasa, dirinya mencoba untuk bersikap biasa. Mengabaikan sosok yang sendari tadi memperhatikan Linda dengan penasaran dari sudut kamar mandi.
"Darah, darah, darah, darah."
Mahluk itu sudah bosan memperhatikan Linda, dia kembali pada kebiasaannya. Yaitu berjalan dari WC satu ke WC lainnya mencari darah sisa yang ada pada pembalut.
Sejak melihat mahluk itu pertama kali, Linda cukup terkejut. Bentuknya yang menyeramkan dengan luka sobek dari rahang kanan sampai tangan, juga jalannya yang merangkak menambah nilai keseraman wanita dengan baju lusuh itu.
Linda tidak merasa terganggu dengan dia, karena Linda tahu dia tidak akan bisa mencelakakan dirinya. Linda hanya perlu menghormati keberadaan mereka. "Darah, darah, darah, darah."
Linda yang sedang melamun kembali dikejutkan dengan suara itu. Dengan penasaran Linda melihat apa yang sedang dilakukan dia.
"Darah, darah, darah, Hihi, darah." Oke kali ini dia sedikit membuat Linda penasaran.
Linda melihat posisi dia yang ada di sudut kanan di dalam kamar mandi. Wajahnya menunduk melihat sesuatu, si dia terus menyebutkan darah sampai Linda tidak kuasa untuk melihat apa yang si dia lihat.
Linda berjalan mendekat, dia melihat banyak bercak darah di sudut kamar mandi, tapi mata tajamnya mengerut saat melihat satu benda kecil seperti jepit rambut.
Hatinya penasaran, dengan cepat Linda mengambil jepit rambut itu. Tangannya tiba-tiba kaku, jantung nya berdebar kencang. "Hihi... Darah." si dia yang melihat Linda langsung tertawa senang.
Linda terdiam, sebuah visual kejadian yang pernah terjadi di dalam kamar mandi ini perlahan lahan bisa Linda rasakan dan lihat.
Seorang wanita berjalan masuk ke dalam kamar mandi dengan senyum cantik dan manis. Shelly, wanita itu begitu bahagia karena tugasnya sudah selesai dikerjakan. Sekarang karena terlalu lama mengerjakan tugas, dia jadi ingin pipis.
Mata Linda memperhatikan setiap pergerakan Shelly sahabatnya yang kini sedang masuk ke dalam WC. "Shelly, Linda kangen." Linda melihat sosok Shelly yang kini sedang bercermin di depannya.
Tangan Linda berusaha memegang tubuh sahabatnya itu, tapi tidak bisa. Karena ini semua hanya visual yang berhasil direkam oleh bangunan kamar mandi. Hantu yang suka mencari darah di pembalut tadi menampakan visual itu untuk Linda.
"Aku udah gak sabar pulang ke kosan Linda, disana kita akan membuat seblak pedas lagi." Shelly berbicara di depan cermin, membuat Linda semakin merindukan sahabatnya itu.
Linda dan Shelly selalu menghabiskan waktu dengan membuat atau membeli seblak kesukaan mereka. Karena itu, Linda menjadi semakin rindu dengan Shelly. Sekarang mereka tidak bisa melakukan itu karena Shelly sudah meninggal.
Linda kemudian melihat Shelly berjalan menjauhi cermin. Wanita berkulit putih dengan rambut panjang itu meraih pintu, tapi belum sempat Shelly membuka pintu. Dua wanita segera masuk mendorong tubuh Shelly ke belakang sampai Shelly jatuh.
Linda menjerit dalam hati melihat sahabatnya jatuh. Dengan tatapan tidak rela, Linda melihat kedua wanita tadi, tapi tidak jelas. Wajah mereka seperti blur.
"Awww... Shelly-ku, sakit, ya?" Salah satu dari kedua wanita tadi mengejek Shelly yang sedang meringgis kesakitan karena jatuh.
"Kalian keterlaluan!" Shelly mencoba bangkit, dia berhasil tapi tidak lama, kemudian salah satu wanita tadi menarik rambut Shelly untuk kemudian di benturkan ke dinding dengan cukup keras.
Tawa seketika menggema di kamar mandi itu, dicampur dengan suara kesakitan dari Shelly karena kepalanya cukup ngilu akibat benturan tadi.
Linda memperhatikan kejadian ini dengan tatapan wajah yang terkejut. Shelly di buli? Linda baru tahu kalau Shelly di buli. Hatinya sangat sakit melihat itu dan kemana saja selama ini Linda sebagai sahabat, kenapa dia baru tahu kalau Shelly di buli seperti ini.
"Ini balasan untuk lo yang terlalu caper." Salah satu dari wanita itu menatap Shelly tajam penuh kebencian.
Linda yang melihat itu juga menatap tajam pada wanita yang sayangnya tidak terlihat jelas.
Tidak lama Shelly mendapat cacian dari salah satu wanita, satunya lagi tiba tiba muncul dari WC dengan air dua gayung. Kemudian air itu diguyurkan pada tubuh Shelly, darah yang muncul di kepala Shelly semakin banyak keluar membuat air tadi berubah warna menjadi merah.
"Sialan!" Shelly berteriak mencoba membuat kedua wanita tadi sadar dari perbuatan sialan mereka.
"Jangan bersuara! Oh... Atau lo mau pamer ya?" ucap salah satu dari dua wanita tadi.
"Iya deh yang suaranya di puji banyak orang." Kini wanita yang lain berbicara dengan nada sinis pada Shelly.
"Kalian keterlaluan, gue bakal aduin ke BK. Lihat saja! Sialan!" Shelly mencoba bangkit, tapi kedua wanita tadi langsung melotot tidak terima dengan perkataan Shelly tadi.
Dengan cepat mereka berdua mengapit Shelly, membawa Shelly ke arah WC, tapi seketika suara pintu terdengar membuat ke empat pasang mata langsung tertuju pada pintu.
Linda yang melihat itu langsung membuang napas lega. Disana, ada Abi, salah satu cowok yang mungkin bisa menolong Shelly.
"Kalian sedang apa di sini?" tanya Abi dengan wajah bingungnya.
"Kak Abi, tolong Shelly." Linda mencoba berbicara walau dia tahu itu sia sia.
"Tidak, Kak. Kami hanya sedang berbicara." Salah satu wanita pembuli tadi melepaskan pegangan tangannya pada Shelly yang sudah melemah. Diikuti oleh yang lainnya.
"Keluar!" Perkataan Abi cukup menyeramkan, tanpa menunggu apapun lagi kedua wanita pembuli tadi langsung ke luar meninggalkan Shelly dan Abi di dalam kamar mandi.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Abi dengan nada lembut memperhatikan wanita di depannya yang sudah basah kuyup.
Linda terus memperhatikan adegan setiap adegan dengan napas yang semakin berat. Linda tidak mengerti kenapa Shelly langsung memeluk tubuh Abi dengan erat.
"Aku takut, Kak. Mereka membuliku." Shelly mengeluarkan tangisannya, tentu Linda juga ikut menangis tanpa suara melihat sahabatnya dalam kesusahan.
"Tenangkan, semua nya akan baik-baik saja." Abi berucap cukup lembut sembari tangannya mengelus rambut Shelly.
Linda tidak terkejut melihat ini, karena banyak rumor kalau Abi. Kaka kelas mereka menyukai Shelly.
Linda sedikit tenang melihat Shelly yang menjadi lebih tenang, cukup lama Linda memperhatikan dua manusia beda jenis kelamin ini. Sampai Linda tidak tahu sejak kapan kejadian di hadapannya terjadi.
Linda melihat dengan jelas, perbuatan Abi pada Shelly. Pria itu dengan perlahan mencium bibir Shelly dengan cukup lembut. Mata Linda tebuka lebar, saat melihat respon Shelly yang cukup membuat Linda tidak percaya.
Sahabatnya malah menikmati ciuman itu, dan dari sini Linda tahu bahwa Shelly juga menyukai Abi. Terlihat dari tubuh Shelly yang kembali tenang. Tapi tidak, disaat mereka sedang menikmati ciuman satu suara berhasil membuat mereka melepaskan ciumannya.
Linda mengalihkan perhatian pada suara tadi untuk melihat siapa. "Yeah... Kami merekamnya," ucap salah satu pembuli tadi dengan riang.
Linda melihat Shelly yang kini ketakutan, Shelly kemudian memperhatikan Abi. "Kalian jangan macam-macam!" Abi berbicara dengan nada dingin, serta tatapan tajam.
"Tenang! Kita akan jaga aib kalian ini, tapi kalian tidak boleh melaporkan kita ke guru BK." Salah satu dari pembuli tadi berbicara dengan tenang.
Shelly lemas seketika, pegangan pada tangan Abi terlepas. Linda melihat itu dan Linda sangat tahu sahabatnya berada dalam dilema berat.
Shelly mengangguk, banyak faktor kenapa Shelly lebih memilih untuk mengiyakan perkataan pembulinnya. Linda Seketika kembali menangis dalam diam melihat sahabatnya yang kembali menangis. "Maafkan Linda, Shelly. Karena Linda tidak bisa membantu Shelly melewati hari itu.
Linda menghapus air matanya, tidak ada suara. Hanya air mata yang mengalir cukup deras.
Happ!
Sebuah tangan menepuk pundak Linda cukup kuat. Dengan cepat Linda melihat siapa pelakunya. "Kak Juan," ucap Linda dengan tidak jelas. Terdengar seperti 'K Un' dari pada 'Kak Juan'.
"Kembali ke kelas," ucap Juan dengan nada datar.
Linda malah melihat ke sekeliling, Shelly dan yang lainnya sudah tidak ada. Yang ada hanya Juan dan dirinya. "Baik, Kak." Linda berusaha menjawab Juan dengan susah payah.
"Berhenti berbicara, suaramu tidak seindah itu untuk di dengar." Kini perkataan Juan membuat Linda terdiam merasakan sakit di hatinya.
Tanpa menunggu, Juan langsung pergi meninggalkan Linda. Kini Linda kembali sendiri dengan rasa perih di dalam hatinya. Satu tetes air mata kembali keluar, membuat dirinya harus terus mencoba bertahan.
"Shelly, tenang saja. Linda akan memecahkan kasus kematianmu. Linda janji dan mungkin ini akan menjadi hadiah persahabatan aku untuk kamu." Linda terus berbicara dalam hatinya. Berharap dengan berkata seperti itu, Shelly bisa tenang atau Linda bisa lebih tenang.
Linda yakin, dibalik kematian Shelly tersembunyi banyak sekali fakta yang harus Linda bongkar.
Setelah kembali dari WC, Linda kini berada di kelas memperhatikan pelajaran yang sudah dimulai sendari tadi. Sekarang sudah masuk jam pelajaran terakhir. Pikiran Linda terpecah pada masalah kematian Shelly, sahabatnya.
Linda sudah memantapkan hatinya untuk mencari tahu sebab kematian Shelly, tapi Linda bingung harus mulai dari mana. Sekarang, dia seperti orang yang tidak berguna.
Linda mengeluarkan air kemasan pemberian dari Abi, kaka kelasnya tadi sebelum Linda masuk ke dalam kelas.
Memikirkan tentang Abi, Linda menjadi tidak enak pada pria itu. Pasti dia sangat sedih atas meninggalnya Shelly. Tapi syukurnya, Abi tidak membenci Linda. Buktinya minuman yang Linda pegang.
Linda dengan perasaan sedikit senang, minum dengan rakus karena dia kehausan. Mengetahui fakta bahwa Abi tidak membencinya membuat Linda bahagia. Setidaknya masih ada siswa yang percaya bahwa kematian Shelly tidak ada hubungannya dengan Linda. Seperti itu pun Linda sangat bersyukur.
Setelah minum, entah kenapa dirinya menjadi mengantuk. Untung ini pelajaran terakhir, sebentar lagi jam belajar akan berakhir. Linda berpikir untuk tidur sejenak, pak guru tidak akan melihat Linda yang tertidur di bangku paling belakang.
Hal tersebut tambah membuat Linda semangat untuk cepat tidur, karena dia sudah tidak kuat. Matanya seperti di lem dan sangat berat.
###
"Lindaaaa!"
Suara mendayu cukup keras tadi membangunkan aku seperti hentakan tak kasat di kepala. Mata dengan dramatis terbuka, saking terkejutnya mendengar suara tadi.
Napas berhemus dengan cepat, jantung sangat bekerja keras untuk memompa darah dari tempat yang jauh, seperti setelah berlari ratusan kilo meter. Cemas menambah suasana. Dimana ini, tempatnya terasa sangat sempit dan gelap, juga pengap.
Pandangan lurus ke depan, terlihat seperti sebuah ventilasi kecil yang memperlihatkan keadaan di luar. Aku seperti ada dalam sebuah tempat yang berbentuk kotak dengan ventilasi.
Dengan perlahan, tangan membuka salah satu pintu dari dua pintu di depan. Perasaan mengatakan bahwa sekarang aku ada di dalam sebuah lemari.
Benar saja, saat kedua pintu terbuka, pemandangan kelas langsung tersuguh. Jauh di dinding paling depan ada dua papan tulis, dan di atasnya ada photo presiden dan wakilnya. Di tengahnya ada sebuah jam yang menunjukan waktu sekarang.
Hanya perbedaan nya terletak pada kekosongan kelas. Bangku dan kursi sudah kosong tanpa tas dan siswa. Terakhir kelas masih banyak siswa, mata kembali melihat jam dinding di depan kelas, sekarang sudah pukul 7 lebih 20 menit pantas saja kelas sudah kosong mencekam.
Ada apa? Kenapa bisa ada dalam lemari? Bukannya terkahir aku tidur saat jam pelajaran akan selesai? Ya Tuhan, Lindungi saya.
Penasaran menyebar pada setiap sel tubuh, mata yang sendari tadi terus memperhatikan seisi kelas langsung fokus pada papan tulis. "Linda harus mati, mati, mati, mati...." Siapa yang menggambar orang gantung diri di papan tulis.
"Hihi, gambarnya lucu." Suara dari sudut kelas membuat aku tersadar dengan keadaan. Jauh di jajaran lemari di belakang kelas, lebih tepatnya sudut kanan ada sosok dengan baju berwarna merah darah.
Baunya sangat amis, dia sedang menunduk. Kakinya melayang, tapi dia tidak bisa kemana-mana karena mahluk itu terikat dengan tempatnya.
Aku mengabaikan mahluk itu, dia tidak berbahaya. Sedih kembali kurasakan, apa teman-teman kelas begitu sangat ingin aku mati? Tapi kenapa? Sebenci itu mereka sampai mengurung di lemari.
"Lindaaaa oh Lindaaaa!" Seketika tubuh terdiam, kembali suara menyeramkan itu terdengar.
"Linda, mereka melakukan sesuatu hihihi!" Aku kembali melihat sosok di sudut kelas, kali ini dia menampakan wajahnya yang cukup menyeramkan.
Mata hitam miliknya memperhatikan aku dengan penuh waspada, mulut yang selalu aku lihat tertutup kini terbuka sampai dada. Hanya satu alasan kenapa mahluk dikelasku bisa menampakan wajah seramnya, yaitu saat dia sedang merasa terancam, atau ada satu kekuatan yang kuat sehingga mereka tidak bisa mengontrol bentuknya.
Dengan cepat, aku langsung berjalan ke luar. Mencari sesuatu yang sebenarnya sedang terjadi. Aku sangat jarang melihat mahluk di kelasku berubah menyeramkan seperti itu, pasti sesuatu yang terlarang telah terjadi.
Suasana sekolah pada malam hari sangat mencekam, aku sama sekali tidak mempunyai penerangan. Tas juga hilang entah kemana. Gelap, sangat gelap, setiap kelas yang di lalui sangat gelap. Hanya beberapa penerangan yang nyala, dan itu tidak cukup. Suasana masih terasa mencekam dan menyeramkan, karena itu aku berjalan dengan cepat.
Mahluk yang sehari-hari aku lihat di sekolah biasa-biasa saja, kini mereka seperti tidak suka dan menunjukan wajah asli yang tentu sangat menyeramkan, lebih menyeramkan dari biasanya. Hanya aku bersyukur, mereka terikat dengan tempat mereka masing-masing. Selangkah mereka bergerak, akan terjadi sebuah perebutan tempat dengan mereka yang lainnya.
Sekarang aku sudah ada di tengah bangunan, di depan kelas. Dari sini aku melihat sesuatu yang terbakar dan langsung melihatnya.
Semakin dekat, semakin jelas. Sebuah meja dan kursi, juga tas milikku terbakar mengenaskan di tengah lapang.
"Lindaaaaa Melindaaaa! Hahaha!" Suara menyeramkan itu kembali terdengar dan aku mengabaikan sebentar karena ingin fokus pada tas yang sebagian terbakar bersama dengan meja dan kursiku.
Aku terkejut, sungguh mereka bisa setega itu membakar barang-barang yang aku gunakan. Kenapa mereka tidak mencari tahu terlebih dahulu sebelum membuli.
Aku harap, ponsel baik baik saja. Hanya barang itu yang selalu menolongku dari kejailan 'mereka'. I-Ris phone, ponsel yang selalu aku gunakan untuk menangkap spirit negatif. Jangan bingung, untuk mengalahkan spirit negatif tidak akan mempan menggunakan golok, atau sejenisnya. Kecuali barang-barang itu sudah diberi satu kekuatan untuk bisa membunuh mereka.
Juga, kekuarangannya untuk menggunakan alat-alat tajam yang sudah diberi satu kekuatan, kita harus berada di dunia mereka. Hukum alam masih berlaku antara manusia dan mereka.
Tidak mungkin juga aku membawa kapak atau sejenisnya kemana-mana, karena itu aku memilih ponsel sebagai senjata. Mereka tidak suka dengan kilatan cahaya flashlight, apalagi sebagian energiku sudah di transfer pada ponsel sehingga bisa menangkap/mengalahkan spirit negatif hanya dengan mengambil foto mereka.
Syukur, ponsel baik-baik saja. Dengan cepat aku mengaktifkan flaslight untuk membantu penerangan.
"Meongg!"
Tiba-tiba terdengar suara kucing, dengan cepat aku mengarahkan flashlight ke sumber suara tadi. Juga, gelangku berwarna biru, yang artinya kucing ini bermaksud baik.
Kucing tadi terlihat lebih besar dari kucing biasa. Warnanya yang putih sedikit memudahkan untuk dilihat dalam keadaan remang. Kalung di lehernya bersuara memudahkan aku untuk mengikuti suara itu, karena sekarang kucing tadi menuntun ke satu tempat.
Kucing itu berada di depan sebuah lorong yang berisi tanaman, ujung lorong itu terdapat sebuah pohon pisang. Taukah kalian bahwa pohon pisang itu tempat kesukaan dari pocong?
Sebenarnya mereka juga bisa ada di tempat yang rimbun, basah. Hanya, manusia dengan sugestinya selalu menyangka bahwa pohon pisang adalah tempat para the jumper karena bantant dari pohon itu bisa disamakan dengan bentuk hantu pocong.
Mereka bisa dimana saja, karena energi ketakutan dan sugesti manusia, hantu pocong itu mempunyai tempat tinggal baru yaitu di dekat pohon pisang.
Jadi, kalian bisa saja takut, tapi saran aku kendalikan rasa takut itu. Tenang, mereka tidak bisa melukai kalian, mereka tidak sekuat itu untuk menampakan diri di depan manusia.
Satu detik saja mereka menampakan diri, maka energi mereka akan terkuras habis. Bisa dibilang, sialnnya mereka adalah saat terlihat oleh manusia.
Tunggu, aku mengarahkan flaslight ke pohon pisang. Berjalan semakin dekat, dan aku melihat satu sosok tubuh wanita dengan seragam putih abu.
Kuarahkan kamera ponsel ke arah wanita tadi. Aku lega kerena dia hanya manusia biasa. Dengan cepat menghampiri wanita yang sedang duduk di bawah pohon pisang.
"Linda! Gue minta maaf."
Tunggu, suara ini aku sangat mengenalnya. "Kak Teresa?" Aku semakin mendekat saat menyadari bahwa sosok di depanku adalah kaka kelas, Teresa. Kak Teresa sekelas dengan Kak Juan.
Aku bingung, kenapa bisa Kak Teresa ada di sini? Di bawah pohon pisang. "Linda, Gue cuma mau kasih lo pelajaran." Aku kembali bingung dengan ucapan Kak Teresa.
"Gue, Abi dan Marisa yang ngurung lo di loker." Aku hanya diam mendengar ucapan Kak Teresa. "Gue yang bakar barang-barang lo." Kak Teresa seperti ketakutan, dia sendari tadi berbicara dengan menundukkan wajahnya.
Tunggu, jadi bukan teman sekelas aku yang melakukan semua ini. Apa tadi kata Kak Teresa? Kak Abi dan Kak Marisa juga terlibat. "Kalau lo mau keluar, Abi simpan kunci lobinya."
"Tolong cari Abi, Linda. Gue mau keluar, gue takut, bayangan putih itu terus ngeliatin." Kak Teresa memegang kepala, dia kemudian meremas helaian rambut panjang miliknya. "Gue mau pulang, gue takut," lanjut Kak Teresa dengan nada bergetar.
Aku hanya mengangguk, percuma menjawab, karena mereka pasti tidak paham dengan ucapan ku. Sekarang jalan terakhir untuk keluar dari sekolah adalah menemukan Kak Abi. Tapi di mana?
Aku kembali ke tengah lapangan, tapi sebelumnya setiap pintu sudah diabsen. Beberapa pintu kelas terkunci dengan keadaan gelap gulita. Logikaku berputar, saat manusia ketakutan, mereka pasti mencari cahaya. Atau jika mereka ada di satu ruangan pasti ruangan itu harus terang.
Jadi, cluenya adalah aku harus mencari satu ruangan atau kelas yang terang. Dengan cepat aku kembali mengabsen gedung kelas, dari terdekat ke yang terjauh.
Aku kembali ke lapangan, merasa tidak tahu dimana kak Adi sekarang. Tapi suara yang memanggil namaku kembali terdengar. "Lindaaaa!" Suara itu dibarengi dengan suara barang yanh jatuh seperti sesuatu yang dipukulkan dengan sangat keras.
Jantung semakin berdebar, tapi terus aku abaikan karena ingin cepat menemukan kak Abi. Pikiran bodoh ini tiba tiba mengingat sesuatu, kenapa tidak mencari Kak Abi di kelas dua belas? Aku yakin dia bersembunyi di salah satu kelas dua belas. Kenapa? Entah aku hanya merasa bahwa kak Abi pasti lari ke tempat yang sudah dia hapal di luar kepala.
Ini alami, meski manusia tidak merencanakan itu pasti alam bawah sadarnya akan menuntun mereka. Jadi, dengan cepat aku berjalan ke arah kelas dua belas, dari lapang hanya perlu lurus ke timur, berjalan sampai mentok dan akan ada gerbang masuk ke gedung kelas dua belas.
Suasana semakin mencekam, bulu kuduk tiba tiba berdiri saat aku merasakan satu energi yang cukup bersar menyelimuti gedung ini.
Aku mengangguk, saat akan membuka pintu masuk gedung, gedungnya tidak terkunci. Hal ini bisa memungkinkan bahwa teoriku benar. Bahkan saat aku masuk, suarana memcekam langsung terasa menghembus tubuh terutama leher.
Mata secara dipaksa melihat satu sosok berdiri di ujung jendela kelas. Kelas ini berdiri persis dekat dengan pintu masuk gedung. Dengan cepat aku mengalihkan perhatian ke arah lain, jujur sosok itu adalah salah satu sosok yang paling tidak aku suka.
Sangat berharap bahwa bukan sosok itu yang membuat gedung kelas dua belas ini menjadi mencekam dipenuhi energi negatif. Tapi mengingat tabiat mereka yang buruk, aku menjadi ragu.
Flashlight ponsel aku matikan saat sudah berada di dalam kelas yang terang. Hanya kelas ini saja yang terang, lainnya terlihat gelap. Jujur dalam hati paling dalam, sangat malas memasuki kelas gelap itu. Jadi langsung saja masuk ke dalam kelas yang terang.
Kelas yang dimasuki tidak terlalu menyeramkan, karena kelasnya cukup terang. Suasana kelas sama seperti kelas pada umunya, berjejer banku untuk siswa, ada whiteboard di depan dengan dua poto presiden dan wakilnya. Serta ada jam dinding juga yang kini menunjukan waktu pukul 7:30.
Tidak ada hal aneh yang aku lihat, hanya satu sosok melayang tanpa kepala di dekat lemari yang berada di sisi kanan white board. Titik pastinya berada di samping meja guru.
Tidak tahu apa yang sedang dia lakukan, tapi perasaanya sangat sedih juga penuh kerinduan. Dia bukan hantu tipe arwah yang bisa menyerang atau berbicara. Dia lebih ke arah energi yang berhasil di rekam oleh bangunan yang ada di kelas ini.
Aku melihat satu reka adegan, tapi dengan cepat ditangkal. Tidak, ini bukan waktu yang tepat untuk melihat satu kejadian milik hantu tanpa kepala itu. Ada hal penting yang harus dilakukan, yaitu menemukan Kak Adi.
Diarah belakang, ada satu loker lagi tempat menyimpan barang. Semakin aku mendekat, di bawah lantai di belakang bangku-bangku siswa ada serakan buku juga tas yang entah milik siapa.
Ritual terlarang
Buku ritual? Milik siapa? Kenapa siswa sekolah mempunyai buku terlarang seperti ini? Bukannya mereka lebih mempercayai sesuatu yang berlandasan dengan logika dan akal.
Brak!
Suara seperti seng yang ditendang dari arah dekat membuat aku langsung berdiri saat sedang membaca buku ritual tadi. Dengan cepat mengalihkan perhatian ke arah lemari yang ada di sisi kanan.
"Ada orang di dalam?" Aku berbicara berharap ada orang di dalam lemari itu, dan syukur syukur dia paham apa yang aku katakan. "Jawab! Aku Linda." Dengan cepat penuh penasaran, aku mengedor-gedor pintu lemari tadi.
"Li.... Linda, itu lo? Gue Adi." Aku rasa itu adalah benat Kak Adi. Suaranya terdengar seperti dia sangat ketakutan.
"Iya, ini aku, Kak." Aku berkata berharap dia paham, tapi kelihatannya dia paham dengan perkataanku. "Ayo keluar, Kak!"
"Mereka mengawasi gue, Linda." Masih dengan nada bergetar ketakutan, Kak Adi menjawab. Aku bersyukur dia paham dengan perkataanku yang kalau berbicara tidak bisa jelas karena gagu. "Ada bayangan putih, mereka mau gue mati, Linda. Tolong gue!"
Kak Adi diteror oleh hantu, pasti dia melakukan sesuatu yang membuat mereka menyerang dan menghantui. "Kami ada bertiga, Teresa entah kabur kemana, tapi Marisa gue kurung dia di Lobi sekolah. Dia kerasukan, Lin," lanjut Kak Adi masih dengan nada bergetar. "Tolong gue, Lin. Gue takut, gue mau pulang."
"Kak Adi tenang saja. Aku akan segera kembali."
Satu satunya cara adalah untuk mencari si bayangan putih itu, supaya Kak Adi tidak ketakutan dan mau membuat lemari. Ya Tuhan, kenapa semua ini terjadi? Sekarang niat buruk mereka akan menjadi bumerang untuk mereka masing-masing dan sungguh aku ingin segera malam ini berakhir.
Berjalan menjnggalkan Kak Adi, seketika jantung berdebar sangat kencang saat melihat satu sosok yang berasa di jendela. Sosok itu dengan mata merah menyala juga wajah hitam memperhaikan aku dengan penuh kemarahan.
Pocong!
Pocong itu berada di jendela kelas yang berarti sendari tadi sudah memperhatikan interaksi aku dengan Kak Adi. Meski sosoknya sangat menakutkan untikku sendiri, tapi dengan terpaksa harus mengejar sosok pocong itu.
Oke sosok itu hanya mengganggu Kak Adi dan teman temannya, tapi tetap saja aku harus berhati hati. Dengan pelan aku mendekati sosok itu, berinteraksi dan membujuk mereka untuk menghentikan semua kegilaan malam ini.
Tiga langkah pelan, satu langkah aku mendekat sosok menakutkan itu hilang entah kemana. Jantung yang tadi berdebar semakin berdebar, karena aku takut sosok itu muncul di depan lalu menunjukan wajah hitam dengan mata merahnya itu.
Tapi satu menit berlalu sembari menikmati debaran jantung, aku membuka mata dan keanehan yang tidak diharapkan tidak terjadi. Aku bersyukur, yang berarti aku masih harus tetap mencari sosok pocong itu.
###
Setiap orang mempunyai rasa takut, dan hal itu sangat normal. Terutama aku, rasa takut tehadap The Jumper membuat aku merasa sangat sial untuk melalui malam ini di sekolah sendirian bersama dengan tiga orang yang tidak bisa diharapkan.
Kak Teresa entah bagaimana kabarnya sekarang di dekat pohon pisang itu. Kak Abi, berada di dalam lemari, kunci lobi yang bisa membawa kami keluar berada di tangannya. Tapi Kak Abi terdengar sangat ketakutan karena satu energi negatip yang menghantuinya.
Setelah percakapan dengan Kak Abi, aku melihat penampakan mahluk yang sangat aku benci juga takuti. The Jumper, istilah yang akan aku gunakan mulai dari sekarang karena saking takutnya untuk menyebut mana Mr. P.
Aku paham dengan keadaan sekarang, buku ritual yang berada di dekat tas Kak Abi adalah miliknya, cowok itu melakukan sesuatu hingga membuat energi gelap menyelimuti sekolahan dan membuat setiap mahluk hidup menjadi tidak terkontrol.
The Jumper, sosok itu sangat jarang aku temui di sekolah. Tapi tempatnya berada di gudang belakang sekolah yang jarang disentuh oleh siswa atau stap pengajar. Salah satu alasan kuat kenapa aku tidak pernah mau ke gudang belakang sekolah karena memang ada sosok itu.
Dia selalu berdiri di dekat pintu gudang, memperhatikan setiap siswa berlalu lalang tanpa ekspresi juga sama sekali tidak berbicara. Sosok The Only Jumper itu sangat kuat, dia sudah lama berada di sekolah dan aku bersyukur tidak pernah menggangu setiap siswa atau pun stap pengajar.
Entah karena apa sosok itu kini mengincar dan menganggu Kak Abi. Bagian paling buruknya adalah sekarang aku harus mencari sosok itu, tidak ada jalan lain selain mengalahkan The Jumper itu supaya Kak Abi memberikan kunci lobi dan aku bisa pulang.
Tenang Linda, meski kamu benci sosok itu tapi keinginan besar untuk pulang mengalahkan rasa takut. Untung sosok itu hanya ada satu, tidak kebayang kalau ada banyak.
Kini, aku ada di depan kelas Kak Abi, tempat dimana si P menampakan diri, dalam hati berharap tidak ada jump scare. Kalian dengar, jantung aku terus berdebar sangat kenang karena merasa gelisah takut-takut sosok itu benar benar mengagetkan aku di lorong gedung ini.
Karena tadi sebelum masuk aku merasa aura sosok itu terasa besar di gedung kelas dua belas ini, aku memutuskan untuk mencari Mr. P itu di gedung ini. Tapi, lagi jantung terus berdebar sangat kencang. Apalagi melihat gedung ini yang memang gelap.
Hanya kelas Kak Abi yang terang, dua kelas di hadapannya sangat gelap dengan pintu yang terkunci. Aku sudah mencoba membuka pintunya dan sangat bersykur kedua kelas gelap itu terkunci, jadi aku tidak harus masuk.
Oh ayolah! Aku terus mengabaikan muka muka menyeramkan yang mendekat dari dalam kelas gelap di hadapan kelas Kak Abi ini. Mereka tidak bisa keluar, jadi hanya menampakan wajahnya di kaca.
"Hihi, masuk!" Suara rendah dan melengking seperti terdengar sangat jauh itu seketika membuat aku langsung menegang ketakutan.
Tarik napas, Lin. Tarik napas. Sekedar informasi kami yang bisa melihat mereka ada satu hal yang harus kalian tahu. Jika aku mendengar suara mereka dengan jelas, itu artinya keberadaan mereka sangat jauh dari radius aku sekarang.
Tapi, jika aku mendengar suara mereka seperti terdengar sangat jauh maka artinya mereka sangat dekat. Iya.... Karena itu aku langsung menegang saat mendengar suara yang menyuruh masuk tadi.
Dunia mereka terbalik dengan dunia kita, karena itulah. Aku langsung pergi ke sisi kelas lain. Sejajar dengan kelas Kak Abi, ada satu kelas yang juga gelap dan diantaranya ada sebuah tangga menuju lantai dua.
Aduh! Melihat gelapnya saja membuat aku takut. Harus gak sih aku pergi ke lantai dua. Bagaimana kalau Mr.P itu ada di sana, tapi di ujung tangga aku melihat sesuatu yang menggantung dan jujur malas sekali jika harus melalui itu.
Dari bawah sini saja aku merasa energi sosok yang menggantung itu cukup besar. Engak engak, ampun deh. Aku menyinari tangga dengan flashlight dari ponsel, mau tidak mau aku harus naik. Untuk memastikan bahwa si Mr. P tidak ada di lantai dua.
Hello, aku gak berharap bertemu dengan dia dalam ruangan. Kasarnya, nanti aku gak bisa lari atuh. But, saat aku melangkah menaiki satu tangga, tiba-tiba terdengar suara kucing yang cukup nyaring.
Si kucing! Aku baru ingat ada si kucing, tadi dia juga yang membantu aku menemukan Kak Teresa, dan semoga saja kucing itu juga mau membantu aku menemukan si Mr. P.
Alhamduliah! Setidaknya aku tidak harus naik ke lantai dua yang ada si sosok menggantung itu. Dengan cepat, aku berputar lalu berlari kecil menuju luar gedung.
Huh! Udara segar! I love this! Si kucing, aku melihat dia di tengah jalan, tubuhnya mengarah pada sisi kiri yang tentu menuju lapang sekolah. Si kucing juga bersuara sangat bising, seperti dia sedang menunjukan sesuatu yang berbahaya dan tentu aku langsung menuju ke arah kiri.
Tidak lama, si kucing juga mengikuti aku. Bahkan, larinya menjadi di depan dan meninggalkan aku yang berusaha untuk menyusulnya.
Saat sudah berada di lapang, si kucing terus berlari, lalu belok kanan dan sampailah di tempat Kak Teresa tadi. Tapi kali ini si kucing terlihat menghadap ke lorong yang ada pohon pisang itu. Telinganya menghadap kebelakang dan ekornya kebawah seperti dia sedang akan menyerang sesuatu.
Aduh! Kuatkan Linda, dengan perhalan aku berjalan masuk ke dalam gang ini lagi, flashlight aku arahkan ke depan dan di sana masih ada Kak Teresa yang sedang dalam posisi sama dibalik pohon pisang.
Ada aura yang sama dengan aura seperti di gedung kelas dua belas tadi, haruskah aku melihat Kak Teresa menggunakan kamera? Kadang sesuatu yang dilihat oleh mataku bisa membodohi karena saking besarnya energi sosok itu.
Siapkan dirimu, Linda! Jantung aku terus berdenar sangat kencang saat dengan perlahan aku melihat Kak Teresa menggunakan kamera ponsel, perlahan juga mataku melihat ke dalam ponsel yang terbidik ke arah Kak Teresa dan Yeah!
Jantungku seperti berhenti karena melihat sosok dalam ponsel beda jauh dengan nyatanya. Mungkin kalian melihat Kak Teresa yang ada di dekat pohon pisang itu, tapi kameraku melihat sosok lain yang tentu dia bukan sosok masusia, melainkan si Mr.P.
Segera selesaikan, Linda. Aku dengan cepat langsung mengambil gambar sosok itu, caranya sedikit menahannya lalu dengan sendirinya sosok itu akan tersedot energinya. Sebelum jepretan ke dua, Sosok itu langsung menyerang aku.
Sebenarnya bukan menyerang, mereka saat dipoto akan langsung tersadar dengan keberadaan aku, lalu mereka akan berusaha kabur untuk menyelamatkan diri. Tapi energinya langsung berbenturan dengan tubuku, hingga membuat tubuh ini langsung tersungkur ke belakang.
Aduh! Sosok itu berhasil melarikan diri. Tapi aku sangat yakin energinya mulai terkuras dan lagi aku masih harus berurusan dengan sosok putih itu.
Tapa menungu, aku langsung mengejar sosok putih itu sampai ke luar gang, mengabaikan Kak Teresa yang mungkin sudah pingsan dari tadi. Di pintu gang, masih ada si kucing, tapi kali ini dia menghadapkan tubuhnya ke arah kiri yang mana tempat itu adalah tempat yang sangat aku hindari.
Gudang belakang sekolah, saat awal aku menerawang gudang itu didalamnya ada satu kuburan, tapi aku belum memastikan apakah itu benar atau tidak. Sekarang, karena ini aku harus menuju ke sana. Ayolah tidak ada apapun di sana selain gudang, dan itu tempat si Mr.P.
Oke oke, kuatkan tekat dan jalan dengan pelan. Semuanya akan baik baik saja. Inget Linda, mereka tidak sekuat itu untuk melukai kamu. Aku berjalan mendekat, setiap langkah yang diambil, semakin cepat jantungku berdebar.
Ponsel ditangan aku genggam dengan sangat kuat, flashlight terus aku arahkan kedepan sampai aku tiba dan yeah entah kenapa pintu gudang itu terbuka lebar, di dalam gudannya juga ada secercah cahaya.
Tentu sangat penasaran, dengan cepat aku langsung masuk, tapi kembali satu energi panas menghantam tubuh sehingga membuat aku terdorong ke luar gudang.
Kembali aku arahkan kamera ponsel ke arah pintu gudang yang terbuka, dan alangkah terkejutnya sosok putih itu ada di dekat pintu menghadap ke belakang. "Maaf, manusia!" Suara rendah itu langsung terdengar membuat aku langsung merinding.
"Ampun! Kamera itu akan menyedot semua energi. Maaf, manusia!" Oke oke aku langsung tersadar melihat sosok di depanku menggunakan kamera ini.
"Mereka melakukan sesuatu yang terlarang dan ada hawa kegelapan di area ini." Aku hanya diam tidak mau menjawab, pocong itu berbicara dan aku hanya bengong. Bagaimana tidak? Selama ini saat aku bertemu dengan sosok P itu, mereka tidak pernah bersuara dan aku pastikan sosok pocong ini adalah jelmaan dari hantu yang levelnya jauh lebih tinggi dari pocong itu sendiri.
"Oke, aku bakal lepasin, asal janji jangan menganggu kami lagi." Aku berbicara dalam hati, tidak perlu besuara untuk bisa berkomunikasi dengan mereka, cukup dalam hati dan mereka bisa mendengar.
"Baik, manusia. Aku pergi sekarang!" Dalam satu detik, sosok itu langsung hilang, dan aku tidak percaya bahwa hantu itu menyerah. Kameraku ternyata bukan kaleng kaleng. Hantu sekelas jin saja bisa menyerah.
Aku tidak percaya bahwa sangat mudah mengalahkan hantu itu dan aku langsung masuk ke dalam gudang untuk sekedar melihat-lihat dan memastikan bahwa terawanganku benar.
Saat aku sudah masuk, di dalam di ujung gudang ada satu buah jelangkung yang tertempel poto aku pada kepalanya. Hingga, dari sini aku sangat yakin bahwa Kak Abi dengan yang lain melakukan satu ritual untuk membuat aku menderita dan sengsara.
Hanya, pasti mereka melakukan hal lain, sehingga ada satu energi besar keluar dan membuat setiap hantu yang ada di sekolah menjadi hilang kontrol.
Satu pertanyaan, kenapa mereka melakukan semua ini? Apa sebegitu bencinya mereka sampai berbuat hal terlarang untuk membuat aku menderita.
Rasanya sangat buruk menikirkan itu semua, dengan pelan aku melihat ke arah kiri, di sana ada satu gang kecil, tidak panjang berisi satu kuburan. Yang lebih membuat aku sesak napas adalah di nisannya ada poto aku.
Ya Tuhan, seniat itu mereka membuat semua ini? Apa kebencian mereka sudah sangat besar? Tapi apa salahku?
Dengan lemas, aku langsung keluar. Sungguh, aku ingin cepat pulang. Mandi dan tidur untuk melupakan semua yang terjadi sekarang.
###
Iya! Sosok pocong yang asli, mereka tidak berbicara. Kelakuannya hanya berdiri menujukan sosok pada yang bisa melihat, mengeluarkan bau. Baunya kadang wangi bunga, atau bau busuk.
Sedangkan sosok yang menggangu Kak Abi dan yang lain, aku pastikan adalah sosok jelmaan dari jin. Mereka bisa berbicara dan kekuatannya cukup besar. Hmm, memang, semua hantu adalah jelmaan dari jin.
Tapi, syukur alhamdulilah aku dengan kamera ponsel bisa mengalahkan pocong itu hingga sekarang aku bisa membujuk Kak Abi untuk membuka pintu lemari. "Kak Abi, ini Linda." Dengan bahasa yang tidak jelas, aku berusaha memberitahukan Kak Abi keberadaanku.
Sebelumnya Kak Abi paham dengan apa yang aku katakan, dan berharap kali ini juga dia paham. "Linda! Hantunya sudah pergi?" tanya Kak Abi masih terdengar bergetar karena ketakutan.
"Sudah. Ayo keluar, Kak!" Ya Tuhan semoga Kak Abi paham apa yang aku katakan, tapi dia menjawab. Artinya dia paham.
Tidak lama, pintu lemari terbuka menampakan keadaan Kak Abi yang sedang duduk melindungi kepalanya menggunakan kedua tangan. "Bagaimana kamu melakukannya, Linda?" tanya Kak Abi, dia masih tidak melihat aku. "Ini kunci lobi sekolah, hati hati dengannya, dia kerasukan."
Aku mengambil kunci lobi sekolah dari Kak Abi. Oke, akhirnya aku sudah mendapatkan kunci lobi sekolah dimana Kak Abi mengurung Kak Marisa yang katanya gila atau kesurupan.
Semangat Linda, kamu pasti bisa mengalahkan hantu yang merasuki Kak Marisa. Hanya itu jalan satu satunya untuk mengakhiri kegilaan malam ini, selain aku tidak bisa keluar kecuali lewat lobi sekolah tentu aku tidak mempunyai jalan keluar lain.
Langsung saja aku meninggalkan Kak Abi yang masih sibuk dengan ketakutannya. Tujuanku tentu ke arah lobi sekolah, sepanjang jalan aku terus menyiapkan tekad yang kuat karena aku tahu ini akan menjadi sangat buruk jika tidak berhasil mengakhiri kegilaan ini.
Di sepanjang jalan, setiap mahluk yang aku lewati mereka menertawakan tanpa alasan. Beberapa ada yang meremehkan aku. "Cari mati!" Itu salah satunya, sosok yang ada di dekat WC yang baru saja aku lewati berbicara dengan nada rendah, juga merendahkan.
Ya, mau bagaimana lagi? Jika tidak menghadapi sesuatu yang ada di dalam lobi sekolah, aku tidak akan bisa keluar dari sekolah yang menyeramkan ini. Tidak mungkin juga untuk terus bertahan sampai pagi, karena aku tidak mau melewati malam bersama mereka yang terlihat menyeramkan berkali-kali lipat dari biasannya.
Meski sudah sangat biasa, tapi aku tetap manusia biasa yang mempunyai perasaan takut dan cemas. Kedua perasaan itu sangat tidak enak untuk dirasakan, juga membahayakan untuk kesehatan tubuh.
Setelah mengabaikan banyak sekali perkataan dari mereka yang sudah terlewati, sekarang aku sudah berada di depan pintu lobi sekolah. Di atas pintu, terlihat satu spanduk yang bertuliskan nama sekolah ini dan beberapa visi juga misinya.
Jantung tiba tiba berdebar semakin kencang saat menyadari bahwa sebentar lagi akan memasuki ruang itu. Cemas sudah pasti, tapi tekad kuat sudah disiapkan dari tadi dan perlahan membuka pintu, setelah sebelumnya menggunakan kunci.
Ruangannya gelap, karena itu aku terus mengarahkan flashlight ponsel ke depan untuk melihat apakah ada sesuatu. Ruangan pertama ini adalah ruangan khusus guru, dan stap sekolah lainya. Sejauh ini, tidak ada hal aneh, hanya tepat di depanku ada sebuah lambang yang berfungsi sebagai portal menuju ke dunia lain.
Bentuknya bulat besar, lalu di tengahnya ada bulat kecil dengan gambar lilitan ular, lalu diluar bulatan kecil itu ada mantra dalam Bahasa Sunda kuno. Aku pernah beberapa kali melihat lambang itu, dan bukan sembarang orang yang bisa mengaktifkan lamabangnya, hanya orang-orang tertentu saja.
Contohnya orang yang menjadikan dirinya hamba dari salah satu mahluk terkuat di dunia hantu. Bernapas, Lin, kamu harus bernapas. Kira-kira siapa yang melakukan ritual ini? Apa mereka juga mau mengirim aku ke dunia itu?
Abaikan lambang berbahaya itu, Lin. Kamu harus fokus mencari Kak Marisa. Tapi jalan yang ada di kiri dan kanan masing-masing terhalang oleh barang, aku tidak bisa lewat karena dibagian itu juga terlihat kosong hanya berisi bangku milik guru.
The fact is, aku mengabaikan tawa dari arah ruang guru yang ada di sisi kanan. Tawanya sangat menyeramkan, campuran antara kegelisahan dan kemarahan. Setau aku, di ruang guru ada satu sosok mbak kunti berbaju merah. Setiap kali aku masuk ke ruang guru, tepat di tengah tengah ruangan ada sosok kunti berbaju merah.
Aura kemarahan dan dendam menyelimuti sosok itu, juga wajah yang menyeramkan menambah ketakutan saat melihatnya. Bayangkan saja, matanya rusak mengeluarkan darah. Area bibir dan hidung kulitnya terkelupas menunjukan daging dan tulang.
Rambutnya panjang, tangannya juga bisa memanjang. Aku selalu melihat entah dipagi atau petang hari, setiap ada yang merasa takut kerena cerita tentang kuntilanak merah yang sudah menyebar di kalangan setiap siswa, kuntilanak merah itu selalu memanjangkan tangannya dan menyentuh pundak atau punggung siswa yang ketakutan karenanya.
Kuntilanak merah itu menyerap semua energi ketakutan dari setiap siswa yang takut, mengumpulkannya. Saat energi itu sudah besar, dia bisa menakuti stap guru atau siswa yang ada. Kadang, kuntilanak merah itu menggerakan dan menjatuhkan benda, mengeluarkan suara hewan seperti suara anak ayam. Atau yang lebih parah menampakan wujudnya.
Seperti sekarang aku langsung mendapatkan gambaran jelas tentang kuntilanak merah ini. Sosok itu tiba-tiba menunjukan diri di kaca ruang guru. Meski begitu, gambaran sosoknya terlihat jelas dari atas sampai bawah, fakta baru adalah kuntilanak merah itu tidak mempunyai tangan kiri, juga kedua kakinya tidak ada.
Semakin panas saja ruangan ini, apalagi sejak kemunculan kunilanak merah itu. Sosok kuntilanak merah memancing banyak sosok lainnya yang ingin exsis menunjukan diri.
Seperti sosok kecil di dekat ruang tata usaha, sosoknya terlihat kecil seperti anak kecil, tapi bukan tuyul. Dia seperti sedang bermain kesana kemari, tapi gerak ruangnya tidak besar mungkin sekitar sepuluh meter saja dari depan ruang TU.
Tubuhnya memang kecil, tapi wajahnya sangat tua, ditambah rambutnya hanya tumbuh di kepala bagian bawah. Kejutan sedikit terjadi tadi, sosok kecil itu juga ikut menunjukan wajah seramnya.
Mata sosok kecil itu tidak ada, wajahnya muncul beberapa sisik yang mengelupas, dia tidak mempunyai bibir, tapi bibirnya seperti diganti dengan mulut sebuah hewan burung. Terlihat jaitannya, dan aku sudah tidak sanggup untuk melihatnya.
Masih banyak lagi penampakan yang terihat, aku mencoba untuk tidak terlalu mempedulikan karena beberapa dari mereka malah menunjukan banyak bayangan masa lalu yang aku sendiri tidak tahu apa itu nyata atau malah tipuan supaya mereka bisa mendapatkan belas kasihan dari manusia.
Ya, apapun yang manusia rasakan selalu membuat mereka bahagia karena berhasil membodohi. Makanya, aku tidak pernah peduli dengan cerita yang mereka ceritakan atau perlihatkan. Kebanyakan cerita yang mereka tampakan adalah kejadian sebelum Indonesia merdeka, ada korban pembantaian sampai pemerkosaan.
Cerita itu bisa saja nyata terjadi dijamannya, hanya kembali lagi. Mereka adalah mahluk manipulatif. Apapun bisa menjadi berlebihan dan aku selalu menepis semua yang mereka perlihatkan. Meski ceritanya sangat sedih sekali pun.
Kanan dan kiri, adalah pintu ruangan yang tertutup dan terkunci. Aku tidak bisa masuk dan melihat ada apa di dalamnya dan sangat bersyukur juga. Ada area kosong tapi terhalang oleh beberapa barang, jadi aku harus terus berjalan ke depan.
Terdapat sebuah pintu, saat aku membukanya, pintu itu membawa langsung ke koridor. Iya, suasana entah kenapa menjadi lebih mencekam juga pengap dalam waktu bersamaan. Hawa panas juga mulai terasa di sekitaran lobi sekolah ini.
Diberbagai sudut lobi terdapat banyak sekali mahluk yang sedang memperhatikan dengan tatapan dan gerak gerik yang aneh nan menyeramkan. Kembali aku sangat bersyukur, mereka tidak ada yang berani mendekat ke arah ku. Karena ya itu, mereka tidak akan mau berebut tempat dengan yang lainnya.
Aku mengarahkan kamera ke depan, atau lebih tepatnya ke ruangan lobi ini. Perutku rasanya sangat mual, apalagi di sekitaran dinding ruangan ini terdapat banyak sekali tubuh dan potongan tubuh yang menempel di dinding. Lantainya lebih parah lagi, ada banyak sekali darah yang mengotori.
Ini keadaan kolidor yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Biasanya koridor hanya akan terlihat sedikit lembab dengan banyak lumut di dinding, juga rambut yang menghiasi atap sampai menjuntai ke bawah. Tentu, itu hanya bisa dilihat oleh kacamata kami saja. Orang-orang biasa akan melihat kolidor yang bersih dan rapih.
Tepat di ujung dekat pintu keluar kolidor, ada sebuah cahaya. Aku dengan perlahan berjalan mendekat, debaran jantung yang sendari tadi berdebar, kini mulai berdebar sangat kencang. Apalagi satu sosok tubuh sendang menunggu aku di dekat pintu keluar.
"Ah! Akhirnya kamu datang juga, Linda Melinda." Sosok yang tidak lain adalah Kak Marisa menyadari kehadiran aku di kolidor ini. Kak Marisa membetulkan peggangan kapaknya, dia bersiap akan menyerang aku menggunakan kapak besar itu.
Jika kalian bisa lihat, Kak Marisa terlihat berbeda dari biasanya. Tatappan matanya lebih mengartikan ingin balas dendam, juga amarah yang cukup membuat bulu kuduk berdiri.
Tentu aku memilih mundur untuk menghindari pukulan kapak yang akan dipukulkan oleh Kak Marisa. Pukulan pertama aku berhasil menghindar, meski sosok itu berhasil menguasai Kak Marisa, tapi gerakannya sangat tidak stabil dan linglung. Terbukti dari Kak Marisa yang memukul dengan membabi buta tanpa tahu arah atau tujuan.
Aku hanya perlu menghindar dengan random, saat aku mengarahkan kamera ke arah Kak Marisa, aku melihat satu sosok yang merasuki Kak Masrisa dengan sangat jelas. Sosoknya adalah arwah, arwah yang terasa begitu kuat dengan bentuk setengah badan.
Arwah itu menguasai Kak Marisa, tapi dengan cepat aku mengarahkan kamera ke arah arwah itu, mengambil potonya dan saat awrah yang merasuki Kak Marisa itu akan menyerang, aku berhasil melemahkannya. Jadi sekarang arwah kuat itu kembali memasuki Kak Marisa.
Tenang, Linda. Semuanya akan baik-baik saja. Kembali, aku mengarahkan kamera ponsel ke arah Kak Marisa. Mengambil potonya dan arwah itu kembali keluar karena merasa terganggu dengan apa yang aku lakukan. Ingat, kameraku selain bisa mengambil poto mahluk dari dimensi lain, tapi juga bisa menyerap energi negatif dari sosok itu saat berhasil mempotonya.
Hanya, aku tidak tahu harus berapa kali mempoto arwah itu supaya bisa mengalahkannya. Tapi aku terus melakukannya sampai arwah itu tidak mempunyai cukup energi untuk merasuki Kak Marisa, jadi kali ini arwah itu lebih memilih untuk menyerah aku secara langsung.
Tentu ini sangat menyulitkan aku, apalagi sosok arwah kuat itu menghindari aku dengan cara masuk ke dalam tembok, tentu ketelitian dan fokus harus aku lakukan untuk bisa mengambil dan menyerap energi hantu arwah kuat itu sampai habis.
Cukup lama aku melakukannya, kadang arwah itu berhasil menyerap energi aku, tapi kembali aku juga bisa memyerap energinya menggunakan kamera dengan cara mempotonya.
Suasana cukup mencekam, aku sampai mengabaikan Kak Marisa yang mungkin sudah pingsan dari tadi. Tapi, semuannya terbayatkan dengan tuntas. Bidikan poto terakhir, aku berhasil melemahkan hantu arwah itu sampai dia hilang entah kemana membuat suasana yang tadi terasa pengap juga panas berubah menjadi normal.
Dengan cepat, aku langsung berlari ke arah pintu keluar. Aku tidak peduli dengan teman-teman yang lain. Yang aku pikirkan hanya pulang dan istirshat, syukur-syukur bisa melupakan kejadian malam ini.
Saking tidak melihat keadaan di halaman depan sekolah, tubuhku langsung terpental cukup keras saat tidak sengaja menubruk tubuh kekar entah milik siapa. "Kak Juan!" Dalam keadaan terduduk di tanah, aku melihat sosok Kak Juan yang menatap aku bingung, tapi datar tanpa minat.
"Berdiri!" Dengan cepat aku langsung berdiri, menghadap ke arah Kak Juan. "Pulang." Tanpa basa basi, Kak Juan menyuruh aku untuk pulang. Ajaibnya, aku seperti terhipnotis menuruti perintahnya.
Aku tidak tahu, hanya entah kenapa apa yang dikatakan oleh Kak Juan ada benarnya. Pilihan terbaik sekarang adalah pulang dan menenagkan diri. Berharap besok hari menjadi baik kembali tanpa ada hal yang aneh aneh lagi.