Guyuran hujan membasuh malam yang sunyi. Kini, pagi yang masih polos ditaburi titik-titik lembut air bersama hembusan angin dingin yang menusuk ke dalam tulang. Rasa dingin yang menggerogoti diri, membuatku malas bangkit dari ranjang tidurku. Kupaksakan tubuh ini untuk bangkit dan mengambil air wudhu untuk melaksakanan kewajibanku. Kulepaskan kain putih yang membungkus tubuhku dan melipatnya.
Ting! Bunyi notifikasi mengalihkan atensiku. Kubuka ponsel genggamku, ternyata pesan dari grup alumni Sekolah Menengah Pertamaku. Sepertinya mereka sedang merencanakan untuk berkumpul setelah hampir satu tahun tidak bersapa. Setelah beradu argumen, akhirnya keputusan untuk bertemu adalah hari Senin, terhitung tiga hari dari sekarang. Hatiku sebenarnya sedikit ragu untuk menghadiri acara tersebut, namun aku mengesampingkan apa kata hatiku.
Sampailah aku pada hari ini, Senin, hari dimana aku akan ikut berkumpul dengan teman-teman alumni Sekolah Menengah Pertamaku. Kami berkumpul sekitar jam empat sore, dan saat ini jam setengah empat sore aku sudah berada di tempat bersama keempat temanku, Skaya, Tanaya, Fawina, dan Aneska.
“Langit ikut dateng kah?” tanya Skaya membuka pembicaraan
“entah, kayanya sih ikut, soalnya Karel aja ikut,” sahut Tanaya
Satu-persatu teman-temanku yang lain mulai menampakan batang hidungnya, namun insan yang kami bicarakan tadi belum juga menampakkan dirinya.
“assalamualaikum, sorry telat,” baru saja aku membatin, sang pemeran utama datang juga
“woii Langit, lama amat lo, dari mana aja?” sahut Zio, salah satu teman dekat Langit
“sorry sorry, bensin gue habis tadi,” jawab Langit sembari mengajak tos kami semua, dan ketika sampai digiliranku, semua teman-teman menyoraki,
“ahh ga seru tos doang, biasanya juga cium tangan el,” ejek Karel kepada kami berdua
Aku tanpa berfikir panjang langsung menyalami dan mencium tangan Langit, seketika suasana berubah tak kondusif, semua bersorak kegirangan melihat adegan kami berdua. Setelah acara cium tangan tadi sempat membuat heboh, Langit segera mendudukan dirinya di sampingku, karena hanya tempat itulah yang kosong. Mereka sepertinya memang sengaja membuat kami duduk berdampingan.
Obrolan demi obrolan mulai terdengar, namun aku dan Langit belum bertegur sapa sama sekali, aku hanya terdiam mendengarkan teman-temanku bercerita dan mengenang kisah kami dahulu. Sebelum akhirnya secara tiba-tiba Langit yang duduk disebelahku menegurku,
“gimana kabarmu el?” tegur Langit
“allhamdulillah baik, kabarmu gimana lang?” tanyaku balik kepadanya
“baik juga alhamdulillah, gimana kabar mama sama ayah?”
“alhamdulillah baik, tapi aku udah ga serumah lagi sekarang hehehe,” kekehku
“lohh kenapa? Mama bermasalah lagi sama kamu?” tanyanya dengan raut khawatir
“yaa biasa hehehe,”
“aku kira udah ga kenapa-kenapa lagi kamu, kalo ada apa-apa cerita sama aku gapapa el, aku siap dengerin semua cerita kamu seperti biasanya,”
Seperti biasa yang dia maksud adalah kebiasaan kami berdua dahulu selama tiga tahun menjalin hubungan. Langit adalah mantan pacarku, kami menjalin hubungan sudah tiga tahun lebih, alasan kami berpisah karena hubungan kami yang sudah seperti racun, bukan obat lagi. Dia ketika tersulut emosi tidak dapat mengendalikannya, begitupun aku. Kami berdua racun untuk diri masing-masing.
“balik aja gih kalian berdua, Langit ga sama lo jadi bajingan el, cewenya gabisa diitung el sumpah dah,” ucap Zio tiba-tiba
“apasih zi, gamau gue,” jawabku sedikit kesal
“jodoh bakal bertemu gimanapun caranya zi, tenang aja,” jawaban Langit membuatku diam seribu bahasa
“udah-udah gausah dibahas,” Skaya mencoba menghentikan obrolan ini
Setelah empat jam lebih berbagi cerita, kami memutuskan untuk pulang, karena bulan sudah terang menampakkan diri tanpa malu.
“pamit dulu ya guys,” ucapku pada teman-temanku
“eh tungguh, kamu pulang sama siapa el?” enterupsi Langit pada diriku
“sama Tanaya lang. kenapa?” jawabku
“pulang sama aku aja, NAY!! Elsya pulang sama gue aja yaa,” tanpa menunggu jawaban dariku, Langit menarik tanganku menuju motornya. Tanaya menghampiri kami sembari membawakan helmku,
“nih el helm lo,” ucap Tanaya sembari mengulurkan helm ke arahku
“apasih nay, gue sama lo aja” aku mencoba untuk menolak ajakan Langit
“udah gapapa sih el, lo sama Langit aja, kan jadi lebih aman, udah malem juga. Gue agak takut juga di daerah rumah lo,” jawab Tanaya mencoba meyakinkanku
Dengan berat hati, akhirnya aku memutuskan untuk pulang bersama Langit. Dinding yang sudah kubangun dengan penuh pengorbanan selama hampir satu tahun akhirnya hancur juga, aku kembali luluh dengan semua perlakuan Langit kepadaku malam ini.
Hari demi hari kulewati setelah pertemuan itu dengan penuh harapan, harapan kepada Langit. Aku kembali menjatuhkan hatiku pada orang yang sama, dengan orang yang menemani hari-hariku selama tiga tahun belakang.
Ting! Notifikasi WhatsApp kini juga membuatku berdegup, karena aku berharap itu adalah dia. Benar saja, setelah aku buka ponsel genggamku, nama Langit Arkatama berada di barisan teratas dengan pesan yang membuatku bertanya-tanya.
Langit Arkatama : kamu free engga el?
You : free lang, kenapa?
Langit Arkatama : ngopi yuk, aku jemput 15 menit lagi ya!!!
You : okay
Masih dengan hati yang bertanya-tanya, aku bersiap-siap, sampai akhirnya aku mendengar Langit memanggil namaku, aku segera melesat keluar dan menghampirinya.
“hai, maaf lama” sapaku
“hai, aku juga baru dateng kok, santai. Yaudah yuk berangkat sekarang aja,”
Selama perjalanan kami, hanya diisi oleh hembusan angin dan klakson mobil. Setelah berada di keheningan selama 20 menit, akhirnya kami sampai di tempat yang dituju. Tempat yang sering kami kunjungi dahulu, tempat andalan kami dahulu, tempat favorit kami dahulu, tempat penuh kenangan kami dahulu. Semua hanya dipenuhi dahulu, karena kita hanya sekedar pasangan masa lalu yang sedang mencoba untuk memperbaiki segalanya.
“kamu pesen apa el? Matcha seperti biasa?” tanya Langit setelah kita menemukan tempat untuk mendudukkan diri
“hahahaha, iya lang, matcha aja,” jawabku sembari terkekeh gemas, ternyata dia masih mengingat apa yang sering aku pesan dahulu
Tak berselang lama, pesanan kami mendarat di meja. Ini terlalu canggung, tidak ada yang berani untuk mengeluarkan sepatah katapun. Ini adalah pertemuan kedua kita setelah hampir satu tahun berpisah, dan ini adalah pertemuan pertama kita yang hanya berdua setelah hampir satu tahun berpisah. Akhirnya, setelah keheningan menemani kami selama 5 menit, Langit membuka percakapan,
“kamu lagi sibuk apa akhir-akhir ini el?” tanya Langit membuka pembicaraan kita
“engga sibuk apa-apa sih, cuma aku lagi persiapan buat PKL aja minggu depan,”
“loh kamu udah mau PKL? Kok cepet banget sih,”
“iyaa hahaha, kamu sendiri sibuk apa lang?” tanyaku balik kepadanya
“kalo aku sibuk mikirin kamu terus sih el,”
“gombalanmu lang, super banget. Pantesan banyak cewenya hahaha,” balasku sembari tertawa mengejek
“mana ada loh, ceweku banyak tp gaada yang aku seriusin el, aku bisa serius juga cuma sama kamu,” balasnya dengan nada yang mulai serius. Aku mulai mengerti akan kemana arah percakapan kami ini.
“buaya banget lang omonganmu hahahaha,” aku masih mencoba untuk membalasnya dengan candaan, aku mulai takut akan arah obrolan kami.
“kamu sayang aku engga el? Jujur aku deketin banyak cewe emang buat nyari pengganti kamu, tapi gaada el, gaada cewe yang bisa sesabar kamu ngadepin aku yang emosian ini, gaada cewe yang bisa deket banget sama mamaku, gaada selain kamu el. Aku sayang banget sama kamu, melebihi apapun, cuma kamu yang bisa ngendaliin aku disaat aku hilang kendali, cuma kamu yang bisa aku jadiin rumah keduaku disaat rumahku lagi berantakan, cuma kamu el,” arah obrolan kami sudah mulai serius, aku hanya tediam seribu bahasa, aku tak tahu harus menjawab pernyataan dia dengan bagaimana.
“aku sayang banget el sama kamu, sumpah aku bener-bener hilang arah pas gaada kamu disisi aku,” Langit masih mencoba meyakinkanku
“iya aku tau kamu sayang sama aku, aku juga sayang banget lang sama kamu. Gaada orang yang siap di depan sendiri buat lindungin aku selain kamu, tapi maaf lang, aku gamau pacaran lagi, aku gamau balik lagi sama kamu, cukup gini aja hubungan kita, cukup sama-sama tau kalo kita saling sayang, cukup gitu aja,” akhirnya ku beranikan diri membalas ucapan Langit
“iya oke, aku juga gaada ngajak kamu buat balik ke aku, cukup buat aku ngerti kalo kamu juga masih sayang sama aku,”
Namun nyatanya semua omongan kami malam itu hanyalah angin lalu, kami memang tidak berpacaran kembali, namun kami bersikap layaknya sebagai sepasang kekasih pada umumnya. Kita menjalani hubungan tanpa adanya status dengan berdalih berkomitmen.
Ting! Bunyi notifikasi yang dahulu selalu aku tunggu-tunggu dan aku harapkan, kini hanya menjadi hiburan saja, tidak ada yang membuatku tertarik dengan itu semua, semua hanya seperti kebiasaan yang terasa hambar.
Langit : sayang, sini main ke rumah
You : Aku lagi yang datengin kamu?
You : kemarin baru aja kita berantem gara-gara ini loh
You : kamu masih belum paham juga ya?
Langit : lagian apa salahnya sih kamu yang nyamperin aku?
Langit : kamu sayang sama bensin kamu kah?
You : bukan masalah bensin lang, kesadaran diri, kamu cowo aku cewe
Langit : udah sih gausah dengerin apa kata orang
Langit : kalo gamau ketemu juga yaudah, aku juga ga maksa
Terhitung sudah lima bulan kami kembali menjalin hubungan ini, dan sudah lima bulan pula kami mengulang hubungan yang tidak sehat ini. Kami saling menyakiti satu sama lain, kami menjadi racun bagi satu sama lain.
Malam ini kami berencana untuk pergi bermain, setelah dua minggu terhitung kami tidak bertemu. Aku pergi mendatangi rumahnya, kami berangkat dengan menggunakan kendaraanku, selalu begitu. Selalu aku yang menjemput Langit.
“perasaan aku terus ya lang yang jemput kamu,” ucapku memecah keheningan kami
“mulai lagi kan, kamu kalo emang sayang sama bensin kamu nanti aku bayarin. Lagian kalo aku dulu yang jemput kamu buang-buang waktu,” selalu seperti itu jawaban yang kudapatkan.
“bukan masalah uang Langit, aku malu, aku terus yang nyamperin kamu, aku terus yang jemput kamu, aku udah kaya perempuan gapunya harga diri di sini,” jawabku sembari menahan tangisan yang berusaha untuk mendobrak keluar
“kamu kebiasaan selalu dengerin apa kata orang, yang menjalani hubungan itu kita, bukan orang lain,”
“kamu bisa menghargai aku sebagai seorang perempuan gasih lang?”
“aku capek tau gasih el, setiap hari kita kerjaannya cuma berantem terus, dan masalah ini terus yang dibahas,” Langit mulai meninggikan nada bicaranya
“kamu fikir aku engga capek lang? aku juga capek berantem terus, aku capek sama omongan orang-orang, aku capek sama sifat kamu yang gapernah bisa memperlakukan aku dengan baik lang, aku capek,” pertahananku akhirnya runtuh juga, air mata mengalir deras di pipiku
PLAK! Tangan besar Langit mendarat di pipi basahku. Baru saja dia menamparku, untuk yang kedua kalinya selama kami menjalin hubungan ini, sungguh aku sangat lelah.
“oke, kita sampe sini aja lang, aku capek sumpah, aku emang sayang banget sama kamu, aku sayang sama hubungan kita yang udah selama dan sejauh ini, tapi aku juga masih sayang sama diriku sendiri. Aku masih perlu bahagia, aku masih perlu bernafas,”
“Cuma karena ini kamu minta putus el? Sumpah ga habis fikir aku sama cara berfikir kamu,” balasan Langit membuat emosiku semakin memuncak
“Cuma katamu?! CUMA LANG?!! aku yang harusnya ga habis fikir sama caramu berfikir. Punya otak kan?! dipake!!! Ayahku aja gapernah main tangan sama aku lang, kamu itu siapa berani nampar aku???!!! Ini kesempatan terakhir buat kamu setelah kamu nampar aku kemarin, tapi emang dasarnya bajingan ya bajingan!!!” emosiku sudah tidak dapat aku kendalikan
“kita udah aja lang, sumpah aku capek banget,” suaraku mulai melemah, aku sudah terlalu lelah untuk segalanya
“oke kalo itu mau kamu, makasih el buat semuanya, makasih buat 4 tahunnya, makasih udah mau jadi rumah kedua buat aku, makasih udah mau jadi temenku, pacarku, sahabatku, bahkan ibuku,” dahulu aku selalu luluh dengan mulut manisnya, namun tidak untuk kali ini.
“oke lang, gue balik dulu, sekali lagi makasih, dan jangan pernah usik kehidupan gue lagi, ini bener-bener yang terakhir gue luluh sama mulut sampah lo,”
Aku berhasil, aku berhasil keluar dari zona nyamanku, aku berhasil memilih diriku sendiri. Sungguh, aku lebih sayang dengan diriku sendiri, melebihi apapun. Aku bertekat tak akan aku kembali mengulang kisah kita untuk yang ketiga kalinya. Kembali bersamanya sama seperti membaca ulang buku yang sudah pernah kubaca, ceritanya akan tetap sama, dan akhir kisahnyapun juga akan tetap sama, tidak akan ada yang berubah. Mengulang hubungan dengan orang yang sama hanya akan membuang-buang waktu berhargaku, waktu berhargaku untuk bisa lebih menyayangi diriku sendiri.