Kata orang rumah adalah tempat kembali, tempat dimana kita bisa merasakan kenyamanan dan kasih sayang, kata mereka juga keluarga adalah orang yang akan membuat kita merasakan arti sebuah cinta, mungkin itu berlaku untuk mereka tetapi tidak dengan ku. Rumah yang katanya tempat kembali kenyataan nya membuat ku pergi, keluarga yang katanya tempat sebuah cinta kenyataan nya sebuah neraka.
Aku hanyalah seorang gadis biasa yang lahir dengan kecacatan sebuah keluarga, aku pun tak beda dengan gadis diluar sana aku tetap bermain, bercanda, tertawa bersama teman sebaya ku. Aku belum sadar dengan kenyataan fikiran ku hanya bermain dan bermain padahal kenyataannya rumah yang aku anggap istana telah hancur , orang tua yang selalu bersama ternyata berpisah, akhirnya kenyataan itu menampar ku dengan keras seakan menyadarkan ku. Dimana waktu itu ayah ku dan ibu ku datang kepadaku setelah beberapa hari mereka tidak pulang, aku menyambut mereka dengan senyuman dan sebuah pelukan. Tetapi mereka tidak sendiri di samping ibu ku ada lelaki yang berumur sama dengan ayah ku, disamping ayah ku pun sama ada perempuan yang berumur sama dengan ibu ku. “ Mereka siapa?” tanya ku “Dia ayah mu” “Dia ibu mu” jawab ayah dan ibu ku bersamaan. “Kenapa? Bukannya aku sudah punya ayah dan ibu?” tanya ku. Aku bingung dengan keadaan ini apa yamg terjadi? Aku punya 2 ibu? Aku punya 2 ayah? Otak ku penuh sekali pertanyaan itu sampai ibu ku bertanya lagi padaku “kamu mau ikut ayah atau ibu?” sebenernya ini ada apa pikiran ku terus berputar sampai akhirnya ibu berkata bahwa ibu akan pergi keluar kota dengan suaminya dan aku tinggal bersama ayah ku. Otak ku masih tetap berputar aku belum paham dengan keadaan tapu yang aku tau semua akan baik baik saja.
Seberjalannya dengan waktu aku mulai terbiasa dengan keadaan ini, keadaan dimana wanita yang dikenalkan ayahku dulu sekarang menggantikan posisi ibu ku, dia ku panggil “Mama” semua masih berjalan dengan semestinya aku bersekolah, aku bermain, aku tertawa dengan teman teman ku, semua masih berjalan dengan semestinya hanya yang berbeda adalah posisi seorang ibu. Sekolah ku berjalan dengan semestinya sampai pada saat akhir semester pengambilan rapot semua seakan menatap ku dengan tanya “ siapa dia?” “mana ibunya?” “kok itu?” tatapan itu seakan membuat ku ingin menangis mereka seakan menghakimi tanpa bertanya kepadaku tentang dia, aku seolah tidak peduli tentang tatapan mereka aku berjalan dengan dia yang kusebut mama menuju kelas. Saat berjalan semua masih menatap ku dengan tatapan tanya rasanya ingin pulang dan menangis tapi apa boleh buat aku didik untuk kuat dengan realita yang ada sekarang.
Masa liburan sekolah telah usai, hari itu hari pertama masuk sekolah yang ditanyakan teman teman ku adalah “waktu kemarin siapa yang mengambil rapot mu?” dengan sekenyah ku jawab “ dia mama ku” semua seakan kaget dengan jawaban ku, semua seakan bingung tapi semua itu terjadi dengan cepat mereka tak mempermasalahkan berapa ibuku dan kenapa dengan keluarga ku, aku tetap bermain dan tertawa bersama mereka. Sampai pada suatu waktu pulang sekolah ada ibu teman ku yang berkata pada anak nya “jangan main sama anak itu, karena orang tuanya pisah pasti dia nakal” sambil menatapku, disaat itu aku merasa semua tak adil kenapa harus aku? Kenapa semua seperti ini? Mulai saat itu aku sadar keluarga ku tak lagi utuh, yang aku anggap baik baik saja ternyata tidak baik baik saja, semua sudah merubah tatapan semua orang kepadaku. Keesokan harinya semua tak lagi sama teman teman ku mulai menjauhi ku semua menatapku seakan merasa jijik kepadaku padahal aku hanya diam, dengan keadaan seperti itu setiap harinya membuat aku berfikir “ aku diam saja mereka menganggap ku nakal kenapa aku tidak menjadi seperti yang mereka pikir?”. Mulai itu aku bukan lah gadis yang periang yang selalu tersenyum aku menjadi gadis yang cuek yang tidak peduki dengan siapapun yang setiap harinya bertengkar dengan anak anak lain. Disaat itu aku seakan ingin berbicara pada dunia “gadis kecil ini sudah tidak lagi seperti dulu yang lemah”. Saat dirumah aku menjadi gadis yang pendiam, aku yang dulu selalu mendengarkan apa kata orang tua sekarang mulai membangkang.
Hari demi hari telah berlalu semua tak bisa merubahku, aku yang dulu ttak ada lagi yang ada sekarang aku yang tidak peduli dengan keadaan dan tak tersentuh orang lain. Setiap harinya aku bukan menjadi lebih baik malah semakin memburuk , aku merasa ini bukan salah ku tapi salah keluarga ku yang membentuk aku seperti ini. Dirumah mama ku juga setiap harinya menunjukan sikapnya yang sesungguhnya yang awal nya dia terlihat sayang kepadaku tapi kenyataannya dia seakan ingin membunuhku secara perlahan, ternyata perkataan orang benar bahwa ibu sambung tidak akan pernah sayang kepada anak sambung 100% . Disaat itu aku selalu berkata pada semua orang bahwa dia ibu sambung ku baik dia tidak pernah jahat kepadaku tapi semua itu tidak sama dengan kenyataan yang ada. Aku selalu menutup segalanya dengan membalikan fakta yang ada, ingin rasa nya berkata kepada semua orang bahwa aku tidak baik baik saja tapi apa boleh buat keadaab yang membuat nya seperti itu.
Setiap harinya keadaan tak membaik semua membuat ku terpuruk, disaat itu aku ingin marah tapi tak bisa, ingin menangis air mata ini seakan tak ingin keluar. Di saat ayah ku sibuk bekerja, ibu ku sibuk dengan keluarga barunya dan ibu sambung ku sibuk dengan anak nya. Iya, teenyata dia mempunya 2 anak dan anak ke 2 nya seumuran dengan ku, seakan penderitaan terus menghampiriku dengan siksaan batij setiap harinya sampai aku pernah ingin mengakhiri hidup ku sendiri karena itu terlalu berat untuk ku. Tapi saat itu aku langsung sadar untuk apa aku mengakhiri hidupku? Sama saja aku kalah dengan mereka dan mulai saat itu aku berusaha untuk membenahi penyakit batin ini dan berusaha mencintai diriku sendiri karena kalau bukan diriku siapa lagi. Dan mulai saat itu aku lebih merasakan hidup ku lebih bermakna karena tanpa kejadian itu aku tidak mungkin berdiri dengan kokoh seperti ini untuk menerjang angin diluar sana.
Dengan setiap apa yang terjadi membuat belajar bahwasannya sebuah Rumah tidak hanya untuk berteduh tetapi harus ada kehangatan di dalamnya
By : Lenn