Dengan sangat hati-hati , seseorang masuk kedalam sebuah ruangan secara perlahan,dengan kaki yang diinjit sa'at berjalan, berharap tidak ketahuan
"Mau apa kesini?" Ups, usahanya sia-sia, ternyata ketahuan juga.
"Hehehe" Dia hanya menyeringai dan tetap melanjutkan langkahnya, dan duduk di sebuah kursi, tak jauh dari seseorang yang telah memergokinya.
"Mau apa kemari?, ditanya malah nyengir ngak jelas" Tanya nya lagi tanpa menatap orang yang baru saja datang, dan tetap fokus pada pekerjaan.
"Ace bosan dirumah Ayah, mama selalu sibuk, dan ngak ada waktu bermain sama Ace" Ucap Ace, gadis kecil yang masih berumur tujuh tahun.
"Ace bosan main sama baby sister terus, mama ngak mau main sama Ace, tapi mama juga melarang Ace main kesini, katanya akan mengganggu ayah bekerja" Ucapnya lagi dengan wajah sedih.
Mendengar ucapan anaknya, Roberto seketika berhenti dari aktivitas nya, kemudian menoleh dan menatap sang anak.
"Ace sini! duduk disini!" Roberto merenggangkan tangannya, dan menyuruh sang anak duduk dipangkuannya.
"Ace dengar ayah ya! Ace ngak boleh bersedih! mama bukannya ngak mau main sama Ace, mama dibutuhkan banyak orang, tugas mama sangat mulia, yaitu mengobati orang sakit" Ucap Roberto lembut, memberikan pengertian pada sang putri.
"Mulai sekarang, kalau Ace mulai bosan dirumah, Ace boleh main ketempat kerja ayah, tapi dengan satu syarat!"
"Apa ayah?" Ucap Ace berbinar, selama ini dia tidak pernah bermain ketempat kerja sang ayah, karena selalu dilarang mamanya.
"Kalau Ace main disini, Ace ngak boleh nakal ya, jangan pegang-pegang peralatan yang ada disini!"
"Baik ayah"
"Anak pintar, sekarang mainlah!" Roberto mengecup pipi gembil sang anak sebelum menurunkannya dari pangkuan.
Semenjak diizinkan bermain di ruang kerja sang ayah, Ace lebih sering menghabiskan waktunya disana.
Suatu waktu, Ace melihat sesuatu disudut ruangan, dan tertutup plastik besar.
Karna penasaran, Ace mendekat, dan dengan perlahan, menyibak plastik yang menutup sesuatu tersebut.
"Waaaw, keren!" Ucap Ace merasa takjub melihat sebuah robot yang hampir menyerupai manusia.
Dia meraba-raba robot tersebut, dan tepat di bagian depan dadanya, terdapat sesuatu berwarna orange dan sedikit menonjol, Ace meraba tombol itu, dan sedikit menekannya.
Seketika robot aktif dan seluruh sistem berfungsi, dia menangkap dan merekam manusia pertama yang mengaktifkannya.
"Terima kasih telah mengaktifkan saya, sekarang anda adalah tuan saya, dan semua perintah tuan akan saya laksanakan"
Ucapan Robot tersebut membuat Ace terkejut dan menjerit. Roberto yang mendengar teriakan sang anak, langsung beranjak dan berlari menuju sumber suara.
"Ada apa Ace?" Ucap Roberto, seraya membangunkan anaknya yang terjaduh dengan posisi terduduk
"Ayah, apa itu monster?" Tanya Ace ketakutan
"Bukan sayang, dia robot ciptaan ayah" Roberto tersenyum sambil mengusap rambut sang anak, berusah menenangkannya " Robot ini memang buat Ace, ayah buat sekitar dua tahun lalu, tapi ayah selalu lupa untuk memberikannya"
"Sekarang dia sudah aktif, dia akan mengikuti semua perintah Ace"
"Kenapa cuma perintah Ace ayah?" tanya Ace bingung
"Karna Ace yang mengaktifkannya, dan sensornya pertama kali mendeteksi wajah Ace, jadi Ace akan menjadi tuannya"
Berkat bujuk rayu ayahnya, akhirnya Ace pun bisa mengendalikan rasa takutnya.
"Hallo, aku Ace, siapa namamu?" Tanya Ace sa'at mereka berdu sudah berada dikamar Ace, sedangkan sang ayah telah kembali setelah mengantarkan mereka berdua kekamar.
"Saya robot"
Ace terkekeh mendengar jawaban si robot.
"Iya, aku tau kamu robot, tapi namamu siapa?"
"Siapa ya?" Robotpun bingung.
"Hmm" Ace terlihat berfikir "bagaimana kalau aku kasih nama"
"Baik nona, semua keputusan ada di tangan anda" robot itu memang akan selalu menuruti semua perintah Ace, karna dia diprogram seperti itu.
"Bagaimana kalau Alfee?"
"Alfee? nama yang bagus".
Semenjak kejadian itu, Ace tidak lagi merasa kesepian, dia sudah punya teman bermain.
Meskipun Alfee adalah robot, tapi dia bisa berinteraksi dengan lawan bicaranya, dan juga tampangnya tidak seperti robot kebanyakan, Alfee memiliki tampang menyerupai manusia.
***
Hari-hari berlalu, sekarang adalah ulang tahun Ace yang ke delapan belas, mereka sedang merayakan pesta nya malam ini termasuk Alfee.
Ace memandang Alfee dengan perasaan tak karuan, bagi Ace, Alfee adalah sosok lelaki idaman, padahal ia tahu bahwa Alfee adalah robot.
Semenjak memasuki bangku sekolah menengah atas, Ace sudah merasakan sesuatu yang aneh pada Alfee, hingga makin hari,makin membuat perasaan makin tak bisa dikendalikan.
Ace bukan tak pernah mencintai lelaki, dia pernah memberikan cintanya pada seorang laki-laki, tapi yang ia dapat adalah penghianatan, dan membuat ia, menutup hati untuk laki-laki lain.
Beruntung ia memiliki Alfee, robotnya itu selalu mendengarkan curahan hatinya, kemudian dia akan menghibur sang tuan.
"Nona Ace tidak boleh terlalu bersedih, jangan pikirkan laki-laki yang telah menghianati nona, karna itu akan menguras energi nona saja, masih banyak lelaki lain, dia hanya laki-laki yang tidak beruntung, karna telah menghianati nona yang cantik ini,yakinlah, akan ada laki-laki lain untuk nona, yang dengan tulus akan mencintai nona"
Begitulah kira-kira nasehat Alfee pada Ace, sehingga ia bisa melupakan penghianatan itu dengan cepat.
Malam semakin larut, pestapun telah usai, mereka yang menghadirinya telah membubarkan diri, termasuk Ace dan Alfee, merekapun menuju kamar Ace untuk istirahat.
"Alfee!"
"Iya nona, ada apa? ada yang harus saya lakukan?" Tanya Alfee.
"Alfee, aku mau ngomong!"
"Iya nona, ngomong aja, biasanya nona langsung ngomong aja, kenapa sekarang minta izin segala?"
"Alfee, aku mencintaimu" ucap Ace menatap dan menyentuh pipi Alfee.
Ucapan dan perlakuan Ace, membuat Alfee seketika membeku, semua sistem nya mati, dan lampu yang ada didadanyapun padam.
"Alfee" Karna tidak ada respon, Ace pun kembali memanggil nama Alfee, tapi tetap sama, hingga Ace sudah lima kali memanggilnya, tetap tidak ada respon.
Panik, Ace pun menemui ayahnya dikamar, setelah dibukakan pintu oleh ayahnya, Ace tidak masuk, tapi langsung menceritakan keadaan Alfee sa'at ini, mereka pun bergegas menuju kamar Ace.
Dan benar saja, Alfee tidak merespon, akhirnya mereka membawa Alfee ke ruang kerja sang ayah untuk dicek.
"Bagaimana ayah?" tanya Ace cemas ketika melihat Robert telah selesai memeriksa robotnya.
Roberto menggeleng "Semua sistem Alfee telah rusak dan kabel yang ada didalamnya pun sudah pada konslet"
"Apa tidak bisa diperbaiki ?" tanya Ace penuh harap.
"Hah, akan membutuhkan waktu yang lama, karna semua kabel akan diganti, otomatis sistempun akan diganti, dan nantipun Alfee tidak akan mengenalimu lagi Ace!" Roberto menjelaskan.
Ace pun sangat sedih mendengarnya, dia kemudian mendekat dan memeluk bangkai robotnya sambil tersedu.
"Sudah Ace! kamu sudah besar, temanmu juga sudah banyak, ngapain mainrobot juga?" Ucap Roberto menepuk-nepuk pundak Ace dua kali, setelah itu dia keluar dan meninggalkan Ace disa bersama robotnya.
"Aku mencintai Alfee ayah" Lirihnya dengan tersedu.
Setelah puas menangisi robotnya, Ace pun bangkit dan hendak kembali kekamarnya, karna dia pikir, untuk apa dia disini? dia juga tidak dapat melakukan apapun selain menangis.
Sa'at hendak berbalik, Ace terkejut, dia melihat sesuatu keluar dari mulut Alfee, seperti flashdisk.
"Apa ini?" Gumamnya setelah mengamati benda tersebut.
Dengan berat hati, akhirnya Acepun meninggalkan Alfee sendirian.
***
Dikamar, Ace langsung mengambil laptop dan menyalakannya, kemudian memasukkan flash disk temuannya tersebut.
"Hallo nona Ace yang cantik, nona jangan terlalu bersedih!, saya kan sering bilang, jangan terlalu sedih jika kehilanga sesuatu, nona itu cantik, pasti banyak lelaki yang menginginkan nina jadi pendamping hidupnya, nona harus yakin itu,lupakan saya, bukalah hati nona pada laki-laki dari ras nona, bukan yang seperti saya"
"Duh nona, jangan bersedih!" Suara Alfee itu malah semakin membuat Ace menangis.
"Sudah nona jangan menangis, nona harus ingat setiap pertemuan pasti ada perpisahan, setian yang diinginkan tak harus dimilik, dan setian cinta tak harus berbalas"
"Inatkah nona ketika dikhianati? nona juga bersedih, tapi hanya sementara, maka dari itu, nona jangan terlalu bersedih kehilangan saya!"
"waktu nona masih panjang, mulai sekarang lupakan penghianatan dimasa lalu nona, dan kembalilah buka hati nona untuk laki-laki lain!"
"Nona harus ingat, meskipun saya berada disisi nona, tapi kita tidak bisa bersama seperti halnya orang tua nona, kita tetap akan menjadi manusia dengan robotnya, dunia kita berbeda nona, kamu harus ingat itu"
Suara Alfee langsung terdengar ketika Ace menekan tombol play di laptop nya, yang membuat Ace semakin sedih dan tersedu seorang diri.
"Alfee, kenapa kamu pergi? apa kamu capek karna aku suruh-suruh, aku sudah terbiasa ada kamu, huhu.."
"Sekarang aku sedih Alfee, siapa yang akan menghibur aku? siapa yang akan mengambilkan aku tissue?"
"Bagiku, kamu yang terbaik, kamu yang paling setia, aku ngak tau apakah semua laki-laki di dunia ini sama, aku takut dikecewakan lagi oleh manusia"
"Ma'afkan aku Alfee, karna aku kamu rusak"
"Kembalilah Alfi, aku berjanji, tidak akan mengatakan memcintaimu lagi" Ace terus meracau sambil menangis.
Karena terlalu lama menangis, membuat Acepun capek, dan akhirnya tertidur di meja belajarnya, dengan kepala menghimpit laptop. Ace tertidur hingga pagi hari.
"Alfee" Seperti biasa, Ace akan memanggil Alfee ketika bangun tidur.
Tidak ada jawaban hingga panggilan ketiga, Ace pun berdiri dan hendak menuju kamar mandi, ketika ingin berdiri, Ace pun tersadar, ternyata iya tertidur setelah menangisi robotnya yang telah rusak.
"Alfee... ternyata semalam bukan mimpi, aku semalam tidur ,berharap bangunnya kamu ada di sampingku" Ace pun kembali menangis beberapa sa'at.
"Alfee, aku akan mengikhlaskanmu, agar hatiku merasa tenang" Ucap Ace mengusap air mata nya "jika diberi kesempatan, aku ingin bertemu kamu lagi!, selamat jalan Alfee!" Ace menatap fotonya dan Alfee ketika awal mereka bertemu, setelah Ace melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, berharap kesedihannya akan pergi bersama air yang mengalir ditubuhnya.
*****