"Axel cepat dikit dong udah setengah sepuluh ni", panggi maya setengah berteriak dari bawah. wanita cantik 50an itu gusar takut terlambat mondar mandir di dekat meja makan.
Suseno papa axel cuma bisa tersenyum melihat istrinya yang terus mendongak kelantai dua.
"ih, ini anak papa", gerutuk maya kesal cemberut.
"kok papa yang sala", jawab suseno berlagak pilon.
"axel, sayang ayo dong cepat sedikit", panggil maya lagi, kali ini ia menatap suseno tajam. suseno sudah tahu istrinya pasti ngambek.
"sabar ma kayak gak tahu anaknya aja", suseno, kemudian beranjak dari kursi makan mengusap bahu istrinya karena suseno sudah tahu takbiat maya yg suka ngambek.
"Axel turun nak, temani mama kamu kondangan", suseno memanggil axel.
"males pa", teriak axel.
"tu kan pa", ujar maya merajuk.
"axel, mama kamu merajuk ni", panggil suseno lagi.
"iya, iya bentar lgi", ujar axel ogah-ogahan.
Suseno dan maya tersenyum saling pandang, lalu tos. maya dan suseno yakin kali ini rencana mereka bakal berhasil.
Axel masih duduk di tepi ranjangnya, punggungnya sedikit menekuk ke depan. sebenarnya Axel malas datang ke tempat kondangan karena axel tahu dia bakal di tanya kapan nikah kapan nikah. yang paling di benci pria 30 tahun itu di jodoh-jodohkan.
Huuusssss axel mendongak ke atas meniupkan angin ke rambutnya yang menjuntai menutupi kening.
Axel berdiri menuju lemari, mengambil satu steel pakaian formal dan memakainya.
Axel turun dari tangga yang melengkung, pemuda berambut ikal dan berkulit kuning langsat itu, bagai tak ada tenaga. Suseno dan maya yang kini duduk di ruang keluarga tersenyum menatap buah hatinya yang berjalan bagai mayat hidup itu.
"Senyum dong, jangan di tekuk gitu mukanya nanti gantengnya hilang lho", maya menggoda axel.
"ni", axel membuka lebar senyumnya menunjukan pada maya.
"udah ah, ayo", ajak suseno.
Mereka tiba di tempat kondangan benar yang di pikirkan axel sudah ada beberapa orang yang menanyakan kapan ia nikah. tidak seperti di rumah pemuda berbadan tegap itu menanggapinya dengan senyum yang membuatnya bertambah ganteng setiap gadis yang melihatnya, eh janan kan gadis ibu ibu pun jatuh hati, ni buktinya begitu melihat axel ada di tempat kondangan ibu ibu langsung mengerumuni axel, dan hal ini lh juga yang membuat axel bete.
Acara resepsi sudah di gelar tamu-tamu ada yang makan ada yang jabat tangan, axel duduk di kursi yang berada di pojok seorang diri memperhatikan itu semua, tangan kanannya memegang gelas berisi minuman berwarna merah, sesekali axel yang lagi termenung meminumnya.
Dari kejauhan maya yang sedari tadi bercengkrama dengan seorang ibu-ibu dan seorang gadis maya tampak tersenyum sumringah terus dan sekali sekali mereka menatap dari jauh.
"axel", bisik suara hati gadis itu
"ayo jeng, ayo luna biar tante kenalkan kamu dengan anak tante, tante yakin kamu pasti suka", tutur maya tersenyum bahagia.
Luna yang sedari tadi tersenyum pahit bila menatap axel karena ada rasa bersalah kini mengekori kedua wanita paruh baya itu.
"nak", panggil maya, memecah lamunan axel yang lagi mengitari puncak gelas dengan telunjuknya.
"iya ma", ujar axel kaget langsung mendongak menatap ibunya
Axel berdiri ada suara derit kursi yang di duduki axel.
"axel kenali ini tante intan, ini luna", mama axel memperkenalkan sambil menatap intan dan maya.
"hai tante", axel menjabat tangan intan, "haaaaiii luuu", axel kaget tak dapat menyelesaikan kata luna, "kamu", sambung axel penuh kebencian.
Luna tertunduk tak mampun menatap axel yang berdiri menjulang di depannya. maya kaget begitu juga dengan intan ternyata anak mereka sudah saling kenal tapi axel kok seperti marah besar dengan luna.
"ma ayo kita pergi", axel mengandeng tangan maya, maya yang rak dapat menolah ikut pergi.
tapi baru beberapa langkah luna memberanikan diri memanggil axe.
"kak axel", panggil luna dengan suara parau menahan tangis.
"kak maafin aku kak, aku gak ada maksud nyakitin kak axel maafin aku kak", kemudian luna menangis di dalam pelukan intan.
mendengar itu axel mematung. pikiran axel berkutat antara mau memaafkan dan tidak karena wanita cantik yang ia sangat cintai itu telah membuat hatinya hancur berkeping keping selama tujuh tahun ini.
maya dan intan tak mau ikut campur biar axel dan luna menyelesaikan masalahnya. mereka cuma menenangkan anak mereka.
Axel berbalik menatap luna penuh kebencian, sorot mata tajamnya menusuk jantung luna dan intan.
"oohhh kamu masih berani mintak maaf setelah membuat aku hancur-sehancur hancurnya, lalu kamu datang dan mintak maaf", dengan air mata berderai suara beratnya makin berat terdengar saat mengucapkan kata-kata itu.
"maaf kan aku kak", cuma kata itu yang mampu keluar dari bibir mungil luna, yang kini memberanikan diri menatap pira tampan yang ia cintai.
"sudah nak sudah maaf kan luna", maya mencoba menenangkan hati putranya, hatinya ikut hancur.
intan terus menangis ternyata axel laki- yang selalu di ceritakan luna padanya.
"ayo nak kita duduk dulu, kita selesaikan masala ini dengan kepala dingin", bujuk maya.
Dengan sisa tenaga axel maupun luna di gandeng mama mereka menuju meja.
Sekitar 10 menit mereka duduk tak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka.
"kak maafin aku aku mengaku sala, semua ini gara-gara, doni kak doni menghasut ku bahwa kakak selingkuh." luna menarik nafas dalam-dalam," aku yang tengah kalut tanpa bertanya dulu dengan kakak aku pergi keluar negeri, maaf kan aku kak", tutur luna mencoba tegar menceritakan semua, kini terserah keputusan axel.
Axel yang sedari tadi menatap luna, menurut dari tutur kata luna luna tidak berbohong axel kini sedikit melunak menatap gadis bergaun pink itu dengan rambut panjang terurai.
"kak doni hampir memperkosa aku", luna tak mau menutup lagi semuanya dari pemuda yang ia cintai.
"apa", axel dan maya kaget bukan main. intan tertunduk.
"dasar bajingan". mata axel melotot tangannya yang ada di atas meja mengepal erat.
"tapi kamu gak apa-apakan lun??", tanya maya penuh selidik.
"gak tante untung cepat datang security kalau tidak", luna kembali menangis.
"tenang nak, ceritakan semua biar nak axel tahu",
"iya ma", sahut luna.
"ternyata ini akal bulusnya dia yang ingin mendapatkan aku kak, dan aku tak berani menemui kakak, karena aku kira kakak sudah menikah", ujar luna.
"memang kurang ajar si doni", doni benar-benar marah.
"untung mama kenal dengan tante maya dan mendengar dari mama kakak belum menikah jadi aku memberanikan diri menemui kak axel dengan bantuan mama", kini luna lebih tenang.
"ia axel maaf kan tante", intan mintak maaf.
"ini bukan sala tante ini sala bajingan tegik itu", ujar axel kesal
"sudah nak, yang penting luna tidak apa-apa", kata maya bijak, axel menarik nafas kasar untuk menenangkan diri.
Setelah semua di anggap selesai, axel mengedipkan mata, lalu meraih tangan luna.
"nak axel mau di bawah kemana anak tante", intan pura-pura panik.
"mau di bawah ke penghulu", jawab axel sembari tertawa melirik kedua perempuan paruh baya yang ia cintai. luna yang diajak axel berlari keluar dari gedung mencubit o
pinggang axe.
"aww", ujar axel.
"maya lu tanggung jawab kalu terjadi apa-apa dengan anak gue", ujar intan yang pura-pura emosi.
"iya iya gue tanggung jawab", ucap maya sembari menoel hidung mancung sahabatnya itu.
lalu mereka tertawa.
Sekian.