“Kerikil di setapak merintih tak pernah istirah.
Membaurkan harum tubuhmu yang meranggas”
Dua larik puisi itu kulihat tertulis dalam kertas coklat di mading jurusan. Setiap minggu, BEM prodi di jurusan kami selalu mengadakan program ‘Puisi Berantai’ yang mempersilahkan seluruh mahasiswa dapat menyumbangkan beberapa baris puisi sehingga bisa membuat puisi yang utuh secara bersamaan.
Beberapa menit ku pandangi dua baris puisi tersebut, kebetulan sunyi sangat terasa di lorong jurusan. Hanya menyisakan aku dengan dinding mading yang ada di hadapan. Sejenak aku berpikir, tidak ada salahnya untuk menuliskan beberapa kalimat.
Alhasil, setelah pembelajaran selesai. aku harus menyelesaikan tugasnya. Saat semua orang sudah keluar kelas, tinggalah aku seorang diri. Tiba-tiba datang seorang lelaki yang mengetuk pintu kelas.
“Sorry kelasnya masih dipakai ya?”
“Oh nggak kok. Cuma numpang ngerjain tugas aja. Mau ada kelas juga ya, Kak?” akupun memasukan buku dan segera meninggalkan kelas. Entah siapa lelaki itu, tapi kuyakin dia adalah kakak tingkat.
“Nanti sih habis istirahat. Jam 1” jawabnya singkat
“Okey kak, silakan”
Ia hanya tersenyum tipis dan menaruh tas nya di bangku. Untungnya, tugas tersebut sudah selesai kukerjakan dan bisa aku langsung kumpulkan di ruang dosen. Saat aku menuruni tangga, sekitar 4-5 orang berkerumun di mading. Setelah lihat dari dekat, ternyata mereka memfoto dan terkagum-kagum dengan puisi berantai minggu ini.
“Ini so sweet banget, Ras! Pasti salah satu penulis puisi ini Kak Deo.”
“Siapa tuh Kak Deo?”
Aku yang antisosial memang tak tahu menahu tentang orang populer di jurusan. Rana dengan semangat menjelaskan sosok orang bernama Deo yang merupakan pemenang lomba cipta puisi tingkat nasional. Setelah selesai menjelaskan itu semua, kami pun pergi meninggalkan gedung dan akan kembali saat matkul terakhir di jam sore.
Tak mau terlambat kembali. aku menjadi yang pertama untuk memasuki kelas. Namun, sebelum itu, ku sisihkan waktuku untuk melihat puisi berantai itu. Puisi yang sudah dua bait itu berhasil membuatku untuk menuliskan beberapa patah kata kembali. dan tanpa kusadari, ada sosok lelaki yang entah sejak kapan memperhatikanku menulis.
“Jadi selama ini kamu yang membalas puisiku. Perkenalkan, aku Deo.”
Senyuman itu memberikanku nyawa untuk bisa memperlihatkan senyuman manis yang kupunya.