Di suatu pagi yang cerah ini, matahari bersinar dengan terang menerangi seluruh kehidupan.
Hari ini, menit ini, dan detik ini, mereka akan menjalani kehidupan terakhirnya sebagai calon alumni SMA.
Kedatangan mereka semua sudah menghiasi setiap jalanan yang ada di waktu fajar ini.
Sejak matahari mulai terbit, Murid-murid kelas 3 Sekolah Menengah Atas (SMA 36) sudah berkumpul di dalam lingkungan sekolah.
Dan terdengar berbagai macam suara di segala penjuru arah datang dengan berbagai macam alasan.
Satu hal yang pasti, mereka datang untuk menikmati sisa kenangan terakhir dalam kehidupan sekolah yang akan mereka lakukan selama 6 bulan ke depan.
Namun, bagiku ada sebuah hal penting yang akan terjadi ketika langkah kakiku sudah memasuki pintu gerbang sekolah.
Dan hal penting tersebut adalah menemukan arti dari kebahagiaan dalam perjalanan kehidupanku.
Entah kenapa, dari lubuk hatiku yang paling dalam selalu memintaku untuk mencari arti kebahagiaan yang sebenarnya dibandingkan dalam masalah percintaan di sekolah.
Mungkin hatiku ingin agar Aku bisa merasakan kebahagiaan sejati selama menjalani kehidupan sebagai makhluk yang mempunyai eksistensi untuk hidup di alam semesta.
Tapi, Aku yakin bahwa hati seseorang tidak akan bisa berbohong sekalipun saat Dia ragu-ragu pada ucapannya sendiri.
Saat ini, hanya hatiku lah yang paling mengerti tentang perasaan diriku yang sebenarnya dibandingkan orang lain. Namun, bukan berarti aku tidak bisa mengenali tentang siapa diriku yang sebenarnya.
Kemudian Aku mendengar ada sebuah legenda dari negara Irlandia yang mengatakan, “Jika kita menemukan daun semanggi empat (Four Leaf Clover) secara tidak sengaja. Maka, orang tersebut dipercaya akan membawa keberuntungan serta kebahagiaan dalam hidupnya.”
⸢ Jika memang legenda tersebut beneran terjadi di dunia nyata, “Lantas, apakah kehidupan yang selama ini kujalani hanyalah sebatas imajinasi belaka?” ⸥
⸢ Diriku yang seperti itu hanya bisa memikirkan sejauh mana Aku bisa mendapatkan arti dari kehidupan yang selama ini kujalani dalam menemukan kebahagiaan sejati ⸥
Namun, Aku tetap berpikir positif terhadap perubahan yang akan dimulai dari diriku sendiri.
Saat itulah, Aku akan menemukan sebuah harapan nyata yang melebihi batasan dari kehidupanku sebagai manusia.
♦Ruang Kelas 3-3♦
“Selamat pagi, Lily”
“Oh, selamat pagi juga, Kenzo”
Lily melirik Kenzo seakan-akan ada sesuatu yang tidak asing sedang menempel dalam dirinya.
“Ada apa?”, Tanya Kenzo
“Tidak ada. Apakah ada sesuatu yang menarik hari ini?”
“Entahlah. Mungkin ada di sekitar kita?”
Kemudian Lily menatap tajam raut wajah Kenzo dengan penuh penasaran.
Setelah itu mulai menatap di sekitarnya dan melihat apakah Dia bisa menemukan hal menarik tersebut.
“Hmmm...dirimu terlihat berbeda dari biasanya. Apakah kamu baik-baik saja?”, Tanya Lily dengan cemas
“Masa sih?”
Raut wajah Kenzo seolah-olah tidak menampilkan sedikitpun rasa cemas dalam dirinya.
“Aku masih orang yang sama seperti biasanya, Lily. Atau… Apakah kamu sedang mengkhawatirkanku sekarang ini?”
“Tidak. Mungkin itu hanya perasaanmu saja. Lebih baik kita segera masuk kelas sebelum bel berbunyi”, Jawab Lily dengan mengelak pernyataan dari Kenzo
“Eh…jadi tebakanku salah dong?”, Tanya Kenzo dengan nada bercanda
“Tentu saja. Memangnya aku terlihat sebegitu khawatirnya di matamu?”
“Hmmm…ternyata kamu memiliki sisi yang tak terduga ya”
“Apa ya sebutannya untuk orang sepertimu? Ahh…Aku ingat! Tsun-“
Sebelum Kenzo menjawab sebutan untuk orang seperti dirinya, tiba-tiba Lily memotong pembicaraannya dengan meletakkan jari telunjuknya di mulut Kenzo.
“Sssttt...lebih baik kamu diam saja…daripada membahas obrolan yang tidak penting ini!”
Dan karena perbuatannya tersebut, Lily membuat wajahnya kembali memerah di pagi hari. Kemudian segera melepas jari telunjuknya dan berbalik badan ke belakang untuk menghindari tatapan mencurigakan dari Kenzo.
Saat itu juga, Lily merasakan perasaan malu dengan raut wajah yang tidak bisa disembunyikannya. Dan hal tersebut membuatnya tidak akan bisa untuk berbohong ketika Dia berbicara untuk menjelaskan alasannya tersebut.
*Ting…tong…ting…tong…ting…tong…ting…tong*
Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi. Suara bel berbunyi dengan keras di seluruh ruangan.
Kenzo dan Lily yang saat itu sedang berada di luar kelas, segera masuk setelah mendengar suara bel sekolah tersebut.
Hari ini akan menjadi sebuah awalan baru bagi mereka untuk memulai aktivitas sebagai seorang pelajar SMA kelas 3.
Tak terasa tengah hari telah berlalu begitu cepat tanpa mereka sadari.
Bel kembali berbunyi untuk jam pelajaran selanjutnya.
Kemudian saat pergantian jam pelajaran tersebut, mereka mulai mengingat ada sebuah rumor yang mengatakan bahwa kelas mereka (Kelas 3-3) akan kedatangan seorang guru baru untuk pelajaran fisika menggantikan peran guru sebelumnya karena pindah tugas.
*Kreeek…*
Suara pintu mulai bergeser dengan perlahan dan membuat penasaran siswa-siswi yang melihatnya.
Ternyata, itu bukanlah sebuah rumor belaka melainkan kenyataan yang telah terjadi. Dan guru baru fisika untuk kelas 3-3 adalah seorang perempuan yang berusia sekitar 18-20 tahunan yang memiliki paras cantik jelita, dengan tatapan manisnya yang bisa membuat siapapun meleleh dihadapannya, dan masih dikatakan terlalu muda untuk dipanggil sebagai seorang Ibu.
Kenzo yang melihat guru baru tersebut seketika tertegun menelan ludahnya sendiri karena menyaksikan betapa cantik dirinya sebagai seorang wanita muda yang selama ini pernah ditemuinya.
Lily yang berada disampingnya pun seperti merasakan perasaan cemburu hebat karena melihat Kenzo menatap begitu lama penampilan cantik guru baru tersebut. Kemudian Lily pun sedikit usil dan mulai mengganggu Kenzo agar tatapannya tersebut bisa teralihkan pada dirinya. Namun, usaha yang Lily lakukan menjadi sia-sia dihadapannya.
Guru baru yang melihat kelakukan mereka berdua tersebut hanya bisa tersenyum lebar dengan lembut, karena melihat tingkah lucu pasangan tersebut. Namun, terdapat sebuah kesalahan yang dipikirkan oleh guru baru tersebut terhadap mereka berdua (Kenzo dan Lily) sehingga menimbulkan kesalahpahaman yang panjang.
Bahwa, yang sebenarnya terjadi adalah mereka bukanlah sepasang kekasih yang sedang menjalin hubungan seperti yang diperkirakan. Melainkan hanya seorang teman yang telah menjadi sahabat dekat sewaktu kelas 1 SMA.
Saat itu juga, Lily merasakan sebuah setruman tidak langsung setelah dirinya melihat Kenzo menatap guru baru tersebut.
Namun, Lily menghiraukannya dan tetap bersikap tenang seperti yang biasa Dia lakukan. Dia tidak ingin perasaan dalam hatinya itu merebut kendali atas setruman yang di dapatkannya.
Begitu pula dengan Kenzo, Dia tetap berusaha untuk menjaga attitudenya sebagai seorang murid yang humoris dan juga teladan di dalam kelas.
“Selamat pagi, Bu guru”, Sapa Kenzo untuk memulai pembicaraan
“Selamat pagi juga, Muridku”, Jawab Guru Baru
“Bolehkah kami mengetahui nama Anda, Bu guru?”
“Tentu saja”
“Ada sebuah pepatah yang mengatakan ‘Tak Kenal Maka Tak Sayang’! Bukankah begitu, Bu guru?”
“Benar, Muridku. Baiklah, Ibu akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama Ibu adalah Livy Amanda. Usia Ibu tahun depan menjadi 20 tahun. Dan Ibu baru saja pindah sekitar 3 bulan yang lalu setelah mendapat pemindahan tugas dari daerah. Tempat tinggal Ibu tak jauh dari sini mungkin memiliki jarak sekitar 500 meter dari Café Mevoly”
“Kalian boleh memanggil Ibu dengan sebutan Bu Livy atau Bu Amanda”
“Ohhhh…”, Jawab Murid Laki-laki
“Terima kasih atas perkenalannya, Bu”
“Sama-sama juga, Muridku”
“Apa ada pertanyaan lain dari kalian yang ingin disampaikan kepada Ibu?”
Kemudian Lily mengangkat tangannya dengan maksud ingin menanyakan informasi pribadi yang dimiliki oleh Bu Livy.
“Saya, Bu!”, Jawab Lily dengan tegas
“Baiklah, Muridku. Sebutkan namamu dan pertanyaan apa yang ingin kamu sampaikan?”
“Nama saya Lily Agatha, Bu Livy. Dan pertanyaan saya adalah apakah Bu Livy belum mempunyai pasangan dalam waktu dekat ini?”
Pertanyaan Lily tersebut sontak membuat kehebohan di dalam kelas yang mengindikasikan bahwa Bu Livy dianggap sebagai saingan dalam percintaannya.
“Apa Ibu tidak salah dengar, Lily Agatha?”, Kata Bu Livy mencoba untuk mengulangi pertanyaan yang disampaikan oleh Lily
“Tidak, Bu Livy. Saya benar-benar serius dalam mengatakannya dan tidak sedang bercanda, Bu Livy!”
“Hmmm…baiklah. Ibu akan menjawab pertanyaan tersebut. Tapi, sebelum Ibu menjawab pertanyaan yang telah diajukan, Ibu akan membahas sedikit alasan kenapa Ibu bisa dipindahkan ke sekolah ini”
“Alasannnya, karena Guru Fisika yang dulu pernah mengajari kalian sampai sekarang ini. Kemudian karena surat tugas yang dimiliki beliau memiliki batas waktu tertentu, yang membuatnya harus meninggalkan sekolah ini dalam waktu yang lama. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa Guru Fisika tersebut juga merindukan kalian sebagai murid-muridnya selama bekerja sebagai guru di sini. Namun, kalian tidak perlu berkecil hati, karena beliau akan terus mengingat sisa-sisa kenangan terakhir selama beliau mengajar di kelas 3-3 ini”
“Sebelum pergi, beliau menitipkan pesan kepada Ibu selaku Guru Fisika baru kalian. Pak Edward sangat berharap banyak pada kalian muridnya untuk tidak terlalu banyak stress dalam menghadapi sisa pembelajaran terakhir selama 6 bulan ke depan. Hadapilah setiap masalah dengan tenang dan tetap mementingkan tujuan akhir kalian sebagai pelajar SMA 36. Dan kalian teruslah berusaha untuk bisa mencapai akhir yang bahagia selama sisa hidup kalian. Apapun yang terjadi, carilah kebahagiaan untuk diri kalian sendiri. Yang akan membuat kalian mengerti alasan kenapa kita diberikan sebuah kehidupan oleh pencipta kalian”
“Dan itulah pesan terakhir dari beliau kepada kalian sebagai Guru Fisika lama yang selama ini telah menjadi panutan bagi sekolah. Dan Ibu berharap bahwa Ibu juga bisa seperti beliau dalam meneruskan perjuangannya sebagai seorang guru Fisika”
Sebagian dari murid kelas 3-3 merasakan sentuhan akhir yang luar biasa dari pesan terakhir beliau. Namun, ada juga yang mulai menitikkan sebagian air matanya karena tidak kuasa untuk menahan perasaan bahagia setelah ditinggal pergi oleh guru kesayangannya tersebut.
“Baiklah. Untuk selanjutnya, Ibu akan menjawab pertanyaan dari Lily Agatha!”
“Jawabannya adalah…saat ini, Ibu sedang tidak memiliki pasangan.Tapi, tidak menutup kemungkinan bahwa Ibu akan segera menikah setelah kelulusan kalian telah selesai dilaksanakan”
“Wahhh…”
“Sungguh mengejutkan”
“Sepertinya akan menarik sekali”
“Agak sayang untuk dilewatkan begitu saja”
“Sepertinya kita harus berusaha lebih keras lagi”
“Benar. Kita harus melihat kisah akhir sebenarnya dari guru baru kita”
Pertanyaan tersebut telah dijawab oleh Bu Livy, dan memicu respon yang tidak terduga dari wajah Lily.
Lily seolah-olah merasakan perasaan lega setelah mengetahui bahwa Guru baru tersebut akan menikah setelah kelulusan dimulai akhir semester nanti.
“Baiklah, karena tidak ada pertanyaan selanjutnya. Kita lanjutkan pembelajaran fisika yang sebelumnya tertunda”
Dan minggu lalu menjadi hari terakhir kami melihat Pak Edward mengajar di kelas kami sebagai akhir penutup yang sempurna.
Tak terasa hari mulai senja, tanda-tanda murid akan segera pulang dari pembelajarannya.
Beberapa hari setelahnya, para murid menyaksikan sebuah kejadian tak terduga dari apa yang mereka lihat saat ini. Dan tentu saja memicu berbagai macam respon yang berbeda dari orang yang melihatnya.
“Hei, bukankah itu Lily?”
“Iya, sepertinya benar. Kenapa raut wajahnya terlihat suram seperti terkena masalah besar? Bukankah biasanya Dia selalu berangkat bersama Kenzo sahabat dekatnya itu?”
“Iya ya. Apakah sesuatu yang buruk telah menimpa mereka ya?”
“Entahlah. Mungkin, tapi Aku rasa itu mustahil karena mereka berdua memiliki ikatan persahabatan yang kuat semenjak terbentuk di Kelas 1”
“Mau bagaimana lagi. Kita tidak bisa apa-apa tanpa mengetahui akar permasalahan yang sebenarnya”
“Ya. Kita do’akan saja yang terbaik untuk mereka”
“Benar juga”
Tak lama kemudian muncullah seorang pembawa pesan dari Kenzo untuk Lily. Pembawa pesan tersebut mengatakan bahwa Kenzo ingin berbicara empat mata dengannya sepulang sekolah.
Lily mengangguk setuju dan hanya bisa pasrah terhadap apa yang dialaminya kemarin malam.
Bel pulang sekolah pun berbunyi, dan mereka berdua mulai menuju ke tempat yang sudah dijanjikan yaitu atap sekolah.
Kemudian mereka duduk bersama saling berdekatan namun masih terdapat jarak yang memisahkan di antara keduanya.
“Ada apa dengan dirimu, Lily? Apakah kamu sedang sakit hari ini? Aku sangat khawatir padamu sebagai sahabat dekat!”, Tanya Kenzo dengan memulai pembicaraan
“Tidak. Bukan itu masalahnya”
“Lalu, kenapa wajahmu seakan-akan sedang menyembunyikan suatu masalah yang besar?”
“Jadi, Aku tetap ketahuan ya meskipun sudah menutupinya sebisa mungkin”
“Ya. Dan bukan cuman Aku saja yang menyadarinya. Termasuk teman-teman sekelas kita menganggap dirimu sedang mengalami masalah yang hebat di rumah”
“Jadi begitu ya. Ternyata mereka mengkhawatirkanku termasuk dirimu saat ini”
“Kalau kamu ingin meringankan sedikit beban yang ada di punggungmu, bagikanlah rasa sakit itu kepadaku. Agar kita sama-sama memiliki beban yang harus diatasi masalahnya secepat mungkin”
“Baiklah. Akan aku ceritakan dengan detail. Tapi, jangan beritahu orang lain terhadap masalahku ini termasuk teman sekelas kita. Hanya dirimulah yang boleh mendengarkannya”
“Baiklah, Aku berjanji dengan jari kelingking”
“Setuju”
Lalu, Lily pun mulai menceritakan masalah yang sebenarnya terjadi di rumah dan mulai menitikkan air matanya untuk menangis karena kesedihan. Karena Lily tidak tahu apa yang harus Dia lakukan selanjutnya untuk menemukan solusi dari permasalahannya tersebut.
Kemudian tanpa sadar dan secara refleks Kenzo memberikan sebuah pelukannya untuk Lily dengan erat.
Kenzo yang saat itu melihat Lily menangis dengan mulai memeluknya dengan pelukan yang erat dan terasa hangat ketika mereka saling bersentuhan. Dan pelukan tersebut sedikit demi sedikit mulai menghilangkan beban stress yang ada dipikirannya.
Setelah Kenzo memulai tindakan tak terduganya, Lily pun juga tidak bisa menolak begitu saja pelukan yang diberikan oleh Kenzo. Lily pun menerimanya dengan sepenuh hati dan membuatnya menyadari satu hal bahwa selama ini Dia butuh pelukan hangat dari teman terdekatnya. Dan pelukan hangat tersebut ternyata berasal dari sahabat terdekatnya yaitu Kenzo.
Dia pun mulai bertanya pada dirinya sendiri. “Apakah saat ini adalah saat terbaik yang pernah kutemui dalam menjalani kehidupan sebagai makhluk yang memiliki akal?”.
Kenzo yang menyadari hal tersebut mulai memikirkan sebuah ide yang bagus untuk dirinya dan juga Lily. Dan ide tersebut adalah mereka berdua akan berjuang bersama dalam menemukan arti kebahagiaan yang selama ini mereka cari dalam kehidupan mereka. Kemudian Lily pun menyetujui ide yang diberikan oleh Kenzo dan berharap bahwa bisa mereka bisa menemukan kebahagiaannya masing-masing setelah mereka berusaha untuk mendapatkannya.
17.00 adalah waktu terbaik bagi mereka di hari ini, setelah sekian lama tidak merasakan perasaan yang selama ini telah hilang dalam diri mereka. Kenzo dan Lily menganggap bahwa saat ini adalah hal terbaik yang pernah mereka lakukan semasa hidupnya sebelum akhirnya berpisah dalam waktu yang lama.
Keesokan harinya, Bu Livy menyadari sesuatu yang aneh dari muridnya Lily Agatha sejak kemarin pagi. Dia pun ingin mengetahui masalah apa yang menimpa muridnya tersebut namun tidak bisa dilakukan karena tidak ingin menyinggung perasaan hatinya tersebut.
Kemudian Bu Livy memberanikan diri untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Lily kepada sahabat dekatnya yang bernama Naufal Kenzo.
“Kenzo, apakah ada waktu luang hari ini?”
“Iya Bu, apakah ada hal penting yang ingin dibacarakan dengan saya?”
“Iy Kenzo, ada. Kita bicarakannya nanti pada saat pulang sekolah di Café Mevoly. Hanya kita berdua”
“Baik Bu, laksanakan”
Setelah mereka berdua membicarakan hal penting tersebut tanpa sepengetahuan Lily. Menimbulkan sebuah kecurigaan bahwa mereka sedang membicarakan sesuatu yang khusus tanpa ada hubungan dengan dirinya.
Waktu belajar telah usai, Lily menghampiri Kenzo untuk mengajaknya pulang bersama. Dan Lily mendengar pembicaraan penting yang dilakukan Kenzo dengan Bu Livy melalui teman sekelasnya yang tidak sengaja melihatnya.
“Emm…Kenzo, apakah kamu sedang tidak ada acara sehabis pulang sekolah ini?”
Lily menantikan respon yang dimunculkan oleh Kenzo untuk membuktikan apa yang dikatakan oleh teman sekelasnya, Sylvia.
“Sepertinya ada. Maaf Lily, untuk hari ini aku tidak bisa pulang bersamamu”
“Baiklah, jika kamu memang ada keperluan. Aku tidak bisa memaksamu”
“Mungkin. Sebagai gantinya, besok Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang akan membuatmu senang hanya dengan melihatnya”
“Benarkah?”
“Ya. Aku janji”
“Setuju”
Kenzo pun segera bergegas pulang untuk menemui seseorang yang sudah ditungguinya.
~Café Mevoly~
“Disini, Kenzo. Ibu ada disini”
“…”
“Baiklah. Silakan duduk, apa ada minuman yang ingin kamu pesan? Hari ini Ibu yang traktir”
“Hmm…bolehkah saya memesan minuman best seller disini?”
“Tentu saja, asalkan kamu bisa menjawab pertanyaan Ibu sesuai yang dijanjikan”
“Baiklah”
“Pelayan, kami ingin memesan”
Pelayan pun segera datang menghampiri murid dan sepertinya seorang kekasih yang sedang ditraktirnya.
“Pesanan apa yang ingin dipesan, untuk sepasang kekasih hari ini?”, Tanya Pelayan dengan tersenyum lebar
“Kekasih? Bukan-bukan, kami hanyalah seorang murid dan guru yang sedang melakukan pembelajaran privat”, Jawab Kenzo dengan pembelaan untuk gurunya
“Oh, begitu ya. Kalau dipikir-pikir kalian berdua terlihat cocok sebagai couple pasangan”
“B-benarkah itu?”, Jawab Bu Livy dengan penuh penasaran
“Ya”
“Ehemmm…Saya ingin pesan minuman best seller di Café ini. Kalau Ibu, bagaimana?”
“Saya pesan Milk Strawberry With Ice Cream”
“Baiklah. Pesanan telah diterima. Pesanan akan segera datang”
Pelayan tersebut pun pergi setelah menerima pesanan yang telah diberikan di menu.
“Lalu, Bu guru ada hal penting apa yang ingin Ibu bicarakan berdua dengan saya?”
“Apakah ini mengenai Lily?”
Bu Livy pun terkejut karena Kenzo sudah mengetahui maksud sebenarnya dari hal penting tersebut.
“Baiklah, sepertinya Ibu tidak bisa mengelak dari tebakan yang kamu berikan”
“Ibu hanya ingin mengetahui masalah apa sebenarnya yang menimpa Lily kemarin pagi. Karena Ibu tidak sengaja melihat Lily dalam keadaan murung ketika pembelajaran telah dimulai”
“Sebenarnya ini masalah yang tidak penting untuk dibicarakan. Tapi, karena Ibu adalah pengecualian. Saya tidak bisa menolak dengan permintaan yang sudah diberikan”
“Begitu ya. Tidak apa-apa, Kenzo. Ibu hanya tidak ingin murid-murid Ibu tidak fokus dalam pembelajaran yang telah diajarkan menjadi sia-sia ke depannya”
“Jika memang Ibu sudah berkata seperti itu, saya akan memberitahukannya kepada Ibu sebagai sahabat dekatnya”
“Masalah yang sebenarnya dialami Lily adalah…”
Tiba-tiba Pelayan datang untuk mengantarkan pesanan yang telah selesai dibuat.
“Ini…pesanan anda telah selesai dibuat. Silakan nikmati minumannya”
“Terima kasih, Pelayan”
“Lanjutkan Kenzo”
“Baik, Bu”
“Masalah yang sebenarnya dialami Lily adalah Dia baru saja kehilangan salah satu orang tuanya yaitu Ayahnya dalam perjalanan menuju pulang rumah kemarin. Dan hal itu membuat saya tidak bisa diam saja ketika melihat sahabat dekat saya sedang bersedih dalam kesedihan yang mendalam”
“Begitu ya. Ibu turut berduka atas meninggalnya Ayah dari Lily. Jika berkenan, bolehkah Ibu berbicara empat mata dengannya sebagai sesame perempuan?”
“Tentu saja boleh, Bu”
“Akan tetapi, saya tidak tahu apakah Lily akan menerimanya atau tidak. Jika yang mengajaknya dari Bu Livy sendiri!”
“Jangan khawatir, Ibu pasti bisa membujuknya apapun yang terjadi. Karena Ibu adalah Guru Fisika kalian”
“Terima kasih atas pengertiannya, Bu. Lain waktu, saya akan berterima kasih atas tawaran yang diberikan”
“Tidak apa-apa, Kenzo. Hanya dengan mengetahui masalah apa yang dialami sudah cukup meringankan beban Ibu sebagai seorang pengajar. Dan berkatmu beban pikiran tersebut sudah hilang setelah mengetahui masalah yang sebenarnya”
“Terima kasih, Bu. Karena pembicaraan sudah selesai, saya pulang dulu Bu Livy”
“Baiklah. Hati-hati dijalan, Kenzo”
“Justru Ibu yang seharusnya lebih berhati-hati, tidak baik seorang wanita keluar malam-malam tanpa ada penjagaan di sekitarnya”
“Jadi, Kenzo mau mengantar Ibu pulang ke rumah?”
“Tentu saja. Jika diizinkan oleh Ibu, saya akan menjaga Ibu sampai ke rumah dengan selamat”
“Hebat ya dirimu. Kamu seperti orang baik yang telah menghadapi beratnya kehidupan di dunia ini”
“Itu bukan apa-apa, Bu. Saya hanya menjalani kehidupan ini sesuai dengan prinsip hidup yang telah mengarahkan saya menuju arah yang lebih baik”
“Begitu. Baiklah, temani Ibu pulang ke rumah”
“Baik, Bu”
Akhirnya Kenzo dan Bu Livy pun pulang bareng demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Selama perjalanan, Kenzo menceritakan banyak hal tentang dirinya termasuk persahabatannya dengan Lily sewaktu kelas 1 SMA yang membuat mereka terkenal di seluruh kelas.
Baru kali ini Bu Livy merasakan perasaan bahagia sebagai seorang guru yang telah Dia impikan sejak kecil. Dan tentu saja perjuangan untuk bisa sampai ke atas tidaklah mudah untuk dijalaninya.
Ada kalanya berada di bawah memikirkan beratnya kehidupan zaman sekarang dalam meraih impian seseorang setelah menyadari kenyataan yang berada satu langkah di depannya mulai dihancurkan oleh kekuasaan itu sendiri.
Dirinya mempelajari banyak hal dalam menjalani kehidupan bukan hanya mengejar impian akan tetapi juga mengenai bagaimana kehidupan itu mulai bekerja sampai sekarang tanpa henti seperti mesin yang terus bekerja tanpa tahu sudah melewati batas pemakaian penggunaannya.
Ternyata setelah mereka berdua sampai muncullah seseorang yang sudah menunggu di depan rumah Bu Livy untuk memberikan sebuah kejutan tak terduga dari seseorang yang dikenalnya.
Seseorang yang menjadi kejutan tersebut ternyata adalah Lily yang sudah mengetahui tentang rencana yang dilakukan oleh Kenzo dengan Bu Livy sendiri.
Lily seakan-akan ingin mengetahui hubungan apa sebenarnya yang dijalin oleh Kenzo dengan guru baru tersebut.
Lily bertanya dengan penuh kecurigaan dan sebuah kekhawatiran menantinya dibelakang.
“Kalian berdua, ternyata pulang bersama ya”
Kemudian Lily menoleh ke kanan dan melirik Kenzo dengan tatapan tajamnya yang mencurigakan.
“Kenzo, bukankah kamu bisa menjelaskan situasi yang sedang terjadi di sini?”
“Tentu. Aku juga tidak bisa berbohong kepadamu sebagai sahabat dekat”
“Bu guru, boleh Ibu segera masuk duluan sebelum kami mulai perbincangan hangat ini satu sama lain?”
“Baiklah, tolong jangan terlalu keras padanya. Mungkin, Dia sedang mengkhawatirkanmu sekarang”
“Baik, Bu Livy. Saya akan menjelaskannya secara detail kepadanya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman”
“Ya, lakukan yang terbaik”
“Dengan senang hati, Bu”
Akhirnya Kenzo mulai menjelaskan bagaimana kejadian yang sebenarnya kepada Lily, mulai dari pertemuan rahasia yang dilakukannya sampai janjian dengan Bu Lily di Café Mevoly.
Tidak ada kebohongan dalam perkataannya. Yang berarti Dia serius ketika sudah menyangkut dengan sahabatnya itu.
Dari situ, Lily sebenarnya mengerti alasan kenapa Kenzo menghindari Dia sewaktu diajak pulang bersama setelah sekolah. Namun, hatinya seolah-olah merasakan sakit yang luar biasa setelah mengetahui fakta sebenarnya dari Sylvia.
Setelah kejadian tersebut, Kenzo dan Lily untuk sementara waktu mereka akan fokus ujian untuk kelulusan, karena sisa waktu yang mereka miliki tersisa 3 bulan.
Hari Ujian pun tiba, semua murid berusaha dengan sangat keras untuk bisa mendapat hasil yang terbaik tak terkecuali Kenzo dan Lily.
Ujian kelulusan tersebut dilaksanakan selama dua minggu. Akhirnya setelah ujian selesai mereka memiliki waktu istirahat yang digunakan untuk persiapan perpisahan sebelum pengumuman kelulusan tiba.
Tampak dari beberapa raut wajah siswa merasakan beberapa tekanan yang mereka alami selama ujian berlangsung.
Tiba lah pengumuman kelulusan yang sudah dinanti-nantikan oleh seluruh siswa kelas 12. Dan pengumuman tersebut dibacakan langsung oleh kepala sekolah SMA 36.
Dan Gedung aula menjadi saksi akhir perjuangan mereka selama bersekolah di SMA 36.
Detik-detik menegangkan pun terjadi saat kepala sekolah membacakan hasil pengumuman kelulusan. Ternyata dari 180 siswa dari kelas 3-1 sampai 3-6, semuanya berhasil lulus dengan nilai baik.
Setelah disebutkan oleh kepala sekolah tentang kelulusan, akhirnya seluruh siswa kelas 3 bersorak gembira akan kelulusannya. Oleh karena itu, beberapa dari kelas 3 mulai memikirkan tentang rencana perpisahan sekolah.
Saat itu Kenzo mulai mendekati Lily karena hari yang dinantikan telah tiba. Kenzo meminta Lily untuk berbicara empat mata setelah pulang sekolah untuk mengungkapkan perasaannya yang telah sekian lama telah disimpan semenjak masuk kelas 10, dan mereka akan bertemu di Café Cataim.
“Lily, gimana perasaan mu setelah mendengar kelulusan?”
“Aku bersyukur sekali telah melewati hari yang panjang ini. Dan Aku sangat senang sekali karena kita berdua melewati waktu yang panjang ini dengan bersamaan.”
“Aku juga bersyukur karena kita berdua telah melewatinya dengan baik. Setelah ini apakah kamu mau ikut denganku ke Café Cataim?”
“Iya aku ikut denganmu.”
Akhirnya Kenzo dan Lily pergi ke Café Cataim.
“Bagaimana kalau kita memesan makanan dan minuman di sini? Hari ini khusus untukmu aku yang traktir”
“Oke. Pelayan kami ingin memesan sesuatu”
Pelayan pun segera datang dan menghampiri pasangan tersebut. Dan ternyata Kenzo seperti melihat dopplegangger dari Café Mevoly, tempat dimana Dia dan Bu Livy mengadakan pertemuan.
“Loh, bukankah anda seorang pelayan dari Café Mevoly?”
“Oh…mungkin Dia adalah saudara kembar saya. Karena Dia tempat tinggalnya berjauhan dengan saya sebagai kakaknya”
“Begitu ya. Baiklah, Saya ingin memesan Ocean Blue Mariana dan Chicken Burger Spicy. Lalu, Lily apa yang ingin kamu pesan?”
“Emmm…Aku ingin memesan Yoghurt Strawberry With Milk dan PanCake Special 3”
“Baik, pesanan telah diterima. Silakan menunggu dengan tenang sambil menikmati suanana yang tersedia di Café Cataim kami”
“Baik”
“…”
Pelayan tersebut telah pergi dan segera menyiapkan pesanan untuk mereka berdua. Kemudian Kenzo seperti ingin membicarakan sesuatu yang khusus kepada Lily di hari spesial mereka.
“Lily, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu selain sebagai sahabat dekat”
“Apa itu?”
“Begini, apa ada seseorang yang kamu sukai saat ini semenjak kita menjadi sahabat dekat dalam waktu yang cukup singkat?”
“Ehhh…kenapa kamu tiba-tiba membicarakan hal serius ini?”
“Hmmm…Aku hanya ingin tahu saja tentang perasaanmu. Karena alasan yang sebenarnya Aku tidak ingin menyakiti hatimu jika kamu sudah memiliki seseorang yang kamu sukai. Dan Aku tidak berniat untuk mengganggu hubungan kalian berdua yang berjalan saat ini”
Lily sedikit menitikkan air matanya karena Dia seperti merasakan perasaan akan berpisah dengannya karena kelulusan mereka.
“Kamu curang, Kenzo. Mengapa disaat seperti ini kamu terlihat keren dibanding saat kita bersama di sekolah?”
Kemudian Kenzo menjawab dengan simple pertanyaan dari Lily mengenai dirinya saat ini.
“Hmmm…bagaimana ya untuk mengatakannya? Mungkin karena hari ini kita tidak akan bisa untuk bertemu lagi dalam waktu yang lama karena kita juga memiliki impiannya masing-masing untuk dikejar. Apakah aku salah?”, Jawab Kenzo dengan tenang
“Kamu tidaklah salah. Akan tetapi, apakah mungkin bagi kita untuk tidak bisa bertemu satu sama lain di masa depan?”
“Entahlah. Karena hanya takdir yang bisa mempertemukan kita kembali disaat kita sudah mendapatkan arti dari kebahagiaan yang sebenarnya dalam kehidupan kita masing-masing”
“Karena itu, Aku ingin mengetahui apakah sahabat dekatku ini sudah menjalin hubungan seseorang atau tidak?”
“Jika Aku menjawab tidak, apa yang akan kamu lakukan?”
“Tentu saja, Aku senang. Karena kamu mungkin adalah orang yang ditakdirkan untukku”
“Ehh…bagaimana mungkin Aku adalah orang yang ditakdirkan untukmu? Sementara kita sudah menjadi sahabat sejak kelas 1 SMA”
“Aku akan membuktikannya!”, Jawab Kenzo dengan tekat bulatnya
Tiba-tiba, pesanan yang mereka tunggu telah datang selama mereka mengobrol sebentar.
“Ini, pesanannya telah datang. Silakan nikmati hidangan kami dengan senang, Pelanggan atau mungkin Pasangan ya?”, Ucap Pelayan dengan sedikit bercanda
“Terima kasih, Pelayan”
“Sama-sama”
Kemudian Kenzo pun melanjutkan kembali ucapannya yang akan memutar balik keadaan menjadi 180 derajat.
“Silakan kamu makan kue dan juga minumannya”
“Ya”
“Jadi, bagaimana jawabanmu?”
“Kali ini, Aku akan memberitahukanmu yang sebenarnya apakah Aku sudah memiliki pasangan atau tidak. Dan jawabanku adalah tidak!”
“Begitu. Syukurlah kamu tidak memilikinya”
“Kenapa kamu bersyukur, bukankah harusnya kamu merasa tidak senang?”
“Hmmm, jadi kamu ingin agar Aku cemburu terhadap pasangan yang telah kamu dapatkan?”
“Err… Tentu saja tidak. Tapi…”
“Tapi, apa?”
“Se-sebenarnya…Aku…sudah menyukaimu semenjak hubungan kita berkembang di kelas 2”
“Jadi, apa yang kamu rasakan ketika mengetahui fakta yang sebenarnya?”
“Waktu itu, Aku hanya menganggapnya sebagai perasaan yang biasa-biasa saja. Tapi, lama-kelamaan perasaan tersebut terus muncul dalam lubuk hatiku dan tidak bisa Aku tahan dalam waktu yang lama. Lalu, Aku menanyakan tentang perasaanku ini kepada Sylvia. Dan ternyata, Dia mendukungku untuk bersamanya walaupun saat itu Aku belum memahaminya”
“Dan saat kita naik kelas, akhirnya Aku mengetahui tentang apa yang dimaksudkan oleh Sylvia waktu itu. Dan perasaan itu adalah kebahagian dalam mendapatkan cintanya”
“Jadi…”
“Aku sangat menyukaimu, Kenzo. Aku sangat cemburu sekali ketika melihatmu berduaan bersama dengan Bu Livy sewatu di sekolah”
“Ternyata, Aku selama ini telah menemukan arti dari kebahagiaan namun Aku tidak menyadarinya sama sekali. Bahwa kebahagiaan yang selama ini kumiliki ternyata selalu berada di dekatku sepanjang waktu. Dan baru kali ini Aku merasakan perasaan bahagia setelah apa yang diucapkan oleh orang tuaku”
“Aku pun juga menyukaimu, Lily. Tepatnya sebelum kita naik kelas 2, perasaanku sudah mulai tumbuh tanpa kusadari”
“Jadi, artinya kita telah menemukan kebahagiaan yang selama ini kita cari-cari ternyata kebahagiaan tersebut selalu dekat dengan kita tak peduli apapun yang terjadi. Dan pertemuan kita di kelas 1 ternyata menjadi kebahagiaan untuk kita saat ini”
“Aku sangat bersyukur sekali bahwa orang yang kusukai adalah dirimu, Kenzo”
“Aku juga sama denganmu, Lily’
“Jadi, bagaimana kalau kita mengejar impian kita masing-masing. Setelah itu kita akan menikah setelah impian kita tercapai”
Dan akhirnya Kenzo dan Lily pun memutuskan untuk mengejar impian mereka masing-masing. Yang dimana Kenzo memiliki impian menjadi seorang pengusaha besar dan sedangkan Lily memiliki impian untuk menamatkan gelar S1 di Universitas Mevoly.
Di masa depan, Kenzo dan Lily pun akhirnya menikah setelah menemukan arti dari kebahagiaan tersebut dan teman-temannya mendukung mereka sampai kematian memisahkan mereka berdua.